Short
Aku Menikah dengan Orang Lain untuk Membebaskannya

Aku Menikah dengan Orang Lain untuk Membebaskannya

By:  SongCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
16Chapters
129views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Pada tahun 1980, aku memperkenalkan sahabatku yang ceria kepada pria yang menjadi pasangan kencan butaku. Hanya karena di kehidupan sebelumnya, suamiku yang seorang insinyur dan sepanjang hidupnya selalu tenang serta terkendali, memberitahuku sebelum meninggal .... Meskipun kami telah menikah selama lima puluh tahun, setiap bulan dia menyerahkan seluruh gajinya kepadaku, setiap hari berebut mengerjakan pekerjaan rumah, dan setelah menikah pun tidak pernah mencari wanita lain. Namun, dia tetap tidak mencintaiku. Menurutnya, cinta adalah sesuatu yang menggebu-gebu. Cinta adalah seperti perasaan saat pertama kali dia bertemu Della Pratama setelah menikah, ketika dadanya terasa panas dan pikirannya mendadak kosong. Karena itu, setelah terlahir kembali, aku memenuhi keinginannya. Saat tersadar, Della dan Ethan Kusuma sudah mengobrol dengan akrab cukup lama. Berbeda dengan kehidupan sebelumnya, apa pun yang kutanyakan, dia hanya menjawab seperlunya. Kali ini, saat berhadapan dengan Della, dia banyak bicara. Tatapan dinginnya dipenuhi senyum. Namun, ketika Kepala Bagian Nova, yang menjadi mak comblang kami, menggerutu pelan bahwa aku seharusnya tidak membawa Della untuk ikut dalam kencan buta ini, Ethan tiba-tiba menoleh kepadaku. "Jadi kamu sengaja membawa Della ke sini?" Dia ragu sejenak. Nada suaranya terdengar sedikit menyelidik. "Apa kamu juga ...?"

View More

Chapter 1

Bab 1

Dia tidak mengucapkan kata terlahir kembali, tetapi aku sudah mengerti apa yang ingin ditanyakannya.

Tanganku yang memegang cangkir teh tiba-tiba mengerat. Aku memaksakan senyum yang sopan.

"Karena kalian bisa mengobrol dengan nyambung, aku dan Kepala Bagian Nova nggak bakal mengganggu. Kami pergi dulu."

Setelah mengatakannya, aku bangkit dan hendak mengajak Kepala Bagian Nova pergi bersama. Namun, tanpa diduga, sosok pria yang tinggi dan ramping itu menghalangi jalanku.

"Raisa Rahardjo." Ethan mencengkeram pergelangan tanganku. Dia menatapku, sementara sesuatu yang gelap dan bergolak muncul di matanya. "Jangan sampai kamu menyesal."

Aku menunduk dan melepaskan jari-jarinya satu per satu dari pergelangan tanganku.

Lalu, dengan suara pelan, aku berkata, "Semoga kamu bahagia."

Begitu keluar dari restoran, Kepala Bagian Nova menatapku dengan kesal, seolah-olah aku benar-benar tidak bisa diselamatkan.

"Dasar gadis bodoh. Pria sebaik itu, malah kamu lepaskan begitu saja."

Aku menundukkan kepala tanpa berkata apa-apa.

Kepala Bagian Nova menghela napas. "Sudahlah, bakal kuperkenalkan pria yang lebih baik lagi. Jonathan Subagja, kepala insinyur roket di Pangkalan Antariksa Barat Daya kita, usianya tiga puluh tahun. Memang sedikit lebih tua, tapi pria yang lebih tua biasanya lebih pandai menyayangi istrinya."

Jonathan Subagja?

Aku tertegun sejenak.

Di kehidupan sebelumnya, Jonathan tidak pernah menikah seumur hidupnya. Dia mengabdikan seluruh dirinya untuk dunia antariksa dan menjadi sosok yang dikagumi semua orang di seluruh pangkalan.

Pria seperti itu, mana mungkin tertarik pada seorang perancang struktur kecil sepertiku?

Namun, Kepala Bagian Nova tidak memberiku kesempatan untuk menolak dan bersikeras menetapkan pertemuan untuk esok hari.

Setelah kembali ke asrama, di atas meja sudah tergeletak surat dari ibu. Lagi-lagi setumpuk surat tebal yang isinya mendesakku untuk segera menikah.

Aku membolak-baliknya sebentar, lalu menghela napas.

Malam harinya, saat aku sedang menjemur pakaian di balkon, tiba-tiba terdengar keramaian di bawah gedung asrama.

Ethan mengantar Della pulang. Tangannya membawa banyak barang dalam beberapa kantong besar.

Para gadis di gedung asrama ramai-ramai bersandar di jendela sambil menggoda, membuat Della berlari ke atas dengan wajah memerah.

Begitu masuk, dia langsung melepas sepatunya, lalu duduk bersila di tepi ranjang dengan wajah penuh semangat sekaligus malu-malu.

"Raisa, berkat kamu hari ini aku bisa ikut kencan buta. Ethan kelihatannya dingin, tapi sebenarnya sangat perhatian. Kami menonton film, berkeliling toko, bahkan dia bersikeras membelikanku susu malt karena katanya aku terlalu kurus dan perlu menambah gizi. Waktu pulang, dia juga membeli dua bungkus kue kacang buat kubagikan kepada teman-teman sekamar."

Dia berhenti sejenak, lalu tiba-tiba mendekat kepadaku.

"Raisa, kamu nggak marah padaku, 'kan? Dia tadinya pasangan kencan butamu, tapi ternyata kami malah cocok sekali waktu mengobrol ...."

Aku tersenyum dan memotong ucapannya, "Nggak apa-apa. Wajar kalau nggak cocok waktu kencan buta."

"Syukurlah!" Dia mengembuskan napas lega, lalu menyodorkan dua kotak kue kacang ke tanganku. "Kue ini buatmu saja. Aku nggak suka makanan ini. Aku ingat kamu paling suka kue kacang, 'kan?"

Aku menerimanya, tetapi hatiku terasa sulit menggambarkan apa yang kurasakan.

Di kehidupan sebelumnya, pada hari aku menjalani kencan buta dengan Ethan, kami hanya berbincang beberapa kalimat dengan sopan sebelum dia mengantarku kembali ke asrama.

Lima puluh tahun setelah itu, kami hanya pernah menonton film sekali, pada peringatan 50 tahun pernikahan kami. Anak-anaklah yang memaksa seluruh keluarga pergi bersama.

Aku tidak pernah tahu bahwa dia bisa berinisiatif mengajak seseorang menonton film, berinisiatif membelikan hadiah untuk seseorang, bahkan ingat membawakan hadiah untuk teman sekamar orang itu.

Sepulang kerja keesokan harinya, aku mengayuh sepeda menuju kantin di sebelah Stasiun Pengamatan Optik.

Kepala Bagian Nova menetapkan tempat kencan buta itu di sana. Katanya, Jonathan yang sangat sibuk kebetulan sedang memeriksa pekerjaan di sekitar sana, jadi kami bisa bertemu setelah jam kerja.

Begitu masuk ke kantin, aku langsung melihat Ethan dan Della.

Ethan juga melihatku.

Saat Della pergi ke konter untuk mengambil soda, Ethan berjalan menghampiriku dan merendahkan suaranya dengan ekspresi waspada.

"Raisa, aku sangat berterima kasih atas apa yang kamu lakukan kemarin. Tapi, aku harap kamu mengerti bahwa aku dan Della serius."

Aku membuka mulut dan hendak menjelaskan.

Namun, dia tidak memberiku kesempatan untuk berbicara. "Kamu mengikuti kami sampai ke sini. Entah karena kamu nggak rela melepaskanku atau karena alasan lain, semuanya harus berhenti sampai di sini. Kamu teman sekamar Della. Jangan melakukan sesuatu yang membuat semua orang merasa canggung."

"Aku nggak mengikuti kalian," aku memotong ucapannya, "aku datang buat kencan buta dengan Jonathan."

Ethan tertegun sejenak. Setelah terdiam beberapa saat, dia menggelengkan kepala.

"Raisa, di kehidupan sebelumnya Jonathan hidup melajang seumur hidupnya. Dia nggak bakal tertarik padamu. Menjadikannya alasan nggak ada gunanya."

Sebelum aku sempat menjawab, Della sudah berlari kecil menghampiri kami sambil membawa tiga botol soda, lalu menyerahkan satu kepadaku.

"Raisa, kami pergi dulu. Ethan bilang dia bakal membawaku masuk ke ruang kontrol buat melihat pengapian di menara peluncuran."

Aku tertegun dan tanpa sadar berkata, "Membawa orang luar masuk ke ruang kontrol? Bukannya itu melanggar aturan?"

Senyum Della sempat membeku. "Kami cuma masuk diam-diam buat melihat sebentar. Raisa, kamu nggak bakal melaporkan kami, 'kan?"

Aku tersadar dan segera berkata, "Tentu saja nggak. Cuma saja, lain kali jangan lakukan ini lagi."

Aku menatap Ethan dan ingin memberi penjelasan untuk diriku sendiri. "Insinyur Ethan, aku dengar kamu sering menekankan waktu rapat kalau urusan pribadi dan pekerjaan harus dipisahkan dengan jelas. Kalau begitu, kamu seharusnya nggak boleh menjadi orang pertama yang melanggar peraturan."

Ethan mengernyitkan kening, lalu langsung menarik Della pergi.

"Nggak usah pedulikan dia," ujarnya.

Aku duduk sendirian di kantin sambil menunggu.

Hari mulai gelap. Dari luar jendela terdengar suara gemuruh. Langit dipenuhi cahaya api, sementara tanah bergetar pelan.

Aku menatap cahaya merah itu dan tiba-tiba teringat kehidupan sebelumnya.

Ethan terbaring di ranjang rumah sakit menjelang ajalnya. Dia menggenggam tanganku dengan mata penuh rasa bersalah.

"Raisa." Suaranya sangat pelan, tetapi tegas. "Kalau bisa mengulang hidup sekali lagi, jangan menikah denganku. Di kehidupan ini ... aku nggak memberimu kebahagiaan yang kamu mau."

Saat itu, aku tidak mengerti mengapa dia merasa bersalah.

Aku hanya mengira dia terlalu mencintaiku sehingga merasa apa yang diberikannya kepadaku masih belum cukup.

Bahkan sambil menggenggam tangannya, aku berkata, "Nggak. Menurutku, aku sangat bahagia."

Sampai dia menyebut Della, sampai aku menyaksikan sendiri kegilaannya demi cinta ....

Ternyata, kebahagiaan yang dia sesali karena tidak bisa diberikannya kepadaku adalah kebahagiaan seperti itu.

Kalau begitu, memang benar aku tidak pernah mendapatkannya.

"Permisi, apa kamu Raisa?"

Aku tersadar dan menoleh.

Pria itu mengenakan seragam kerja Stasiun Pengamatan Optik. Dia sedang mengamatiku dengan sedikit ragu.

Aku mengangguk.

Dia mengembuskan napas lega, lalu berjalan menghampiriku dengan wajah penuh rasa bersalah. "Raisa, Kepala Insinyur Jonathan tiba-tiba mendapat tugas peluncuran darurat dan benar-benar nggak bisa meninggalkannya. Dia cuma sempat melihatmu dari kejauhan. Dia memintaku menyampaikan kalau dia sangat tertarik padamu. Tiga hari lagi, dia pasti bakal datang sendiri buat meminta maaf."

Tertarik?

Aku terdiam sesaat, lalu menundukkan kepala dan tersenyum kecil.

Setelah terlahir kembali, mungkin sudah waktunya bagi kami semua untuk menatap ke depan.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
16 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status