LOGIN“Kau?”Lelaki di ambang pintu itu berdiri tanpa menunjukkan sedikit pun keterkejutan.Di belakangnya, dua orang berpakaian gelap berjaga dengan tangan tersembunyi di balik lengan baju. Tidak ada tanda pengenal petugas pemeriksaan. Tidak ada dokumen resmi yang dibawa.Hanya sebuah senyum tipis yang membuat suasana di dalam rumah pengobatan semakin mencekam.Lelaki yang berada di dalam kamar mundur setengah langkah.“Kau seharusnya sudah mati.”“Banyak orang mengatakan hal yang sama kepadaku.” Pendatang itu menutup pintu perlahan. “Sayangnya, mereka terlalu cepat mempercayai laporan kematian.”Tabib tua segera berdiri di depan pasiennya.“Siapa kau? Ini rumah pengobatan. Kalian tidak boleh masuk sembarangan.”Pendatang itu meliriknya.“Saya tidak datang untuk mengganggu pekerjaan Anda, tabib. Saya hanya ingin berbicara dengan seseorang yang sudah terlalu lama bersembunyi.”“Pergilah.”
Surat itu masih terbuka di atas meja.Xueying tidak bergerak sejak Wei Cheng menyampaikan laporan mengenai pembayaran kepada Bai Lian. Matanya terpaku pada nama kakaknya yang tertulis di sana, seolah-olah dengan menatapnya cukup lama, lelaki itu akan muncul dari balik pintu dan menjelaskan semua kebohongan yang telah terjadi.Namun, pintu tetap tertutup.Tidak ada suara langkah kaki.Tidak ada seseorang yang memanggil namanya seperti dahulu.Hanya keheningan yang semakin terasa menyesakkan.“Kakakku masih hidup saat pemakaman itu,” gumam Xueying.Tidak seorang pun menyahut.“Dia berdiri di sana. Dia melihat peti kosong itu dimakamkan. Dia bahkan tahu aku mungkin sedang menangis di rumah.” Jemarinya meremas liontin perak. “Lalu, dia pergi begitu saja?”Suaranya tidak meninggi. Justru itulah yang membuat Zhenyu mengalihkan seluruh perhatiannya.Xueying menunduk. Bibirnya terkatup rapat, tetapi da
Di sebuah desa kecil di sebelah barat ibu kota, Zhou An masih berdiri di hadapan perempuan bercadar itu.Angin sore menggerakkan tirai bambu di depan rumahnya. Di atas meja kayu, surat yang baru saja diterimanya tergeletak berdampingan dengan sebuah keping kayu berlambang bunga plum.“Jadi, Anda benar-benar melihatnya sendiri?” tanya perempuan itu.Zhou An mengangguk perlahan.“Tidak ada kesalahan. Saya mengenali wajahnya. Bahkan suaranya masih sama seperti yang saya ingat.”“Apakah dia mengatakan sesuatu?”Lelaki tua itu terdiam sejenak. Pandangannya jatuh pada surat di atas meja.“Dia meminta saya menyiapkan peti mati tertutup. Katanya, keluarganya harus percaya bahwa dia sudah meninggal. Namun, ada satu hal yang membuat saya tidak pernah bisa melupakan pertemuan itu.”“Apa?”“Dia bertanya apakah adik perempuannya akan menghadiri pemakaman.”Jari perempuan itu mengencang di balik lengan bajun
Pagi menyambut kediaman keluarga Guo dengan udara dingin dan kabut tipis.Xueying sudah berada di ruang makan ketika Zhenyu datang dengan langkah perlahan. Bahunya masih dibalut kain perban, sementara salah satu tangannya sesekali menyentuh sisi punggung yang terasa nyeri.“Kenapa kau bangun sepagi ini?” tanya Xueying.“Karena istriku sudah bangun.”“Jawaban yang tidak masuk akal.”“Namun, tetap benar.”Zhenyu duduk di hadapannya. Seorang pelayan segera menuangkan teh, kemudian meletakkan semangkuk bubur hangat di dekatnya.Xueying memperhatikan cara suaminya menggerakkan tangan.“Apakah lukamu masih sakit?”“Sedikit.”“Sudah minum obat?”“Sudah.”“Obat yang pahit?”Zhenyu menghela napas.“Apakah kau akan terus mengingatkanku tentang obat itu?”“Kalau kau terus menghindarinya, tentu saja.”“Kalau begitu, aku lebih suka diingatkan oleh istrik
“Periksa seluruh bangunan di sekitar kediaman! Jangan biarkan seorang pun keluar tanpa pemeriksaan!”Suara Wei Cheng terdengar dari halaman.Para penjaga segera berpencar. Beberapa menuju gerbang belakang, sementara yang lain memeriksa gudang dan lorong penghubung antarrumah.Xueying masih berdiri di depan meja. Matanya terpaku pada tanda tangan Lin Fu dalam catatan pemakaman kakaknya.“Dia berbohong,” gumamnya.Zhenyu mengangkat pandangan. “Tentang apa?”“Lin Fu mengatakan bahwa dia menyembunyikan kematiannya sendiri karena diperintahkan. Namun, namanya tercantum sebagai orang yang menyerahkan peti mati kakakku kepada keluarga Lin.”Ia mengangkat dokumen itu.“Jika dia memang telah dinyatakan meninggal tiga tahun sebelumnya, bagaimana mungkin dia hadir dalam pemakaman enam bulan sebelum pernikahanku?”Yucheng yang berdiri di dekat jendela mengambil dokumen tersebut.“Bisa jadi seseorang menggunakan namanya.”“Namun, tanda tangannya cocok dengan catatan lain yang ditemukan di kediaman
Surat itu bergetar di antara jemari Xueying.Bukan karena tangannya lemah, melainkan karena satu kalimat di dalamnya telah mengguncang sesuatu yang selama ini ia anggap pasti.Kakaknya telah meninggal enam bulan sebelum pernikahannya.Ia masih mengingat hari pemakaman itu. Langit mendung, halaman kediaman keluarga Lin dipenuhi kain putih, dan peti mati diletakkan di bawah pohon prem tua. Ayahnya berdiri kaku di depan para pelayat, sementara ibunya menangis sampai tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.Xueying sendiri berdiri di sudut halaman, menggenggam sepotong kain yang dahulu diberikan kakaknya.Ia tidak pernah melihat wajah kakaknya untuk terakhir kali.Keluarganya mengatakan jenazah telah rusak dalam perjalanan pulang sehingga peti tidak boleh dibuka.Saat itu, ia masih terlalu muda untuk memahami alasan di balik keputusan tersebut.Sekarang, kenangan itu kembali dengan pertanyaan yang jauh lebih menaku
Pagi itu lebih cerah dari biasanya.Sinar matahari jatuh menembus tirai sutra. Hangat, lembut, membuat bayangan halus menari di lantai kayu. Udara tidak terlalu dingin, bahkan angin yang masuk melalui jendela terasa ringan.Lin Xueying berdiri di depan meja. Kali ini, kuas di tangannya tidak lagi d
Pagi datang lebih cepat dari yang diharapkan.Kabut masih menggantung di halaman dalam. Tipis, dingin… Sementara suara sapu para pelayan terdengar berirama.Di dalam kamar, Lin Xueying sudah berpakaian rapi.Hari ini ia memilih hanfu biru pucat dengan bordiran awan tipis di ujung lengan. Rambutnya
Malam belum sepenuhnya larut.Di kediaman utama, lampu-lampu minyak menyala berderet di sepanjang koridor.Kelip… kelip…Memantulkan bayangan panjang di lantai batu.Di dalam kamar barunya, Lin Xueying duduk di tepi ranjang. Jubah luarnya sudah dilepas, menyisakan lapisan dalam berwarna putih lembu
Suara peti kayu dibuka.Qinghe menahan napas saat melihat isi lemari pakaian nyonyanya. Beberapa potong hanfu dilipat rapi, warnanya lembut—putih, biru pucat, abu muda.Tidak ada warna mencolok. Tidak ada emas berlebihan. Seperti pemiliknya.“Nyonya… apakah benar harus pindah hari ini?” tanya Qingh







