Share

Bab 4

Penulis: Angie
"Berlutut." Shawn memberi perintah dengan suara dingin.

Para pengawal segera maju, menekan bahunya dengan kasar seperti memperlakukan seorang penjahat. Dia berusaha melawan, tetapi dipaksa berlutut di lantai marmer yang dingin. Lututnya menghantam lantai dengan keras, rasa sakit membuat pandangannya menghitam.

Sean mengambil cambuk rotan yang sudah disiapkan, mengayunkannya di udara hingga terdengar suara tajam, lalu menghantamkannya ke punggungnya ....

Plak! Rasa sakit seketika meledak, seolah-olah ribuan jarum menusuk dagingnya bersamaan. Selene menggigit bibirnya kuat-kuat. Bau amis darah menyebar di mulutnya, tetapi dia tetap memaksakan diri tidak mengeluarkan suara.

"Sudah tahu salah?" tanya Sean dengan dingin.

"Aku nggak salah ...." Selene mengucapkan dengan susah payah.

Plak! Kali ini lebih keras dari sebelumnya. Darah langsung merembes menembus gaun tipisnya, mekar menjadi bunga darah yang mencolok di punggungnya.

"Sudah tahu salah?"

"Aku nggak salah ...."

Cambuk itu menghantam tubuhnya berulang kali. Setiap kali seperti ingin merobek jiwanya. Darah perlahan membasahi gaun putihnya, mengalir dan berkumpul menjadi genangan merah yang mencolok di lantai.

"Jangan pukul lagi .... Kumohon jangan pukul lagi ...." Lina berlutut sambil menangis. "Nyonya bisa mati ...."

Namun, ketiga kakaknya seolah-olah tidak mendengar dan cambukan tetap berlanjut.

Kesadaran Selene mulai kabur. Samar-samar, dia mendengar Shawn mencibir. "Kalau nggak mau mengaku salah, pukul saja sampai dia mengaku."

Saat cambukan terakhir jatuh, dia akhirnya tidak sanggup lagi. Pandangannya menghitam dan dia pingsan.

Sebelum jatuh ke dalam kegelapan, hal terakhir yang dia lihat adalah genangan darah mencolok di lantai ... dan tatapan dingin ketiga kakaknya.

Selene ditinggalkan sendirian di kamar selama tiga hari penuh. Dia berbaring di tempat tidur, bisa mendengar jelas tawa dan canda dari kamar sebelah.

Suara manja Stella, suara lembut ketiga kakaknya yang membujuknya, dan juga tawa rendah Aster. Semua suara itu seperti pisau, siang dan malam menyiksa hatinya yang sudah hancur berkeping-keping.

"Stella, minum obatnya."

"Nggak mau, pahit sekali ...."

"Yang patuh dong. Habiskan ya, nanti aku kasih permen."

"Aster, suapi aku ...."

Selene membenamkan wajahnya ke bantal, kukunya menancap dalam ke telapak tangan. Dia pikir dirinya sudah mati rasa karena sakit, tetapi setiap kali bernapas, dadanya tetap terasa ditusuk tajam.

Pagi hari keempat, dia akhirnya bisa turun dari ranjang. Sambil berpegangan pada dinding, dia melangkah perlahan menuju tangga dan mendengar suara diskusi penuh semangat dari bawah.

"Kudengar akhir-akhir ini ada kelompok lumba-lumba muncul di perairan ini." Suara Aster jarang sekali terdengar seceria itu. "Stella selalu ingin melihatnya."

"Kalau begitu, pergi hari ini saja." Ketiga kakaknya langsung setuju. "Sekalian biar Stella bisa bersantai."

Selene membeku di tikungan tangga. Jari yang memegang pegangan tangga sedikit gemetar. Luka cambukan di punggungnya belum sembuh. Setiap langkah terasa seperti terbakar.

"Selene?" Stella tiba-tiba mendongak dan berseru gembira, "Kamu akhirnya bisa turun dari ranjang!"

Keempat pria itu bersamaan menoleh, memandang Selene di tangga dengan tatapan rumit. Dia terlihat sangat kurus di balik piama yang longgar. Di pergelangan tangannya masih ada memar yang belum hilang.

"Kami mau pergi lihat lumba-lumba." Stella berlari kecil menaiki tangga, merangkul lengan Selene dengan akrab. "Kamu ikut juga ya?"

Selene refleks menarik tangannya. Gerakan ini langsung membuat mata Stella memerah.

"Selene, aku sudah maafin kamu kok." Suara Stella tercekat. "Walaupun kamu buat reputasiku hancur ... aku nggak punya banyak waktu lagi. Aku nggak ingin mempermasalahkannya ...."

"Selene!" Aster segera mendekat, langsung melindungi Stella di belakangnya. "Stella sudah berinisiatif berdamai dan sikapmu seperti ini?"

Shawn mencibir. "Benar. Lihat Stella, lalu lihat dirimu. Benar-benar jelas perbedaannya."

Selene menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, sampai merasakan bau amis darah. Dia memandang empat orang yang dulu paling dekat dengannya, tiba-tiba merasa sangat asing.

Akhirnya, demi menyenangkan Stella, dia dipaksa ikut naik ke kapal pesiar. Laut biru membentang tanpa batas, sinar matahari jatuh di atas dek, menyilaukan mata.

Stella mengusulkan makan barbeku dengan penuh semangat, tetapi keempat pria itu langsung mengernyit menolak.

"Aku sudah mau mati ...." Stella menunduk, suaranya ringan. "Nggak boleh aku melakukan hal yang ingin kulakukan?"

"Jangan bicara sembarangan!" Sonny buru-buru menutup mulutnya. "Kami sudah menghubungi ahli terbaik di luar negeri, kamu nggak akan kenapa-napa."

Selene duduk diam di sudut, melihat mereka sibuk menyiapkan barbeku. Tidak ada yang ingat dia alergi seafood, seperti tidak ada yang ingat punggungnya masih terluka.

"Kenapa kamu nggak makan?" Aster tiba-tiba memperhatikannya.

"Aku alergi seafood," jawab Selene pelan.

Suasana langsung menjadi canggung.

Aster mengernyit, baru saja hendak berdiri untuk menyuruh koki menyiapkan makanan lain, tiba-tiba angin kencang menerpa laut.

Kapal pesiar berguncang hebat, panggangan terbalik, arang panas beterbangan ke mana-mana!

"Awas!" Selene melihat empat pria itu serentak menerjang ke arah Stella, menggunakan tubuh mereka sebagai perisai untuk melindunginya.

Sementara dirinya ....

"Ah!" Arang panas jatuh ke ujung gaunnya, dalam sekejap menyala menjadi api besar!

Dia berguling kesakitan di lantai, menjerit, tetapi tidak ada satu pun orang menoleh melihatnya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kekasihku Tak Pernah Mencintaiku, Tetapi Kakakku   Bab 22

    Mereka masih memendam harapan, ingin mendapatkan pengampunannya. Hadiah-hadiah terus dikirim ke Selene, tetapi semuanya dikembalikan.Adam yang melihat cara Selene melempar semua hadiah itu pun tak bisa menahan tawa. "Proyekku di sini sebentar lagi selesai. Kamu mau ikut aku kembali ke Kota Kibar?"Gerakan Selene terhenti sejenak."Adam, kamu benar-benar menyukaiku? Kamu benar-benar nggak keberatan dengan masa laluku?"Adam menatapnya dengan tatapan yang tegas dan lembut. "Selene, aku orang dewasa. Aku bisa membedakan antara rasa suka dan rasa terima kasih. Aku menyukaimu, mencintaimu, dan ingin melindungimu.""Untuk masa lalumu, yang kurasakan hanya sakit hati ... dan penyesalan kenapa aku nggak bertemu denganmu lebih awal."Adam adalah seseorang yang sangat baik dalam mengejar cinta. Perhatiannya selalu terlihat dari setiap hal kecil.Selene sudah melewati usia yang mendambakan cinta yang dramatis dan penuh pengorbanan. Justru perhatian yang tersembunyi dalam detail seperti ini yang

  • Kekasihku Tak Pernah Mencintaiku, Tetapi Kakakku   Bab 21

    Menghadapi semua tindakan mereka, Selene hanya merasa jijik."Aku sudah mengatakan semuanya dengan sangat jelas. Aku nggak ingin lagi menjadi adik kalian, apalagi menjadi istri Aster. Aku hanya ingin menjadi Selene. Kemunculan kalian hanya membuatku merasa muak."Mendengar kata-katanya, wajah mereka semua menunjukkan kesedihan. "Selene, kami benar-benar tahu kami salah. Semua ini karena Stella, jadi kami melakukan kesalahan seperti itu."Selene mencibir, lalu mengangkat lengannya. "Di sini, aku pernah digigit ular berbisa yang diberikan Stella. Karena kalian nggak mau memberiku pengobatan, aku hampir mati. Sampai sekarang, karena efek racunnya, lenganku masih sering mengalami nyeri saraf."Dia lalu menatap Sean, menunjuk punggungnya, dan berkata dengan jelas, "Karena difitnah Stella, aku dihukum 100 cambukan. Sampai sekarang, bekas lukanya nggak bisa hilang."Dia lalu menunjuk dadanya. "Aster, kamu menabrakku hingga tiga tulang rusukku patah. Setiap kali hujan, rasanya sakit.""Dan per

  • Kekasihku Tak Pernah Mencintaiku, Tetapi Kakakku   Bab 20

    Selene tidak berkata apa-apa. Keheningan mengalir di antara mereka berdua.Aster menatapnya lekat-lekat, berharap pengakuannya bisa meluluhkan hati Selene."Aster, untuk apa kamu melakukan ini?" Selene menggeleng, penolakannya sangat tegas. "Kamu seharusnya tahu, di dunia ini nggak ada obat penyesalan.""Kalau memang ada, hal yang paling kusesali adalah dilahirkan di Keluarga Wiyoko. Yang kedua adalah menikah denganmu lima tahun lalu."Selene tidak ingin terus terlibat dengannya. "Aster, saat digantung di tebing itu, aku sudah mati sekali. Anggap saja kamu melepaskanku, bisa?"Dia ingin berbalik pergi, tetapi pergelangan tangannya ditahan oleh Aster."Nggak bisa. Selene, aku benar-benar sudah sadar salah, aku juga benar-benar menyesal. Bukankah kamu dulu paling ingin menikah denganku? Ikut aku kembali, kita daftarkan pernikahan kita ya?"Semakin dia mengatakan hal-hal itu, Selene semakin merasa muak. Saat dia tidak bisa melepaskan diri, sebuah tangan menarik pergelangan tangannya dari

  • Kekasihku Tak Pernah Mencintaiku, Tetapi Kakakku   Bab 19

    Selene terus berkeliling ke berbagai tempat, hingga akhirnya menetap di sebuah kota bunga di perbatasan.Dia berjalan santai di jalanan, sesekali mengangkat kamera untuk mengambil beberapa foto."Selene!" Mendengar seseorang memanggil namanya, Selene menoleh.Meskipun samar-samar, dia langsung mengenalinya. Itu Aster.Dia tak bisa menahan diri untuk mengernyit. Sudah terlalu lama dia tidak melihat orang-orang yang berkaitan dengan Aster, sampai-sampai hampir melupakannya.Selene tidak mengerti. Jelas-jelas Aster tidak mencintainya dan dia juga sudah memilih pergi. Kenapa pria ini masih datang mengganggunya?Begitu memikirkan Aster, dia langsung teringat masa-masa di Keluarga Wiyoko. Cuaca di sini hangat, luka di tulang rusuknya sudah lama tidak terasa sakit. Namun, begitu melihat Aster, rasa sakit karena luka batin itu kembali menyeruak.Selene mempercepat langkah dan pergi. Kerumunan dan gang-gang memisahkan dirinya dari Aster.Saat Aster melihat Selene untuk pertama kalinya, dia hamp

  • Kekasihku Tak Pernah Mencintaiku, Tetapi Kakakku   Bab 18

    Sejak Adam datang ke sini, kehidupan Selene memang banyak berubah. Dulu, di hatinya selalu terasa seperti ada yang hilang.Namun, setelah Adam datang, mereka sesekali berbincang. Bahkan saat tidak berbicara, dia tetap akan berdiri di sampingnya sebentar.Selene menyentuh dadanya dan baru menyadari bahwa rasa hampa dan kehilangan itu sudah lama tidak muncul.Baru saat itu Selene sadar, perasaan hampa itu muncul karena dia terlalu lama sendirian dalam keheningan.Manusia adalah makhluk sosial. Selama masih manusia, pasti akan mendambakan kebersamaan. Terlalu lama terpisah dari orang lain akan menimbulkan rasa kesepian.Selene dulu memang ingin menghabiskan sisa hidupnya di pulau terpencil ini, tetapi sekarang dia berubah pikiran.Beberapa bulan telah berlalu. Mereka seharusnya sudah melupakannya. Dia sendiri sudah dianggap mati sekali, jadi tidak perlu lagi menyiksa diri.Memikirkan hal itu, Selene tidak menolak usulan Adam."Aku juga akan pergi besok. Tapi nggak perlu temani aku jalan-j

  • Kekasihku Tak Pernah Mencintaiku, Tetapi Kakakku   Bab 17

    Selene sudah tinggal di pulau terpencil ini selama beberapa bulan. Selain kapal suplai yang sesekali datang, hampir tidak ada manusia di sini.Yang menemaninya setiap hari hanyalah angin laut dan burung laut yang kadang terbang melewati jendela.Hidup sendiri terasa cukup nyaman. Awalnya Selene masih sesekali teringat pengalaman di Keluarga Wiyoko, tetapi lama-kelamaan dia mulai melupakannya, seolah-olah kenangan yang tidak menyenangkan itu terkubur.Hal-hal tentang Keluarga Wiyoko dan Aster terasa seperti terjadi di kehidupan sebelumnya.Melihat peringatan badai di ponselnya, Selene menutup rapat pintu dan jendela vila yang berada di tengah pulau, lalu menunggu cuaca kembali cerah.Benar saja, hari cerah yang langka akhirnya datang. Melihat langit tanpa awan, Selene tiba-tiba ingin keluar berjalan-jalan.Air laut di sini sangat biru. Selene sering merasa dirinya seperti berada di ujung dunia. Tiba-tiba, sesuatu di pantai kejauhan menarik perhatiannya.Dia berjalan mendekat dan menemuk

  • Kekasihku Tak Pernah Mencintaiku, Tetapi Kakakku   Bab 8

    Angin kencang menderu. Dengan gaun putihnya, Stella berdiri di tepi tebing. Tubuhnya goyah seolah-olah bisa jatuh kapan saja. Angin laut mengibaskan gaunnya, membuatnya tampak rapuh seperti kertas."Stella!" Para kakak berteriak dengan panik, "Cepat kembali!"Stella menoleh, air matanya mengalir der

  • Kekasihku Tak Pernah Mencintaiku, Tetapi Kakakku   Bab 7

    Saat Selene membuka mata, dia mendapati dirinya terbaring di rumah sakit. Bau disinfektan masuk ke hidungnya, monitor jantung mengeluarkan bunyi "bip, bip" yang teratur."Kamu sudah sadar?" Perawat mendorong pintu dan masuk. "Lukamu cukup parah, tiga tulang rusukmu patah. Kamu butuh keluarga untuk m

  • Kekasihku Tak Pernah Mencintaiku, Tetapi Kakakku   Bab 6

    Pada saat itu juga, angin kencang tiba-tiba menimbulkan ombak besar. Kapal pesiar berguncang hebat. Suara Selene sepenuhnya tenggelam oleh deru ombak dan teriakan.Aster mengernyit. "Tadi kamu bilang apa? Anginnya terlalu kencang."Selene baru hendak membuka mulut, tetapi Stella sudah berkata dengan

  • Kekasihku Tak Pernah Mencintaiku, Tetapi Kakakku   Bab 5

    Empat pria itu masih sibuk memeriksa apakah Stella terluka. Lengan Stella hanya sedikit memerah karena terkena panas."Stella! Kamu nggak apa-apa?""Biar kulihat!""Cuma sedikit merah, cepat ambil obat!"Akhirnya seorang awak kapal yang lewat menemukan Selene. Dengan panik, dia berlari mendekat, men

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status