LOGIN06
Bunyi seruling terdengar syahdu dari gazebo di halaman belakang kediaman Dante. Seorang pria berkaus putih meniup alat musik itu dengan serius dan penuh penghayatan, sambil membayangkan orang-orang di masa silam.
Lagu kuno Tiongkok mengalun silih berganti. Hingga Zhao Yìchen berhenti bermain musik, dan mengalihkan pandangan ke langit malam nan kelam. Dia berulang kali menarik napas dalam-dalam, lalu diembuskannya perlahan.
Zhao Yìchen sangat merindukan keluarganya. Hati pria itu sakit, akibat rasa kangen yang mencuat dan menyesakkan dada. Zhao Yìchen mengerjapkan mata, sebelum menggeleng pelan sambil mendengkus.
Panggilan seseorang menyebabkan Zhao Yìchen menoleh ke kanan. Dia tertegun menyaksikan raut wajah tegang yang ditampilkan Radeya, yang tengah menyambanginya.
"Ko, dipanggil Pak Dante," tutur Radeya.
"Ada apa?" tanya Zhao Yìchen sambil berdiri.
"Nanti beliau yang jelaskan," jelas Radeya. "Ada Bang Zulfi dan Bang Andri. Mereka nunggu Koko di ruang kerja," lanjutnya.
Keduanya melangkah bersamaan menuju bangunan utama. Zhao Yìchen meneruskan langkah ke ruang kerja, sedangkan Radeya menaiki tangga untuk menuju kamarnya.
Zhao Yìchen mengetuk pintu satu kali, sebelum membuka gagang dan mendorong pintu. Dia memasuki ruangan dan langsung menutup lawang.
"Kalian lagi rapat apa?" tanya Zhao Yìchen sambil menyalami Zulfi dan Andri. Kemudian dia duduk di sofa tunggal.
"Ada kabar buruk, Ko," ujar Zulfi. "Tadi siang waktu Sydney, kelompok Ari diserang preman bayaran," terangnya yang mengejutkan pria di kursi samping kanan.
"Apa ada yang terluka?" desak Zhao Yìchen.
"Pasukan kita hanya luka lecet, tapi ... Ari nembak salah satu preman itu, yang langsung tewas di tempat."
Zhao Yìchen tercengang, sembari mengerjapkan matanya berulang kali. Zhao Yìchen memegangi dadanya yang kembali sakit, persis seperti yang tadi dirasakannya.
"Ari, gimana kondisinya?" tanya Zhao Yìchen setelah bisa menenangkan diri.
"Dia sehat. Hanya masih syok, dan luka lecet," jelas Andri. "Begitu juga dengan Harzan, Nuriel, Ikram, dan Khalid. Tapi, mereka masih ditahan di kantor polisi pusat," sambungnya yang kembali mengejutkan Zhao Yìchen.
"W lagi syok berat dan nggak bisa diajak bicara," sela Zulfi. "Varo memerintahkan kita untuk segera berangkat ke Sydney. Buat memastikan kondisi semua ajudan di dalam penjara," tambahnya.
"Varo minta Koko ikut. Nantinya Koko tinggal di sana, sama pasukannya Yusuf. Mereka stand by di Sydney, sebagai persiapan jika para anggota gangster bangsat itu balas dendam," ungkap Zulfi.
"Ehm, ya. Kapan kita berangkat?" desak Zhao Yìchen.
"Jumat malam," balas Zulfi.
"Aku bawa semua baju?"
"Enggak usah. Secukupnya aja. Kalau kurang, bisa beli di sana."
"Aku ikut, Zul," timpal Dante.
"Ya. Daddy Baskara dan beberapa bos yang dekat dengan Ari, juga ikut. Mereka mau memberikan dukungan langsung buat Ari dan teman-temannya," tutur Zulfi.
***
Zhao Yìchen memerhatikan sekeliling. Dia mengagumi interior kabin pesawat itu, yang disewa tim PBK. Zhao Yìchen menempati kursi samping kanan Dante. Dia mengintip ke luar kaca guna memandangi beberapa pesawat lainnya, yang tengah parkir di dekat ruang tunggu keberangkatan.
"Pakai sabuknya," ucap Dante.
"Caranya?" tanya Zhao Yìchen.
Dante mempraktikkan cara mengenakan sabuk pengaman. "Kalau mau dilepas, angkat kepalanya, lalu tarik," terangnya.
Zhao Yìchen melaksanakan arahan Dante hingga berulang kali. Dia menyukai kegiatan itu, hingga ditegur Dante, karena berisik.
Zhao Yìchen mengulum senyuman. Dia sama sekali tidak tersinggung ditegur Dante. Zhao Yìchen justru menggoda pria berdagu lancip itu dengan berpura-pura memainkan kepala sabuk. Sebelum akhirnya dia terkekeh saat diomeli Dante.
Tidak berselang lama, pesawat mulai bergerak mundur, lalu berbalik arah. Roda-roda burung besi itu berputar cepat seiring dengan majunya pesawat menuju landasan pacu.
Zhao Yìchen mengambil permen yang diulurkan Dante. Dia mengemut permen mint itu sambil memandangi area luar. Tubuh Zhao Yìchen menegang, saat pesawat bertambah laju. Telinganya tiba-tiba berdengung dan Zhao Yìchen spontan menutupi kupingnys dengan kedua tangan.
"Telingaku sakit," keluh Zhao Yìchen, sesaat setelah pesawat berhasil lepas landas.
"Permenjya diemut atau dikunyah?" tanya Dante.
"Dikulum," balas Zhao Yìchen.
"Harusnya, dikunyah. Supaya rahang bergerak dan telinga nggak sakit."
"Kamu nggak bilang dari tadi."
"Jangan salahkan aku. Kamu mestinya nanya."
Zhao Yìchen tertegun. "Berdebat denganmu, aku selalu kalah. Padahal posisiku sudah benar."
"Enggak ada yang bisa menang bersilat lidah denganku."
"Ada, istrimu."
Dante terdiam. "Sama dia itu, aku mengalah demi kebaikan bersama. Bukan karena aku benar-benar kalah."
Zhao Yìchen melengos. "Kamu pandai sekali berkilah."
"Itu modal utama buat jadi pengusaha. Kamu juga harus bisa."
"Aku tidak berminat jadi pedagang."
"Minatnya, jadi apa?"
"Tabib."
Dante menaikkan alisnya. "Tabib? Dokter, gitu?"
"Ya. Di tempatku dulu, aku belajar ilmu pengobatan pada tabib keluarga. Aku sudah berniat untuk sekolah tabib, tapi ... peristiwa buruk itu terjadi, dan aku terpaksa pindah ke sini."
Dante menepuk pelan punggung tangan kiri pria berkumis tipis. "Sabar. Takdirmu sudah diatur Tuhan. Di sini, kamu juga bisa belajar ilmu pengobatan. Khususnya ala Tiongkok."
"Di mana tempatnya?"
"Kerabatku, ada yang tinggal di Darwin. Dia punya kenalan shinshe paten. Aku sudah meneleponnya, dan dia akan menemui kita di Sydney. Kamu bisa belajar ke temannya itu," ujar Dante.
"Khususnya ilmu akupuntur. Itu akan sangat berguna membantu tim PBK. Sekaligus jadi lahan bisnismu. Alias, bisa menghasilkan uang," pungkasnya.
1 bab lagi updated nanti sore ^^
130Ustaz Sulaiman dan Ustaz Mawardi bergantian menyampaikan tausiah dengan topik yang berbeda, tetapi saling berkaitan. Kemudian acara gunting rambut dimulai dan para tamu semuanya berdiri. Zhao Yìchen keluar dari dalam rumah sambil menggendong Nayara. Agung dan Nandi menyusul sambil membawa nampan berisikan gunting, serta mangkuk untuk menempatkan potongan rambut sang bayi. Zhao Yìchen mendatangi kedua Ustaz terlebih dahulu, kemudian dia bergeser ke kiri guna menyambangi Yayan, Qianfan, Wahyu, Maman, Akong Bun, Frederick, Frans, Finley, Katon, Sultan, Gustavo, Harsaya, Arsyad, Mulyadi, dan ditutup oleh Abdul Affan, ayahnya Zulfi. Selanjutnya, Zhao Yìchen berpindah ke barisan para Nenek, yang dimulai dari Nilam, dan diakhiri seorang perempuan berjilbab abu-abu mengilat, yang senada dengan gamisnya. "Mak, kapan datang?" tanya Zhao Yìchen, sebelum menyerahkan Nayara ke Nilam, lalu dia merunduk untuk menyalami sang pengarang buku, dengan takzim. "Sekitar 15 menit lalu," jawab Emak
129Malam baru dimulai, tetapi di bawah tenda panjang itu telah banyak orang dengan berbagai aktivitas. Ada yang memasang hiasan di sepanjang tenda, ada yang memasang banyak kipas AC besar di puluhan titik. Ada pula yang hanya menonton sambil berbincang dengan berbagai topik. Zhao Yìchen tercenung kala puluhan ajudan berbadan jangkung, bekerjasama menggantungkan banyak balon di dalam dan luar rumah. Balon-balon itu berisikan kertas warna-warni dan nomor hadiah doorprize, sumbangan dari semua cucu serta menantu keluarga Adhitama.Zhao Yìchen tercenung saat Bayazid dan teman-temannya diangkat tim Zikria, supaya bisa duduk di pundak Hisyam, Qadry, Aditya, Chairil, Beni, Harun, Samudra, Mahesa, Xander, Dipta, Listu, Dimas, Ukky, Lazuardi, dan Santos, yang badannya menjulang semua. Para bocah itu menambahkan hiasan berupa foto Nayara dalam berbagai pose, yang telah dilaminating. Kemudian mereka bekerjasama mengangkat banner besar bertuliskan nama lengkap Nayara dalam huruf kaligrafi, yan
128 Zhao Yìchen bernyanyi dan bergoyang sembari mengayun anaknya. Tanpa memedulikan tawa Nandi dan Agung yang melihat tingkahnya, Zhao Yìchen meneruskan aktivitasnya hingga Nayara merengek, karena menginginkan Mou-chan. Zhao Yìchen bergegas memasuki kamar utama di bagian belakang rumah. Dia memanggil Elma, yang keluar dari toilet dengan berjalan pelan. "Mou-chan, Naya mau nyusu," ucap Zhao Yichen. "Bentar, Ko. Aku minum dulu," kilah Elma sembari duduk di sofa tunggal, dan menggapai gelasnya dari meja. "Fu-chan, bukan Koko," tukas Zhao Yichen. "Kepanjangan," balas Elma, sambil meraih anaknya yang diulurkan sang suami. "Ya, udah. Fu aja." "Jadi kayak nyebut Kung Fu." Zhao Yìchen memandangi istrinya yang tengah mengulum senyuman. "Kamu senyum-senyum, gitu, hatiku mencair." "Jangan merayu. Fu mesti puasa 1 setengah bulan." "Bukannya 40 hari?" "Pas-kan aja jadi 45 hari." "Enggak mau!" "Sstt! Jangan naik suaranya. Naya kaget." Zhao Yìchen mengambil bantal khusus dan menyelipk
127 Hari berikutnya. Ruang perawatan VIP yang ditempati Elma, dipenuhi banyak orang. Sebab tidak semua orang bisa tertampung, akhirnya banyak yang keluar dan berpindah duduk di deretan bangku selasar. Di dalam ruangan, semua orang bergantian menggendong bayi bertopi merah muda, yang tetap tertidur pulas walaupun berpindah dari satu tangan ke tangan lain. Dante membaca doa, sebelum mengecup dahi keponakannya dengan hati-hati. Dia mengayun bayi sembari bernyanyi lagu Mandarin, dengan suara yang cukup merdu. "Ko, gantian. Aku dari tadi belum gendong," pinta Calvin. "Hati-hati, Vin. Ini bayi, bukan boneka," tukas Dante, sembari memindahkan bayi itu ke kedua tangan adiknya. Pintu terbuka dan Wirya memasuki ruangan bersama keluarganya. Mereka menyalami kedua orang tua Elma yang telah datang kemarin malam, kemudian mereka beralih bersalaman dengan keluarga Adhitama. "Siniin bayinya, Vin," ujar Wirya. "Bang, aku baru gendong semenit," rengek Calvin. "Kamu bisa gendong lagi nanti. Aku
126Jalinan waktu terus berjalan. Hari perkiraan lahiran Elma yang kian dekat, menjadikan Zhao Yìchen gelisah. Pria itu makin cemas, ketika Elma mulai sering mengalami kontraksi palsu. Seperti pagi itu. Zhao Yìchen ragu-ragu untuk berangkat ke sekolah, tetapi akhirnya dia pergi juga untuk melaksanakan ujian akhir kejar paket B. Pria berkemeja putih itu menyetir sembari berzikir dalam hati. Selain melancarkan, Zhao Yìchen juga tengah mengamalkan wejangan dari Mulyadi, yang telah menerangkan kegunaan dari doa-doa pendek untuk menjaga keselamatan diri. Semua anggota Paguyuban Margalutu telah merasakan manfaat tersebut. Mereka sering mengalami berbagai kejadian yang sulit dijelaskan dengan logika. Seperti yang pernah dialami Izra dan Emyr, saat mereka masih berpangkat staf HWZ, dulu. Izra dan Emyr bertugas mengecek proyek di Lombok, yang telah nyaris rampung pengerjaannya. Mereka menyewa mobil untuk pergi meninjau lokasi lain yang ditawarkan rekanan. Emyr yang menjadi sopir, membaca
125Elma berteriak mengelu-elukan kedua mempelai yang masih berdiri di panggung bulat. Elma nyaris melompat, sebelum akhirnya ingat jika dirinya sedang hamil.Elma tersenyum ketika melihat orang-orang di sekitarnya, yang melakukan berbagai macam gaya, guna mengekspresikan kegembiraan mereka akan pertunjukan fantastis tersebut. Akong Bun dan Kakek Edward yang menempati meja sebelah kanan, turut menyoraki Wirya dan Vanetta. Sedangkan ketiga anak Wirya jingkrak-jingkrak di dekat panggung, sebelum mereka dinaikkan petugas ring 1, supaya bisa bergabung dengan kedua orang tua mereka. "Ayah, keren!" puji Bayazid, seusai menerima mikrofon yang diberikan Satya dari tepi kanan panggung. "Mama juga, keren sekali," ungkap Marwa, sebelum dia mendekap Vanetta dari sisi kiri. "Xie-xie," balas Vanetta."Aku pengen bisa kayak tadi," papar Marwa."Nanti kita latihan, Kak. Selagi alatnya masih terpasang," cetus Vanetta. "Abang bisa parkour. Mau tunjukin di sini?" pinta Wirya sembari mengusap dahinya
120Kedatangan Liu Gideon, papanya Vanetta, menciptakan keributan di kediaman Myron. Zhao Yìchen yang dibonceng Nandi, tiba bertepatan dengan saat perdebatan mulut antara Gideom, melawan Vanetta, Jasver (Adik Vanetta), dan Wirya. Rangga yang juga baru tiba bersama Zikria, berusaha melerai perkelahi
119Kabar mengejutkan datang dari rumah sakit tempat Banyu dirawat, seusai menjadi salah satu korban kericuhan yang terjadi di blok K, sel penjara di lapas yang dihuninya sejak lebih dari setahun silam. Selain Banyu, beberapa korban lainnya juga dirawat di rumah sakit yang sama. Banyu yang kondisin
116 Jackie maju sambil berlari. Yoga menyongsong sembari memekik mengintimidaai. Pasukan preman ikut maju dan dihadang kelompok pengawal senior serta junior, yang sudah bersiap sejak satu jam lalu. Suara jeritan berpadu dengan bunyi banyak senjata tajam, memecah keheningan malam. Puluhan anggota
113 Elma tersenyum seusai melihat tanah kosong di sisi kanan rumah nomor 22, yang telah dipilihnya bersama Zhao Yìchen. Elma sudah jatuh hati pada rumah hook tersebut, setelah mengecek ke tempat itu pada minggu lalu. Zhao Yìchen dan Wirya telah menandatangani kesepakatan, untuk tukar tambah kedua







