author-banner
Yu Liani
Yu Liani
Author

Novels by Yu Liani

Aku Menyukai Ayah Sahabatku

Aku Menyukai Ayah Sahabatku

Noemi Lunara dan Mithalia Arani adalah dua sahabat yang bertemu pertama kali, di masa SMP lewat kejadian sederhana, lalu kembali dipertemukan di SMA internasional. Di balik persahabatannya itu, Noemi Lunara menyimpan perasaan yang salah pada ayah sahabatnya. Pria dingin dan berwibawa yang menjadi wali Mitha. Selisih usia sepuluh tahun, posisi sebagai figur ayah, serta sikap sang pria yang selalu menjaga jarak, membuat perasaan itu mustahil sejak awal. Di bangku SMA kelas 2, Noemi jatuh cinta pada pria yang tidak seharusnya ia inginkan. Dengan keberanian polos dan hati yang belum mengenal batas, ia memilih nekat. Ia mengejar. Ia caper. Ia mengirim pesan. Mencoba merayu, dan berulang kali mempermalukan dirinya sendiri. Semuanya berakhir dengan sikap dingin dan penolakan yang tegas namun dewasa. Bukan hanya ditolak, Noemi bahkan diposisikan sebagai “anak” Seseorang yang tidak pernah masuk dalam kemungkinan apa pun. Penolakan yang tidak melukai dengan kata-kata, tetapi meninggalkan bekas yang tak bisa dihapus. Hancur oleh rasa malu dan patah harga diri, Noemi pergi ke luar negeri tanpa pamit. Ia menghilang sepenuhnya. Menghilang selama sembilan tahun, tanpa sekali pun kembali ke tanah air. Ketika ia pulang, tepat di hari ulang tahunnya yang ke-25. Noemi bukan lagi gadis lugu SMA yang dulu. Kepulangannya bukan karena rindu masa lalu, melainkan karena pekerjan. Bergabung dengan sebuah agensi hiburan besar. Yang tidak ia ketahui, agensi itu berada di bawah grup hiburan milik pria yang dulu menolaknya. Di antara peran sebagai ayah sahabat, sebagai atasan, dan sebagai pria yang mulai goyah oleh perempuan yang pernah ia tolak, batas-batas lama mulai retak. Masa lalu tidak pernah benar-benar pergi, perasaan yang seharusnya sudah mati, tapi ternyata hanya tertidur. Apakah benar-benar telah mati, atau hanya menunggu waktu untuk bangkit? Saat keduanya sama-sama tidak lagi bisa berpura-pura polos. Dalam bentuk yang lebih berbahaya? Yuk kepoin, maaf kalau ada yg typo, makasih*..*
Read
Chapter: 4 Menunggu Balasan
Kakinya tanpa sengaja menabrak pot di sudut kiri. “Ahh, aduh.” Noemi jatuh di lantai, lututnya terbentur jalan, dia mengenakan piyama berwarna merah selutut. Kerahnya menutupi dada, tapi bagian bawah tidak menutup sempurna. “Aduuh, sialan apa sih bikin malu aja.” Mengusap kaki, duduk menekuk kedua lutut yang memerah. “Kenapa bisa jatuh? Cobak.” Pria ini berjongkok perlahan melihat lutut Noemi yang di pegang memar kemerahan. Ada suara kekhawatiran, segera menoleh, ‘Kaan, dia di sini?’ saking malunya menunduk. Tiba-tiba dua bola matanya membesar dan tundukan hilang, di saat tangan pria itu menyentuh lututnya yang menyapu debu dan kerikil kecil. “Sst,” desisan Noemi. “Ayo, bangun.” Noemi terdiam, tapi di hatinya begitu banyak ocehan yang tak menentu. ‘Bukankah ini hal romantis seperti di film? Dia pasti menggendongku,’ tanpa sadar mengangguk dan senyuman keluar, tapi satu sisi lagi hatinya berteriak. ‘Dasar tidak tahu malu, dia ayah sahabatmu.’ Lagi-lagi Noemi menggeleng yang me
Last Updated: 2026-01-07
Chapter: 3 Saat Noemi Pertama Kali Merasa Aneh
Tumpah ke meja, Noemi berhenti menuang dan segera melirik reaksi ayah sahabatnya. ‘Apa dia ilfil?’ memastikan. Pria dewasa itu yang sudah terbiasa mengurus hal-hal kecerobohan begini. Bangun sigap menghampiri sisi kanan Noemi. “Hati-hati,” nadanya pelan, tidak memarahi justru ada kekhawatiran. Mengambil tisu, mengelap dan menuang air untuk sahabat putrinya. Gerakannya begitu cekatan, seolah sudah terbiasa dia begini. “Pelan-pelan, minum ini,” menyodorkan, nada netral dewasa dan penuh jarak yang sopan. Jarak yang seharusnya cukup untuk membuat semuanya aman. Namun, berbeda bagi Noemi semua yang dia lakukan sungguh berbeda di matanya. “Makasih, Om.” “Mikirin apa sih?” selidik Mitha. Noemi menggeleng, mereka kembali duduk, sesekali Noemi mengintip ayah sahabatnya mengambilkan makan untuk dirinya. Kaki tersilang di bawah, dua tangan di pangku meski tak sadar jemarinya saling bertaut lebih erat dari biasanya. ‘Dia mengambilkanku makanan, perhatian sekali.’ Hal normal bagi Darius
Last Updated: 2026-01-07
Chapter: 2 Tidak Boleh Pacaran!
Pria tinggi dengan jas hitam yang lengkap, kacamata yang masih menempel di hidung tingginya. “Eh, ada Noemi, apa menunggu jemputan?” suaranya rendah dan stabil. Reflex merapikan rambut. “Iya, Om.” Tiba-tiba menjadi canggung, sedetik lagi meluruskan, “Egh nggak nunggu supir, aku mau nginap besok kan libur.” “Iya, Pah Emi mau nginep aku suka tau, jadi gak kosong lagi nih rumah, percuma besar.” Memeluk Noemi yang sudah tegak di sudut sofa yang duduk di depan bawah lantai di atas karpet bulu. Panggilan kesayangannya Emi atau Mi. Rumah Mitha selalu terasa berbeda bagi Noemi. Bukan karena kemewahannya, meski rumah ini besar, bersih dan tertata dengan rasa yang tenang, berbeda dengan rumahnya yang di penuhi pelayan. Bukan pula karena taman luas atau lampu gantung kristal di ruang tamu. Ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuat Noemi secara tak sadar melangkah lebih pelan setiap kali memasuki halaman rumah ini. Mungkin karena disanalah ia pertama kali belajar merasa gugup tanpa alas
Last Updated: 2026-01-07
Chapter: 1 Persahabatan yang Lahir Dari Hujan dan Payung Biru
Dunia memang memiliki ceritanya sendiri, pagi hari di Aurora International High School. Selalu dimulai dengan suara langkah sepatu yang teratur dan percakapan dalam berbagai bahasa. Inggris mendominasi di selingi Mandarin dan sesekali bahasa ibu yang lolos begitu saja dari bibir para murid. Noemi datang seperti biasa, terlambat 3 menit.Ia berlari kecil di lorong marmer, rambut pendeknya yang sebahu tergerai setengah terikat, di hiasi pita merah muda, dasi sekolahnya sedikit miring. Di tangannya ada segelas latte hangat dengan logo cafe mahal, yang jelas tidak dijual di sekitar sekolah.“Mitha!” panggilnya panik.Di depan ruang kelas 11 B, Mitha berdiri tenang sambil menutup buku catatannya. Tatapannya datar, seolah sudah menduga adegan ini akan terjadi. “Kamu lagi,” menjawab singkat.Noemi senyum manja. “Tadi papa lama banget rapat, aku nggak enak motong.”Mendengus kecil, “Itu alasan ketiga minggu ini,” jawab Mitha lalu membuka pintu kelas. “Masuk, Sebelum MR. Hamilton melirik ke a
Last Updated: 2026-01-07
Kelahiran Kembali

Kelahiran Kembali

Keluarga Lu memiliki 5 orang anak, semuanya menonjol kecuali nona keempat yang bodoh dan lemah. Tidak mempunyai keterampilan menyulam seperti nona Pertama, tidak sekuat tuan muda kedua dan nona ketiga. Apalagi kecantikan dan keahlian bermain musik tak seperti nona kelima. Menjadikan dirinya sebagai 'sampah masyarakat' bahan olok-olokan di ibu kota. Hingga kebodohan dan kelemahannya, merenggut nyawanya sendiri. Satu lompatan Kucing hitam, merubah segalanya. Seorang Assassin dari abad ke 21 terlempar ke zaman kuno, yang masih menggunakan pakain Hanfu. Di mana negara menganut sistem Kekaisaran. Baru bangun disuguhkan konflik; internal dan eksternal, belum lagi harus bertahan hidup, di dalam hidup. Jika tidak membunuh akan di bunuh. Setiap detik, memikirkan kelangsungan hidup. Merasuki tubuh nona keempat, pembalasan dimulai! Disusul konflik Istana yang rumit. Namun, menghasilkan kisah roman yang unik. Cerita ini murni fiksi dari karangan/haluan author, tidak ada kaitannya dengan sejarah manapun. Maaf, apabila ada kesamaan tempat atau nama. Sekali lagi, ini hanya tarian jari kecilku. Ilustrasi cover by Canva&Pixabay. ig : li_liyuliu Happy reading...*..*
Read
Chapter: 100 Salep
“Yoo, siapa ini? Kupikir Kakak pertama, egh Kakak Ketiga, tumben banget suaranya kecil.”Membuka pedang dan tusuk!Kalau bukan di depan umum, apalagi di depan Chen ji, mana mungkin menahan diri. Duduk di samping sampah ini, membuat bulu jijik. Meredam amarah mencoba tersenyum. “Apa maksudmu? Aku memang seperti ini dan jangan sok, minggir.” Memaksa duduk di tempat Li xiao. Menyenggolnya, menggerakkan pantat, tentu bukan senggolan semata. Ada kekuatan yang ditimbulkan seorang kultivator, tentu kuat dan membuat jatuh!Tau trik ini, Li xiao bangun, naas ada yang tersangkut. “Eghh!’Senyumnya memudar yang digantikan kepanikan.Itu sih bukan sepenuhnya salah Ming yi, di bawah kaki ada ujung hanfu yang di injak Xia yu. Tahu salah segera mundur, melihat Li xiao ditangkap. ‘Ngapain dia tolong aku, nanti si kakak bar-bar ini makin menindasku. Mana belum kuat-kuat banget aku,’ takut di dalam hati. Memang suka menggoda Ming yi tapi tahu batasan. Tidak baik kalau kobaran api membesar. Dia belum
Last Updated: 2026-01-23
Chapter: 99 Teratai
Pengawas Wang sampe mendelikkan mata, menyapu anak keringat yang mengepul di dahi. Hatinya jauh lebih berkeringat, takut menyinggung salah satu, apalagi mereka berdua, itu jauh lebih tidak mau daripada mati! “In–ini, ini kalian kalah.” Menghentakkan kain tak berdaya, nada suara begitu pelan nan keragu-raguan.Dua wanita yang terkapar, satu memegangi bahu, satunya lagi memegangi perut. Bangun di sisa keyakinan mereka, sudah dibantu para dayang masing-masing. Qing xu yang tidak sabaran langsung memaki sempurna! “Puih! tidak ada yang menang? Jelas-jelas aku yang menguasai permainan, dia mau pakai trik si sampah itu!” melirik Li Xiao, dia menikmati pertempuran sambil menimbang seberapa kuat lawan. Guna membandingkan dengan Kakaknya.Merasa dirinya di ikut sertakan, alis naik sedikit. “Dih, apa-apaan, gw mah pintar!”“Betul sekali, sayangku memang pintar.”Ada balasan suara familiar, apalagi ujung rambutnya terasa ada yang menyentuh.Li xiao berbalik, menarik rambut ke belakang, ujung ram
Last Updated: 2026-01-13
Chapter: 98 Qing xu vs Mi Len
Meluapkan sekarang, kapan lagi? Mata mereka tak pernah terpisah seolah dua insan yang tak terpisahkan, tapi memiliki arti yang berbeda. Qing xu tersenyum di turunan, mengeluarkan cambuk yang dililit di pinggang. Kecil, tapi mematikan seperti ucapannya, “Dasar wanita jalang, berani sekali kau datang tak sia-sia cambuk ku di bersihkan, siap meminum darahmu!” Melempar ke depan, untain ujung di isi besi yang seperti jangkar, dingin, langsung menusuk ke lawan!Seolah ular yang membesit masuk, sungguh beracun seperti ucapannya. Mi len tidak takut, “Heh, cuma ini kekuatanmu? Tidak sebanding dengan ucapanmu!” Mengeluarkan pedang panjang, tapi tipis yang lentur. Tangan kanan menghunus pedang ke depan, panjang nan putih, di bagian ujung runcing yang langsung menepis ujung cambuk Qing xu.Kringg!Suara benturan yang nyaring dan ada percikan api!Jatuhan di bawah yang langsung menancep papan arena, kesempatan! Mi len naik ke atas tali dan berlari mengikuti tali yang mendekati Qing xu. “Huh, sud
Last Updated: 2026-01-08
Chapter: 97 Lu Bing Bin vs Gu Dong
Pangeran ketujuh, malam-malam begini ada di rumah tidak mungkin sekedar lewat kan?Senyumnya terlihat lebih dulu ketimbang suara. “Aduuh Nona keempat selamat memenangkan pertandingan,” bertepuk sekali merasa bangga, “selamat masuk ke babak final, selamat-selamat,” menyanjung.Merinding akan sanjungannya, tidak dengan wajah Ming bai, bak di cat merah. “Pangeran terlalu memuji, ini ketidaksengajaan, anggaplah keberuntungan.” Ming bai kurang mempercayai anak bodohnya menang.“Untuk apa kau ke sini?” tanya Li xiao.Ming bai dan dua selir melotot, anak tidak sopan! Sungguh tidak sopan!Jiang zu tidak mempermasalahkan, malah suka kalau terlalu akrab, senyuman terpancar. “Aku dengar kau terluka, ambil ini,” menyerahkan “barang dari tabib kekaisaran, pasti lebih ampuh ketimbang obat pasaran.”Menatap obat berwadah keramik putih, mungil seukuran telur ayam kampung. ‘Kok dia bisa tau aku terluka, apa orang tadi miliknya?’ berpikir penolong barusan. Dia ragu mengambil, Jiang zu meraih tangan mu
Last Updated: 2025-06-02
Chapter: 96 Mendapat Harta Karun
Dari balikan tirai berdiri 5 orang berjubah hitam. “Sial! Kenapa aku tidak menyadari mereka.” Alis menekuk, mereka tidak terdeteksi, sudah pasti cultivator tingkat 4 ke atas.“Keluar atau ku keluarkan?!” teriak di depan kereta. Li xiao tidak punya pilihan, mau melawan belum pulih seutuhnya, mau lari tidak bisa. “Gimana nih, bedebah itu tidak mau menungguku pulang?” Menebak mereka suruhan Ming yi, siapa lagi yang menaruh dendam lebih besar dari komplotan mereka?Pria berjubah hitam, memegang pedang– tidak menunggu lama. Dia memiliki kesabaran setipis sutra. “Serang! Jangan biarkan dia hidup!” Syut!Saat mereka mulai mengepung kereta, turun pria berbaju hitam menghadang. “Jangan ganggu dia, kalian,” menunjuk semua, “lawan aku!” “Pahlawan dari mana ini?! Mau mati juga? Tinggal tanam!” marah. Menyerang tanpa aba-aba.Pria ini menghindar, di serang dari arah kiri, tinju beruap panas hampir mendarat di pipi. Tinggal 3 cm dari pipi kanan, hawanya terasa menusuk pipi. Melihat dia di kero
Last Updated: 2025-01-05
Chapter: 95 Pemenang Di Luar Ekspektasi
Jiang Zu, “Tepat! Nona Keempat jatuh, tapi tidak menyentuh tanah.” Berdiri, turun ke lapangan. Menegaskan, “Apa aku salah lihat, Pengawas Wang?” Seolah darah naik ke permukaan wajah Pengawas Wang, mengatur napas. “Tidak-tidak, saya tidak berani, tapi ini … ini… pertama kali ada hal seperti ini.” Meskipun mata duitan, tetap sadar dalam situasi ini. “Saya takut ada kesalahan, Pangeran Ketujuh ka–”“Pengawas Wang terlalu kaku, kau sendiri yang bicara, peraturan ‘kan emang perlu dilanggar.” “Tidak perlu di tanyakan, dia tidak menyentuh tanah! Sudah jelas, dia menang!” cetusan kata dari Pangeran Kedelapan.Semua orang diam, menerima apa yang terjadi, ‘Apa yang menarik darinya? Semua orang membela!’ batin Pengawas Wang. Tawa terpaksa keluar, “Hahaha, benar juga perkataan para Pangeran, dia,” melirik Li xiao, alis meninggi, sesaat menurun menahan amarah, “Menang.” Bola mata Ming yi mendelik, meraih lengan Pengawas Wang. “Apa?!” Menghentakkan tangan, meski suka uang, mendapat situasi pa
Last Updated: 2024-09-06
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status