Home / Fantasi / Kehidupan Ketiga Sang Villainess / Bab 93 - Pesan terakhir

Share

Bab 93 - Pesan terakhir

Author: BabyCaca
last update Last Updated: 2026-03-01 13:37:53

Cahaya pemurnian itu terasa hangat di kulit Aurelia, namun bagi Eleanor, itu adalah api penyucian yang membakar setiap inci dosa yang melekat pada jiwanya. Di tengah pilar cahaya putih yang membutakan mata itu, waktu seolah melambat. Raungan bayangan di belakang Eleanor perlahan mereda, bukan karena tenang, melainkan karena terusir paksa oleh kemurnian Aether yang Aurelia alirkan.

Aurelia masih memeluk tubuh ibunya yang kaku. Ia bisa merasakan bahu Eleanor yang kurus mulai kehilangan kepadatan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   Bab 95 - Janji kaisar

    Langit di atas Lembah Valeraine runtuh. Bukan secara metafora, melainkan harfiah. Awan-awan kelabu yang menutupi matahari ditarik paksa ke bawah oleh gravitasi yang diputarbalikkan oleh Sang Bayangan Purba, menciptakan pusaran angin topan yang menghancurkan sisa-sisa hutan mati. "Wadahku... kemarilah." Suara itu tidak terdengar lewat telinga, tapi langsung menghantam otak seperti palu godam. Aurelia menjerit tertahan, memegangi kepalanya yang serasa mau pecah. Darah segar mengalir dari hidungnya. Di depannya, sosok asap raksasa dengan mata ungu itu mengulurkan tangan yang besarnya seukuran menara istana. "JANGAN DENGARKAN DIA!" teriak Xaverius. Sang Kaisar tidak membuang waktu. Ia tidak mencoba menyerang balik makhluk itu—insting tempurnya yang telah diasah ribuan tahun memberitahunya bahwa makhluk di depan mereka berada di dimensi kekuatan yang berbeda. Ini bukan monster; ini adalah dewa kematian. Xaverius menyambar tubuh Aurelia, mendekapnya erat ke dada bidangnya, lalu berbal

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   Bab 94 - Lembah duka

    Debu. Hanya itu yang tersisa. Istana Valeraine, monumen ketakutan yang telah berdiri selama lima ratus tahun dan menjadi mimpi buruk bagi seluruh benua, kini tak lebih dari tumpukan batu yang hancur. Ledakan jatuhnya istana itu menciptakan kawah raksasa di tengah lembah, mengirimkan awan debu abu-abu pekat yang menutupi matahari, mengubah siang hari menjadi senja yang kelabu. Naga Bayangan Xaverius mendarat dengan berat di sebuah bukit batu, cukup jauh dari pusat reruntuhan agar aman, namun cukup dekat untuk melihat skala kehancurannya. Xaverius melompat turun lebih dulu. Zirah hitamnya yang legendaris kini retak di bahu dan dada, dan wajahnya tergores luka, namun ia tidak memedulikan dirinya sendiri. Ia segera berbalik, merentangkan tangannya untuk menurunkan Aurelia. Aurelia turun dengan kaki yang terasa seperti jeli. Saat sepatu bot besinya menyentuh tanah, ia nyaris ambruk jika Xaverius tidak menahannya. Aurelia tidak terluka parah secara fisik—zirah kembar dan perlindungan

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   Bab 93 - Pesan terakhir

    Cahaya pemurnian itu terasa hangat di kulit Aurelia, namun bagi Eleanor, itu adalah api penyucian yang membakar setiap inci dosa yang melekat pada jiwanya. Di tengah pilar cahaya putih yang membutakan mata itu, waktu seolah melambat. Raungan bayangan di belakang Eleanor perlahan mereda, bukan karena tenang, melainkan karena terusir paksa oleh kemurnian Aether yang Aurelia alirkan. Aurelia masih memeluk tubuh ibunya yang kaku. Ia bisa merasakan bahu Eleanor yang kurus mulai kehilangan kepadatannya, berubah menjadi butiran cahaya yang rapuh. "Ibu..." bisik Aurelia, suaranya tercekat. Eleanor tidak lagi meronta. Wajahnya yang tadinya retak dan mengerikan kini kembali utuh untuk terakhir kalinya. Kulit abu-abunya memudar, menampakkan sisa-sisa kecantikan masa mudanya yang angkuh namun tragis. Mata hitam pekatnya perlahan kembali berwarna cokelat madu—warna mata yang sama dengan milik Aurelia. Eleanor menatap putrinya. Tidak ada lagi kebencian, tidak ada lagi obsesi gila untuk menjadik

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   Bab 92 - Sihir pemurni

    Bentrokan antara Xaverius dan Eleanor bukanlah pertarungan pedang biasa; itu adalah tabrakan dua bencana alam. Xaverius bergerak seperti kilat hitam, pedang Black Sun-nya menebas udara, menciptakan celah dimensi yang melahap bayangan-bayangan Eleanor. Namun, sang Ratu Penyihir tidak bergeming dari tempatnya berdiri. Setiap kali Xaverius memotong satu tentakel bayangan, dua tentakel baru tumbuh dari punggung Eleanor, lebih besar dan lebih ganas. "Sia-sia, Menantu!" Eleanor tertawa, suaranya tumpang tindih dengan geraman rendah makhluk purba. Ia mengibaskan tangannya, dan gelombang kejut hitam meledak, memukul mundur Xaverius hingga terseret beberapa meter di lantai marmer yang hancur. "Kau melawan kegelapan dengan kegelapan? Itu seperti mencoba memadamkan api dengan minyak!" Xaverius memuntahkan darah segar. Zirah hitamnya yang legendaris mulai retak di beberapa bagian. Ia bangkit kembali, matanya merah menyala tak kenal menyerah. "Aku tidak peduli. Aku akan mencincangmu sampai tida

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   Bab 91 - Akhir sang saudara

    Rasa dingin yang menyengat itu tidak datang dari kulit yang robek, melainkan dari dalam tulang sumsum. Saat belati hitam berkarat milik Lyra menembus celah sempit di bagian belakang leher zirah Aurelia, dunia di sekitar Aurelia mendadak menjadi senyap. Suara gemuruh badai di luar, napas berat Xaverius, bahkan detak jantungnya sendiri—semuanya menjauh, digantikan oleh dengung tinggi yang memekakkan telinga. "AURELIA!" Teriakan Xaverius terdengar seperti ledakan di kejauhan. Sang Kaisar berbalik dengan kecepatan yang meninggalkan bayangan. Ia tidak lagi mempedulikan pertahanannya terhadap Eleanor. Tangan kirinya yang terbalut sarung tangan besi menghantam tubuh Lyra dengan kekuatan penuh, tanpa menahan diri sedikit pun. BRAKKK! Tubuh kurus Lyra terpental layaknya boneka rusak, menghantam pilar batu di sisi lain ruangan hingga pilar itu retak. Darah hitam menyembur dari mulutnya yang sudah hancur, namun tawa gila masih terdengar dari kerongkongannya. Xaverius menangkap tubuh Aureli

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   Bab 90 - Debat berdarah

    Xaverius tidak membiarkan Aurelia tenggelam dalam keputusasaan sedetik pun. Dengan gerakan kasar namun protektif, ia menarik lengan Aurelia, memaksanya bangkit berdiri. Tangan besarnya yang terbalut sarung tangan besi mencengkeram bahu Aurelia, menyalurkan kehangatan nyata yang kontras dengan dinginnya kebenaran yang baru saja terungkap. "Jangan dengarkan ocehan orang gila, Aurelia," geram Xaverius, matanya merah menyala menatap Eleanor. "Kau adalah istriku. Kau adalah Permaisuri Nocturnia. Itu satu-satunya identitas yang kau butuhkan. Peduli setan dengan wadah atau jiwa buatan!" Aurelia menatap Xaverius dengan pandangan kosong. Kata-kata Eleanor masih berdengung di kepalanya seperti lebah beracun. Aku diciptakan... bukan dilahirkan? Eleanor tertawa kecil, suara tawanya memantul di dinding aula yang hancur. Ia melangkah santai mengelilingi mereka, gaun merah darahnya menyeret di atas lantai berdebu, meninggalkan jejak cairan hitam. "Oh, betapa romantisnya," cibir Eleanor. "Tapi ci

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status