Share

Bab 50

Author: Olivia Yoyet
last update publish date: 2026-04-17 14:36:34

50

Panorama indah Karimun Jawa, membuat siapa pun yang melihatnya akan terpesona. Begitu pula dengan yang dialami Zhao Yìchen.

Semenjak tiba di tempat itu kemarin sore, lelaki berambut gondrong tersebut langsung menemukan spot favoritnya. Hampir sepanjang pagi hingga sore, Zhao Yìchen duduk di gazebo depan kamarnya, di hotel 1 milik BPAGK, joinan dengan SHEHHBY, LCGL, dan HWZ.

Buku gambar besar yang dibawanya dari Jakarta, sudah hampir penuh dengan lukisan pemandangan dari berbagai sudut. Bila
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 116

    116 Jackie maju sambil berlari. Yoga menyongsong sembari memekik mengintimidaai. Pasukan preman ikut maju dan dihadang kelompok pengawal senior serta junior, yang sudah bersiap sejak satu jam lalu. Suara jeritan berpadu dengan bunyi banyak senjata tajam, memecah keheningan malam. Puluhan anggota sekuriti bersiaga di depan gerbang utama setiap cluster, sambil menonton perkelahian itu dari kejauhan. Simon yang tidak ikut turun dari mobil, benar-benar gusar. Dia kesal, karena rencananya ternyata telah diketahui pihak PBK. Simon mengusir sopir keluar, kemudian dia berpindah ke bagian pengemudi. Simon mengamati peta buatan tim Elliot, yang menunjukkan letak rumah Wirya Adhitama. Simon menyalakan mesin, kemudian dia melajukan kendaraan melintasi area kosong sisi kiri. "Ada yang menerobos!" jerit Zulfi. "Tahan!" titah Andri. Satu anak panah melesat dari salah satu mobil Jeep di depan. Disusul beberapa panah lainnya yang berhasil meretakkan kaca depan mobil MPV hitam. Simon mengumpat,

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 115

    115Jalinan waktu terus bergulir. Malam itu, Zhao Yìchen pulang dengan raut wajah tegang. Dia bergegas mandi dan berganti pakaian dengan setelan biru tua berlogo PBK, di bagian punggung dan di dada kiri.Zhao Yìchen keluar dari kamar dan langsung menduduki kursi di dekat meja makan. Dia menuangkan nasi dan aneka lauk ke piring, lalu bersantap dengan cepat. Elma memerhatikan suaminya sembari bertanya-tanya dalam hati, karena seragam yang dikenakan Zhao Yìchen merupakan baju khusus. "Mau ada perang?" tanya Elma."Ya," jawab Zhao Yìchen, sebelum meneguk teh hangatnya. "Di mana?" "Di sini. Dekat air mancur besar." Zhao Yìchen meletakkan gelas ke meja. "Calon tunangan Vanetta, mau nyerbu ke sini. Dia nyewa preman, anak buah Jackie. Musuh bebuyutan PBK," jelasnya. Elma membulatkan matanya. "Calon tunangan?" "Hu um. Namanya, Chen Simon. Dia pemilik production house, tempat film debut pertama Vanetta. Dia ngasih pinjaman ke ayahnya Vanetta, lalu minta nikah sama Vanetta, yang menolak me

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 114

    114Acara selamatan rumah sekaligus 4 bulanan kandungan Elma, sore itu berlangsung dengan lancar. Selain tetangga sekitar yang semuanya adalah pengawal dan para bos muda, keluarga Elma dan para sahabatnya dari Bandung juga turut hadir. Termasuk Maman dan Ika.Pasangan tua itu kentara sekali mengagumi rumah berukuran besar tersebut. Apalagi lokasinya yang berada di komplek elite, menjadikan keduanya terpana. Zhao Yìchen menanggapi pertanyaan Maman dengan sopan. Zhao Yìchen meringis ketika Elma menyahut pertanyaan Maman dengan pongah, mengenai harga rumah yang berkisar di hitungan miliaran. Zhao Yìchen tahu, istrinya sengaja menyombongkan diri, sebagai bentuk balas dendam Elma pada Paman dan bibinya. Meskipun Elma tetap baik pada Agung, tetapi Ibu hamil itu bersikap berbeda pada Maman dan Ika. "Nginap di sini, Pak?" tanya Hendri. "Ya, Kang. Tapi besok kami pulang," jelas Yayan."Jangan pulang dulu. Kita jalan-jalan," ajak Wirya. "Ehm, Bapak nggak bisa cuti lama, Bang," ungkap Yayan

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 113

    113 Elma tersenyum seusai melihat tanah kosong di sisi kanan rumah nomor 22, yang telah dipilihnya bersama Zhao Yìchen. Elma sudah jatuh hati pada rumah hook tersebut, setelah mengecek ke tempat itu pada minggu lalu. Zhao Yìchen dan Wirya telah menandatangani kesepakatan, untuk tukar tambah kedua bangunan. Rumah Zhao Yìchen di cluster 9, akan dibeli Haikal, sebagai persiapan buat anak-anaknya kelak. Elma memutuskan mengambil rumah di pojok itu, karena ada kelebihan tanah 3 meter di samping kanan. Dia berencana membuat rumah kaca untuk kebun sayur organik. Seusai melahirkan nanti, Elma akan berhenti bekerja dan hanya menjadi freelance WO. Elma ingin fokus merawat anaknya, dan hal itu tidak bisa dikerjakan secara penuh, jika Elma masih menjadi karyawan tetap.Bunyi beberapa mobil berhenti di depan, menjadikan Elma menoleh ke kiri. Dia bergegas mendekati mobil pick up itu, guna menurunkan barang-barang. "Kamu duduk saja, El," cakap Linggar, yang keluar dari mobil MPV hitam yang berh

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 112

    112"Ta," panggil Jaya sembari mengarahkan badan ke kiri. "Ya?" balas Anita. "Aku ... nggak bisa bermanis-manis kata," ucap Jaya, sebelum mengeluarkan kotak perhiasan merah dari tas kecil. "Aku menyukaimu sejak lama," akunya sambil menatap Anita lekat-lekat. "Aku sudah sangat dewasa, dan ingin memiliki keluarga sendiri. Ehm, maukah kamu menikah denganku?" tanya Jaya sembari menahan degup jantungnya yang kian kencang. Anita memandangi pria yang telah membuat hidupnya berwarna, selama hampir 2 tahun. Anita bermonolog dalam hati, lalu dia mengangguk."Ya, Kang. Aku mau," tukas Anita. Sudut bibir Jaya melengkung ke atas membingkai senyuman. "Alhamdulillah." Jaya membuka kotak perhiasan. "Ini, buatmu," akunya. "Bukannya buat Ibu?" tanya Anita.Jaya menggeleng. "Aku sengaja minta kamu milih, karena ini memang buatmu." Anita mengulum senyuman. "Dengan kata lain, aku beli cincin dari uang sewa rumah yang kubayar." "Ya, dan aku cuma nambahin dikit." "Enggak modal." Keduanya serentak

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 111

    111Jaya memandangi Anita yang tengah menunduk di kursi seberang. Dia tahu jika gadis itu tengah menahan malu, karena telah berulang kali merepotkan Jaya. Pria berambut tebal itu mengalihkan perhatian ke amplop di meja. Dia awalnya hendak menolak, tetapi kemudian dibatalkan, saat satu ide melintas di benaknya. Jaya meraih amplop itu dan mengecek isinya. Dia menutup amplop, dan memasukkan benda itu ke saku kemeja putih. Jaya memerhatikan Anita yang tengah merapikan rambutnya dengan jemari. Kala gadis itu menengadah, tatapan mereka bersirobok dan Jaya spontan tersenyum. "Aku terima uang sewa rumah ini," ucap Jaya. "Tapi, bulan depan nggak usah bayar," lanjutnya. Anita menggeleng. "Aku nggak mau utang budi, Kang," tolaknya. "Akang sudah terlalu sering membantuku dan keluarga. Aku nggak bisa balasnya," sambungnya. "Enggak perlu dibalas. Aku ikhlas." "Ehm, ya." "Aku dulu juga hidup susah, Ta. Orang tuaku cuma buruh tani. Kami berempat nyaris nggak pernah ngerasain pegang duit, meski

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 12

    12 Cayden mengulum senyuman, sesaat setelah mendengar penuturan Harper mengenai kejadian kemarin malam. Cayden terkekeh setelah Harper menggerutu, karena beberapa korban dari pihak gangster, yang mengalami patah tangan ataupun patah kaki, akibat disiksa tim PBK. Setelah tawanya lenyap, Cayden berg

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 27

    27Kehadiran Zhao Yìchen pagi itu, disambut teriakan banyak karyawan di gedung PBK. Mereka berebutan untuk menyalami pria berambut gondrong, yang telah mencukur kumisnya hingga klimis. Zhao Yìchen melayani rekan-rekannya yang mengajak berbincang selama belasan menit. Kemudian dia memasuki lift den

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 18

    18 Zhao Yìchen memandangi Jauhari yang tengah berlatih di palang besi. Pria bertubuh langsing itu memperagakan senam ala atlet dengan cukup baik.Jauhari melentingkan badannya dua kali, lalu dia melepaskan pegangan pada palang, dan melompat turun sambil koprol. Jauhari mendarat di tanah dengan sed

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 13

    13Zhao Yìchen mengamati presiden komisaris LB Company, yang tengah berbincang dengan Bryan, Keven, dan Jourell. Zhao Yìchen menyukai pria tua yang rambutnya telah memutih seluruhnya itu, yang sangat ramah.Zhao Yìchen kagum dengan gaya santai yang ditampilkan Li Thorne. Zhao Yìchen membatin, bila

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status