登入07
Suasana haru memenuhi ruangan luas di kantor polisi Sydney. Puluhan orang menandangi adegan kedua pria yang tengah berangkulan lama. Jauhari terisak-isak dalam dekapan Wirya yang juga meneteskan air mata. Keduanya baru menjauh, setelah dipisahkan Alvaro.
Zhao Yìchen menghela napas berat dan melepaskannya sekali waktu. Dia turut sedih dengan nasib yang menimpa Jauhari. Pria muda tersebut terbukti membunuh orang, meskipun itu dalam rangka melindungi diri, karena dia ditembak korban terlebih dahulu.
Peristiwa bermula dari tertabraknya mobil kelompok Jauhari, oleh mobil anggota gangster pimpinan Rupert. Kelima ajudan itu terpaksa keluar, supaya Avreen dan kedua sahabatnya aman di dalam mobil.
Pihak gangster memang mencari Jauhari, karena pria itu merupakan saksi mata utama pembunuhan yang melibatkan anggota mereka, di Port Stephens, salah satu kota terdekat dengan Sydney. Perdebatan itu memanas, hingga akhirnya perkelahian tidak terelakkan.
Kelima pengawal bekerjasama dalam menghadapi lawan mereka yang berjumlah belasan. Avreen yang panik melihat para ajudan dikeroyok, akhirnya keluar dari mobil dan ikut berkelahi menggunakan tongkat bisbol.
Kedua sahabat Avreen, yakni Tyas dan Vivianne, memvideokan peristiwa tersebut dari awal hingga akhir. Sebab itu tim kuasa hukum PBK berjuang keras untuk membebaskan kelima pengawal, karena terbukti bukan mereka yang memulai perkeliahan.
Akan tetapi, karena Jauhari membalas tembakan lawannya dengan telak, hingga pria bernama Daymion itu tewas, posisi Jauhari terjepit. Kemungkinan besar dia akan dijatuhi hukuman berat, karena telah menghilangkan nyawa orang lain.
Selama setengah jam berikutnya, ruangan itu berdengung akibat percakapan banyak orang. Zhao Yìchen berdiskusi dengan beberapa pengusaha keturunan Indonesia yang menetap di Sydney, guna mengatur rencana untuk membantu melindungi tim Jauhari.
Setelahnya, semua orang berpamitan. Zhao Yìchen mendekap Jauhari sedikit lebih lama, sambil memberikan dukungan pada pria muda yang sudah dianggapnya sebagai Adik.
"Besok aku balik lagi. Kamu mau dibawakan apa?" tanya Zhao Yìchen sembari mengurai pelukan.
"Enggak usah, Ko. Makanan dari kalian, sudah banyak banget." Jauhari menunjuk dus besar yang isinya tengah diperiksa petugas. "Aku minta diurut aja," lanjutnya.
"Boleh. Besok kusiapkan minyaknya." Zhao Yìchen memindai sekitar. "Diurutnya di sini?" tanyanya.
"Kutanyakan dulu ke petugas," sahut Jauhari. "Kalau bisa, aku mau izin pakai ruangan dalam. Di belakang itu, ada ruang VIP," sambungnya.
Zhao Yìchen mengangguk. "Aku pamit."
"Ya, Ko. Makasih sudah datang buat mendukungku."
Zhao Yìchen menepuk pundak kanan Jauhari. Kemudian dia berpindah untuk menyalami keempat ajudan lainnya. Sebelum dia memutar tubuh dan menyusul anggota rombongan Indonesia, yang tengah bergerak menuju bus milik Hotel Arvhasatya.
Timothy Arvhasatya merupakan pebisnis senior yang merupakan keturunan Indonesia. Pria tua itu pernah menetap lama di Sydney dan membangun usaha properti yang berkembang pesat. Timothy memiliki seorang anak kandung bersama Hansel. Dia juga memiliki dua anak angkat, yakni Bryan Chavas, dan Keven Kahraman.
Bryan dan Keven adalah anak dari kedua sahabat Timothy, saat kuliah di Bandung pada puluhan tahun silam. Kedua pria itu diadopsi Timothy dan menyandang marga Arvhasatya di belakang nama mereka. Begitu pula dengan anak-anak mereka.
Sepanjang perjalanan menuju hotel, suasana bus terasa sunyi. Tidak ada seorang pun yang urun suara, karena mereka memikirkan nasib kelima ajudan tadi.
Zhao Yìchen mengamati Wirya yang duduk di kursi sisi kiri bersama Zulfi. Paras tegang Wirya sudah berkurang, dan berganti dengan raut wajah sedih. Zhao Yìchen memahami sikap Adik angkatnya itu, karena dia tahu tentang ikatan batin yang kuat, antara Wirya dan Jauhari.
Tidak sampai setengah jam berikutnya, bus telah sampai di tempat tujuan. Semua orang turun dari kendaraan dan memasuki lobi utama hotel. Zhao Yìchen diajak Zulfi guna menuju ruang rapat direksi di lantai 7. Sedangkan yang lainnya menuju kamar masing-masing.
Sekian menit berlalu, belasan orang tersebut telah berada di ruang rapat nan sejuk. Zhao Yìchen mendengarkan penjelasan Yusuf, yang telah mengatur pasukan penjaga menjadi tiga kelompok. Mereka akan bertugas secara bergantian, guna memastikan keselamatan tim Jauhari.
"Mas Cay, apa izin buat berkemah sudah oke?" tanya Alvaro.
"Ya, tapi hanya boleh di ujung kanan tempat parkir, dan anggota kita tidak boleh berkeliaran ke area belakang. Karena itu gedung tahanan umum," jelas Cayden Gilmer, Kakak sepupu Aruna, istri Keven. Cayden merupakan ketua tim pengacara PBK.
"Alhamdulillah. Segitu juga, nggak apa-apa," tukas Alvaro.
"Ingatkan tim caravan. Kalau mau pergantian personel, harus laporan dari pagi. Supaya Harper nggak kaget anggotanya berubah."
"Siap." Alvaro beralih memandangi calon direktur marketing yang tengah menikmati kue. "Suf, dengar, kan?" desaknya.
"A ang," ujar Yusuf.
"Telan dulu, baru jawab," sela Yoga.
Yusuf manggut-manggut. Dia enggan membalas, karena masih sibuk mengunyah. Yusuf nyaris tersedak, ketika Cayden mengajukan perkataan unik.
"Aku nemenin Ari di dalam sel?" tanya Yusuf setelah lebih tenang.
"Ya. Komandan Gilbert sudah mengizinkan itu. Setelah Harzan dan ketiga rekannya dibebaskan. Ari tinggal sendirian, kasihan," papar Cayden.
"Mereka ditahan dalam sel VIP, di lantai 2. Itu biasanya dipakai buat nahan artis atau orang terkenal lainnya. Kalau Harzan dan yang lainnya keluar, di situ sepi sekali," tambah Geoff Rikkard, Adik Cayden, yang juga anggota tim pengacara.
"Kita beruntung. Komandan Gilbert dan Harper memahami kondisi tim kita yang imigran. Mereka juga cukup dekat dengan Papa, dan mungkin segan sama beliau," cakap Bryan.
"Selain itu, banyak dukungan buat Ari dari WNI di sini, ataupun keturunan Indonesia. Bahkan, teman-teman Papa juga siap jadi penjamin," cetus Keven.
"Gaes, ada kabar baru," celetuk Andrew Wright, direktur operasional Arvhasatya Grup, seusai menerima telepon dari asistennya. "Ben, nyalakan televisi," pintanya.
Beni Indrayana, ajudan tim lapis 4, berdiri dan jalan menuju buffet di sisi kanan ruangan. Dia meraih remot dari meja dan menyalakan televisi. Beni mencari saluran yang disebutkan Andrew, lalu dia memperbesar volume televisi.
Semua orang fokus menonton berita, yang menerangkan perkembangan terbaru, dari kasus penikaman pada Truman dan Owen di Port Stephens, di mana tim Jauhari menjadi saksi matanya.
Belasan orang itu kompak berseru, karena ketiga pelaku penusukan itu berhasil ditangkap polisi setempat. Cayden dan Geoff langsung berdiskusi, untuk mendesak pihak berwajib kota tersebut, supaya bisa mewawancarai ketiga pelaku.
Pengakuan mereka mungkin bisa digunakan sebagai tambahan pembelaan buat Jauhari. Sehingga kebebasan pria berlesung pipi itu bisa dioptimalkan.
130Ustaz Sulaiman dan Ustaz Mawardi bergantian menyampaikan tausiah dengan topik yang berbeda, tetapi saling berkaitan. Kemudian acara gunting rambut dimulai dan para tamu semuanya berdiri. Zhao Yìchen keluar dari dalam rumah sambil menggendong Nayara. Agung dan Nandi menyusul sambil membawa nampan berisikan gunting, serta mangkuk untuk menempatkan potongan rambut sang bayi. Zhao Yìchen mendatangi kedua Ustaz terlebih dahulu, kemudian dia bergeser ke kiri guna menyambangi Yayan, Qianfan, Wahyu, Maman, Akong Bun, Frederick, Frans, Finley, Katon, Sultan, Gustavo, Harsaya, Arsyad, Mulyadi, dan ditutup oleh Abdul Affan, ayahnya Zulfi. Selanjutnya, Zhao Yìchen berpindah ke barisan para Nenek, yang dimulai dari Nilam, dan diakhiri seorang perempuan berjilbab abu-abu mengilat, yang senada dengan gamisnya. "Mak, kapan datang?" tanya Zhao Yìchen, sebelum menyerahkan Nayara ke Nilam, lalu dia merunduk untuk menyalami sang pengarang buku, dengan takzim. "Sekitar 15 menit lalu," jawab Emak
129Malam baru dimulai, tetapi di bawah tenda panjang itu telah banyak orang dengan berbagai aktivitas. Ada yang memasang hiasan di sepanjang tenda, ada yang memasang banyak kipas AC besar di puluhan titik. Ada pula yang hanya menonton sambil berbincang dengan berbagai topik. Zhao Yìchen tercenung kala puluhan ajudan berbadan jangkung, bekerjasama menggantungkan banyak balon di dalam dan luar rumah. Balon-balon itu berisikan kertas warna-warni dan nomor hadiah doorprize, sumbangan dari semua cucu serta menantu keluarga Adhitama.Zhao Yìchen tercenung saat Bayazid dan teman-temannya diangkat tim Zikria, supaya bisa duduk di pundak Hisyam, Qadry, Aditya, Chairil, Beni, Harun, Samudra, Mahesa, Xander, Dipta, Listu, Dimas, Ukky, Lazuardi, dan Santos, yang badannya menjulang semua. Para bocah itu menambahkan hiasan berupa foto Nayara dalam berbagai pose, yang telah dilaminating. Kemudian mereka bekerjasama mengangkat banner besar bertuliskan nama lengkap Nayara dalam huruf kaligrafi, yan
128 Zhao Yìchen bernyanyi dan bergoyang sembari mengayun anaknya. Tanpa memedulikan tawa Nandi dan Agung yang melihat tingkahnya, Zhao Yìchen meneruskan aktivitasnya hingga Nayara merengek, karena menginginkan Mou-chan. Zhao Yìchen bergegas memasuki kamar utama di bagian belakang rumah. Dia memanggil Elma, yang keluar dari toilet dengan berjalan pelan. "Mou-chan, Naya mau nyusu," ucap Zhao Yichen. "Bentar, Ko. Aku minum dulu," kilah Elma sembari duduk di sofa tunggal, dan menggapai gelasnya dari meja. "Fu-chan, bukan Koko," tukas Zhao Yichen. "Kepanjangan," balas Elma, sambil meraih anaknya yang diulurkan sang suami. "Ya, udah. Fu aja." "Jadi kayak nyebut Kung Fu." Zhao Yìchen memandangi istrinya yang tengah mengulum senyuman. "Kamu senyum-senyum, gitu, hatiku mencair." "Jangan merayu. Fu mesti puasa 1 setengah bulan." "Bukannya 40 hari?" "Pas-kan aja jadi 45 hari." "Enggak mau!" "Sstt! Jangan naik suaranya. Naya kaget." Zhao Yìchen mengambil bantal khusus dan menyelipk
127 Hari berikutnya. Ruang perawatan VIP yang ditempati Elma, dipenuhi banyak orang. Sebab tidak semua orang bisa tertampung, akhirnya banyak yang keluar dan berpindah duduk di deretan bangku selasar. Di dalam ruangan, semua orang bergantian menggendong bayi bertopi merah muda, yang tetap tertidur pulas walaupun berpindah dari satu tangan ke tangan lain. Dante membaca doa, sebelum mengecup dahi keponakannya dengan hati-hati. Dia mengayun bayi sembari bernyanyi lagu Mandarin, dengan suara yang cukup merdu. "Ko, gantian. Aku dari tadi belum gendong," pinta Calvin. "Hati-hati, Vin. Ini bayi, bukan boneka," tukas Dante, sembari memindahkan bayi itu ke kedua tangan adiknya. Pintu terbuka dan Wirya memasuki ruangan bersama keluarganya. Mereka menyalami kedua orang tua Elma yang telah datang kemarin malam, kemudian mereka beralih bersalaman dengan keluarga Adhitama. "Siniin bayinya, Vin," ujar Wirya. "Bang, aku baru gendong semenit," rengek Calvin. "Kamu bisa gendong lagi nanti. Aku
126Jalinan waktu terus berjalan. Hari perkiraan lahiran Elma yang kian dekat, menjadikan Zhao Yìchen gelisah. Pria itu makin cemas, ketika Elma mulai sering mengalami kontraksi palsu. Seperti pagi itu. Zhao Yìchen ragu-ragu untuk berangkat ke sekolah, tetapi akhirnya dia pergi juga untuk melaksanakan ujian akhir kejar paket B. Pria berkemeja putih itu menyetir sembari berzikir dalam hati. Selain melancarkan, Zhao Yìchen juga tengah mengamalkan wejangan dari Mulyadi, yang telah menerangkan kegunaan dari doa-doa pendek untuk menjaga keselamatan diri. Semua anggota Paguyuban Margalutu telah merasakan manfaat tersebut. Mereka sering mengalami berbagai kejadian yang sulit dijelaskan dengan logika. Seperti yang pernah dialami Izra dan Emyr, saat mereka masih berpangkat staf HWZ, dulu. Izra dan Emyr bertugas mengecek proyek di Lombok, yang telah nyaris rampung pengerjaannya. Mereka menyewa mobil untuk pergi meninjau lokasi lain yang ditawarkan rekanan. Emyr yang menjadi sopir, membaca
125Elma berteriak mengelu-elukan kedua mempelai yang masih berdiri di panggung bulat. Elma nyaris melompat, sebelum akhirnya ingat jika dirinya sedang hamil.Elma tersenyum ketika melihat orang-orang di sekitarnya, yang melakukan berbagai macam gaya, guna mengekspresikan kegembiraan mereka akan pertunjukan fantastis tersebut. Akong Bun dan Kakek Edward yang menempati meja sebelah kanan, turut menyoraki Wirya dan Vanetta. Sedangkan ketiga anak Wirya jingkrak-jingkrak di dekat panggung, sebelum mereka dinaikkan petugas ring 1, supaya bisa bergabung dengan kedua orang tua mereka. "Ayah, keren!" puji Bayazid, seusai menerima mikrofon yang diberikan Satya dari tepi kanan panggung. "Mama juga, keren sekali," ungkap Marwa, sebelum dia mendekap Vanetta dari sisi kiri. "Xie-xie," balas Vanetta."Aku pengen bisa kayak tadi," papar Marwa."Nanti kita latihan, Kak. Selagi alatnya masih terpasang," cetus Vanetta. "Abang bisa parkour. Mau tunjukin di sini?" pinta Wirya sembari mengusap dahinya
04 Sepanjang perjalanan menuju Jakarta, Zhao Yìchen mengamati sekitar. Dia terheran-heran dengan bentuk bangunan di tepi jalan, yang sangat berbeda dengan tempat tinggalnya. Selain itu dia takjub dengan berbagai jenis kendaraan yang melintas di jalan raya.Zhao Yìchen berulang kali bertanya dan Fr
03Zhao Yìchen memandangi langit cerah dari jendela yang terbuka lebar. Dia memikirkan keluarganya di utara Guangdong, yang pastinya tengah sedih, karena Zhao Yìchen menghilang. Pria berhidung bangir itu membayangkan paras Ayah, Ibu, dan kakaknya, Zhao Mùchen. Zhao Yìchen juga terbayang wajah kelu
02"Martin?" panggil Zeinharis Abqary, sembari memandangi lelaki yang bagian depan kepalanya plontos, sedangkan rambut panjangnya dikepang satu."Dia bukan Martin, Z," cakap Hendri Danantya, yang tengah mengangkat badan Zhao Yìchen untuk disandarkan ke tubuhnya. "Muka mereka memang mirip, tapi ini
01"Tuan Muda, lari!" titah Sun Qiang, ketua pengawal keluarga Zhao. "Selamatkan diri Anda!" pekiknya, sembari menendangi beberapa perampok yang hendak mengeroyok atasannya. Zhao Yìchen berbalik dan lari menuju kereta pengangkut barang dagangan milik keluarganya. Zhao Yìchen melepaskan tali pengai







