LOGIN"Apa? Papi kenal dengan orang ini?"
Siapa sangka, seorang William Hadian Robert--ayah Renata, malah kenal lebih dahulu dengan pria yang baru saja Renata lihat. "Papi ... kenal sama laki-laki ini?" Mata Renata terbelalak melihat ayahnya itu langsung menjabat tangan laki-laki yang berperawakan tinggi di sampingnya. Pria itu langsung menyambut hangat jabatan tangan Mr. William. "Selamat malam, Om." Sambil tersenyum dan sedikit membungkukkan badan tanda hormat. "Tentu saja. Dia Noval. Anak muda yang dengan penuh keberanian masuk dalam kobaran api saat mobil papi terbakar. Penyelamat papi dari kecelakaan tiga bulan yang lalu. Kalau nggak ada dia waktu kecelakaan mobil itu, papi mungkin sudah nggak ada di dunia ini," jelas Mr. William pada anak perempuannya itu. "Apa? Papi pasti lagi bercanda, 'kan?" tanya Renata masih memasang wajah terkejutnya. "Papi serius, ah ... sudahlah kamu mana peduli sama papi. Kenapa kamu nggak pernah cerita kalau Noval adalah pacar kamu, papi sangat senang. Besok papi tunggu di rumah, kita bahas pernikahan kalian!" ujarnya dengan wajah sumringah. Renata menatap Noval yang sama-sama bingung. Noval hanya menaikan bahunya sebagai jawaban kemudian berbisik lirih, " beri aku penjelasan setelah ini!" Sempat berbincang sebentar dengan Noval, tak lama Mr. William langsung berpamitan. Tapi, ternyata Renata tak ikut pulang bersamanya. Karena dia punya hutang penjelasan pada pria yang baru saja dia sebut 'pacar'. "Bisa kita bicara sebentar?" Renata terus mengikuti Noval. Noval berlalu dan mengacuhkan Renata. "Maaf, saat ini aku tidak bisa bicara denganmu. Aku harus mengurus ayahku. Permisi." Noval bergegas masuk ke ruang IGD, setelah sebelumnya ada petugas yang memanggil namanya. "Lagi-lagi dia nyuekin gue. Heuh!" dengusnya kesal. Cukup lama Renata menunggu Noval keluar, tapi kesabarannya sudah setipis tisu. Kembali menelan rasa kecewa wanita itu berlalu meninggalkan rumah sakit. *** Jalanan cukup lengang saat ini, Renata bisa mengendarai kendaraannya dengan santai. Renata menuju kosan Sesil untuk mengambil tas serta ponselnya yang ia tinggalkan. Tapi, bukan rumah yang menjadi tujuannya pulang sekarang melainkan sebuah tempat di mana ia bisa mencurahkan segala gundahnya. Tidak terasa, fajar menyingsing. Sinar mentari yang sejuk mulai menyentuh tubuhnya. Renata berdiri di dekat sebuah batu nisan yang masih sangat terawat dengan baik. "Halo, Mi, Maaf aku baru datang. Udah lama, ya, aku nggak ke sini. Aku lagi bingung, Mi. Nggak ada yang ngerti posisi aku sekarang. Aku masih ingin bebas, aku belum siap buat nikah, tapi papi selalu maksa buat nikah!" tangis Renata pecah. Untuk saat ini dia hanya ingin dipeluk. Cukup lama Renata berada di pemakaman ibunya itu. Kehilangan sosok ibunya sejak bayi, membuat dirinya tak pernah mengenal kasih sayang seorang ibu. Dering ponsel memecah keheningan pagi itu. Renata menatap layar ponselnya, foto ayahnya terpanggang di sana. "Iya, Pi. Ada apa?" Beberapa saat kemudian, mimik wajahnya terlihat panik setelah mendengar perkataan seseorang di sana. Renata segera bergegas meninggalkan area pemakaman itu. Untungnya jalanan masih belum padat oleh kendaraan lain, wanita itu kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. "Di mana papi?" tanya Renata pada asisten rumah tangga yang membukakan pintu rumah. Gegas Renata menuju kamar Mr. William. Renata langsung berhambur memeluk ayahnya yang kini terbaring lemah dengan sebuah selang infus yang terpasang di tangan kirinya. "Apa yang terjadi, bukannya tadi papi baik-baik saja saat kita bertemu?" "Tuan sepertinya terlalu kelelahan, ini bisa berbahaya pada kesehatan jantungnya," ungkap dokter pribadi Mr. William yang sedang merawatnya. "Papi udah nggak muda lagi, Sayang." Sambil terbatuk dengan suara yang lemah. "Pi, kok ngomong gitu?" Renata menghampiri ayahnya dan duduk di dekatnya. "Sebelum papi pergi dari dunia ini, papi mau ada orang yang bisa buat gantiin posisi papi buat ngejaga kamu. Kamu adalah harta papi yang paling berharga." Kembali terbatuk-batuk, membuat Renata semakin khawatir. "Iya, Rery ngerti arah pembicaraannya ini. Rery bakal nikah sesuai maunya Papi, tapi kasih Rery waktu saat ini Noval tidak bisa datang. Ayahnya sedang dirawat di rumah sakit." Ayahnya menggangguk lemah mengiyakan ucapan anaknya itu. Renata tersenyum dengan wajah yang gundah. Tidak ada pilihan lain, karena ini menyangkut kesehatan ayahnya yang sebenarnya sangat dia cintai. "Terima kasih kerja samanya, dok. Akhirnya aku bisa bawa anak itu pulang." Mr. William melepaskan infusan yang ada di tangannya, saat melihat Renata benar-benar keluar dari kamarnya. Sebuah sandiwara terpaksa pria paruh baya itu lakukan untuk membawa Renata kembali ke rumahnya. Dia tersenyum penuh kemenangan saat ini. *** Renata kembali ke rutinitasnya sebagai pengusaha muda. Setelah selesai dengan rapat dadakan yang harus ia pimpin, Renata melakukan kunjungan lapangan pada beberapa proyek pembangunan gedung baru perluasan kantornya. Mr. William yang sedang sakit, mengalihkan semua tugasnya pada Renata. Untungnya wanita itu sangat lihai dengan pekerjaannya saat ini. Semua proyek besar berhasil ia ambil alih. "Apa kegiatan setelah ini?" Renata meletakkan beberapa berkas dokumen yang telah ia tanda tangani. "Makan siang dengan beberapa klien baru di Cafe DelaRosa, Nona," jawab sekretarisnya sambil melihat catatan. Ia kembali teringat pada Noval. "Carikan segala informasi tentang pria ini, termasuk semua media sosial miliknya," serunya pada sekretarisnya itu. "Gue bisa gila kalau mikirin cowok itu!" batinnya menggerutu. Renata menyandarkan punggungnya dengan santai. Melihat ke arah luar jendela dengan pemandangan gedung bertingkat yang terlihat jelas di balik jendela kantornya. Lamunannya membawanya ke masa perpisahan sekolah sembilan tahun yang lalu. "Woy! Lu semua pada lihat sini!" teriakan seorang anak laki-laki di depan kelas. "Hari ini, ada yang mau ngungkapin perasaannya pada primadona kelas kita," ujarnya lantang yang membuat seisi kelas riuh bersorak. "Huuuuu!" Noval, cowok kalem yang jarang bicara itu dengan berani maju ke depan kelas dan mulai berdiri menghadap teman-teman yang siap mendengarkannya. "Aku ...." Kelas seketika hening. "Rery, aku ... suka sama kamu. Kamu, mau jadi pacar aku?" ungkapnya sambil menyerahkan sekotak coklat yang dihiasi pita merah di atas box-nya. Semua temannya kembali bersorak dan berteriak," terima ... terima ...!" Renata berdiri dan mulai menghampiri Noval. "Lu, nembak gue? Nggak salah, Lu? Renata mengambil kotak coklat itu lalu melemparnya ke bawah. "Lihat penampilan lu yang norak ini; Kaca mata tebal; rambut klimis; ke mana-mana selalu bawa buku, cih! Lu bukan tipe gue." Renata memicing penampilan Noval dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Gue ... nggak pernah suka sama elu, nggak akan pernah suka, Si KUTU BUKU!" ejeknya dengan angkuh. Noval tertunduk, lalu mengambil kotak coklat yang Renata lempar. "Terima kasih untuk jawabannya." Dengan wajah malu dan kecewa Noval berlalu meninggalkan teman-temannya. "Argh!" Apa dia masih ingat kejadian itu? Gue nggak nyangka kalau Noval seberani itu nembak gue di depan kelas. Dan gue udah terlanjur jatohin mentalnya di depan anak-anak. Semenjak saat itu dia ilang kayak ditelen bumi. Gue harus minta maaf sama dia," gumamnya pelan. "Nona, saya telah mendapatkan data tentang orang yang Anda cari." Sekretarisnya memberikan sebuah flash disk pada Renata. "Kerja bagus, terima kasih." Renata segera memeriksa data yang sekretarisnya itu berikan. Dengan seksama Renata membaca satu persatu biodata tentang Noval. "Ternyata dia seorang peracik minuman profesional, banyak penghargaan yang sudah laki-laki itu terima. Lalu kenapa dia bisa bekerja di klub malam itu?" Tak lama dia mulai berselancar ke dunia maya untuk mencari segala info lain tentang Noval di sosial media miliknya. Hingga tak sengaja matanya tertuju pada sebuah postingan sebuah kotak coklat yang dulu pernah ia buang saat Noval menyatakan cintanya. "Dia pasti kecewa banget waktu itu." Transformasi penampilan Noval membuat Renata terpukau. Yang awalnya si kutu buku bisa menjadi laki-laki gagah dan sangat menawan seperti sekarang ini. Cukup lama Renata mencari segala informasi tentang Noval. Hingga Sekretarisnya mengingatkannya untuk makan siang. *** Noval telah kembali bekerja setelah beberapa hari sebelumnya dia harus merawat ayahnya yang jatuh sakit. Kedua pertemuannya dengan Renata benar-benar tidak ia kira. Gadis cantik yang dulu pernah ia suka kini berubah semakin tak terkendali. "Val, tolong kamu antarkan minuman ini ke meja VVIP atas nama Nona Renata, katanya dia meminta kamu yang mengantar langsung minumannya!" Perintah menejer bar tempat Noval bekerja saat ini. "Renata?"Noval mendekatkan wajahnya. Kini hanya berjarak lima centimeter saja, membuat kedua mata mereka saling beradu. Tatapannya penuh pesona, membuat Renata menjadi sangat bergairah. Wanita itu langsung mengalungkan kedua lengannya ke leher Noval. kedua bola matanya yang biru langsung terpejam. Seakan tak peduli dengan apa yang akan dilakukan Noval padanya. Dia benar, situasi seperti ini membuat setan dengan leluasa menggodanya. Dan sialnya dia sangat menikmati hal tersebut. Pria itu memiringkan wajahnya, semakin dekat dengan leher jenjang milik Renata. Bahkan hembusan napasnya bisa langsung Renata rasakan. Sensasinya membuat tubuhnya menginginkan hal lebih. Sesaat kemudian Noval berbisik lirih," Pergilah mandi, aroma alkohol masih melekat di badanmu!""Apa?" Seketika Renata melepaskan pelukannya. Pikirannya dipenuhi keinginan untuk berteriak dan memaki, melampiaskan kekesalannya. Namun, setiap kali ia membuka mulut, bayangan kejadian memalukan tadi melintas, membuatnya ingin menarik selim
Renata mematung, melihat bayangn dirinya di dalam cermin. Tak ada rona kebahagiaan terpancar di sana. Yang ada hanya kabut pekat yang menyelimuti dunianya. Cukup lama ia larut dalam keheningan. Pikiran dan hatinya kini dinaungi awan hitam, penuh keraguan. Perlahan gadis bermata biru itu mengusap lembut cincin putih yang melingkar manis di salah satu jarinya yang lentik. Renata tampak gusar. Berulang kali ia meremas rambutnya yang panjang. Menghela napas panjang dan membuangnya kasar. "Sial!" Penampilannya bahkan terlihat sangat kacau siang ini; pakaian tidur yang masih melekat di badan; rambut singa yang berantakan dan badan yang bau dengan alkohol. Ting! Tong! Berulang kali suara bel itu terdengar memanggilnya. Karena merasa terganggu ia bangkit walau dengan terpaksa. "Siapa sih, berisik banget?!" Renata membuka lubang intip di pintunya. Seketika matanya terbelalak. Ia mengucek matanya, bahkan sampai mencubit pipi untuk memastikan jika pe
"Iya, tapi 'kan kamu tau, kafe Mas bentar lagi grand opening. Rencananya saat nanti acara itu Ma mau lamar dia dihadapan umum, eh taunya dia batal pulang." Raut wajah Noval terlihat sedikit murung. Ia teringat dengan cincin yang sudah ia pesan untuk acara penting itu. "Ya udah, makanya udah susul aja ke sana. Gimana kalau kondisi ayahnya itu terus menurun, umur nggak ada yang tau, Mas!" ujarnya lalu menggigit buah pir yang ada di atas meja kerja Noval. "Eh, itu buah pir Mas maen gigit aja," Noval merebut buah itu dari tangan Tiara. Seolah mengalihkan topik pembicaraan. "Pelit! Huuuu!" ucapnya sambil berlalu pergi. "Eh, lupa!" Tiara mendongakkan kepalanya di depan pintu kamar yang belum tertutup. "Apa lagi?" jawab Noval malas, ia lalu memutar kursi kerjanya menghadap Tiara. "Bantuin ngerjain PR dong, tugas Kimia sama Matematika! Mumet nih, soalnya susah banget!" rengeknya manja. "Ya udah bawa sini!" jawab Noval setengah malas. Tapi demi adik
"Pak Zul, tolong dengarkan penjelasan saya lebih dulu. Kita kembali ke dalam dan bicarakan ini baik-baik. Kita harus dengarkan apa pendapat anak-anak kita tentang masalah perjodohan ini, Karena sejatinya merakalah nanti yang akan menjalani pernikahan ini," bujuk Pak Sanjaya. "Sudah tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Tadi saya dengar sendiri kalau Noval tidak menginginkan anak saya menjadi istrinya."Mendengar pertengkaran yang terjadi di rumah Noval. Para tetangga sekitar mulai berdatangan melihat. "Ada apa ini?""Ada apa ini?"Terdengar suara riuh ibu-ibu yang sudah memadati halaman rumah Noval yang pagarnya tidak terkunci. Bahkan sudah terlihat beberapa orang yang sudah siap dengan ponsel masing-masing yang siap mengabadikan momen pertengkaran yang ada di depan mata.Ketika rasa empati mulai terkikis, dan siapa saja sudah bisa jadi reporter dadakan. Semua direkam, semua diliput dalam media sosial. Dan menjadi trending adalah tujuan yang dicar
"Gue udah di bandara." Sebuah chat masuk ke aplikasi hijau milik Noval. "Beneran aku nggak boleh nganter kamu pergi?" jawab Noval. Tak lama balasan chat Renata datang. "Nggak usah, yang ada tar gue nggak mau pisah dari lu. Makasih ya, buat yang tadi. Sumpah tadi gue malu banget diliatin orang-orang kayak gitu.""Aku yang makasih karena kamu ... udah terima aku. Jangan lepas cincinnya, ya! Maaf aku belum bisa ngasih yang layak buat kamu." Noval mengirim emoji hati merah. Renata mengirim sebuah PAP cincin yang melingkar di jari manis tangan kiri beserta emoji hati yang banyak. "Always together, Hopefully ( selalu bersama, semoga)." Tulis Renata penuh harap. "Semoga ayah kamu segera pulih. Habis itu aku bakal lamar kamu segera." Renata kembali membalas dengan emoji tersenyum girang. Lalu menulis AAMIIN. LOVE YOU. Tok! Tok! Tok! Terdengar suara ketukan di pintu kamar Noval. Sebelum menutup ponselnya ia dengan cepat membalas chat terak
Sebuah pikiran buruk sempat terlintas di benak Renata. "Apa jangan-jangan dia mau bawa gue ke hotel atau ke tempat sepi terus gue di gitu-gituin sama dia. Ah, nggak mungkin dia pria baik-baik. Nggak mungkin dia ngelakuin hal gila kayak gitu. Ngeres banget ini otak.""Ikut aja, nanti aku tunjukin tempatnya." Noval mengulurkan tangannya dan langsung disambut oleh Renata. "Ok!" jawabnya tanpa pikir panjang lagi.Noval memberikan helm-nya yang berwarna putih itu pada Renata. Dia mulai menghidupkan kuda besinya dan melaju perlahan meninggalkan pelataran rumah Renata yang luas.Jalanan cukup lengang siang ini. Mungkin karena hari kerja, para pekerja masih disibukan dengan urusan pekerjaan mereka masing-masing. Beda halnya dengan para bos dan pimpinan perusahaan, terkadang meraka memiliki waktu luang yang lebih."Pegangan yang erat," pinta pria yang kini memakai jaket khusus untuk berkendara motor itu pada Renata saat melewati sebuah kawasan perbukitan yang cukup







