แชร์

Bab 6

ผู้เขียน: Angie
Pada saat itu juga, angin kencang tiba-tiba menimbulkan ombak besar. Kapal pesiar berguncang hebat. Suara Selene sepenuhnya tenggelam oleh deru ombak dan teriakan.

Aster mengernyit. "Tadi kamu bilang apa? Anginnya terlalu kencang."

Selene baru hendak membuka mulut, tetapi Stella sudah berkata dengan manja, "Di luar terlalu bahaya, aku takut, cepat kembali ke kabin saja."

Semua orang segera melindunginya dan pergi satu per satu, Selene berjalan paling belakang. Dia menoleh melihat lumba-lumba yang semakin menjauh, tiba-tiba tersenyum.

Mungkin ini yang disebut takdir. Mereka tidak akan pernah tahu bahwa yang dia panjatkan adalah harapan untuk tidak pernah bertemu lagi. Seperti mereka tidak pernah menghargai ketulusannya, mereka juga tidak akan tahu bahwa dia akan segera keluar dari dunia mereka.

....

Hari ketika Stella menerima undangan pesta dansa kalangan atas, keempat pria itu sedang tidak punya waktu.

"Kakak-kakak harus terbang ke Paris untuk beliin berlian merah muda yang aku mau." Stella menggoyangkan undangan sambil berkata dengan manis, "Aster juga harus tanda tangan kontrak bernilai ratusan triliun .... Selene, kamu temani aku pergi ya?"

Dia mengedipkan mata, tampak lemah dan menyedihkan. "Aku sudah lima tahun nggak ikut acara seperti ini, takut gugup."

"Nggak mau." Selene menolak dengan tegas.

Namun, keempat pria itu sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk menolak.

"Stella sakit, kamu temani dia." Sean memerintahkan dengan ekspresi dingin.

"Kamu sudah terbiasa dengan acara seperti ini." Sonny mendorong kacamatanya. "Jangan sampai buat Stella malu."

Shawn langsung mendorongnya ke dalam mobil. "Jaga Stella baik-baik, jangan buat masalah."

Pintu mobil tertutup dengan keras. Selene melihat ke luar jendela. Ketika melihat ekspresi khawatir keempat pria itu, dia hanya merasa lucu.

Mereka selalu khawatir apakah Stella akan merasa dirugikan, tetapi tidak pernah peduli apakah dia mau atau tidak.

....

Di pesta, Stella mengenakan gaun merah, tampak memukau dan mencolok.

"Kamu gantikan aku minum untukku." Dia menyodorkan sampanye ke tangan Selene, tersenyum manis. "Kalau aku pulang dalam keadaan mabuk, menurutmu apa yang akan mereka lakukan?"

Selene menggenggam gelas erat-erat, ujung jarinya memutih. Dia tahu Stella sengaja, tetapi dia tidak punya pilihan. Jika Stella terjadi apa-apa, keempat pria itu tidak akan melepaskannya.

Satu gelas demi satu gelas, pandangan Selene mulai kabur.

"Eh, kamu mabuk?" Stella pura-pura terkejut. "Aku bawa kamu ke tempat istirahat ya."

Selene berusaha mendorongnya, tetapi tidak bisa melawan tenaga Stella. Dia ditarik keluar dari aula pesta, melewati koridor panjang, dan akhirnya didorong masuk ke sebuah kamar hotel yang asing.

"Nikmati saja." Stella tertawa pelan di telinganya, lalu menutup pintu.

Selene terjatuh duduk di lantai. Dalam pandangan kabur, dia melihat seorang pria asing berjalan mendekat. Pria itu melepas dasinya, senyuman di wajahnya menjijikkan.

"Bu Stella membayar mahal agar aku melayanimu ...." Pria itu mengulurkan tangan menarik gaunnya. "Memang luar biasa."

Selene berusaha melawan dengan sekuat tenaga, tetapi tubuhnya yang mati rasa karena alkohol tidak bisa mengerahkan tenaga sedikit pun. Tangan pria itu seperti penjepit besi yang mencengkeram pergelangan tangannya, napas panasnya menyembur di lehernya, membuatnya mual.

Saat pria itu hendak menindihnya, tiba-tiba dari luar terdengar suara Stella yang terkejut dan gembira. "Aster? Kenapa kamu datang? Bukannya katanya ada kontrak penting yang harus dibicarakan?"

"Aku nggak tenang meninggalkanmu." Suara Aster terdengar dari balik pintu, tetap dingin dan elegan seperti biasa. "Aku datang untuk jemput kamu pulang."

Dia berhenti sejenak, lalu bertanya, "Selene di mana?"

"Dia di toilet," jawab Stella dengan tenang.

Selene mengerahkan seluruh tenaganya untuk menabrak pintu. "Aster! Tolong aku!"

Di luar tiba-tiba hening sejenak.

"Kamu yakin dia di toilet?" Suara Aster menjadi lebih dingin sedikit.

"Tentu saja." Stella berkata dengan nada sedih, "Kalau kamu nggak percaya, kita sekarang juga ke toilet cari dia .... Sebentar lagi waktuku minum obat, tapi nggak apa-apa, aku bisa nunggu."

Hati Selene mencelos. Dia tahu Aster pasti akan memilih membawa Stella pulang untuk minum obat, seperti berkali-kali sebelumnya.

Setelah hening yang menyesakkan, suara Aster akhirnya terdengar. "Nggak perlu, aku antar kamu pulang minum obat dulu."

Suara langkah kaki semakin menjauh. Hati Selene seperti dicungkil secara paksa. Rasanya sakit sampai dia hampir tidak bisa bernapas.

Di dalam kamar, tangan pria asing itu sudah merobek kerah pakaiannya. Dalam keputusasaan, Selene meraba nakas. Dia menemukan asbak kristal, lalu mengerahkan seluruh tenaganya untuk menghantam kepala pria itu ....

Brak! Pria itu mengerang dan jatuh ke lantai.

Selene berdiri, lalu keluar dari kamar dengan terhuyung.

Koridor kosong, dia berlari keluar sekuat tenaga. Sepatu hak tingginya entah sudah terlepas di mana. Dia berlari tanpa alas kaki di lantai dingin, tetapi tidak merasakan sakit.

Di tengah malam hujan, dia berlari ke jalan raya. Cahaya lampu mobil yang menyilaukan tiba-tiba menyinari ....

Brak! Dengan suara keras, tubuh Selene terpental, terlempar beberapa meter dan jatuh keras di jalan.

"Aster, sepertinya kita nabrak seseorang!" Suara panik Stella terdengar dari dalam mobil. "Perlu turun untuk lihat?"

Air hujan mengaburkan pandangan. Aster melirik sekilas. "Nggak apa-apa, aku suruh asisten tangani saja."

Dia tanpa ragu menginjak pedal gas. "Yang penting kamu minum obat."

Mobil melaju kencang, cipratan air bercampur darah memercik ke wajah pucat Selene. Dia terbaring di atas genangan darah. Hujan membilas darahnya, mengalirkannya ke selokan di pinggir jalan.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Kekasihku Tak Pernah Mencintaiku, Tetapi Kakakku   Bab 22

    Mereka masih memendam harapan, ingin mendapatkan pengampunannya. Hadiah-hadiah terus dikirim ke Selene, tetapi semuanya dikembalikan.Adam yang melihat cara Selene melempar semua hadiah itu pun tak bisa menahan tawa. "Proyekku di sini sebentar lagi selesai. Kamu mau ikut aku kembali ke Kota Kibar?"Gerakan Selene terhenti sejenak."Adam, kamu benar-benar menyukaiku? Kamu benar-benar nggak keberatan dengan masa laluku?"Adam menatapnya dengan tatapan yang tegas dan lembut. "Selene, aku orang dewasa. Aku bisa membedakan antara rasa suka dan rasa terima kasih. Aku menyukaimu, mencintaimu, dan ingin melindungimu.""Untuk masa lalumu, yang kurasakan hanya sakit hati ... dan penyesalan kenapa aku nggak bertemu denganmu lebih awal."Adam adalah seseorang yang sangat baik dalam mengejar cinta. Perhatiannya selalu terlihat dari setiap hal kecil.Selene sudah melewati usia yang mendambakan cinta yang dramatis dan penuh pengorbanan. Justru perhatian yang tersembunyi dalam detail seperti ini yang

  • Kekasihku Tak Pernah Mencintaiku, Tetapi Kakakku   Bab 21

    Menghadapi semua tindakan mereka, Selene hanya merasa jijik."Aku sudah mengatakan semuanya dengan sangat jelas. Aku nggak ingin lagi menjadi adik kalian, apalagi menjadi istri Aster. Aku hanya ingin menjadi Selene. Kemunculan kalian hanya membuatku merasa muak."Mendengar kata-katanya, wajah mereka semua menunjukkan kesedihan. "Selene, kami benar-benar tahu kami salah. Semua ini karena Stella, jadi kami melakukan kesalahan seperti itu."Selene mencibir, lalu mengangkat lengannya. "Di sini, aku pernah digigit ular berbisa yang diberikan Stella. Karena kalian nggak mau memberiku pengobatan, aku hampir mati. Sampai sekarang, karena efek racunnya, lenganku masih sering mengalami nyeri saraf."Dia lalu menatap Sean, menunjuk punggungnya, dan berkata dengan jelas, "Karena difitnah Stella, aku dihukum 100 cambukan. Sampai sekarang, bekas lukanya nggak bisa hilang."Dia lalu menunjuk dadanya. "Aster, kamu menabrakku hingga tiga tulang rusukku patah. Setiap kali hujan, rasanya sakit.""Dan per

  • Kekasihku Tak Pernah Mencintaiku, Tetapi Kakakku   Bab 20

    Selene tidak berkata apa-apa. Keheningan mengalir di antara mereka berdua.Aster menatapnya lekat-lekat, berharap pengakuannya bisa meluluhkan hati Selene."Aster, untuk apa kamu melakukan ini?" Selene menggeleng, penolakannya sangat tegas. "Kamu seharusnya tahu, di dunia ini nggak ada obat penyesalan.""Kalau memang ada, hal yang paling kusesali adalah dilahirkan di Keluarga Wiyoko. Yang kedua adalah menikah denganmu lima tahun lalu."Selene tidak ingin terus terlibat dengannya. "Aster, saat digantung di tebing itu, aku sudah mati sekali. Anggap saja kamu melepaskanku, bisa?"Dia ingin berbalik pergi, tetapi pergelangan tangannya ditahan oleh Aster."Nggak bisa. Selene, aku benar-benar sudah sadar salah, aku juga benar-benar menyesal. Bukankah kamu dulu paling ingin menikah denganku? Ikut aku kembali, kita daftarkan pernikahan kita ya?"Semakin dia mengatakan hal-hal itu, Selene semakin merasa muak. Saat dia tidak bisa melepaskan diri, sebuah tangan menarik pergelangan tangannya dari

  • Kekasihku Tak Pernah Mencintaiku, Tetapi Kakakku   Bab 19

    Selene terus berkeliling ke berbagai tempat, hingga akhirnya menetap di sebuah kota bunga di perbatasan.Dia berjalan santai di jalanan, sesekali mengangkat kamera untuk mengambil beberapa foto."Selene!" Mendengar seseorang memanggil namanya, Selene menoleh.Meskipun samar-samar, dia langsung mengenalinya. Itu Aster.Dia tak bisa menahan diri untuk mengernyit. Sudah terlalu lama dia tidak melihat orang-orang yang berkaitan dengan Aster, sampai-sampai hampir melupakannya.Selene tidak mengerti. Jelas-jelas Aster tidak mencintainya dan dia juga sudah memilih pergi. Kenapa pria ini masih datang mengganggunya?Begitu memikirkan Aster, dia langsung teringat masa-masa di Keluarga Wiyoko. Cuaca di sini hangat, luka di tulang rusuknya sudah lama tidak terasa sakit. Namun, begitu melihat Aster, rasa sakit karena luka batin itu kembali menyeruak.Selene mempercepat langkah dan pergi. Kerumunan dan gang-gang memisahkan dirinya dari Aster.Saat Aster melihat Selene untuk pertama kalinya, dia hamp

  • Kekasihku Tak Pernah Mencintaiku, Tetapi Kakakku   Bab 18

    Sejak Adam datang ke sini, kehidupan Selene memang banyak berubah. Dulu, di hatinya selalu terasa seperti ada yang hilang.Namun, setelah Adam datang, mereka sesekali berbincang. Bahkan saat tidak berbicara, dia tetap akan berdiri di sampingnya sebentar.Selene menyentuh dadanya dan baru menyadari bahwa rasa hampa dan kehilangan itu sudah lama tidak muncul.Baru saat itu Selene sadar, perasaan hampa itu muncul karena dia terlalu lama sendirian dalam keheningan.Manusia adalah makhluk sosial. Selama masih manusia, pasti akan mendambakan kebersamaan. Terlalu lama terpisah dari orang lain akan menimbulkan rasa kesepian.Selene dulu memang ingin menghabiskan sisa hidupnya di pulau terpencil ini, tetapi sekarang dia berubah pikiran.Beberapa bulan telah berlalu. Mereka seharusnya sudah melupakannya. Dia sendiri sudah dianggap mati sekali, jadi tidak perlu lagi menyiksa diri.Memikirkan hal itu, Selene tidak menolak usulan Adam."Aku juga akan pergi besok. Tapi nggak perlu temani aku jalan-j

  • Kekasihku Tak Pernah Mencintaiku, Tetapi Kakakku   Bab 17

    Selene sudah tinggal di pulau terpencil ini selama beberapa bulan. Selain kapal suplai yang sesekali datang, hampir tidak ada manusia di sini.Yang menemaninya setiap hari hanyalah angin laut dan burung laut yang kadang terbang melewati jendela.Hidup sendiri terasa cukup nyaman. Awalnya Selene masih sesekali teringat pengalaman di Keluarga Wiyoko, tetapi lama-kelamaan dia mulai melupakannya, seolah-olah kenangan yang tidak menyenangkan itu terkubur.Hal-hal tentang Keluarga Wiyoko dan Aster terasa seperti terjadi di kehidupan sebelumnya.Melihat peringatan badai di ponselnya, Selene menutup rapat pintu dan jendela vila yang berada di tengah pulau, lalu menunggu cuaca kembali cerah.Benar saja, hari cerah yang langka akhirnya datang. Melihat langit tanpa awan, Selene tiba-tiba ingin keluar berjalan-jalan.Air laut di sini sangat biru. Selene sering merasa dirinya seperti berada di ujung dunia. Tiba-tiba, sesuatu di pantai kejauhan menarik perhatiannya.Dia berjalan mendekat dan menemuk

  • Kekasihku Tak Pernah Mencintaiku, Tetapi Kakakku   Bab 3

    Saat terbangun lagi, sudah hari berikutnya. Selene perlahan membuka mata, bau disinfektan masuk ke hidungnya."Nyonya akhirnya sadar!" Dengan mata bengkak, Lina menerjang ke sisi ranjang. Tangannya yang kasar menggenggam erat jari-jari Selene yang dingin. "Aku hampir jantungan dibuat Nyonya!""Aku .

  • Kekasihku Tak Pernah Mencintaiku, Tetapi Kakakku   Bab 2

    Manajer itu melihat matanya yang merah, akhirnya tidak berani bertanya lagi. Dia segera merapikan dokumen dan berkata dengan hormat, "Kami akan segera mengurus prosedurnya. Nanti kami akan langsung beri tahu Anda waktu spesifik untuk naik ke pulau."Selene menandatangani dengan cepat. Dari dompetnya

  • Kekasihku Tak Pernah Mencintaiku, Tetapi Kakakku   Bab 1

    Selama lima tahun menikah, Aster tidak pernah mendaftarkan pernikahan dengan Selene secara resmi.Dia selalu bilang perusahaan terlalu sibuk, tidak ada waktu, daftar atau tidak juga sama saja. Selene percaya begitu saja. Sampai hari ini ....Dia melihat dengan mata kepala sendiri Aster keluar dari k

  • Kekasihku Tak Pernah Mencintaiku, Tetapi Kakakku   Bab 8

    Angin kencang menderu. Dengan gaun putihnya, Stella berdiri di tepi tebing. Tubuhnya goyah seolah-olah bisa jatuh kapan saja. Angin laut mengibaskan gaunnya, membuatnya tampak rapuh seperti kertas."Stella!" Para kakak berteriak dengan panik, "Cepat kembali!"Stella menoleh, air matanya mengalir der

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status