Share

Bab 53

Author: Olivia Yoyet
last update publish date: 2026-04-18 17:16:49

53

Waktu terus berjalan. Zhao Yìchen dan Faidhan telah kembali ke Jakarta. Mereka meneruskan aktivitas masing-masing, sembari terus berkomunikasi bersama rekan-rekan di tim proyek, yang sebagian besar dipimpin perwakilan HWZ.

Siang itu, Zhao Yìchen baru selesai mengatur ulang susunan berkas, ketika pintu perpustakaan terbuka dan seorang perempuan memasuki ruangan. Zhao Yìchen terpaku sesaat, sebelum mendatangi sang tamu seraya menyunggingkan senyuman.

Pria berkemeja hitam itu mengajak tamunya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 60

    60Selama dua belas hari berikutnya, Zhao Yìchen bersiaga menjadi tim medis. Hampir setiap usai sesi lari keliling roof top, pasti ada peserta yang kakinya terkilir dan butuh penanganan serius.Berbeda dengan diklat sekuriti, diklat pengawal ala PBK benar-benar menguras tenaga seluruh peserta. Selain materi yang banyak, mereka juga diperkuat kemampuan bela dirinya.Setiap sore, mereka akan berlatih bela diri yang gerakannya berbeda. Zulfi dan Yusuf bertanggung jawab pada bagian silat. Alvaro dan Aditya bertugas mengajarkan taekwondo. Sedangkan Yanuar dan Beni mengajar capoeira, yang menyebabkan semua peserta kian semangat. Pada tiga hari terakhir, pelatihan bela diri diserahkan pada Chyou, To Mu, Jianzhen, Yuze, Samudra, Dante, dan Fritz. Ketujuh cucu 4 klan itu mempertunjukkan kemampuan wushu masing-masing, yang menjadikan hadirin terpukau. "Ada yang mau sparing sama para pendekar 4 klan?" tanya Wirya. "Peserta, pengajar dan pelatih, boleh maju," lanjutnya. "Hadiahnya, 500 ribu per

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 59

    59"Apa? Lian Jeremy mukanya sama dengan Hu Guang?" tanya Cheung Chyou Jaden, sesaat setelah mendengar ucapan Zhao Yìchen. "Ya, memang sama. Bedanya cuma di hidung dan bibir. Hu Guang, hidungnya bengkok, karena pernah patah. Bibirnya juga penuh, kayak aku. Kalau Jeremy, hidungnya lurus dan bibirnya tipis," terang Zhao Yìchen. "Rambut dan yang lainnya, sama?" "Ehm, beda. Hu Guang rambutnya gaya Manchu. Badannya juga lebih pendek dari Jeremy. Tapi, kekarnya sama." "Ko, rambutnya jelas beda," seloroh Zheung To Mu. "Hu um. Yang 1, produk jadul. Satunya, makhluk modern," sahut Cheung Jianzhen Rui, Adik Chyou. "Lupa aku, kalau orang zaman Manchu rambutnya panjang di belakang, dan botak di depan," tukas Chyou. "Ko, berapa lama numbuhin rambut depan?" sela Zheung Yuze Yorkley. "Hampir setahun itu baru tumbuh lebat," jawab Zhao Yìchen. "Koko rambutnya memang tebal, jadi gampang tumbuh dan panjang," papar Zulfi. "Tiap hari kuolesin lidah buaya, Zul," ungkap Zhao Yìchen. "Zayd, Zid, sa

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 58

    58Minggu bertukar dengan cepat hingga bulan pun berganti. Zhao Yìchen nengemasi pakaian dan berbagai kebutuhan pribadinya. Pria yang rambutnya kembali memanjang itu, diajak Wirya untuk menjadi panitia diklat level 1 khusus pengawal.Zhao Yìchen sebetulnya penasaran dengan tempat tujuan, karena Wirya dan semua pengajar kompak merahasiakannya. Zhao Yìchen hanya diminta membawa baju yang tidak terlalu tebal dan 2 jaket. Sebab kota yang akan mereka tuju tengah mengalami musim semi. Setelah semua barangnya siap, Zhao Yìchen menyeret koper ukuran sedang itu keluar kamar. Dia meletakkan koper di teras, yang segera dimasukkan Badar Assajid, ajudan kedua Wirya, ke mobil MPV sang bos.Zhao Yìchen berbalik guna menuju ruang makan. Dia mempercepat acara sarapan, lalu berpamitan pada Delany dan semua orang rumah.Tidak berselang lama, Zhao Yìchen telah berada di kursi tengah mobil sang ipar. Dia turut mendengarkan percakapan Wirya dengan kedua ajudan di kursi depan, serta Zikria dan Fikri yang m

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 57

    57Raut wajah Wirya yang semula tenang, sontak berubah kecut, sesaat setelah mendengar penuturan Zhao Yìchen, tentang peristiwa tadi pagi, di kediaman Yayan. Wirya mengeraskan rahang, ketika Akhtar turut menambahkan hinaan Maman pada Zhao Yìchen, dan juga Elma. Wirya mendengkus kuat, sebelum memandangi kokonya dengan serius. "Elma beneran punya duit segitu?" tanya Wirya. Zhao Yìchen menggeleng. "Tabungannya cuma 52 juta. Sisanya dia pakai dana operasional tim-nya, buat acara fashion show bulan depan," terangnya.Wirya mengerutkan dahi. "Terus, gimana?" "Elma dan ibunya jual semua emas mereka. Buat gantiin uang itu." "Cukup?" "Kurang 7 juta, aku yang talangin. Nanti Elma nyicil tiap bulan." "Tolak aja. Jangan diterima. Ikhlasin." "Nanti dia marah, W. Tadi aja, dia ngomel panjang pake bahasa Sunda. Aku nggak paham semuanya. Cuma tahu, kalau dia maki Paman dan bibinya." Wirya kembali mendengkus. "Tentang cowok yang mau dijodohin pamannya itu, kerja di bank mana?" "Enggak tahu. M

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 56

    56Jalinan waktu terus bergulir. Tanpa terasa, masa setahun telah terlewati. Hubungan Zhao Yìchen dan Elma berjalan lancar. Keduanya bergantian mengunjungi setiap 2 minggu sekali, guna lebih mendekatkan diri. Sabtu pagi itu, Elma menyambangi Zhao Yìchen yang tengah menginap di rumah orang tua Hendri. Selain Zhao Yìchen, Hendri dan Wirya juga turut menginap bersama keluarga masing-masing. Seusai berbincang selama belasan menit, Elma dan Zhao Yìchen berangkat menuju Cimahi, di mana orang tua Elma menetap. Keduanya diantarkan Akhtar Afuza, ajudan baru Wirya, alias pengganti Kukuh yang tengah dinas di Kanada. Sesampainya di tempat tujuan, Elma memperkenalkan Zhao Yìchen dan Akhtar pada Paman serta bibinya, yang baru datang dari Sumedang. Zhao Yìchen dan Akhtar menyalami kedua orang tersebut, setelah bersalaman dengan orang tua Elma yang sudah mengenal kekasih anaknya. Selama beberapa menit berikutnya, Paman Elma yang bernams Maman, mencecar Zhao Yìchen dengan banyak pertanyaan mengena

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 55

    55Elma tertegun menyaksikan ketertiban hampir semua orang, yang tengah menonton acara akad nikah Maulana, dan Lina. Elma juga takjub dengan ketangguhan fisik mereka, yang sejak kemarin telah sibuk di pestanya Risma. Elma yang hanya duduk menjadi tamu, sudah merasakan kelelahan. Namun, tim PBK masih terlihat bersemangat menjadi panitia dalam pernikahan Maulana. Perempuan bersetelan batik ungu, menoleh ke kanan saat jemarinya digenggam seseorang. Elma memandangi Zhao Yìchen yang telah memangkas rambutnya hingga pendek. Saat pria itu balas melirik, Elma mengulum senyuman, lalu mengalihkan pandangan ke depan. Zhao Yìchen terus memandangi perempuan yang mengikat separuh rambutnya ke belakang. Zhao Yìchen membatin, jika Elma berhasil menerobos hatinya tanpa perlu bersusah payah. Pria berhidung bangir itu mengalihkan tatapan ke depan, di mana Maulana dan Ayah Lina tengah mengucapkan ijab kabul. Zhao Yìchen turut bahagia dengan pernikahan itu. Meskipun tidak dekat dengan Maulana, tetapi

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 27

    27Kehadiran Zhao Yìchen pagi itu, disambut teriakan banyak karyawan di gedung PBK. Mereka berebutan untuk menyalami pria berambut gondrong, yang telah mencukur kumisnya hingga klimis. Zhao Yìchen melayani rekan-rekannya yang mengajak berbincang selama belasan menit. Kemudian dia memasuki lift den

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 18

    18 Zhao Yìchen memandangi Jauhari yang tengah berlatih di palang besi. Pria bertubuh langsing itu memperagakan senam ala atlet dengan cukup baik.Jauhari melentingkan badannya dua kali, lalu dia melepaskan pegangan pada palang, dan melompat turun sambil koprol. Jauhari mendarat di tanah dengan sed

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 13

    13Zhao Yìchen mengamati presiden komisaris LB Company, yang tengah berbincang dengan Bryan, Keven, dan Jourell. Zhao Yìchen menyukai pria tua yang rambutnya telah memutih seluruhnya itu, yang sangat ramah.Zhao Yìchen kagum dengan gaya santai yang ditampilkan Li Thorne. Zhao Yìchen membatin, bila

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 12

    12 Cayden mengulum senyuman, sesaat setelah mendengar penuturan Harper mengenai kejadian kemarin malam. Cayden terkekeh setelah Harper menggerutu, karena beberapa korban dari pihak gangster, yang mengalami patah tangan ataupun patah kaki, akibat disiksa tim PBK. Setelah tawanya lenyap, Cayden berg

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status