แชร์

Bab 07

ผู้เขียน: Olivia Yoyet
last update วันที่เผยแพร่: 2026-03-27 18:05:25

07

Suasana haru memenuhi ruangan luas di kantor polisi Sydney. Puluhan orang menandangi adegan kedua pria yang tengah berangkulan lama. Jauhari terisak-isak dalam dekapan Wirya yang juga meneteskan air mata. Keduanya baru menjauh, setelah dipisahkan Alvaro. 

Zhao Yìchen menghela napas berat dan melepaskannya sekali waktu. Dia turut sedih dengan nasib yang menimpa Jauhari. Pria muda tersebut terbukti membunuh orang, meskipun itu dalam rangka melindungi diri, karena dia ditembak korban terlebih dahulu.

Peristiwa bermula dari tertabraknya mobil kelompok Jauhari, oleh mobil anggota gangster pimpinan Rupert. Kelima ajudan itu terpaksa keluar, supaya Avreen dan kedua sahabatnya aman di dalam mobil.

Pihak gangster memang mencari Jauhari, karena pria itu merupakan saksi mata utama pembunuhan yang melibatkan anggota mereka, di Port Stephens, salah satu kota terdekat dengan Sydney. Perdebatan itu memanas, hingga akhirnya perkelahian tidak terelakkan.

Kelima pengawal bekerjasama dalam menghadapi lawan mereka yang berjumlah belasan. Avreen yang panik melihat para ajudan dikeroyok, akhirnya keluar dari mobil dan ikut berkelahi menggunakan tongkat bisbol.

Kedua sahabat Avreen, yakni Tyas dan Vivianne, memvideokan peristiwa tersebut dari awal hingga akhir. Sebab itu tim kuasa hukum PBK berjuang keras untuk membebaskan kelima pengawal, karena terbukti bukan mereka yang memulai perkeliahan. 

Akan tetapi, karena Jauhari membalas tembakan lawannya dengan telak, hingga pria bernama Daymion itu tewas, posisi Jauhari terjepit. Kemungkinan besar dia akan dijatuhi hukuman berat, karena telah menghilangkan nyawa orang lain. 

Selama setengah jam berikutnya, ruangan itu berdengung akibat percakapan banyak orang. Zhao Yìchen berdiskusi dengan beberapa pengusaha keturunan Indonesia yang menetap di Sydney, guna mengatur rencana untuk membantu melindungi tim Jauhari. 

Setelahnya, semua orang berpamitan. Zhao Yìchen mendekap Jauhari sedikit lebih lama, sambil memberikan dukungan pada pria muda yang sudah dianggapnya sebagai Adik. 

"Besok aku balik lagi. Kamu mau dibawakan apa?" tanya Zhao Yìchen sembari mengurai pelukan. 

"Enggak usah, Ko. Makanan dari kalian, sudah banyak banget." Jauhari menunjuk dus besar yang isinya tengah diperiksa petugas. "Aku minta diurut aja," lanjutnya. 

"Boleh. Besok kusiapkan minyaknya." Zhao Yìchen memindai sekitar. "Diurutnya di sini?" tanyanya. 

"Kutanyakan dulu ke petugas," sahut Jauhari. "Kalau bisa, aku mau izin pakai ruangan dalam. Di belakang itu, ada ruang VIP," sambungnya. 

Zhao Yìchen mengangguk. "Aku pamit." 

"Ya, Ko. Makasih sudah datang buat mendukungku." 

Zhao Yìchen menepuk pundak kanan Jauhari. Kemudian dia berpindah untuk menyalami keempat ajudan lainnya. Sebelum dia memutar tubuh dan menyusul anggota rombongan Indonesia, yang tengah bergerak menuju bus milik Hotel Arvhasatya. 

Timothy Arvhasatya merupakan pebisnis senior yang merupakan keturunan Indonesia. Pria tua itu pernah menetap lama di Sydney dan membangun usaha properti yang berkembang pesat. Timothy memiliki seorang anak kandung bersama Hansel. Dia juga memiliki dua anak angkat, yakni Bryan Chavas, dan Keven Kahraman. 

Bryan dan Keven adalah anak dari kedua sahabat Timothy, saat kuliah di Bandung pada puluhan tahun silam. Kedua pria itu diadopsi Timothy dan menyandang marga Arvhasatya di belakang nama mereka. Begitu pula dengan anak-anak mereka. 

Sepanjang perjalanan menuju hotel, suasana bus terasa sunyi. Tidak ada seorang pun yang urun suara, karena mereka memikirkan nasib kelima ajudan tadi. 

Zhao Yìchen mengamati Wirya yang duduk di kursi sisi kiri bersama Zulfi. Paras tegang Wirya sudah berkurang, dan berganti dengan raut wajah sedih. Zhao Yìchen memahami sikap Adik angkatnya itu, karena dia tahu tentang ikatan batin yang kuat, antara Wirya dan Jauhari. 

Tidak sampai setengah jam berikutnya, bus telah sampai di tempat tujuan. Semua orang turun dari kendaraan dan memasuki lobi utama hotel. Zhao Yìchen diajak Zulfi guna menuju ruang rapat direksi di lantai 7. Sedangkan yang lainnya menuju kamar masing-masing. 

Sekian menit berlalu, belasan orang tersebut telah berada di ruang rapat nan sejuk. Zhao Yìchen mendengarkan penjelasan Yusuf, yang telah mengatur pasukan penjaga menjadi tiga kelompok. Mereka akan bertugas secara bergantian, guna memastikan keselamatan tim Jauhari. 

"Mas Cay, apa izin buat berkemah sudah oke?" tanya Alvaro. 

"Ya, tapi hanya boleh di ujung kanan tempat parkir, dan anggota kita tidak boleh berkeliaran ke area belakang. Karena itu gedung tahanan umum," jelas Cayden Gilmer, Kakak sepupu Aruna, istri Keven. Cayden merupakan ketua tim pengacara PBK. 

"Alhamdulillah. Segitu juga, nggak apa-apa," tukas Alvaro. 

"Ingatkan tim caravan. Kalau mau pergantian personel, harus laporan dari pagi. Supaya Harper nggak kaget anggotanya berubah." 

"Siap." Alvaro beralih memandangi calon direktur marketing yang tengah menikmati kue. "Suf, dengar, kan?" desaknya. 

"A ang," ujar Yusuf.

"Telan dulu, baru jawab," sela Yoga. 

Yusuf manggut-manggut. Dia enggan membalas, karena masih sibuk mengunyah. Yusuf nyaris tersedak, ketika Cayden mengajukan perkataan unik.

"Aku nemenin Ari di dalam sel?" tanya Yusuf setelah lebih tenang. 

"Ya. Komandan Gilbert sudah mengizinkan itu. Setelah Harzan dan ketiga rekannya dibebaskan. Ari tinggal sendirian, kasihan," papar Cayden. 

"Mereka ditahan dalam sel VIP, di lantai 2. Itu biasanya dipakai buat nahan artis atau orang terkenal lainnya. Kalau Harzan dan yang lainnya keluar, di situ sepi sekali," tambah Geoff Rikkard, Adik Cayden, yang juga anggota tim pengacara. 

"Kita beruntung. Komandan Gilbert dan Harper memahami kondisi tim kita yang imigran. Mereka juga cukup dekat dengan Papa, dan mungkin segan sama beliau," cakap Bryan. 

"Selain itu, banyak dukungan buat Ari dari WNI di sini, ataupun keturunan Indonesia. Bahkan, teman-teman Papa juga siap jadi penjamin," cetus Keven. 

"Gaes, ada kabar baru," celetuk Andrew Wright, direktur operasional Arvhasatya Grup, seusai menerima telepon dari asistennya. "Ben, nyalakan televisi," pintanya. 

Beni Indrayana, ajudan tim lapis 4, berdiri dan jalan menuju buffet di sisi kanan ruangan. Dia meraih remot dari meja dan menyalakan televisi. Beni mencari saluran yang disebutkan Andrew, lalu dia memperbesar volume televisi. 

Semua orang fokus menonton berita, yang menerangkan perkembangan terbaru, dari kasus penikaman pada Truman dan Owen di Port Stephens, di mana tim Jauhari menjadi saksi matanya. 

Belasan orang itu kompak berseru, karena ketiga pelaku penusukan itu berhasil ditangkap polisi setempat. Cayden dan Geoff langsung berdiskusi, untuk mendesak pihak berwajib kota tersebut, supaya bisa mewawancarai ketiga pelaku. 

Pengakuan mereka mungkin bisa digunakan sebagai tambahan pembelaan buat Jauhari. Sehingga kebebasan pria berlesung pipi itu bisa dioptimalkan. 

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 98

    98Tim pemusik bergegas menuruni tangga untuk menempati deretan kursi terdepan. Sementara tim penari berpencar ke empat arah. Fikri dan Rinjani mengarahkan pasangan pengantin untuk duduk di bangku dekat keyboard, guna menonton drama dari dekat. Khalayak berseru kala beberapa orang muncul dari pintu kiri. Disusul sekelompok orang lainnya yang hadir dari pintu kanan. Mereka mendekati kedelapan penari, lalu serentak berpose bak model. Alvaro dan Yanuar maju berbarengan dari dua sisi. Musik remix menghentak terdengar dari pengeras suara, dan keduanya bertarung menggunakan jurus bela diri andalan masing-masing. Pekikan hadirin mengiringi langkah kedua pria yang meneruskan berantem pura-pura, hingga musik berganti dan mereka kembali ke kelompok masing-masing. Haryono, Edwin, Galang, dan Yoga, membungkukkan badan, supaya bisa menjadi tumpuan kaki Aswin serta Nugraha, yang naik sambil dipegangi keempat penari pria.Dari sisi kanan, Hisyam lari kencang, lalu melompat dan menendangi gabus si

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 97

    97Alunan lagu. berirama khas Sunda dimainkan dengan apik oleh tim musik. Kenzo Darka, salah satu artis penyanyi Indonesia yang juga tergabung di grup 1 PCD, muncul dari pintu kiri. Sedangkan Nandira hadir dari pintu kanan. Kedua penyanyi memamerkan suara emas mereka, sembari terus melangkah hingga tiba di tengah-tengah panggung. Lagu pertama usai, dan musik berganti dengan irama gambus. Kenzo dan Nandira mendendangkan wedding nasheed, yang disambung dengan lagu Arab berirama cepat. Kedelapan penari muncul dengan mengenakan kostum beraneka warna. Deswin yang berpasangan dengan Zivara, tampil enerjik dengan tarian modern. Disusul Yusuf dan Irshava yang menampilkan tarian perut, yang menjadikan khalayak heboh. Seusai lagu, Kenzo berpindah mendekati tim musik. Dia menggantikan posisi Panglima, yang beralih mengambil gendang yang talinya diselempangkan ke leher. Sementara Nandira berpindah ke dekat Trevor, sembari bersiap untuk menjadi penyanyi lagi. Musik berubah menjadi lagu khas Ind

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 96

    96 Tepat jam 1 siang, acara resepsi dilangsungkan di tempat yang berbeda dari acara akad. Ballroom luas di lantai 2 gedung Hotel Bramanty itu mampu menampung hingga 3000 orang dalam sekali waktu. Seperti halnya pesta para ajudan lapisan lainnya, panggung berukuran sedang juga dibangun di sisi kanan pelaminan bernuansa hijau, yang dipenuhi banyak dedaunan. Sesuai dengan dekorasi yang diinginkan Elma, yakni semi garden party. Kendatipun saat itu sudah memasuki musim kemarau, tetapi curah hujan masih lumayan tinggi di seputar Bandung. Selain itu, waktu pesta yang dilakukan siang hingga sore hati, menjadikan area luar cukup panas. Elma sudah mempertimbangkan situasi dan kondisi cuaca saat pesta dilangsungkan. Elma akhirnya memutuskan untuk mengadakan perhelatan akbar itu di dalam ruangan, supaya suasananya nyaman bagi semua orang. Fikri yang kembali berduet dengan Rinjani sebagai MC, mempersilakan pasangan pengantin baru memasuki area. Pintu utama ballroom terbuka, dan keenam bocah p

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 95

    95"Saya terima nikah dan kawinnya Elma Ararindra Binti Yayan Muchayan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" tegas Zhao Yìchen dalam satu tarikan napas dan terdengar mantap. Pak penghulu menanyakan keabsahan akad itu pada kedua saksi, yakni Finley dan Wahyu, Kakak sepupu Yayan. Kemudian kepala KUA membacakan doa yang diamini khalayak.Zhao Yìchen menunduk dan menadahkan kedua tangannya. Pria bersetelan jas pengantin biru muda itu mengucap hamdalah dalam hati, karena telah menuntaskan satu tugas berat, yang membuat beban di pundaknya berkurang. Seusai pembacaan doa, pasangan pengantin baru menandatangani buku nikah, dengan arahan Pak penghulu. Kemudian keduanya berdiri dan maju selangkah, sambil menunggu tim dokumentasi bersiap-siap mengabadikan momen selanjutnya. Zhao Yìchen meraih cincin bertakhtakan berlian putih dari kotak perhiasan yang dipegangi Fazluna. Zhao Yìchen memasangkan cincin ke jemari manis kanan istrinya. Elma mengambil cincin polos dari kotak itu, lalu menyematk

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 94

    94Elma memandangi pantulan dirinya di depan cermin besar. Meskipun dia MUA yang sudah lama malang- melintang di dunia tata rias, tetap saja Elma takjub dengan hasil dandanan Roni, ketua tim MUA EO M&E, yang selalu jadi andalan para bos jika hendak menikah.Roni menempuh pendidikan tentang riasan itu di Jerman. Selain para bos, banyak artis tanah air dan keluarga pejabat yang menggunakan jasanya. Ptibadinya yang ramah dan hangat, menjadikan pelanggan Roni terus bertambah, dan klien lama pun tetap setia menggunakan jasanya.Elma menoleh ke kiri ketika mendengar gelakak keempat sahabatnya, yang tengah dicandai Roni. Pria berkacamata itu terus mengoceh dengan cepat, menggunakan bahasa Sunda campur Inggris, sembari sekali-sekali menggoyangkan badannya, seolah-olah tengah menirukan gerakan ben-ces.Pintu terbuka dan Nilam memasuki ruangan bersama Leni. Nilam mengamati putrinya, sedangkan Leni membantu Elma mengenakan selop biru muda, yang senada dengan setelan kebaya pengantinnya. "Rombon

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 93

    93Hari bahagia yang kian dekat, menjadikan Zhao Yìchen deg-degan. Setiap hari dia berlatih mengucapkan ijab kabul dengan pasangan yang berganti-ganti. Dimulai dari Wirya, Zulfi, Dante, Harry, Yoga, Andri, bahkan Finley turun tangan langsung untuk membantu keponakan angkatnya tersebut. Sehari sebelum berangkat ke Bandung, acara pengajian dilakukan di kediaman Dante. Ratusan orang turut menghadiri acara tersebut, di mana sebagian besarnya adalah tim PBK. Acara pengajian usai tepat sebelum azan asar. Zhao Yìchen yang berada di pelaminan kecil, menyalami semua tamu sembari membagikan goodiebag. Untuk yang sudah sepuh, Zhao Yìchen mendatangi mereka satu per satu, guna beramah tamah. Seusai para tamu umum pergi, hampir semua pria bergegas berangkat ke masjid yang berada di blok terdepan. Mereka menunaikan salat Asar berjemaah, lalu kembali ke rumah Dante guna melaksanakan siraman. Zhao Yìchen yang telah menukar celana panjangnya dengan sarung hitam motif garis-garis, menduduki bangku k

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 27

    27Kehadiran Zhao Yìchen pagi itu, disambut teriakan banyak karyawan di gedung PBK. Mereka berebutan untuk menyalami pria berambut gondrong, yang telah mencukur kumisnya hingga klimis. Zhao Yìchen melayani rekan-rekannya yang mengajak berbincang selama belasan menit. Kemudian dia memasuki lift den

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 18

    18 Zhao Yìchen memandangi Jauhari yang tengah berlatih di palang besi. Pria bertubuh langsing itu memperagakan senam ala atlet dengan cukup baik.Jauhari melentingkan badannya dua kali, lalu dia melepaskan pegangan pada palang, dan melompat turun sambil koprol. Jauhari mendarat di tanah dengan sed

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 13

    13Zhao Yìchen mengamati presiden komisaris LB Company, yang tengah berbincang dengan Bryan, Keven, dan Jourell. Zhao Yìchen menyukai pria tua yang rambutnya telah memutih seluruhnya itu, yang sangat ramah.Zhao Yìchen kagum dengan gaya santai yang ditampilkan Li Thorne. Zhao Yìchen membatin, bila

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 12

    12 Cayden mengulum senyuman, sesaat setelah mendengar penuturan Harper mengenai kejadian kemarin malam. Cayden terkekeh setelah Harper menggerutu, karena beberapa korban dari pihak gangster, yang mengalami patah tangan ataupun patah kaki, akibat disiksa tim PBK. Setelah tawanya lenyap, Cayden berg

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status