Share

Bab 59

Author: Olivia Yoyet
last update publish date: 2026-04-21 15:48:07

59

"Apa? Lian Jeremy mukanya sama dengan Hu Guang?" tanya Cheung Chyou Jaden, sesaat setelah mendengar ucapan Zhao Yìchen.

"Ya, memang sama. Bedanya cuma di hidung dan bibir. Hu Guang, hidungnya bengkok, karena pernah patah. Bibirnya juga penuh, kayak aku. Kalau Jeremy, hidungnya lurus dan bibirnya tipis," terang Zhao Yìchen.

"Rambut dan yang lainnya, sama?"

"Ehm, beda. Hu Guang rambutnya gaya Manchu. Badannya juga lebih pendek dari Jeremy. Tapi, kekarnya sama."

"Ko, rambutnya jelas beda,"
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 114

    114Acara selamatan rumah sekaligus 4 bulanan kandungan Elma, sore itu berlangsung dengan lancar. Selain tetangga sekitar yang semuanya adalah pengawal dan para bos muda, keluarga Elma dan para sahabatnya dari Bandung juga turut hadir. Termasuk Maman dan Ika.Pasangan tua itu kentara sekali mengagumi rumah berukuran besar tersebut. Apalagi lokasinya yang berada di komplek elite, menjadikan keduanya terpana. Zhao Yìchen menanggapi pertanyaan Maman dengan sopan. Zhao Yìchen meringis ketika Elma menyahut pertanyaan Maman dengan pongah, mengenai harga rumah yang berkisar di hitungan miliaran. Zhao Yìchen tahu, istrinya sengaja menyombongkan diri, sebagai bentuk balas dendam Elma pada Paman dan bibinya. Meskipun Elma tetap baik pada Agung, tetapi Ibu hamil itu bersikap berbeda pada Maman dan Ika. "Nginap di sini, Pak?" tanya Hendri. "Ya, Kang. Tapi besok kami pulang," jelas Yayan."Jangan pulang dulu. Kita jalan-jalan," ajak Wirya. "Ehm, Bapak nggak bisa cuti lama, Bang," ungkap Yayan

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 113

    113 Elma tersenyum seusai melihat tanah kosong di sisi kanan rumah nomor 22, yang telah dipilihnya bersama Zhao Yìchen. Elma sudah jatuh hati pada rumah hook tersebut, setelah mengecek ke tempat itu pada minggu lalu. Zhao Yìchen dan Wirya telah menandatangani kesepakatan, untuk tukar tambah kedua bangunan. Rumah Zhao Yìchen di cluster 9, akan dibeli Haikal, sebagai persiapan buat anak-anaknya kelak. Elma memutuskan mengambil rumah di pojok itu, karena ada kelebihan tanah 3 meter di samping kanan. Dia berencana membuat rumah kaca untuk kebun sayur organik. Seusai melahirkan nanti, Elma akan berhenti bekerja dan hanya menjadi freelance WO. Elma ingin fokus merawat anaknya, dan hal itu tidak bisa dikerjakan secara penuh, jika Elma masih menjadi karyawan tetap.Bunyi beberapa mobil berhenti di depan, menjadikan Elma menoleh ke kiri. Dia bergegas mendekati mobil pick up itu, guna menurunkan barang-barang. "Kamu duduk saja, El," cakap Linggar, yang keluar dari mobil MPV hitam yang berh

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 112

    112"Ta," panggil Jaya sembari mengarahkan badan ke kiri. "Ya?" balas Anita. "Aku ... nggak bisa bermanis-manis kata," ucap Jaya, sebelum mengeluarkan kotak perhiasan merah dari tas kecil. "Aku menyukaimu sejak lama," akunya sambil menatap Anita lekat-lekat. "Aku sudah sangat dewasa, dan ingin memiliki keluarga sendiri. Ehm, maukah kamu menikah denganku?" tanya Jaya sembari menahan degup jantungnya yang kian kencang. Anita memandangi pria yang telah membuat hidupnya berwarna, selama hampir 2 tahun. Anita bermonolog dalam hati, lalu dia mengangguk."Ya, Kang. Aku mau," tukas Anita. Sudut bibir Jaya melengkung ke atas membingkai senyuman. "Alhamdulillah." Jaya membuka kotak perhiasan. "Ini, buatmu," akunya. "Bukannya buat Ibu?" tanya Anita.Jaya menggeleng. "Aku sengaja minta kamu milih, karena ini memang buatmu." Anita mengulum senyuman. "Dengan kata lain, aku beli cincin dari uang sewa rumah yang kubayar." "Ya, dan aku cuma nambahin dikit." "Enggak modal." Keduanya serentak

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 111

    111Jaya memandangi Anita yang tengah menunduk di kursi seberang. Dia tahu jika gadis itu tengah menahan malu, karena telah berulang kali merepotkan Jaya. Pria berambut tebal itu mengalihkan perhatian ke amplop di meja. Dia awalnya hendak menolak, tetapi kemudian dibatalkan, saat satu ide melintas di benaknya. Jaya meraih amplop itu dan mengecek isinya. Dia menutup amplop, dan memasukkan benda itu ke saku kemeja putih. Jaya memerhatikan Anita yang tengah merapikan rambutnya dengan jemari. Kala gadis itu menengadah, tatapan mereka bersirobok dan Jaya spontan tersenyum. "Aku terima uang sewa rumah ini," ucap Jaya. "Tapi, bulan depan nggak usah bayar," lanjutnya. Anita menggeleng. "Aku nggak mau utang budi, Kang," tolaknya. "Akang sudah terlalu sering membantuku dan keluarga. Aku nggak bisa balasnya," sambungnya. "Enggak perlu dibalas. Aku ikhlas." "Ehm, ya." "Aku dulu juga hidup susah, Ta. Orang tuaku cuma buruh tani. Kami berempat nyaris nggak pernah ngerasain pegang duit, meski

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 110

    110Zhao Yìchen menghentikan mobil beberapa belas meter sebelum rumah kontrakan Anita. Mobil tidak bisa terus maju, karena banyak orang yang tengah berkerumun di depan. Zhao Yìchen menunggu istrinya turun. Dia mengunci mobil, lalu menggapai tangan kiri Elma dan jalan menerobos kerumunan. Keduanya kesulitan menembus area terdekat dengan rumah, karena banyak pria bertampang sangar yang tengah berdiri di sana. Zhao Yìchen menarik Elma agar berpindah ke belakangnya. Pria berjaket hitam itu memaksa merentangkan tangan untuk membuka jalan, dan Elma segera maju memasuki pekarangan sempit yang banyak barang berhamburan. Elma memasuki ruang tamu sambil mengucapkan salam. Zhao Yìchen menyusul dan segera menyambangi Jaya yang tengah menunggui Norman, yang berbaring di kasur tipis.Elma mengambil alih bocah laki-laki dari gendongan Anisa, yang tengah sibuk menenangkan Siti. Perempuan tua itu sejak tadi mengumpati kelompok pria di depan rumah, yang merupakan anak buah bos rentenir. Anita menya

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 109

    109 Pengajian bulanan malam itu di kediaman Wirya, didatangi lebih dari 200 orang. Mereka penasaran dengan sosok aktris China, yang tampil dengan gamis biru dan pasmina putih, yang diberikan Irshava. Vanetta tampak senang, karena para tamu yang hadir sebagian besar bisa berbahasa Mandarin. Dia kaget, kala Zhao Yìchen mengajaknya berbincang dalam bahasa Kanton, yang dibalas perempuan itu dengan semangat. Elma mengamati sang aktris yang tampak berkilau. Dia tersenyum, ketika Zayd mendekati Vanetta dan duduk di pangkuan perempuan tersebut dengan santai. "Kenapa aku jadi mikir, kalau dia yang akan jadi istrinya Bang W?" tanya Salwa. "Kirain aku aja yang mikir, gitu," sahut Leni."Zayd langsung suka. Nempel terus dia dari tadi," papar Elma. "Zid dan Marwa, reaksinya, gimana?" desak Novi. "Mereka juga welcome. Marwa bahkan sudah berani ngelihatin gambar desain buatannya," ungkap Elma. "Mungkin Marwa bisa ngerasa, kalau aura Vanetta itu baik," papar Rida sembari memandangi perempuan

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 12

    12 Cayden mengulum senyuman, sesaat setelah mendengar penuturan Harper mengenai kejadian kemarin malam. Cayden terkekeh setelah Harper menggerutu, karena beberapa korban dari pihak gangster, yang mengalami patah tangan ataupun patah kaki, akibat disiksa tim PBK. Setelah tawanya lenyap, Cayden berg

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 27

    27Kehadiran Zhao Yìchen pagi itu, disambut teriakan banyak karyawan di gedung PBK. Mereka berebutan untuk menyalami pria berambut gondrong, yang telah mencukur kumisnya hingga klimis. Zhao Yìchen melayani rekan-rekannya yang mengajak berbincang selama belasan menit. Kemudian dia memasuki lift den

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 18

    18 Zhao Yìchen memandangi Jauhari yang tengah berlatih di palang besi. Pria bertubuh langsing itu memperagakan senam ala atlet dengan cukup baik.Jauhari melentingkan badannya dua kali, lalu dia melepaskan pegangan pada palang, dan melompat turun sambil koprol. Jauhari mendarat di tanah dengan sed

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 13

    13Zhao Yìchen mengamati presiden komisaris LB Company, yang tengah berbincang dengan Bryan, Keven, dan Jourell. Zhao Yìchen menyukai pria tua yang rambutnya telah memutih seluruhnya itu, yang sangat ramah.Zhao Yìchen kagum dengan gaya santai yang ditampilkan Li Thorne. Zhao Yìchen membatin, bila

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status