Share

Bab 25

Author: Olivia Yoyet
last update publish date: 2026-04-05 17:31:25

25

Acara penutupan diklat siang itu berlangsung khidmat. Alvaro yang menjadi pemimpin upacara, meminta seluruh peserta diklat agar bekerja dengan sungguh-sungguh di unit kerja masing-masing. Alvaro juga menjanjikan untuk menyewakan rumah atau flat, sebagai tempat tinggal gratis buat para peserta yang belum memiliki keluarga.

Bagi yang sudah berkeluarga, PB akan membantu mendanai biaya sewa flat, dengan sistem cicilan setiap bulannya. Selain itu, bagi yang memiliki anggota keluarga ataupun ker
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 118

    118*Tim HWZ Jakarta* Jaya : @Irawan, kamu mau ngajak adikku ke mana? Lathan : Adik yang mana? Najmi : Jelas Desi-lah. Linggar : Nana sudah mau nikah. Nggak mungkin Irawan berani nikung. Ram : Kirain, Janu yang diajakin Irawan. Joko : Apalah, Ram, nih.Nandi : Jeyuk makan jeyuk? Agung : Adu pedang. Hendri : Main billiard. Zulfi : Huek! Jijay! Raj : Irawan masih lurus, walaupun anunya pendek dan kurus.Deden : Bengkok dikit ke kiri. Gwenyth : Para cowok, tolonglah. Ada ladies di sini. Irna : Abang-abang ini, ngomongnya nggak disaring. Heni : Nggak di-rem. Lita : Ibu ngintip, cepat-cepat aku clear chat. Zhao Yìchen : Kasih hapemu ke Ibu, @Lita. Beliau pasti lebih jago urusan nganu yang anu di kasur.Jaya : Yaelah! Malah diperjelas! Fendi : Koko bikin aku over thinking. Mizan : Over shocking.Wirya : Enakan bebek Peking.Lathan : Rujak belimbing. Najmi : Nasi aking. Linggar : Palanding.Joko : Gule kambing.Ram : Cungkring.Nandi : Emping. Agung : Daging giling.Irawa

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 117

    117Jeritan Wirya mengejutkan semua orang di luar kamar. Kala dia memekik kembali, Hendri dan yang lainnya kompak tersenyum. Tawa mereka meledak ketika Wirya berteriak untuk ketiga kalinya, sebelum suasana kembali hening."Berantem, sadis. Dipijat, jerit-jerit," ledek Zhao Yìchen, sembari meneruskan mengurut tangan kiri pasiennya."Sakit beneran tadi, Ko," kilah Wirya."Sakitlah. Uratnya menggumpal, gitu," sahut Zhao Yìchen. "Kamu habis ngapain, W?" tanya Alvaro yang tengah memijat kaki kiri Benigno, yang juga keseleo."Tadi sore aku fitness. Bebannya ditambah Jonathan," terang Wirya. "Kayaknya bukan cuma itu, deh. Walaupun kamu angkat beban 100kg, tapi biasanya yang bisa terkilir itu pundak. Sedangkan kamu, dari pergelangan tangan sampai tulang ini." Zhao Yìchen menunjuk tulang di bawah ketiak kanan sang adik. "Aku curiga, dia habis ngangkut karung," kelakar Yoga yang baru selesai memijat pundak Aswin. "Bukan, dia gendong Vanetta turun naik tangga," goda Benigno, yang menjadikan

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 116

    116 Jackie maju sambil berlari. Yoga menyongsong sembari memekik mengintimidaai. Pasukan preman ikut maju dan dihadang kelompok pengawal senior serta junior, yang sudah bersiap sejak satu jam lalu. Suara jeritan berpadu dengan bunyi banyak senjata tajam, memecah keheningan malam. Puluhan anggota sekuriti bersiaga di depan gerbang utama setiap cluster, sambil menonton perkelahian itu dari kejauhan. Simon yang tidak ikut turun dari mobil, benar-benar gusar. Dia kesal, karena rencananya ternyata telah diketahui pihak PBK. Simon mengusir sopir keluar, kemudian dia berpindah ke bagian pengemudi. Simon mengamati peta buatan tim Elliot, yang menunjukkan letak rumah Wirya Adhitama. Simon menyalakan mesin, kemudian dia melajukan kendaraan melintasi area kosong sisi kiri. "Ada yang menerobos!" jerit Zulfi. "Tahan!" titah Andri. Satu anak panah melesat dari salah satu mobil Jeep di depan. Disusul beberapa panah lainnya yang berhasil meretakkan kaca depan mobil MPV hitam. Simon mengumpat,

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 115

    115Jalinan waktu terus bergulir. Malam itu, Zhao Yìchen pulang dengan raut wajah tegang. Dia bergegas mandi dan berganti pakaian dengan setelan biru tua berlogo PBK, di bagian punggung dan di dada kiri.Zhao Yìchen keluar dari kamar dan langsung menduduki kursi di dekat meja makan. Dia menuangkan nasi dan aneka lauk ke piring, lalu bersantap dengan cepat. Elma memerhatikan suaminya sembari bertanya-tanya dalam hati, karena seragam yang dikenakan Zhao Yìchen merupakan baju khusus. "Mau ada perang?" tanya Elma."Ya," jawab Zhao Yìchen, sebelum meneguk teh hangatnya. "Di mana?" "Di sini. Dekat air mancur besar." Zhao Yìchen meletakkan gelas ke meja. "Calon tunangan Vanetta, mau nyerbu ke sini. Dia nyewa preman, anak buah Jackie. Musuh bebuyutan PBK," jelasnya. Elma membulatkan matanya. "Calon tunangan?" "Hu um. Namanya, Chen Simon. Dia pemilik production house, tempat film debut pertama Vanetta. Dia ngasih pinjaman ke ayahnya Vanetta, lalu minta nikah sama Vanetta, yang menolak me

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 114

    114Acara selamatan rumah sekaligus 4 bulanan kandungan Elma, sore itu berlangsung dengan lancar. Selain tetangga sekitar yang semuanya adalah pengawal dan para bos muda, keluarga Elma dan para sahabatnya dari Bandung juga turut hadir. Termasuk Maman dan Ika.Pasangan tua itu kentara sekali mengagumi rumah berukuran besar tersebut. Apalagi lokasinya yang berada di komplek elite, menjadikan keduanya terpana. Zhao Yìchen menanggapi pertanyaan Maman dengan sopan. Zhao Yìchen meringis ketika Elma menyahut pertanyaan Maman dengan pongah, mengenai harga rumah yang berkisar di hitungan miliaran. Zhao Yìchen tahu, istrinya sengaja menyombongkan diri, sebagai bentuk balas dendam Elma pada Paman dan bibinya. Meskipun Elma tetap baik pada Agung, tetapi Ibu hamil itu bersikap berbeda pada Maman dan Ika. "Nginap di sini, Pak?" tanya Hendri. "Ya, Kang. Tapi besok kami pulang," jelas Yayan."Jangan pulang dulu. Kita jalan-jalan," ajak Wirya. "Ehm, Bapak nggak bisa cuti lama, Bang," ungkap Yayan

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 113

    113 Elma tersenyum seusai melihat tanah kosong di sisi kanan rumah nomor 22, yang telah dipilihnya bersama Zhao Yìchen. Elma sudah jatuh hati pada rumah hook tersebut, setelah mengecek ke tempat itu pada minggu lalu. Zhao Yìchen dan Wirya telah menandatangani kesepakatan, untuk tukar tambah kedua bangunan. Rumah Zhao Yìchen di cluster 9, akan dibeli Haikal, sebagai persiapan buat anak-anaknya kelak. Elma memutuskan mengambil rumah di pojok itu, karena ada kelebihan tanah 3 meter di samping kanan. Dia berencana membuat rumah kaca untuk kebun sayur organik. Seusai melahirkan nanti, Elma akan berhenti bekerja dan hanya menjadi freelance WO. Elma ingin fokus merawat anaknya, dan hal itu tidak bisa dikerjakan secara penuh, jika Elma masih menjadi karyawan tetap.Bunyi beberapa mobil berhenti di depan, menjadikan Elma menoleh ke kiri. Dia bergegas mendekati mobil pick up itu, guna menurunkan barang-barang. "Kamu duduk saja, El," cakap Linggar, yang keluar dari mobil MPV hitam yang berh

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 27

    27Kehadiran Zhao Yìchen pagi itu, disambut teriakan banyak karyawan di gedung PBK. Mereka berebutan untuk menyalami pria berambut gondrong, yang telah mencukur kumisnya hingga klimis. Zhao Yìchen melayani rekan-rekannya yang mengajak berbincang selama belasan menit. Kemudian dia memasuki lift den

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 18

    18 Zhao Yìchen memandangi Jauhari yang tengah berlatih di palang besi. Pria bertubuh langsing itu memperagakan senam ala atlet dengan cukup baik.Jauhari melentingkan badannya dua kali, lalu dia melepaskan pegangan pada palang, dan melompat turun sambil koprol. Jauhari mendarat di tanah dengan sed

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 13

    13Zhao Yìchen mengamati presiden komisaris LB Company, yang tengah berbincang dengan Bryan, Keven, dan Jourell. Zhao Yìchen menyukai pria tua yang rambutnya telah memutih seluruhnya itu, yang sangat ramah.Zhao Yìchen kagum dengan gaya santai yang ditampilkan Li Thorne. Zhao Yìchen membatin, bila

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 12

    12 Cayden mengulum senyuman, sesaat setelah mendengar penuturan Harper mengenai kejadian kemarin malam. Cayden terkekeh setelah Harper menggerutu, karena beberapa korban dari pihak gangster, yang mengalami patah tangan ataupun patah kaki, akibat disiksa tim PBK. Setelah tawanya lenyap, Cayden berg

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status