Home / Fantasi / Kelahiran Kembali / 5 Kucing dan Kupu-kupu

Share

5 Kucing dan Kupu-kupu

Author: Yu Liani
last update Last Updated: 2021-09-03 11:46:49

Semua angan-angan dipatahkan kucing hitam. Li xiao kembali ke kehidupan nyatanya. "Bentar-bentar aaakkkhhh," teriakan begitu nyaring. Baru menyadari kalau kucing hitam ini bisa bicara, mulut hatinya sudah berbentuk 0.

Serasa ucapannya penuh ledek, "Sudah terlambat! Apa ini kehebatan Assassin? Sepertinya itu terlalu berlebihan. Huuh, dasar manusia tidak memiliki mata yang bagus!" sindir kucing hitam. Mengerti aksi terkejutnya. Sambil mengibaskan ekor dan membuang dagu penuh remeh terhadap Li xiao. Mulut Li xiao kembali komat-kamit, kesal akan ucapan itu. "Sialan, jika bukan dirimu yang menghampiriku! Apa aku akan berada di sini? Siapa si bodoh yang main melompatiku dan berakhir di sini?" tak kalah pedas balasan Li xiao.

Mencoba menegarkan kata, "Huh! Kau saja yang bodoh, seharusnya aku melompat di waktu yang salah dan malah membawa rohmu ke sini!" sergah kucing hitam. 'Sial kenapa waktu itu aku malah melompat ke arahnya? Ku kutuk granat itu menjadi babi gendut dan disembelih!' cicit jantung hatinya. Kucing hitam membohongi Li xiao. Seluruh badan di bulu, hingga ke bola mata berwarna hitam menyala.

'Sst, aku tak percaya tadinya. Kalau kucing hitam pembawa sial, tapi aku malah berakhir di sini,' suara lubuk hati Li xiao. Dia mencoba bangun, ingin meninggalkan kucing hitam. "Haah, sudahlah yang harus di lakukan adalah bertahan hidup di dunia ini 'kan? Jadi nona Keempat, pinjamkan kakak ini tubuhmu dan kakak akan memanfaatkannya sebaik mungkin." Mengangguk mulai menerima keadaan. "Mulai sekarang, tidak akan ada yang menindasmu. Tenang saja, aku akan menjaga tubuhmu dengan baik, bahkan sangat baik. Bila ada yang mengores sedikit saja, hehe." Seringanyai muncul kembali. "Gini-gini aku seorang Assassin, mata dibayar mata, darah dibayar darah, daging dibayar daging. Karena nama kita yang sama, cuma berbalik. Begitupun dengan nasib kita. Mulai detik ini, namamu menjadi namaku Li xiao, aku anggap Xiao li sudah mati! Semisal, aku tidak mau tinggal di sini--- apa aku masih hidup? Mungkin menyatukan tubuhku di duniaku tidak bisa," langkah demi langkah dilalui dengan ocehan.

Tangan Li xiao menggenggam angin kosong. "Hahahha," tawa iblis. Menemani langkahnya sedari tadi. Baru tersadar di depan pohon. Matanya menyaksikan pohon di depan tampak tidak asing. "Perasaan ini pohon pernah kulihat?" memiringkan kepala. Mengamati keadaan di sekitar. Suaranya melompat keluar, "Akkkkhhhh, aku tidak tahu jalan, hehe 'kan ada Ponsel." Tangan meraba tubuh mencari ponsel. Triiing! Sebuah cahaya ilahi yang mengingat di dalam otaknya.

Brughhh.

Jatuhan diri Li xiao di rerumputan lembab. "Tidak ada ponsel, tidak ada internet, bagaimana caraku pulang? Yaahhh, kenapa aku harus berada di sini? Apabila aku bereinkarnasi, bukankah kamu bisa memberiku para Duke? Bukannya berkeliaran di lembah!" rajuk Li xiao. Mulut cemberut tidak tahu arah jalan pulang. Di ingatannya, merasa tempat ini asing. Susah payah mengumpulkan energi, supaya bisa berdiri. Kalau bukan dirinya seorang pembunuh, mati hidup sering dia temui. Dia tidak akan bisa berdiri. Ketika bernapas, paru-paru terasa sesak. Tubuhnya benar-benar berat di saat berjalan. Apalagi, terus-terusan mengelilingi tempat yang sama, dari tangkapan matanya.

"Singkirkan pemikiran bodoh itu!"

"Akhh, bisakah sebelum bicara kau membuat suara terlebih dahulu? Ingatlah, aku belum terbiasa dengan kucing gosong sepertimu! Jelek, hitam, gendut sana glow up dulu!" mulutnya tanpa rem. Mencibir kucing hitam untuk berubah seperti pemikirannya.

"Whatt!" desis kucing hitam mengangkat bibir atas. Sampai memperlihatkan gigi taring. Ekspresi julidnya tidak bisa ditahan. "Haah, dasar manusia, percayalah kamu akan hidup di Zaman batu! Tidak ada internet, tidak ada fasilitas modern!" ketus kucing hitam. Kembali menyungsepkan hati Li xiao. 'Aaahhh! Tidak bisa selfie untuk mengabadikan diriku! Sial kenapa aku ikutan ke sini?' batin kucing hitam. "Cepat jalan!" himbuh kucing hitam menuntun Li xiao .

"Hah! Apa kau tahu jalan?" remeh Li xiao. Menepuk pakaian, baru bangun dari tidur.

"Cih! Kamu mengajukan pertanyaan itu untuk siapa? Bahkan jalan lubang semut pun aku tahu," congkak kucing hitam menaikkan dagunya lagi.

Mereka berdua mulai berjalan, dua putaran. Lalu memasuki goa, terus keluar goa. Tiga putaran, masih saja tidak menemukan pemukiman. Pupil Li xiao menyala, menyoroti kucing hitam. "Heheh, aku tidak pernah ke sini, sst! Pantaku terasa panas," gumam kucing hitam. Masih berjalan memimpin entah ke mana.

"Bajiangn mana yang berani menipuku? Kebetulan aku lapar, akibat berjalan kaki. Emst! Seandainya membuat gulingan daging terasa enak," sarkasnya. Terasa air liur menetes.

"Meow, ide yang bagus. Egkh, itu ide yang buruk!" sangkal kucing hitam. Baru menyadari ucapan Li xiao. 'Ahh dia mau menggulingku? Dasar manusia bodoh! Tapi bila aku belum kunjung menemukan kediamannya, bisa-bisa benar aku menjadi kucing guling,' pikir kucing hitam. Kelopak mata memejam, sambil mengedikkan pundak.

"Ekhh, ayo ikuti aku." Lagi memimpin jalan. Sebisa mungkin meyakinkan Li xiao.

"Uh! Baiklah, tak apa misalkan kembali ke sini lagi. Kamu akan menjadi santapanku heheh," balasan Li xiao. Membuat kucing hitam merinding.

"Ini?" Hentian kaki Li xiao di goa lagi, meski masih siang tetap terlihat malam.

"Cepat masuk, kita istirahat dulu!"

"Idihh, siapa bosnya di sini?"

"Aku, meow-meow grrrr," goar-goar kucing hitam. Agar Li xiao tidak mengerti umpatannya.

Goa itu begitu lembab dan sunyi. Telinga kucing hitam berkedut, mendengar ada yang datang. Bola mata bergerak ke kanan-ke kiri, tetapi Li xiao berjalan seperti biasa. "Ada yang datang!"

Li xiao menoleh sejenak, menghampiri kucing hitam. "Apah? Siapa itu gosong?" sambil mengikuti penglihatan Kucing hitam.

"Meow, aku bukan gosong! Aku peringatkan namaku Xia yu. Jangan panggil aku nama bodoh itu! Aku adalah pemimpin klan kucing ke 19. Beraninya manusia bodoh sepertimu, memperlakukanku begini!" teriak Xia yu si kucing hitam.

Gadis ini tidak percaya. "Pemimpin klan ke 19? Kucing tetaplah kucing."

"Kamu--"

"Hahaha, maaf menyela kalian. Tapi aku tidak suka keributan. Bagaimana kalian mendiam dan menjadi santapanku?" sela seekor kupu-kupu sedikit besar. Jari-jarinya begitu runcing, berwarna merah darah. Xia yu mulai ketakutan. Namun, amarahnya di bangkitkan oleh Li xiao. Malah mereka tidak memperdulikan kupu-kupu.

"Eiggh, apa kau bilang? Kau yang bodoh! Semua leluhurmu bodoh! Coba lihat, di mana kita sekarang? Apa kau buta arah," ejek Li xiao menepis angin lalu. Pertengkaran menjadi-jadi.

"Kamu, dasar manusia bodoh! "

"Apah!"

"Hei! Hei, kalian mengabaikanku? Terima akibatnya!" Kesempatan kupu-kupu mendekati mereka berdua. Selagi mereka bertengkar.

Swusgh!

Lajuan kupu-kupu, menyerang mereka berdua di saat adu mulut.

"Diam kao!"

Sembur mereka secara bersamaan, terganggu oleh kupu-kupu. Namun, kupu-kupu ini masih menyerang. Semakin dekat, dekat dan dekat.

Braghh! Plung-plung-plung!

Sekali hempas oleh Li xiao dan Xia yu, untuk menyingkirkan kupu-kupu yang berubah menjadi besar.

''Aww, apa kalian tidak takut?"

"Sst!" Li xiao dan Xia yu berhenti saling cekcok dan melirik kupu-kupu.

"Bentar! Dia bisa bicara juga?"

"Haah, aku harus menjelaskan lagi! Kamu bisa mengerti bahasa Hewan atau Binatang. Awalnya, hanya aku tapi kamu juga bisa menguasainya. Itu karena tingkat akar roh spiritual, binatang itu sedikit kuat. Kalau lemah atau tidak bersamaku. Kamu tidak akan mengerti," penjelasan Xia yu(Kucing hitam) bak penuh wibawa.

'Aku pikir, aku tidak mengerti juga, tapi aku tidak boleh terlihat bodoh di depan gadis tengik ini! Yang boleh terlihat bodoh hanya dia seorang hehee,' akal licik Xia yu tertawa dalam diam. Li xiao mencoba mempercayai. Karena dia sendiri benar-benar tidak tahu. Semua yang dia lihat dari bukaan mata, begitu asing. Dia menoleh ke kupu-kupu, berubah mengecil. "Hah! Siapa kamu? Mau kuratakan tepat ini."

"Ampun-ampuni saya, Hamba hanya penunggu goa ini," rengek kupu-kupu.

"Penunggu? Bukannya hanya penumpang? Di goa ini," ejek Li xiao. Tanpa belas kasihan, sambil mengorek-ngorek telinga dengan jari.

"Hey! Dasar manusia bodoh! Aku ini Kupu-kupu darah! Sekarang aku belum kuat, karena belum menemukan majikanku!" geramnya yang tidak terima begini.

"Akhhh," dengus Li xiao seraya menggeleng. Kupu-kupu kembali berwujud kecil, itu sekoin perak. Li xiao lagi-lagi terkejut, dia kian mendekat. "Wahh, kamu bisa berubah?"

"Tentunya!"

"Hey, sudahlah di mana jalan menuju negeri Pùbù,'' potong Xia yu.

"Bukannya kamu tahu itu?" balas Li xiao. Yang mana, sudah sedikit curiga dari awal tabiat si kucing hitam satu ini.

Dia memunculkan senyum kuda. "Hehe, aku sedikit lupa."

"Lupa atau tidak tahu jalan?" pancing Li xiao lagi. Membuat Xiao yu kembali kesal.

"Kamu!"

"Sudahlah, biar aku yang antar, aku yakin kalian berdua orang-orang yang kuat," sela kupu-kupu. Memuji mereka berdua. Li xiao dan Xia yu mengeluarkan cengirnya masing-masing.

"Ah, kamu tidak perlu menyanjungku," elak Li xiao. Padahal hatinya sudah berbunga-bunga.

"Meow, kamu boleh juga! Huh aku tidak akan melobangi sayapmu," timpal Xia yu. Sama-sama tersipu akan ucapan manis kupu-kupu.

"Tapi … dibadingaian dengan yang lainnya, kalian lemah!"

"Nanii?"

"Jangan tatap aku seperti itu! Ahh it--tu .…" kelik kupu-kupu semakin mendekati Li xiao. Di telunjuk jari Li xiao terdapat sebuah cincin berwarna Ruby merah. Kupu-kupu menghinggapi telunjuknya, lantas menancapkan mulut. Menghisap darah Li xiao. Dia hanya mendiam menerima sengatan itu yang secepat kilat.

Syurrr!

"Sst, akhh!"

Tiiiing!

"Li xiao manusia bodoh!" sembur Xia yu menghampirinya. Gadis itu tergeletak di bawah, ulah gigitan kupu-kupu. Xia yu spontan mengeluarkan taring dan memaju…*..*

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Liyu
Iya, Kak. Cuma ada yg lebih kuat lagi dari mereka*..*
goodnovel comment avatar
Alfya Rummy
kupu2 ngomong ke kucing dan manusia : "kalian orang-orang yang kuat?
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Kelahiran Kembali   99 Teratai

    Pengawas Wang sampe mendelikkan mata, menyapu anak keringat yang mengepul di dahi. Hatinya jauh lebih berkeringat, takut menyinggung salah satu, apalagi mereka berdua, itu jauh lebih tidak mau daripada mati! “In–ini, ini kalian kalah.” Menghentakkan kain tak berdaya, nada suara begitu pelan nan keragu-raguan.Dua wanita yang terkapar, satu memegangi bahu, satunya lagi memegangi perut. Bangun di sisa keyakinan mereka, sudah dibantu para dayang masing-masing. Qing xu yang tidak sabaran langsung memaki sempurna! “Puih! tidak ada yang menang? Jelas-jelas aku yang menguasai permainan, dia mau pakai trik si sampah itu!” melirik Li Xiao, dia menikmati pertempuran sambil menimbang seberapa kuat lawan. Guna membandingkan dengan Kakaknya.Merasa dirinya di ikut sertakan, alis naik sedikit. “Dih, apa-apaan, gw mah pintar!”“Betul sekali, sayangku memang pintar.”Ada balasan suara familiar, apalagi ujung rambutnya terasa ada yang menyentuh.Li xiao berbalik, menarik rambut ke belakang, ujung ram

  • Kelahiran Kembali   98 Qing xu vs Mi Len

    Meluapkan sekarang, kapan lagi? Mata mereka tak pernah terpisah seolah dua insan yang tak terpisahkan, tapi memiliki arti yang berbeda. Qing xu tersenyum di turunan, mengeluarkan cambuk yang dililit di pinggang. Kecil, tapi mematikan seperti ucapannya, “Dasar wanita jalang, berani sekali kau datang tak sia-sia cambuk ku di bersihkan, siap meminum darahmu!” Melempar ke depan, untain ujung di isi besi yang seperti jangkar, dingin, langsung menusuk ke lawan!Seolah ular yang membesit masuk, sungguh beracun seperti ucapannya. Mi len tidak takut, “Heh, cuma ini kekuatanmu? Tidak sebanding dengan ucapanmu!” Mengeluarkan pedang panjang, tapi tipis yang lentur. Tangan kanan menghunus pedang ke depan, panjang nan putih, di bagian ujung runcing yang langsung menepis ujung cambuk Qing xu.Kringg!Suara benturan yang nyaring dan ada percikan api!Jatuhan di bawah yang langsung menancep papan arena, kesempatan! Mi len naik ke atas tali dan berlari mengikuti tali yang mendekati Qing xu. “Huh, sud

  • Kelahiran Kembali   97 Lu Bing Bin vs Gu Dong

    Pangeran ketujuh, malam-malam begini ada di rumah tidak mungkin sekedar lewat kan?Senyumnya terlihat lebih dulu ketimbang suara. “Aduuh Nona keempat selamat memenangkan pertandingan,” bertepuk sekali merasa bangga, “selamat masuk ke babak final, selamat-selamat,” menyanjung.Merinding akan sanjungannya, tidak dengan wajah Ming bai, bak di cat merah. “Pangeran terlalu memuji, ini ketidaksengajaan, anggaplah keberuntungan.” Ming bai kurang mempercayai anak bodohnya menang.“Untuk apa kau ke sini?” tanya Li xiao.Ming bai dan dua selir melotot, anak tidak sopan! Sungguh tidak sopan!Jiang zu tidak mempermasalahkan, malah suka kalau terlalu akrab, senyuman terpancar. “Aku dengar kau terluka, ambil ini,” menyerahkan “barang dari tabib kekaisaran, pasti lebih ampuh ketimbang obat pasaran.”Menatap obat berwadah keramik putih, mungil seukuran telur ayam kampung. ‘Kok dia bisa tau aku terluka, apa orang tadi miliknya?’ berpikir penolong barusan. Dia ragu mengambil, Jiang zu meraih tangan mu

  • Kelahiran Kembali   96 Mendapat Harta Karun

    Dari balikan tirai berdiri 5 orang berjubah hitam. “Sial! Kenapa aku tidak menyadari mereka.” Alis menekuk, mereka tidak terdeteksi, sudah pasti cultivator tingkat 4 ke atas.“Keluar atau ku keluarkan?!” teriak di depan kereta. Li xiao tidak punya pilihan, mau melawan belum pulih seutuhnya, mau lari tidak bisa. “Gimana nih, bedebah itu tidak mau menungguku pulang?” Menebak mereka suruhan Ming yi, siapa lagi yang menaruh dendam lebih besar dari komplotan mereka?Pria berjubah hitam, memegang pedang– tidak menunggu lama. Dia memiliki kesabaran setipis sutra. “Serang! Jangan biarkan dia hidup!” Syut!Saat mereka mulai mengepung kereta, turun pria berbaju hitam menghadang. “Jangan ganggu dia, kalian,” menunjuk semua, “lawan aku!” “Pahlawan dari mana ini?! Mau mati juga? Tinggal tanam!” marah. Menyerang tanpa aba-aba.Pria ini menghindar, di serang dari arah kiri, tinju beruap panas hampir mendarat di pipi. Tinggal 3 cm dari pipi kanan, hawanya terasa menusuk pipi. Melihat dia di kero

  • Kelahiran Kembali   95 Pemenang Di Luar Ekspektasi

    Jiang Zu, “Tepat! Nona Keempat jatuh, tapi tidak menyentuh tanah.” Berdiri, turun ke lapangan. Menegaskan, “Apa aku salah lihat, Pengawas Wang?” Seolah darah naik ke permukaan wajah Pengawas Wang, mengatur napas. “Tidak-tidak, saya tidak berani, tapi ini … ini… pertama kali ada hal seperti ini.” Meskipun mata duitan, tetap sadar dalam situasi ini. “Saya takut ada kesalahan, Pangeran Ketujuh ka–”“Pengawas Wang terlalu kaku, kau sendiri yang bicara, peraturan ‘kan emang perlu dilanggar.” “Tidak perlu di tanyakan, dia tidak menyentuh tanah! Sudah jelas, dia menang!” cetusan kata dari Pangeran Kedelapan.Semua orang diam, menerima apa yang terjadi, ‘Apa yang menarik darinya? Semua orang membela!’ batin Pengawas Wang. Tawa terpaksa keluar, “Hahaha, benar juga perkataan para Pangeran, dia,” melirik Li xiao, alis meninggi, sesaat menurun menahan amarah, “Menang.” Bola mata Ming yi mendelik, meraih lengan Pengawas Wang. “Apa?!” Menghentakkan tangan, meski suka uang, mendapat situasi pa

  • Kelahiran Kembali   94 Dia Tidak Kalah

    Anak jarum, melempar! Bagi Ming yi, ini bukan apa-apa. “Kau pikir aku buta!” Menangkis!Li xiao mundur, ‘Dia jeli juga, kalau ini?!’ Mengeluarkan jarum dari dua tangan. Melempar satu-satu, mengelilingi udara.Hak! Serbuan anak jarum menghujani Ming yi, bukan hanya dua jurus. Seluruh jurus Li xiao hampir keluar. Semua ini tidak berarti, tersenyum. “Cukup sudah main-mainnya.” Mengeluarkan pedang, di simpan di balik punggung. Mata memicik, sudut mulut kiri meninggi. “Hak!”Serangan begitu cepat, Li xiao tidak bisa menghindar. Gaun hanfu hitam merah tersobek, bagian lengan kiri menimbulkan darah. Merunduk, bertumpu dua kaki. “Aku pasti membalaskan semua yang kuterima! Walau ‘tak sepenuhnya, kupastikan kau mengingat ini!” Meremas jari, menyeka keringat. Tangan menyobek ujung hanfu, membalut luka. Penonton memperhatikan semua gerak-gerik mereka di arena. “Wah lihat itu, adiknya tidak segan-segan di sembelih!”“Untung bisa menghindar kalau tidak, lehernya melayang!”Mulai berbincang, samb

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status