Share

Bab 06

Author: Olivia Yoyet
last update publish date: 2026-03-27 10:41:31

06

Bunyi seruling terdengar syahdu dari gazebo di halaman belakang kediaman Dante. Seorang pria berkaus putih meniup alat musik itu dengan serius dan penuh penghayatan, sambil membayangkan orang-orang di masa silam. 

Lagu kuno Tiongkok mengalun silih berganti. Hingga Zhao Yìchen berhenti bermain musik, dan mengalihkan pandangan ke langit malam nan kelam. Dia berulang kali menarik napas dalam-dalam, lalu diembuskannya perlahan. 

Zhao Yìchen sangat merindukan keluarganya. Hati pria itu sakit, akibat rasa kangen yang mencuat dan menyesakkan dada. Zhao Yìchen mengerjapkan mata, sebelum menggeleng pelan sambil mendengkus. 

Panggilan seseorang menyebabkan Zhao Yìchen menoleh ke kanan. Dia tertegun menyaksikan raut wajah tegang yang ditampilkan Radeya, yang tengah menyambanginya.

"Ko, dipanggil Pak Dante," tutur Radeya. 

"Ada apa?" tanya Zhao Yìchen sambil berdiri. 

"Nanti beliau yang jelaskan," jelas Radeya. "Ada Bang Zulfi dan Bang Andri. Mereka nunggu Koko di ruang kerja," lanjutnya. 

Keduanya melangkah bersamaan menuju bangunan utama. Zhao Yìchen meneruskan langkah ke ruang kerja, sedangkan Radeya menaiki tangga untuk menuju kamarnya.

Zhao Yìchen mengetuk pintu satu kali, sebelum membuka gagang dan mendorong pintu. Dia memasuki ruangan dan langsung menutup lawang. 

"Kalian lagi rapat apa?" tanya Zhao Yìchen sambil menyalami Zulfi dan Andri. Kemudian dia duduk di sofa tunggal. 

"Ada kabar buruk, Ko," ujar Zulfi. "Tadi siang waktu Sydney, kelompok Ari diserang preman bayaran," terangnya yang mengejutkan pria di kursi samping kanan. 

"Apa ada yang terluka?" desak Zhao Yìchen. 

"Pasukan kita hanya luka lecet, tapi ... Ari nembak salah satu preman itu, yang langsung tewas di tempat." 

Zhao Yìchen tercengang, sembari mengerjapkan matanya berulang kali. Zhao Yìchen memegangi dadanya yang kembali sakit, persis seperti yang tadi dirasakannya. 

"Ari, gimana kondisinya?" tanya Zhao Yìchen setelah bisa menenangkan diri.

"Dia sehat. Hanya masih syok, dan luka lecet," jelas Andri. "Begitu juga dengan Harzan, Nuriel, Ikram, dan Khalid. Tapi, mereka masih ditahan di kantor polisi pusat," sambungnya yang kembali mengejutkan Zhao Yìchen. 

"W lagi syok berat dan nggak bisa diajak bicara," sela Zulfi. "Varo memerintahkan kita untuk segera berangkat ke Sydney. Buat memastikan kondisi semua ajudan di dalam penjara," tambahnya. 

"Varo minta Koko ikut. Nantinya Koko tinggal di sana, sama pasukannya Yusuf. Mereka stand by di Sydney, sebagai persiapan jika para anggota gangster bangsat itu balas dendam," ungkap Zulfi.

"Ehm, ya. Kapan kita berangkat?" desak Zhao Yìchen. 

"Jumat malam," balas Zulfi. 

"Aku bawa semua baju?" 

"Enggak usah. Secukupnya aja. Kalau kurang, bisa beli di sana." 

"Aku ikut, Zul," timpal Dante. 

"Ya. Daddy Baskara dan beberapa bos yang dekat dengan Ari, juga ikut. Mereka mau memberikan dukungan langsung buat Ari dan teman-temannya," tutur Zulfi. 

*** 

Zhao Yìchen memerhatikan sekeliling. Dia mengagumi interior kabin pesawat itu, yang disewa tim PBK. Zhao Yìchen menempati kursi samping kanan Dante. Dia mengintip ke luar kaca guna memandangi beberapa pesawat lainnya, yang tengah parkir di dekat ruang tunggu keberangkatan. 

"Pakai sabuknya," ucap Dante.

"Caranya?" tanya Zhao Yìchen. 

Dante mempraktikkan cara mengenakan sabuk pengaman. "Kalau mau dilepas, angkat kepalanya, lalu tarik," terangnya. 

Zhao Yìchen melaksanakan arahan Dante hingga berulang kali. Dia menyukai kegiatan itu, hingga ditegur Dante, karena berisik.

Zhao Yìchen mengulum senyuman. Dia sama sekali tidak tersinggung ditegur Dante. Zhao Yìchen justru menggoda pria berdagu lancip itu dengan berpura-pura memainkan kepala sabuk. Sebelum akhirnya dia terkekeh saat diomeli Dante. 

Tidak berselang lama, pesawat mulai bergerak mundur, lalu berbalik arah. Roda-roda burung besi itu berputar cepat seiring dengan majunya pesawat menuju landasan pacu. 

Zhao Yìchen mengambil permen yang diulurkan Dante. Dia mengemut permen mint itu sambil memandangi area luar. Tubuh Zhao Yìchen menegang, saat pesawat bertambah laju. Telinganya tiba-tiba berdengung dan Zhao Yìchen spontan menutupi kupingnys dengan kedua tangan. 

"Telingaku sakit," keluh Zhao Yìchen, sesaat setelah pesawat berhasil lepas landas. 

"Permenjya diemut atau dikunyah?" tanya Dante. 

"Dikulum," balas Zhao Yìchen. 

"Harusnya, dikunyah. Supaya rahang bergerak dan telinga nggak sakit." 

"Kamu nggak bilang dari tadi." 

"Jangan salahkan aku. Kamu mestinya nanya." 

Zhao Yìchen tertegun. "Berdebat denganmu, aku selalu kalah. Padahal posisiku sudah benar." 

"Enggak ada yang bisa menang bersilat lidah denganku." 

"Ada, istrimu." 

Dante terdiam. "Sama dia itu, aku mengalah demi kebaikan bersama. Bukan karena aku benar-benar kalah." 

Zhao Yìchen melengos. "Kamu pandai sekali berkilah." 

"Itu modal utama buat jadi pengusaha. Kamu juga harus bisa." 

"Aku tidak berminat jadi pedagang." 

"Minatnya, jadi apa?" 

"Tabib." 

Dante menaikkan alisnya. "Tabib? Dokter, gitu?" 

"Ya. Di tempatku dulu, aku belajar ilmu pengobatan pada tabib keluarga. Aku sudah berniat untuk sekolah tabib, tapi ... peristiwa buruk itu terjadi, dan aku terpaksa pindah ke sini." 

Dante menepuk pelan punggung tangan kiri pria berkumis tipis. "Sabar. Takdirmu sudah diatur Tuhan. Di sini, kamu juga bisa belajar ilmu pengobatan. Khususnya ala Tiongkok." 

"Di mana tempatnya?" 

"Kerabatku, ada yang tinggal di Darwin. Dia punya kenalan shinshe paten. Aku sudah meneleponnya, dan dia akan menemui kita di Sydney. Kamu bisa belajar ke temannya itu," ujar Dante.

"Khususnya ilmu akupuntur. Itu akan sangat berguna membantu tim PBK. Sekaligus jadi lahan bisnismu. Alias, bisa menghasilkan uang," pungkasnya. 

Olivia Yoyet

1 bab lagi updated nanti sore ^^

| 1
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 98

    98Tim pemusik bergegas menuruni tangga untuk menempati deretan kursi terdepan. Sementara tim penari berpencar ke empat arah. Fikri dan Rinjani mengarahkan pasangan pengantin untuk duduk di bangku dekat keyboard, guna menonton drama dari dekat. Khalayak berseru kala beberapa orang muncul dari pintu kiri. Disusul sekelompok orang lainnya yang hadir dari pintu kanan. Mereka mendekati kedelapan penari, lalu serentak berpose bak model. Alvaro dan Yanuar maju berbarengan dari dua sisi. Musik remix menghentak terdengar dari pengeras suara, dan keduanya bertarung menggunakan jurus bela diri andalan masing-masing. Pekikan hadirin mengiringi langkah kedua pria yang meneruskan berantem pura-pura, hingga musik berganti dan mereka kembali ke kelompok masing-masing. Haryono, Edwin, Galang, dan Yoga, membungkukkan badan, supaya bisa menjadi tumpuan kaki Aswin serta Nugraha, yang naik sambil dipegangi keempat penari pria.Dari sisi kanan, Hisyam lari kencang, lalu melompat dan menendangi gabus si

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 97

    97Alunan lagu. berirama khas Sunda dimainkan dengan apik oleh tim musik. Kenzo Darka, salah satu artis penyanyi Indonesia yang juga tergabung di grup 1 PCD, muncul dari pintu kiri. Sedangkan Nandira hadir dari pintu kanan. Kedua penyanyi memamerkan suara emas mereka, sembari terus melangkah hingga tiba di tengah-tengah panggung. Lagu pertama usai, dan musik berganti dengan irama gambus. Kenzo dan Nandira mendendangkan wedding nasheed, yang disambung dengan lagu Arab berirama cepat. Kedelapan penari muncul dengan mengenakan kostum beraneka warna. Deswin yang berpasangan dengan Zivara, tampil enerjik dengan tarian modern. Disusul Yusuf dan Irshava yang menampilkan tarian perut, yang menjadikan khalayak heboh. Seusai lagu, Kenzo berpindah mendekati tim musik. Dia menggantikan posisi Panglima, yang beralih mengambil gendang yang talinya diselempangkan ke leher. Sementara Nandira berpindah ke dekat Trevor, sembari bersiap untuk menjadi penyanyi lagi. Musik berubah menjadi lagu khas Ind

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 96

    96 Tepat jam 1 siang, acara resepsi dilangsungkan di tempat yang berbeda dari acara akad. Ballroom luas di lantai 2 gedung Hotel Bramanty itu mampu menampung hingga 3000 orang dalam sekali waktu. Seperti halnya pesta para ajudan lapisan lainnya, panggung berukuran sedang juga dibangun di sisi kanan pelaminan bernuansa hijau, yang dipenuhi banyak dedaunan. Sesuai dengan dekorasi yang diinginkan Elma, yakni semi garden party. Kendatipun saat itu sudah memasuki musim kemarau, tetapi curah hujan masih lumayan tinggi di seputar Bandung. Selain itu, waktu pesta yang dilakukan siang hingga sore hati, menjadikan area luar cukup panas. Elma sudah mempertimbangkan situasi dan kondisi cuaca saat pesta dilangsungkan. Elma akhirnya memutuskan untuk mengadakan perhelatan akbar itu di dalam ruangan, supaya suasananya nyaman bagi semua orang. Fikri yang kembali berduet dengan Rinjani sebagai MC, mempersilakan pasangan pengantin baru memasuki area. Pintu utama ballroom terbuka, dan keenam bocah p

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 95

    95"Saya terima nikah dan kawinnya Elma Ararindra Binti Yayan Muchayan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" tegas Zhao Yìchen dalam satu tarikan napas dan terdengar mantap. Pak penghulu menanyakan keabsahan akad itu pada kedua saksi, yakni Finley dan Wahyu, Kakak sepupu Yayan. Kemudian kepala KUA membacakan doa yang diamini khalayak.Zhao Yìchen menunduk dan menadahkan kedua tangannya. Pria bersetelan jas pengantin biru muda itu mengucap hamdalah dalam hati, karena telah menuntaskan satu tugas berat, yang membuat beban di pundaknya berkurang. Seusai pembacaan doa, pasangan pengantin baru menandatangani buku nikah, dengan arahan Pak penghulu. Kemudian keduanya berdiri dan maju selangkah, sambil menunggu tim dokumentasi bersiap-siap mengabadikan momen selanjutnya. Zhao Yìchen meraih cincin bertakhtakan berlian putih dari kotak perhiasan yang dipegangi Fazluna. Zhao Yìchen memasangkan cincin ke jemari manis kanan istrinya. Elma mengambil cincin polos dari kotak itu, lalu menyematk

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 94

    94Elma memandangi pantulan dirinya di depan cermin besar. Meskipun dia MUA yang sudah lama malang- melintang di dunia tata rias, tetap saja Elma takjub dengan hasil dandanan Roni, ketua tim MUA EO M&E, yang selalu jadi andalan para bos jika hendak menikah.Roni menempuh pendidikan tentang riasan itu di Jerman. Selain para bos, banyak artis tanah air dan keluarga pejabat yang menggunakan jasanya. Ptibadinya yang ramah dan hangat, menjadikan pelanggan Roni terus bertambah, dan klien lama pun tetap setia menggunakan jasanya.Elma menoleh ke kiri ketika mendengar gelakak keempat sahabatnya, yang tengah dicandai Roni. Pria berkacamata itu terus mengoceh dengan cepat, menggunakan bahasa Sunda campur Inggris, sembari sekali-sekali menggoyangkan badannya, seolah-olah tengah menirukan gerakan ben-ces.Pintu terbuka dan Nilam memasuki ruangan bersama Leni. Nilam mengamati putrinya, sedangkan Leni membantu Elma mengenakan selop biru muda, yang senada dengan setelan kebaya pengantinnya. "Rombon

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 93

    93Hari bahagia yang kian dekat, menjadikan Zhao Yìchen deg-degan. Setiap hari dia berlatih mengucapkan ijab kabul dengan pasangan yang berganti-ganti. Dimulai dari Wirya, Zulfi, Dante, Harry, Yoga, Andri, bahkan Finley turun tangan langsung untuk membantu keponakan angkatnya tersebut. Sehari sebelum berangkat ke Bandung, acara pengajian dilakukan di kediaman Dante. Ratusan orang turut menghadiri acara tersebut, di mana sebagian besarnya adalah tim PBK. Acara pengajian usai tepat sebelum azan asar. Zhao Yìchen yang berada di pelaminan kecil, menyalami semua tamu sembari membagikan goodiebag. Untuk yang sudah sepuh, Zhao Yìchen mendatangi mereka satu per satu, guna beramah tamah. Seusai para tamu umum pergi, hampir semua pria bergegas berangkat ke masjid yang berada di blok terdepan. Mereka menunaikan salat Asar berjemaah, lalu kembali ke rumah Dante guna melaksanakan siraman. Zhao Yìchen yang telah menukar celana panjangnya dengan sarung hitam motif garis-garis, menduduki bangku k

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 27

    27Kehadiran Zhao Yìchen pagi itu, disambut teriakan banyak karyawan di gedung PBK. Mereka berebutan untuk menyalami pria berambut gondrong, yang telah mencukur kumisnya hingga klimis. Zhao Yìchen melayani rekan-rekannya yang mengajak berbincang selama belasan menit. Kemudian dia memasuki lift den

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 18

    18 Zhao Yìchen memandangi Jauhari yang tengah berlatih di palang besi. Pria bertubuh langsing itu memperagakan senam ala atlet dengan cukup baik.Jauhari melentingkan badannya dua kali, lalu dia melepaskan pegangan pada palang, dan melompat turun sambil koprol. Jauhari mendarat di tanah dengan sed

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 13

    13Zhao Yìchen mengamati presiden komisaris LB Company, yang tengah berbincang dengan Bryan, Keven, dan Jourell. Zhao Yìchen menyukai pria tua yang rambutnya telah memutih seluruhnya itu, yang sangat ramah.Zhao Yìchen kagum dengan gaya santai yang ditampilkan Li Thorne. Zhao Yìchen membatin, bila

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 12

    12 Cayden mengulum senyuman, sesaat setelah mendengar penuturan Harper mengenai kejadian kemarin malam. Cayden terkekeh setelah Harper menggerutu, karena beberapa korban dari pihak gangster, yang mengalami patah tangan ataupun patah kaki, akibat disiksa tim PBK. Setelah tawanya lenyap, Cayden berg

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status