Share

Bab 8

Author: Angie
Angin kencang menderu. Dengan gaun putihnya, Stella berdiri di tepi tebing. Tubuhnya goyah seolah-olah bisa jatuh kapan saja. Angin laut mengibaskan gaunnya, membuatnya tampak rapuh seperti kertas.

"Stella!" Para kakak berteriak dengan panik, "Cepat kembali!"

Stella menoleh, air matanya mengalir deras. "Kak, Aster, aku nggak rela ninggalin kalian .... Tapi Selene nggak bisa menerimaku .... Lagi pula, aku juga akan segera mati .... Lebih baik aku akhiri semuanya sekarang, jadi nggak akan ganggu Selene lagi ...."

Empat pria itu langsung menoleh dan menatap Selene dengan marah.

"Selene!" Aster mendorongnya ke depan. "Bicara! Bujuk dia kembali!"

Selene hanya menatap sandiwara ini dengan tenang, tidak berkata apa-apa.

"Kamu memang harus memaksanya mati baru puas?!" teriak Sean dengan marah.

Melihat Selene diam, Stella menangis semakin keras. Tiba-tiba, dia berbalik dan hendak melompat dengan tegas.

"Stella!" Keempat pria itu serentak menerjang. Di saat genting, mereka berhasil menangkap pergelangan tangannya.

Setelah menariknya kembali, Stella langsung jatuh ke pelukan mereka, menangis tersedu-sedu.

"Nggak apa-apa, semua baik-baik saja ...." Aster memeluknya erat, suaranya luar biasa lembut. "Kami di sini."

"Jangan takut." Para kakak menepuk punggungnya. "Kami nggak akan membiarkan apa pun terjadi padamu."

Stella terisak di pelukan Aster, tetapi beberapa saat kemudian dia kembali meronta. "Nggak, lepaskan aku! Biarkan aku mati! Selene ... sama sekali nggak bisa menerimaku ...."

Sambil berkata begitu, dia hendak berlari ke tepi tebing lagi. Empat pria itu buru-buru menahannya.

"Cukup!" Shawn menoleh dan menatap Selene dengan marah. "Kamu yang memaksanya sampai seperti ini!"

Sonny merangkul bahu Stella yang gemetar dengan kasihan, suaranya lembut. "Jangan takut, selama ada kami, nggak ada yang bisa mengusirmu."

Selene memandang semua ini dengan tenang. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman dingin.

Dia terlalu mengenal Stella. Setiap kali selalu seperti ini, menggunakan bunuh diri untuk mencari simpati. Mereka pun selalu tertipu.

"Pengawal, gantung Selene di tepi tebing supaya dia introspeksi diri!" Sean memerintah dengan suara dingin, "Biarkan dia renungkan baik-baik di mana letak kesalahannya."

Di sudut yang tidak terlihat orang lain, Stella menatap Selene dengan senyuman kemenangan.

Tatapan itu begitu jelas, seolah-olah berkata, "Selene, kamu nggak akan pernah bisa mengalahkanku."

Para pengawal segera maju, menggunakan tali kasar untuk mengikat Selene dan menggantungnya di tepi tebing. Tali itu menekan dalam ke dagingnya, tetapi dia bahkan tidak mengernyit.

Saat hendak pergi, Aster sempat menoleh. Tatapan Selene yang terlalu tenang membuat hatinya bergetar tanpa alasan. Namun, saat itu Stella "pingsan". Dia langsung menggendongnya dengan panik dan pergi tanpa menoleh lagi.

Di tepi tebing hanya tersisa Selene seorang diri. Angin menderu, tali bergoyang mengikuti angin, menggesek pergelangan tangannya yang sudah berdarah dan hancur. Ponsel di sakunya bergetar, tetapi dia terikat erat dan tidak bisa melihatnya.

Dia mulai memutar pergelangan tangannya dengan sekuat tenaga, membuat tali perlahan-lahan mengendur. Darah mengalir di sepanjang tali, tetapi dia seolah-olah tidak merasakan sakit.

Akhirnya, saat tali cukup longgar, dia tiba-tiba membalikkan tubuh, mengerahkan seluruh tenaga untuk meraih batu yang menonjol di tepi tebing, lalu perlahan memanjat ke atas.

Saat akhirnya berhasil naik, kedua tangannya sudah terluka parah. Dengan gemetaran, dia mengeluarkan ponsel. Di layar muncul sebuah pesan.

[ Bu Selene, proses serah terima pulau tak berpenghuni Anda sudah selesai, kapan saja bisa ditempati. ]

Melihat tali yang masih bergoyang di tepi tebing, Selene tiba-tiba tersenyum. Karena akan pergi, lebih baik membuat mereka mengira dia sudah mati.

Dia memang tidak bisa mengalahkan Stella, tetapi ada satu hal yang tidak terpikirkan oleh Stella, yaitu orang hidup tidak akan pernah bisa mengalahkan orang mati!

Memikirkan itu, dia menggantungkan mantelnya di dahan pohon di tepi tebing, lalu memotong tali dan melemparkannya ke jurang. Mantel itu berkibar tertiup angin, seperti jejak terakhir seseorang yang jatuh dari tebing.

"Selamat tinggal." Dia berkata pelan, tetapi bukan untuk siapa pun, melainkan untuk dirinya di masa lalu yang mencintai mereka dengan bodoh.

Setelah menghentikan sebuah taksi, Selene pergi tanpa menoleh lagi. Kali ini, dia akan menyimpan semua cintanya hanya untuk dirinya sendiri.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Kekasihku Tak Pernah Mencintaiku, Tetapi Kakakku   Bab 22

    Mereka masih memendam harapan, ingin mendapatkan pengampunannya. Hadiah-hadiah terus dikirim ke Selene, tetapi semuanya dikembalikan.Adam yang melihat cara Selene melempar semua hadiah itu pun tak bisa menahan tawa. "Proyekku di sini sebentar lagi selesai. Kamu mau ikut aku kembali ke Kota Kibar?"Gerakan Selene terhenti sejenak."Adam, kamu benar-benar menyukaiku? Kamu benar-benar nggak keberatan dengan masa laluku?"Adam menatapnya dengan tatapan yang tegas dan lembut. "Selene, aku orang dewasa. Aku bisa membedakan antara rasa suka dan rasa terima kasih. Aku menyukaimu, mencintaimu, dan ingin melindungimu.""Untuk masa lalumu, yang kurasakan hanya sakit hati ... dan penyesalan kenapa aku nggak bertemu denganmu lebih awal."Adam adalah seseorang yang sangat baik dalam mengejar cinta. Perhatiannya selalu terlihat dari setiap hal kecil.Selene sudah melewati usia yang mendambakan cinta yang dramatis dan penuh pengorbanan. Justru perhatian yang tersembunyi dalam detail seperti ini yang

  • Kekasihku Tak Pernah Mencintaiku, Tetapi Kakakku   Bab 21

    Menghadapi semua tindakan mereka, Selene hanya merasa jijik."Aku sudah mengatakan semuanya dengan sangat jelas. Aku nggak ingin lagi menjadi adik kalian, apalagi menjadi istri Aster. Aku hanya ingin menjadi Selene. Kemunculan kalian hanya membuatku merasa muak."Mendengar kata-katanya, wajah mereka semua menunjukkan kesedihan. "Selene, kami benar-benar tahu kami salah. Semua ini karena Stella, jadi kami melakukan kesalahan seperti itu."Selene mencibir, lalu mengangkat lengannya. "Di sini, aku pernah digigit ular berbisa yang diberikan Stella. Karena kalian nggak mau memberiku pengobatan, aku hampir mati. Sampai sekarang, karena efek racunnya, lenganku masih sering mengalami nyeri saraf."Dia lalu menatap Sean, menunjuk punggungnya, dan berkata dengan jelas, "Karena difitnah Stella, aku dihukum 100 cambukan. Sampai sekarang, bekas lukanya nggak bisa hilang."Dia lalu menunjuk dadanya. "Aster, kamu menabrakku hingga tiga tulang rusukku patah. Setiap kali hujan, rasanya sakit.""Dan per

  • Kekasihku Tak Pernah Mencintaiku, Tetapi Kakakku   Bab 20

    Selene tidak berkata apa-apa. Keheningan mengalir di antara mereka berdua.Aster menatapnya lekat-lekat, berharap pengakuannya bisa meluluhkan hati Selene."Aster, untuk apa kamu melakukan ini?" Selene menggeleng, penolakannya sangat tegas. "Kamu seharusnya tahu, di dunia ini nggak ada obat penyesalan.""Kalau memang ada, hal yang paling kusesali adalah dilahirkan di Keluarga Wiyoko. Yang kedua adalah menikah denganmu lima tahun lalu."Selene tidak ingin terus terlibat dengannya. "Aster, saat digantung di tebing itu, aku sudah mati sekali. Anggap saja kamu melepaskanku, bisa?"Dia ingin berbalik pergi, tetapi pergelangan tangannya ditahan oleh Aster."Nggak bisa. Selene, aku benar-benar sudah sadar salah, aku juga benar-benar menyesal. Bukankah kamu dulu paling ingin menikah denganku? Ikut aku kembali, kita daftarkan pernikahan kita ya?"Semakin dia mengatakan hal-hal itu, Selene semakin merasa muak. Saat dia tidak bisa melepaskan diri, sebuah tangan menarik pergelangan tangannya dari

  • Kekasihku Tak Pernah Mencintaiku, Tetapi Kakakku   Bab 19

    Selene terus berkeliling ke berbagai tempat, hingga akhirnya menetap di sebuah kota bunga di perbatasan.Dia berjalan santai di jalanan, sesekali mengangkat kamera untuk mengambil beberapa foto."Selene!" Mendengar seseorang memanggil namanya, Selene menoleh.Meskipun samar-samar, dia langsung mengenalinya. Itu Aster.Dia tak bisa menahan diri untuk mengernyit. Sudah terlalu lama dia tidak melihat orang-orang yang berkaitan dengan Aster, sampai-sampai hampir melupakannya.Selene tidak mengerti. Jelas-jelas Aster tidak mencintainya dan dia juga sudah memilih pergi. Kenapa pria ini masih datang mengganggunya?Begitu memikirkan Aster, dia langsung teringat masa-masa di Keluarga Wiyoko. Cuaca di sini hangat, luka di tulang rusuknya sudah lama tidak terasa sakit. Namun, begitu melihat Aster, rasa sakit karena luka batin itu kembali menyeruak.Selene mempercepat langkah dan pergi. Kerumunan dan gang-gang memisahkan dirinya dari Aster.Saat Aster melihat Selene untuk pertama kalinya, dia hamp

  • Kekasihku Tak Pernah Mencintaiku, Tetapi Kakakku   Bab 18

    Sejak Adam datang ke sini, kehidupan Selene memang banyak berubah. Dulu, di hatinya selalu terasa seperti ada yang hilang.Namun, setelah Adam datang, mereka sesekali berbincang. Bahkan saat tidak berbicara, dia tetap akan berdiri di sampingnya sebentar.Selene menyentuh dadanya dan baru menyadari bahwa rasa hampa dan kehilangan itu sudah lama tidak muncul.Baru saat itu Selene sadar, perasaan hampa itu muncul karena dia terlalu lama sendirian dalam keheningan.Manusia adalah makhluk sosial. Selama masih manusia, pasti akan mendambakan kebersamaan. Terlalu lama terpisah dari orang lain akan menimbulkan rasa kesepian.Selene dulu memang ingin menghabiskan sisa hidupnya di pulau terpencil ini, tetapi sekarang dia berubah pikiran.Beberapa bulan telah berlalu. Mereka seharusnya sudah melupakannya. Dia sendiri sudah dianggap mati sekali, jadi tidak perlu lagi menyiksa diri.Memikirkan hal itu, Selene tidak menolak usulan Adam."Aku juga akan pergi besok. Tapi nggak perlu temani aku jalan-j

  • Kekasihku Tak Pernah Mencintaiku, Tetapi Kakakku   Bab 17

    Selene sudah tinggal di pulau terpencil ini selama beberapa bulan. Selain kapal suplai yang sesekali datang, hampir tidak ada manusia di sini.Yang menemaninya setiap hari hanyalah angin laut dan burung laut yang kadang terbang melewati jendela.Hidup sendiri terasa cukup nyaman. Awalnya Selene masih sesekali teringat pengalaman di Keluarga Wiyoko, tetapi lama-kelamaan dia mulai melupakannya, seolah-olah kenangan yang tidak menyenangkan itu terkubur.Hal-hal tentang Keluarga Wiyoko dan Aster terasa seperti terjadi di kehidupan sebelumnya.Melihat peringatan badai di ponselnya, Selene menutup rapat pintu dan jendela vila yang berada di tengah pulau, lalu menunggu cuaca kembali cerah.Benar saja, hari cerah yang langka akhirnya datang. Melihat langit tanpa awan, Selene tiba-tiba ingin keluar berjalan-jalan.Air laut di sini sangat biru. Selene sering merasa dirinya seperti berada di ujung dunia. Tiba-tiba, sesuatu di pantai kejauhan menarik perhatiannya.Dia berjalan mendekat dan menemuk

  • Kekasihku Tak Pernah Mencintaiku, Tetapi Kakakku   Bab 7

    Saat Selene membuka mata, dia mendapati dirinya terbaring di rumah sakit. Bau disinfektan masuk ke hidungnya, monitor jantung mengeluarkan bunyi "bip, bip" yang teratur."Kamu sudah sadar?" Perawat mendorong pintu dan masuk. "Lukamu cukup parah, tiga tulang rusukmu patah. Kamu butuh keluarga untuk m

  • Kekasihku Tak Pernah Mencintaiku, Tetapi Kakakku   Bab 6

    Pada saat itu juga, angin kencang tiba-tiba menimbulkan ombak besar. Kapal pesiar berguncang hebat. Suara Selene sepenuhnya tenggelam oleh deru ombak dan teriakan.Aster mengernyit. "Tadi kamu bilang apa? Anginnya terlalu kencang."Selene baru hendak membuka mulut, tetapi Stella sudah berkata dengan

  • Kekasihku Tak Pernah Mencintaiku, Tetapi Kakakku   Bab 5

    Empat pria itu masih sibuk memeriksa apakah Stella terluka. Lengan Stella hanya sedikit memerah karena terkena panas."Stella! Kamu nggak apa-apa?""Biar kulihat!""Cuma sedikit merah, cepat ambil obat!"Akhirnya seorang awak kapal yang lewat menemukan Selene. Dengan panik, dia berlari mendekat, men

  • Kekasihku Tak Pernah Mencintaiku, Tetapi Kakakku   Bab 4

    "Berlutut." Shawn memberi perintah dengan suara dingin.Para pengawal segera maju, menekan bahunya dengan kasar seperti memperlakukan seorang penjahat. Dia berusaha melawan, tetapi dipaksa berlutut di lantai marmer yang dingin. Lututnya menghantam lantai dengan keras, rasa sakit membuat pandangannya

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status