LOGINEdward berdiri di ruang tamu yang sunyi itu sendirian. Di luar, suara langkah Elaine dan Tirza semakin menjauh di trotoar, lalu hilang.
'Ini juga sudah pernah terjadi sebelumnya,' batinnya. 'Di kehidupan yang lalu mereka juga pergi malam itu. Dan aku duduk di sini, lalu pergi mencari teman-temanku untuk berjudi lagi karena tidak tahu harus berbuat apa dengan kekosongan ini.'
Namun malam ini ia tidak bergerak ke mana pun.
Ia duduk di kursi ruang tamu, mengatur napasnya, dan mulai berpikir.
Keesokan paginya, sebelum matahari terlalu tinggi, Edward sudah ada di pasar.
Ia tidak membawa banyak uang. Hanya sisa yang ada di dompetnya, yang bahkan untuk ukuran kebutuhan sehari-hari pun tidak bisa dibilang cukup. Namun ia tahu sesuatu yang tidak diketahui orang lain di pasar itu, sesuatu yang ia pelajari bertahun-tahun kemudian di kehidupan sebelumnya ketika ia mencoba memahami dunia bisnis dari nol.
Ada satu jenis buah yang pada tahun-tahun ini dijual sangat murah, dianggap biasa, bahkan sebagian pedagang membuangnya karena tidak laku. Namun Edward tahu bahwa beberapa tahun ke depan penelitian demi penelitian akan membuktikan khasiatnya yang luar biasa bagi kesehatan, dan harganya akan melonjak berkali-kali lipat, dan orang-orang akan berebut membelinya.
Sekarang buah itu masih murah dan mudah didapat.
Edward membelinya dalam jumlah yang bisa ia beli dengan uang yang ada. Lalu ia mencari tempat di area yang ramai, di dekat lapak-lapak yang banyak dilalui ibu-ibu dan pegawai yang mampir ke pasar di pagi hari. Ia tidak punya lapak, tidak punya meja, tidak punya spanduk. Ia hanya meletakkan buah-buah itu dalam keranjang plastik sederhana dan mulai berbicara.
Bukan berteriak seperti pedagang pasar pada umumnya.
Ia berbicara kepada satu orang dulu. Seorang ibu paruh baya yang lewat sambil membawa kantong belanjaan. Edward menyapanya dengan sopan, menawarkan satu buah untuk dicoba, dan mulai menjelaskan, dengan bahasa yang sederhana namun meyakinkan, tentang apa yang dilakukan buah ini terhadap kadar kolesterol, terhadap kesehatan jantung, terhadap sistem imun tubuh.
Ibu itu mengernyit. "Dari mana kamu tahu itu semua?"
"Saya baca," jawab Edward. "Dan saya sudah coba sendiri."
Ibu itu membeli dua kilogram.
Yang berikutnya datang karena melihat transaksi pertama itu. Lalu yang berikutnya lagi. Edward menjelaskan dengan cara yang berbeda untuk setiap orang karena ia memperhatikan siapa yang ada di depannya. Kepada pedagang yang terlihat kelelahan ia bicara tentang stamina. Kepada ibu muda yang menggendong bayi ia bicara tentang nutrisi. Kepada bapak tua yang batuk-batuk kecil ia bicara tentang manfaatnya bagi saluran pernapasan.
Sore itu keranjangnya kosong.
Edward duduk sebentar di pinggir trotoar pasar, menghitung uang yang terlipat di kantongnya. Keuntungan bersih setelah modal tiga ratus dolar.
Ia tersenyum kecil.
'Tidak cukup untuk melunasi hutang, tapi cukup untuk modal usaha untuk hari esok yang lebih besar.'
Kemudian ia teringat.
Malam ini. Tanggal ini. Nomor undian yang pernah diberitahukan temannya kepadanya di kehidupan yang lalu, nomor yang tidak pernah ia pasang karena ia pilih menghabiskan uangnya di meja judi, nomor yang ternyata keluar dan membuat ia menyumpah serapah selama berhari-hari setelahnya.
Ia pergi ke tempat penjual kupon undian yang masih buka di ujung pasar.
Ia memasang nomor itu dengan hampir seluruh uang keuntungan harinya.
Tangannya tidak gemetar saat menyerahkan uangnya. Ini bukan judi dalam arti yang dulu ia kenal, yang didorong oleh ketagihan dan keputusasaan dan keinginan untuk mendapatkan sesuatu dengan jalan pintas. Ini perhitungan yang didasarkan pada pengetahuan yang sudah ia verifikasi dengan hidupnya sendiri.
Malam itu ia pulang ke rumah yang kosong.
Ia membersihkan ruang tamu yang masih sedikit berantakan setelah kunjungan para penagih tadi malam. Ia menyapu lantai. Ia mencuci piring-piring yang menumpuk di wastafel dapur. Ia merapikan kamar Tirza yang kecil itu, melipat selimutnya dengan rapi, menaruh boneka-boneka kecil di rak dengan posisi yang teratur.
Kemudian ia pergi ke dapur, memasak nasi dan lauk sederhana, makan sendirian di meja yang tadi pagi terasa terlalu panjang dengan Elaine di ujung satunya.
Ia tidak menyalakan televisi. Ia hanya duduk dan mendengarkan keheningan rumah itu.
'Mereka akan kembali,' ia berpikir. 'Orang tua Elaine tidak pernah benar-benar menyukainya. Tidak pernah nyaman dengan menantu yang membawa aib. Mereka tidak akan lama di sana.'
Dan ia benar.
Menjelang pukul delapan malam, terdengar suara ketukan di pintu depan, lebih pelan dari ketukan semalam, ragu-ragu bahkan.
Edward membuka pintu.
Elaine berdiri di luar dengan tas yang sama, dengan Tirza yang tertidur di bahunya, kepala kecil itu terkulai lelah di bahu sang ibu. Di wajah Elaine tidak ada ekspresi kemenangan, tidak ada ekspresi malu. Hanya ekspresi seseorang yang terlalu lelah untuk menyembunyikan apa pun.
"Orang tua saya—" ia mulai.
"Tidak perlu dijelaskan," kata Edward pelan. Ia melangkah ke samping, membuka pintu lebih lebar. "Masuklah."
Elaine masuk dengan kepala sedikit tertunduk. Edward meraih Tirza dari bahunya dengan hati-hati, dan anak itu tidak terbangun, hanya bergumam kecil sambil kepalanya berpindah ke bahu ayahnya. Edward menggendongnya masuk, menaruhnya dengan lembut di ranjang kecilnya, menyelimutnya sampai ke dagu.
Saat ia kembali ke ruang tamu, Elaine sedang melihat ke sekeliling dengan ekspresi yang sulit dibaca.
Rumah itu bersih. Bersih benar, lebih bersih dari yang biasanya, dari yang pernah ia ingat dalam waktu yang cukup lama.
Dan di meja makan, di bawah tudung saji, ada makanan.
"Saya tidak tahu kamu akan kembali malam ini," kata Edward. "Tapi saya masak lebih banyak dari yang saya butuhkan. Kalau kamu belum makan—"
"Sudah." Suara Elaine pendek.
Hening sejenak.
"Terima kasih sudah bersihkan rumah," kata Elaine akhirnya, dengan nada yang berusaha tetap datar namun tidak sepenuhnya berhasil.
"Ini rumah kita," kata Edward sederhana.
Elaine menatapnya. Tatapan itu panjang dan penuh dengan sesuatu yang tidak diucapkan. Lalu ia mengambil tasnya, masuk ke kamarnya Tirza, dan menutup pintu.
Edward kembali ke dapur, mencuci piring bekasnya, lalu duduk di meja dengan secangkir teh hangat. Di luar, angin malam menggerakkan dedaunan pohon mangga. Di dalam, rumah itu bernapas dengan tenang.
Keesokan paginya Edward pergi ke tempat penjual kupon lebih awal dari yang diperkirakan siapa pun. Saat pengumuman nomor keluar, ia berdiri di sana dengan kertas kupongnya, membacanya dua kali, tiga kali.
Nomor itu cocok.
Keuntungan bersihnya setelah dipotong pajak dan biaya administrasi lebih dari seratus ribu dua ratus dolar. Jumlah yang dia butuhkan untuk melunasi hutang kepada rentenir itu.
Ia tidak melompat kegirangan. Ia tidak berteriak. Ia hanya mengantongi uangnya dengan tangan yang tenang dan berjalan pulang dengan langkah yang sama seperti saat ia pergi tadi.
'Ini bukan tentang uangnya,' ia mengingatkan dirinya sendiri. 'Uang ini hanya alat. Yang penting adalah apa yang dilakukan dengan alat ini.'
Sore itu ia mendatangi langsung kantor si rentenir, membayar lunas seluruh hutangnya, dan membawa pulang sertifikat rumah itu yang sudah terlipat dan sedikit lusuh. Ia menaruhnya di laci meja dengan hati-hati, seperti menyimpan sesuatu yang berharga, karena memang begitulah adanya.
Malam itu, ketika Elaine sedang memandikan Tirza dan suara air mengalir terdengar dari kamar mandi, Edward duduk di ruang tamu dengan teh di tangannya dan sertifikat rumah itu di meja di depannya.
Elaine lewat dari kamar mandi, menyeka tangan di handuk kecil, dan matanya jatuh ke benda di atas meja itu.
Ia berhenti.
Ia mengambil sertifikat itu dengan tangan yang ragu. Membukanya. Membaca namanya sendiri di sana, nama suaminya, alamat rumah yang sudah ia tinggali selama bertahun-tahun ini.
"Kamu," ia mulai, lalu berhenti.
"Aku bilang tiga hari," kata Edward. "Aku berhasil melunasinya."
Elaine menatapnya. Matanya bergerak-gerak mencari sesuatu di wajah Edward, entah apa, entah tanda apa yang ia harapkan atau takutkan ditemukan di sana.
"Dari mana uangnya?" tanyanya akhirnya.
"Berjualan buah di pasar kemarin. Dan keberuntungan kecil dari undian." Edward tidak berbohong. Ia tidak menambahkan apa pun yang tidak perlu.
Elaine menatap sertifikat itu lagi. Rahangnya bergerak sebentar. Lalu ia meletakkan sertifikat itu kembali ke meja dengan hati-hati.
"Pasti menang judi. Iya kan? Ingatlah, satu kemenangan akan semakin membuatmu jauh terbang tinggi dan hanyut dalam kehidupan judimu itu!"
"Elaine... Aku... "
"Sudah! Kamu memang berhasil menebus sertifikat rumah ini, tapi utangmu masih banyak kan?"
"Aku akan berusaha melunasi semuanya, Elaine."
"Aku tidak percaya!"
Lalu ia masuk ke kamar Tirza untuk menidurkan anaknya.
Edward menatap pintu yang tertutup itu. Dari dalam terdengar suara Elaine membacakan cerita untuk Tirza, suara yang datar namun sabar, suara yang sudah bertahun-tahun menjadi pengantar tidur untuk anak mereka tanpa ia pernah berada di rumah untuk mendengarnya.
'Dia sedikit lega,' batinnya. 'Tapi dia masih belum percaya. Masih belum. Dan saya tahu itu.'
Satu sertifikat yang ditebus tidak menghapus bertahun-tahun luka. Satu "terima kasih" yang singkat tidak berarti pintu hatinya sudah terbuka.
Elaine Harvey adalah perempuan yang pernah mempercayainya dengan sepenuh hati dan mendapatkan pengkhianatan sebagai balasannya, berkali-kali, dalam bentuk yang berbeda-beda namun selalu menyakitkan. Kepercayaan seperti itu tidak kembali dalam tiga hari.
Mungkin tidak kembali dalam tiga bulan.
Mungkin lebih lama dari itu.
Dan Edward Harrington, dengan segala ingatan dan penyesalan dari kehidupan yang sudah ia lewati, memutuskan bahwa ia tidak akan terburu-buru. Ia tidak akan menuntut pengakuan. Ia tidak akan meminta penghargaan atas apa yang sudah ia lakukan.
Ia akan terus berbuat.
Ia akan terus menebus dosanya.
Ethan Linford menatap kosong pemuda bersetelan jas di hadapannya.Pemuda itu cukup tampan, namun matanya berkilat penuh kebencian dan permusuhan, semuanya tertuju pada Ethan."Lihat apa? Kamu tidak terima? Aku pukul lagi ya," ejek pemuda itu dengan arogan.Dalam pikirannya, orang rendahan seperti Ethan tak punya hak berdiri di samping Claire Goncalves, apalagi menatapnya dengan sikap acuh tak acuh. Claire adalah dewi yang ia puja—sampah seperti dia tak boleh mendekatinya."Romli Black, jaga mulutmu!" bentak Claire dengan nada dingin. "Aku sudah bilang, Master Linford adalah dokter yang aku undang langsung dari Provinsi Donghai. Dia tamu kehormatanku. Hormati dia. Apa kamu berniat menghinaku?"Claire tidak pernah menyukai Romli, dan kini pria itu benar-benar tak tertahankan—langsung mencari masalah dengan sepupunya, Ethan, begitu muncul. Siapa dia sebenarnya?Jika bukan karena keinginan sepupunya untuk tetap rendah hati, ia pasti sudah membeberkan siapa Ethan Linford sebenarnya. Nama i
Ekspresi Edward menunjukkan keengganan untuk bicara, tapi akhirnya dia tetap memaksakan diri, "Um, Elaine, menurutmu bisakah kita...?"Dia tidak menyelesaikan kalimatnya, tapi tatapan penuh harap di matanya sudah cukup jelas."Tidak bisa!" Elaine menjawab tegas. Meskipun dia sudah menjadi ibu dari anak berusia empat tahun, dia pasti paham maksud suaminya."Oh..." Harapan di mata Edward langsung pudar. Mengingat kali terakhir dia merasakan kelembutan seperti itu, rasanya sudah enam puluh tahun lalu di kehidupan sebelumnya. Setelah mengetahui rahasia di balik kematian Elaine, dia tidak pernah menyentuh wanita lain. Bukan karena tidak punya kebutuhan, tapi setiap kali ada keinginan, bayangan Elaine selalu muncul dan membuat hasratnya padam.Kini, setelah terlahir kembali dan hubungan dengan Elaine mulai membaik, melihat kecantikannya di malam yang sunyi membuat hatinya bergelora. Tapi penolakannya langsung memadamkan apinya.Melihat Edward berpaling dengan kecewa, Elaine merasa sedikit b
"Apa yang dia katakan padamu ketika dia mempertaruhkan segalanya di Desa Jinzhong?"Mengabaikan kebingungan Julian, Zhang Weimin bertanya berulang kali."Tidak, dia tidak mengatakan apa-apa!" jawab Julian datar."Tidak mengatakan apa-apa?" Zhang Weimin mengerutkan kening."Dia hanya bilang ini investasi jangka pendek yang bisa menghasilkan keuntungan sepuluh atau delapan kali lipat, dan akan efektif dalam sepuluh atau delapan hari," kata Julian.Julian tidak merasa telah mengkhianati Edward. Tidak ada yang mengenal kakeknya lebih baik darinya. Selain jujur dan berintegritas, lelaki tua itu juga dikenal karena pandangan jauh ke depan yang luar biasa. Jika tidak, mengapa penguasa Jiangzhou saat ini masih datang meminta nasihat dari waktu ke waktu? Dan yang terpenting, lelaki tua itu tahu jauh lebih banyak daripada yang mereka bayangkan. Dia tidak akan pernah membantu Julian mengumpulkan kekayaan, meskipun Julian adalah cucunya sendiri. Tapi jika ada sesuatu yang salah, lelaki tua itu ke
Elaine tertegun. Apa maksudnya? Ingin menghasilkan 400 juta, tapi pihak lain hanya menawarkan 20 juta? Apakah Edward mabuk dan bicara ngawur? Ataukah kebiasaan berbohongnya muncul kembali? Tapi berdasarkan pemahamannya selama ini, bahkan ketika Edward berbohong, dia setidaknya menyiapkan cerita yang masuk akal. Jadi Elaine benar-benar terkejut.Karena terkejut, dia bertanya, "Kamu minum lagi?""Kamu bisa mencium bau alkohol?" Edward terkekeh."Tidak. Tapi kalau tidak mabuk, kenapa bicara omong kosong? Bilang mau menghasilkan 400 juta—apa kamu tahu berapa banyak angka nol dalam 400 juta?" Elaine memutar mata kesal.Edward hanya tersenyum pahit dalam hati. Memang benar, terkadang kebenaran lebih sulit dipercaya daripada kebohongan."Singkatnya, kami tidak bisa mencapai kesepakatan, dan kesabaran saya habis. Lebih baik pulang dan menghabiskan waktu bersama kalian berdua daripada membuang-buang waktu di sana," kata Edward."Sudah berapa lama? Kesabaranmu sudah habis? Begitukah caramu berb
Mengenai panggilan telepon dari Vivian Xiao, saat dihadapkan dengan pertanyaan penasaran Elaine, Edward dengan santai menepisnya. Bukan karena dia tidak ingin mengatakan yang sebenarnya, tetapi dia takut membuat Elaine ketakutan. Pada saat yang sama, dia juga tidak tahu bagaimana menjelaskan rangkaian peristiwa tersebut. Untungnya, Elaine bukanlah tipe orang yang mudah curiga atau suka mengorek-ngorek urusan orang lain. Meskipun Edward mencari alasan, dia tidak terlalu memikirkannya.Malam, jam 8 malam. Edward mengatur waktunya dengan sempurna, mengendarai G-Wagon-nya dengan kecepatan tinggi menuju D·O·A Cafe. Dipandu oleh pelayan, dia muncul di hadapan Vivian, yang telah tiba lebih awal, hampir tepat pukul sembilan.Vivian, dengan rambut pendeknya, sama modisnya dengan wanita muda lainnya. Dia memancarkan pesona unik seorang wanita karier yang sudah matang. Dengan kulitnya yang terawat dan penampilannya yang menarik, tak seorang pun akan menduga bahwa ini adalah seorang wanita berusi
Edward sama sekali tidak menyadari bahwa ia membeku begitu mendengar pihak lain memperkenalkan diri. Orang-orang dari Hengda Group? Apa artinya jika orang-orang dari Hengda Group datang kepadanya? Ini berarti pihak lain sudah pernah ke Desa Jinzhong, dan mereka sudah tahu bahwa Edward telah mengambil alih 66 rumah di sana. Semua ini terjadi dalam waktu sekitar satu hari. Seandainya dia sedikit terlambat, maka Hengda Group lah yang sudah menyelesaikan akuisisi Desa Jinzhong sekarang. Seandainya kecepatan tim inspeksi tidak melebihi ekspektasinya, dia pasti sudah menarik diri segera jika harga saham Sihai Group tidak jatuh di bawah sepuluh dolar. Jika dia menyia-nyiakan satu hari lagi, dia akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan lonjakan keuntungan sepuluh atau delapan kali lipat ini. Saat memikirkannya, Edward tak kuasa menahan perasaan lega dan mendapat pertolongan ilahi.Mereka tidak menyangka Edward telah berpikir begitu banyak dalam waktu sesingkat itu. Susan Su terkejut ketik
"Ini semua salahmu! Aku sudah bilang jangan mampir ke hotel dulu, tapi kau terus memaksa. Sekarang lihat sendiri, tiket kita hilang!""Kau pikir aku mau? Kalau tahu tiketnya bakal hilang, mana mungkin aku memilih berhenti di hotel?""Dari SMP sampai kuliah, aku tidak pernah melewatkan satu pun kons
Dengan dua ribu dolar lebih di rekeningnya—seluruh tabungan yang dimilikinya—Edward Harrington memutuskan untuk tidak langsung menuju pusat olahraga. Konser baru akan dimulai pukul delapan malam. Ia tahu betul, di kehidupan sebelumnya, banyak penggemar fanatik yang justru baru berburu tiket setelah
Berikut adalah bab yang telah diubah dengan nama karakter Inggris, mata uang dolar Amerika, dan latar tempat di Inggris.---Dia memiliki lebih dari dua ribu dolar, seluruh tabungannya, yang terikat di aplikasi perbankan digitalnya.Edward Harrington tidak langsung berangkat ke pusat olahraga.Lagi
"Aku mulai berubah, Elaine. Aku mulai menjual bunga," kata Edward."Kamu menjual bunga?" Elaine melongoDalam pandangan Elaine Harvey, menjual bunga adalah sesuatu yang tidak akan pernah dilakukan Edward Harrington. Sesuatu yang sangat memalukan.Dan hanya dalam beberapa jam, mereka menghasilkan du







