LOGINUdara pagi di perbatasan Kerajaan Valeraine terasa mencekam. Tidak ada kicauan burung, yang ada hanya suara derap kaki kuda dan gesekan roda kereta tua yang membawa Aurelia von Valeraine menuju nasib buruknya. Di dalam kereta yang pengap itu, Aurelia duduk meringkuk, memeluk lututnya yang masih gemetar karena trauma. Bayangan ban truk yang menghantamnya di kehidupan sebelumnya masih membekas jelas, membuat guncangan kereta ini terasa seperti siksaan tambahan.
"Turun!" bentak seorang prajurit sambil menyentak pintu kereta hingga terbuka lebar. Aurelia tersentak. Dengan mata sembab dan wajah pucat, ia melangkah turun. Di depannya membentang Hutan Terlarang—sebuah labirin pepohonan hitam raksasa yang diselimuti kabut abadi. Konon, siapa pun yang melangkah masuk ke sana tidak akan pernah kembali dalam keadaan bernyawa. "Ini adalah batasnya, Putri Terbuang," ucap sang komandan prajurit dengan nada mengejek. Ia melempar sebuah tas kecil berisi pakaian tipis ke atas tanah yang berlumpur. "T-tunggu... setidaknya berikan aku sedikit bekal makanan," pinta Aurelia dengan suara serak. "Hutan ini sangat luas, aku tidak akan bisa bertahan sendirian..." "Makanan?" Prajurit itu tertawa sinis, diikuti oleh rekan-rekannya yang lain. "Raja memberikan perintah untuk membuangmu, bukan untuk menyuapimu. Anggap saja ini adalah belas kasihan terakhir karena kami tidak langsung memenggal lehermu di sini. Lagipula, namamu sudah kotor; mati di sini adalah akhir yang pantas untukmu." Aurelia menatap mereka dengan tatapan tidak percaya. "Tapi aku adalah putri kerajaan ini... aku kakak dari Putri Lyra..." "Kau bukan siapa-siapa lagi, Aurelia!" bentak sang komandan. "Sekarang masuk ke dalam hutan itu, atau pedangku yang akan memaksamu masuk!" Dengan air mata yang kembali mengalir, Aurelia memungut tasnya. Ia berbalik dan melangkah masuk ke dalam kabut tebal. Setiap langkahnya terasa berat, gaun mewahnya yang sudah robek kini terseret di tanah berlumpur, membuatnya beberapa kali tersandung karena sifat cerobohnya yang tidak hilang bahkan di saat genting. "Hiks... kenapa takdirku selalu begini?" isaknya pelan. "Alya... kau seharusnya tetap di kamarmu menulis novel, bukan terjebak di tempat gila di mana setiap langkah salah sedikit bisa berarti tamat." Baru beberapa ratus meter melangkah, suara raungan rendah terdengar dari balik semak-semak. Jantung Aurelia seolah berhenti berdetak. Seekor serigala bayangan—monster tingkat rendah dengan mata merah menyala—muncul dengan taring yang meneteskan air liur. "A-apa... k-jangan mendekat!" Aurelia mundur dengan panik. Sruk! Benar saja, kakinya tersangkut akar pohon. Ia jatuh terduduk dengan keras. "Aduh... sakit sekali..." [Ding!] [Peringatan! Nyawa Karakter Terancam.] [Gunakan Fungsi 'Clumsy Charm' atau cari perlindungan segera!] "Sistem bodoh! Cari perlindungan di mana?! Kenapa aku harus terjebak dalam karakter yang aku benci!”teriak Aurelia frustrasi. Serigala itu melompat. Aurelia memejamkan mata rapat-rapat, melindungi wajahnya dengan tangan. Ia sudah pasrah jika harus mati untuk keempat kalinya. Namun, rasa sakit yang ia bayangkan tidak pernah datang. Cring! Suara dentingan logam yang beradu terdengar sangat nyaring. Aurelia perlahan membuka matanya. Di depannya, serigala tadi sudah terbelah menjadi dua, lenyap menjadi debu hitam dalam sekejap. Seorang pria berdiri memunggunginya. Tubuhnya tinggi tegap, mengenakan jubah hitam panjang yang ujungnya tampak seperti bayangan yang hidup. Rambutnya hitam legam, berkilau di bawah cahaya rembulan yang samar-pelan menembus kabut. "Jadi, ini adalah 'hadiah' yang dikirim oleh Kerajaan Valeraine tahun ini?" Suara itu berat, dingin, dan memiliki otoritas yang membuat bulu kuduk Aurelia berdiri. Pria itu berbalik perlahan. Aurelia terkesiap. Wajah pria itu sangat tampan, namun ketampanannya terasa berbahaya. Matanya berwarna merah darah yang tajam, menatap Aurelia seolah sedang memeriksa sepotong daging. Itu adalah dia. Xaverius Lucian Dracul. Sang Raja Iblis dari Nocturnia. "A-anda..." Aurelia mencoba bicara, tapi suaranya hilang di tenggorokan. Xaverius melangkah mendekat. Setiap langkahnya membuat tanah di sekitar kakinya membeku. Ia berhenti tepat di depan Aurelia yang masih terduduk di tanah. Dengan gerakan anggun namun kasar, ia menjepit dagu Aurelia dengan jari-jarinya yang dingin seperti es. "Seorang putri yang menangis di tengah hutan? Sangat menyedihkan," desis Xaverius. "Kudengar Putri Aurelia adalah wanita yang kejam dan licik. Tapi yang kulihat sekarang hanyalah gadis bodoh yang bahkan tidak bisa berdiri dengan benar." Aurelia menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan tangis agar tidak terlihat semakin lemah. "Jika Anda ingin membunuhku, lakukan saja sekarang. Aku sudah lelah berlari." Alis Xaverius terangkat sebelah. "Membunuhmu? Itu terlalu membosankan. Aku ingin tahu kenapa bau racun tercium sangat kuat dari gaunmu, Putri." Aurelia tersentak. Ia lupa kopi beracun itu sempat menciprati gaunnya. "Aku... aku tidak sengaja menumpahkannya." "Tidak sengaja?" Xaverius tertawa sinis. "Hampir membunuh Sang Anak Suci karena 'tidak sengaja'? Kau pikir aku sebodoh ayahmu yang membuangmu begitu saja?" "Aku memang tidak sengaja! Aku tersandung!" teriak Aurelia tiba-tiba, rasa kesalnya pada sistem dan takdirnya meluap begitu saja. "Aku memang ceroboh, aku penakut, dan aku tidak tahu kenapa aku harus ada di sini! Jika Anda benci padaku, silakan bunuh aku!" Xaverius terdiam sejenak. Ia menatap mata Aurelia yang penuh dengan air mata kejujuran. Ia bisa merasakan detak jantung Aurelia yang tidak beraturan, namun ada sedikit percikan keberanian di sana. "Berani sekali kau meninggikan suara di depanku," ucap Xaverius, suaranya merendah menjadi bisikan yang mengancam. "Kau tahu apa yang terjadi pada manusia yang berteriak padaku? Mereka berakhir menjadi makanan bayanganku." Aurelia gemetar hebat, tapi ia tidak memalingkan wajahnya. "Makan saja. Setidaknya bayangan Anda tidak akan mencaci makiku seperti keluargaku." Keheningan menyelimuti mereka. Tiba-tiba, Xaverius melepaskan cengkeramannya. Ia berdiri tegak dan mengibaskan jubahnya. "Menarik. Bangun, Putri Terbuang." Aurelia mencoba berdiri, tapi kakinya yang lecet membuatnya kembali oleng. Sebelum ia menyentuh tanah, sebuah tangan kekar menangkap pinggangnya dengan sigap. Tubuh Aurelia menempel pada dada bidang Xaverius. "T-terima kasih..." bisik Aurelia malu. "Jangan salah paham," Xaverius berkata dengan dingin, namun ia tidak melepaskan rangkulannya. "Aku hanya tidak ingin mainanku kotor sebelum sampai ke istana." Xaverius mengangkat Aurelia dengan gaya bridal style seolah berat tubuh gadis itu tidak berarti apa-apa baginya. Ia mulai melangkah menembus kabut, membawa Aurelia menuju kegelapan yang lebih dalam. Di saat itulah, sebuah panel transparan mendadak muncul tepat di depan wajah Aurelia yang sedang bersandar di dada bidang itu. [Ding!] [Misi Berhasil: Masuki wilayah Nocturnia.] [Status ML 'Xaverius Lucian Dracul': Tertarik (0.5%)] [Status Baru: Tawanan Raja Iblis.] Aurelia mengernyit membaca deretan teks yang bersinar itu. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena hawa dingin, melainkan karena kebingungan yang luar biasa. Apa maksudnya... male lead tertarik padanya? Bukankah seharusnya dia membunuhku sebagai villainess?Namaku Kael. Dulu, orang-orang di seluruh benua mengenal namaku dengan sebutan yang membuat bulu kuduk berdiri: The Shadow General (Jenderal Bayangan), The Silent Blade (Pedang Sunyi), atau Tangan Kanan Kaisar Iblis. Prestasiku? Jangan tanya. Aku pernah menyusup ke benteng Dwarf tanpa terdeteksi, membunuh tiga komandan Orc dalam satu tarikan napas, dan memanah seekor Wyvern tepat di bola matanya dari jarak satu kilometer saat badai salju. Aku adalah definisi dari "Mematikan". Tapi hari ini... "PAMAAAN KAAEEELLL! KEJAR BELLAAA!" Hari ini, musuh terbesarku bukanlah pasukan aliansi atau monster Void. Musuhku adalah seorang gadis kecil berusia tujuh tahun dengan rambut hitam legam dan koordinasi motorik terburuk dalam sejarah klan Dracul. Di Taman Mawar Istana Obsidian, Putri Isabella Dracul sedang berlari mengejar seekor kupu-kupu biru. Masalahnya, dia berlari sambil melihat ke atas, sementara di depannya ada akar pohon yang menonjol. Satu detik. Kaki mungil Isabella tersangkut.
Langit di atas Nocturnia yang biasanya cerah mendadak berubah warna menjadi hijau zamrud yang menyilaukan. Angin berhembus kencang membawa aroma pinus dan bunga liar yang sangat pekat, menutupi aroma laut dan debu kota. Di balkon Istana Obsidian, sirene peringatan sihir berbunyi nyaring. WIIUUU! WIIUUU! Xaverius, yang sedang menikmati kopi paginya (yang baru diseduh dengan sempurna oleh mesin buatan Dwarf), langsung tersedak. Mata merah-emasnya menyala waspada. Ia meletakkan cangkir, lalu memanggil pedang Black Sun-nya dari udara kosong. "Kael!" teriak Xaverius, suaranya menggelegar ke seluruh lorong. "Siapkan pasukan! Ada serangan sihir skala besar dari Utara! Siapa yang bosan hidup berani menyerang wilayahku saat aku sedang cuti?!" Kael muncul dari balik bayangan pilar, membawa dua belati, tapi wajahnya terlihat bingung. "Lapor, Tuan! Deteksi energi menunjukkan ini bukan serangan musuh, tapi... uh... energi alam murni?" Belum sempat Xaverius memproses laporan itu, pintu balkon
Delapan tahun telah berlalu sejak perang besar berakhir, namun bagi Kael, medan perang yang sesungguhnya baru saja dimulai di halaman belakang Istana Obsidian. TAK! TAK! BUK! Suara benturan pedang kayu bergema di udara pagi. "Pangeran... hah... hah..." Kael, Sang Jenderal Bayangan yang namanya pernah membuat raja-raja benua lain gemetar ketakutan, kini berlutut dengan napas memburu. Keringat membasahi seragam latihan hitamnya. Ia mengangkat tangan tanda menyerah. "Ampun, Pangeran! Istirahat dulu! Napas saya mau putus!" Di hadapannya, berdiri seorang bocah laki-laki berusia tujuh tahun. Tubuhnya kecil, namun tegak lurus seperti tiang bendera. Rambut peraknya yang halus—warisan mutlak dari sang Ibu—berkilauan ditimpa sinar matahari pagi. Namun, saat bocah itu mengangkat wajahnya, siapa pun akan langsung teringat pada Kaisar Iblis. Mata heterochromia merah-emas itu menatap Kael datar. Tanpa emosi. Tanpa belas kasihan. "Berdiri, Kael," perintah Pangeran Maximilian Dracul dengan sua
Taman Istana bagian barat kini telah disulap menjadi area piknik pribadi. Di atas rumput hijau yang dipangkas rapi, terbentang tikar kain sutra bermotif bunga. Tumpukan bantal empuk berserakan di sekitarnya, menciptakan suasana santai yang sangat tidak cocok untuk dua pria paling kuat di benua itu yang kini sedang saling menatap dengan aura membunuh. Di sisi kiri, duduklah Theron, Pangeran Elf dengan rambut emas yang berkilauan. Ia memegang sebuah piring perak berisi buah-buahan eksotis yang sudah dikupas dengan seni potongan tingkat dewa. Di sisi kanan, duduklah Xaverius, Kaisar Iblis Pensiunan. Ia memegang garpu emas dengan cengkeraman yang seolah ingin membengkokkan logam itu, matanya menyipit tajam ke arah Theron. Di tengah-tengah mereka, Aurelia duduk bersila sambil memijat pelipisnya yang berdenyut. "Makanlah, Adikku," Theron menyodorkan piring buah itu ke depan mulut Aurelia dengan senyum malaikat. "Ini Moonberry langka yang hanya tumbuh di mata air suci Hutan Elf. Mengandu
Pesta pernikahan itu berlangsung sampai dini hari. Musik, tarian, dan arak madu mengalir tanpa henti di seluruh penjuru Istana Obsidian. Namun, saat langit timur mulai menampakkan semburat ungu muda, keramaian itu perlahan mereda. Para tamu sudah terlelap di kamar tamu, di taman, atau bahkan di bawah meja perjamuan saking mabuknya oleh kebahagiaan. Di lorong lantai atas yang sunyi, Xaverius Dracul berjalan pelan. Jas putih pengantinnya sudah dilepas, menyisakan kemeja putih yang kancing teratasnya dibuka longgar dan lengan yang digulung sebatas siku. Di sampingnya, Aurelia berjalan tanpa alas kaki. Sepatu hak tingginya sudah lama ia tinggalkan di sudut ballroom karena kakinya pegal berdansa. Tangan kanannya menjinjing ujung gaun pengantinnya yang berat, sementara tangan kirinya digenggam erat oleh Xaverius. "Lelah?" tanya Xaverius lembut, menatap istrinya yang terlihat mengantuk namun tetap tersenyum. "Sedikit," aku Aurelia. "Kakiku rasanya mau copot. Tapi hatiku penuh." Mereka s
Lonceng Katedral Agung Nocturnia berdentang, suaranya menggema hingga ke ujung benua, menandakan dimulainya perhelatan terbesar dalam sejarah dunia baru ini. Di dalam ruang ganti pengantin pria, Xaverius Dracul—Kaisar yang pernah menelan kiamat dan membunuh dewa—sedang mengalami krisis kepercayaan diri yang parah. Ia berdiri kaku di depan cermin, menarik kerah jas putih formalnya yang dihiasi sulaman benang emas. "Kael," panggil Xaverius datar, namun ada getaran halus dalam suaranya. "Apakah dasiku miring?" Kael, yang mengenakan setelan jas Best Man berwarna merah marun (yang dia pilih sendiri agar mencolok), memutar bola matanya. Dia berjinjit untuk merapikan dasi tuannya yang sebenarnya sudah sempurna. "Tuan, ini sudah kesepuluh kalinya Tuan tanya soal dasi dalam lima menit," keluh Kael. "Dasinya lurus. Rambut Tuan badai. Wajah Tuan ganteng maksimal. Kalau Tuan tanya sekali lagi, saya akan panggil Theron buat gantiin posisi Tuan di altar." Mata Xaverius menyipit tajam. "Coba sa







