مشاركة

Bab 52

مؤلف: Olivia Yoyet
last update تاريخ النشر: 2026-04-18 17:06:17

52

Sepasang insan duduk berdampingan di bangku panjang. Tatapan mereka arahkan ke lautan yang dalam kondisi tenang. Desir angin membelai kulit yang terbuka, dan menerbangkan rambut mereka yang sama-sama tergerai.

Sudah hampir satu jam mereka di sana. Perempuan yang mengenakan cardigan abu-abu, mendominasi percakapan. Sedangkan lelaki berkaus lengan panjang biru tua, lebih banyak diam sambil sesekali membalas ocehan rekannya.

Seusai menceritakan kisah cintanya yang kandas hampir 4 bulan silam
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 130

    130Ustaz Sulaiman dan Ustaz Mawardi bergantian menyampaikan tausiah dengan topik yang berbeda, tetapi saling berkaitan. Kemudian acara gunting rambut dimulai dan para tamu semuanya berdiri. Zhao Yìchen keluar dari dalam rumah sambil menggendong Nayara. Agung dan Nandi menyusul sambil membawa nampan berisikan gunting, serta mangkuk untuk menempatkan potongan rambut sang bayi. Zhao Yìchen mendatangi kedua Ustaz terlebih dahulu, kemudian dia bergeser ke kiri guna menyambangi Yayan, Qianfan, Wahyu, Maman, Akong Bun, Frederick, Frans, Finley, Katon, Sultan, Gustavo, Harsaya, Arsyad, Mulyadi, dan ditutup oleh Abdul Affan, ayahnya Zulfi. Selanjutnya, Zhao Yìchen berpindah ke barisan para Nenek, yang dimulai dari Nilam, dan diakhiri seorang perempuan berjilbab abu-abu mengilat, yang senada dengan gamisnya. "Mak, kapan datang?" tanya Zhao Yìchen, sebelum menyerahkan Nayara ke Nilam, lalu dia merunduk untuk menyalami sang pengarang buku, dengan takzim. "Sekitar 15 menit lalu," jawab Emak

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 129

    129Malam baru dimulai, tetapi di bawah tenda panjang itu telah banyak orang dengan berbagai aktivitas. Ada yang memasang hiasan di sepanjang tenda, ada yang memasang banyak kipas AC besar di puluhan titik. Ada pula yang hanya menonton sambil berbincang dengan berbagai topik. Zhao Yìchen tercenung kala puluhan ajudan berbadan jangkung, bekerjasama menggantungkan banyak balon di dalam dan luar rumah. Balon-balon itu berisikan kertas warna-warni dan nomor hadiah doorprize, sumbangan dari semua cucu serta menantu keluarga Adhitama.Zhao Yìchen tercenung saat Bayazid dan teman-temannya diangkat tim Zikria, supaya bisa duduk di pundak Hisyam, Qadry, Aditya, Chairil, Beni, Harun, Samudra, Mahesa, Xander, Dipta, Listu, Dimas, Ukky, Lazuardi, dan Santos, yang badannya menjulang semua. Para bocah itu menambahkan hiasan berupa foto Nayara dalam berbagai pose, yang telah dilaminating. Kemudian mereka bekerjasama mengangkat banner besar bertuliskan nama lengkap Nayara dalam huruf kaligrafi, yan

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 128

    128 Zhao Yìchen bernyanyi dan bergoyang sembari mengayun anaknya. Tanpa memedulikan tawa Nandi dan Agung yang melihat tingkahnya, Zhao Yìchen meneruskan aktivitasnya hingga Nayara merengek, karena menginginkan Mou-chan. Zhao Yìchen bergegas memasuki kamar utama di bagian belakang rumah. Dia memanggil Elma, yang keluar dari toilet dengan berjalan pelan. "Mou-chan, Naya mau nyusu," ucap Zhao Yichen. "Bentar, Ko. Aku minum dulu," kilah Elma sembari duduk di sofa tunggal, dan menggapai gelasnya dari meja. "Fu-chan, bukan Koko," tukas Zhao Yichen. "Kepanjangan," balas Elma, sambil meraih anaknya yang diulurkan sang suami. "Ya, udah. Fu aja." "Jadi kayak nyebut Kung Fu." Zhao Yìchen memandangi istrinya yang tengah mengulum senyuman. "Kamu senyum-senyum, gitu, hatiku mencair." "Jangan merayu. Fu mesti puasa 1 setengah bulan." "Bukannya 40 hari?" "Pas-kan aja jadi 45 hari." "Enggak mau!" "Sstt! Jangan naik suaranya. Naya kaget." Zhao Yìchen mengambil bantal khusus dan menyelipk

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 127

    127 Hari berikutnya. Ruang perawatan VIP yang ditempati Elma, dipenuhi banyak orang. Sebab tidak semua orang bisa tertampung, akhirnya banyak yang keluar dan berpindah duduk di deretan bangku selasar. Di dalam ruangan, semua orang bergantian menggendong bayi bertopi merah muda, yang tetap tertidur pulas walaupun berpindah dari satu tangan ke tangan lain. Dante membaca doa, sebelum mengecup dahi keponakannya dengan hati-hati. Dia mengayun bayi sembari bernyanyi lagu Mandarin, dengan suara yang cukup merdu. "Ko, gantian. Aku dari tadi belum gendong," pinta Calvin. "Hati-hati, Vin. Ini bayi, bukan boneka," tukas Dante, sembari memindahkan bayi itu ke kedua tangan adiknya. Pintu terbuka dan Wirya memasuki ruangan bersama keluarganya. Mereka menyalami kedua orang tua Elma yang telah datang kemarin malam, kemudian mereka beralih bersalaman dengan keluarga Adhitama. "Siniin bayinya, Vin," ujar Wirya. "Bang, aku baru gendong semenit," rengek Calvin. "Kamu bisa gendong lagi nanti. Aku

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 126

    126Jalinan waktu terus berjalan. Hari perkiraan lahiran Elma yang kian dekat, menjadikan Zhao Yìchen gelisah. Pria itu makin cemas, ketika Elma mulai sering mengalami kontraksi palsu. Seperti pagi itu. Zhao Yìchen ragu-ragu untuk berangkat ke sekolah, tetapi akhirnya dia pergi juga untuk melaksanakan ujian akhir kejar paket B. Pria berkemeja putih itu menyetir sembari berzikir dalam hati. Selain melancarkan, Zhao Yìchen juga tengah mengamalkan wejangan dari Mulyadi, yang telah menerangkan kegunaan dari doa-doa pendek untuk menjaga keselamatan diri. Semua anggota Paguyuban Margalutu telah merasakan manfaat tersebut. Mereka sering mengalami berbagai kejadian yang sulit dijelaskan dengan logika. Seperti yang pernah dialami Izra dan Emyr, saat mereka masih berpangkat staf HWZ, dulu. Izra dan Emyr bertugas mengecek proyek di Lombok, yang telah nyaris rampung pengerjaannya. Mereka menyewa mobil untuk pergi meninjau lokasi lain yang ditawarkan rekanan. Emyr yang menjadi sopir, membaca

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 125

    125Elma berteriak mengelu-elukan kedua mempelai yang masih berdiri di panggung bulat. Elma nyaris melompat, sebelum akhirnya ingat jika dirinya sedang hamil.Elma tersenyum ketika melihat orang-orang di sekitarnya, yang melakukan berbagai macam gaya, guna mengekspresikan kegembiraan mereka akan pertunjukan fantastis tersebut. Akong Bun dan Kakek Edward yang menempati meja sebelah kanan, turut menyoraki Wirya dan Vanetta. Sedangkan ketiga anak Wirya jingkrak-jingkrak di dekat panggung, sebelum mereka dinaikkan petugas ring 1, supaya bisa bergabung dengan kedua orang tua mereka. "Ayah, keren!" puji Bayazid, seusai menerima mikrofon yang diberikan Satya dari tepi kanan panggung. "Mama juga, keren sekali," ungkap Marwa, sebelum dia mendekap Vanetta dari sisi kiri. "Xie-xie," balas Vanetta."Aku pengen bisa kayak tadi," papar Marwa."Nanti kita latihan, Kak. Selagi alatnya masih terpasang," cetus Vanetta. "Abang bisa parkour. Mau tunjukin di sini?" pinta Wirya sembari mengusap dahinya

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 38

    38Pagi berikutnya, Zhao Yìchen dan Jaya mendatangi setiap bungalo di samping kiri rumah Zulfi. Keduanya sibuk memijat tim HWZ, sembari mengobrol tentang berbagai hal. Glania yang menginap di salah satu kamar hotel, datang ke rumah dinas dengan diboncengi karyawan resor, yang membawakan banyak nas

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 37

    37Bunyi senjata tajam yang beradu dengan tongkat besi, tongkat satpam, dan double stick, menjadi hal yang terdengar di tepi tebing. Tim Nirwan berusaha menarik para pengacau ke jalan, supaya regu kedua pimpinan Yaslan yang masih bersembunyi di pohon, bisa mengambil dinamit di lubang. Pria berkumi

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 36

    36Matahari pagi belum naik sepenggalah, tetapi lahan luas di tempat yang rencananya akan dibangun resor 4 HWZ, telah dipenuhi banyak orang.Bukit di belakang kembali longsor, dan menimbulkan kerusakan beberapa alat berat yang diparkirkan di bawah sana. Wirya dan Zulfi mengajak semua pekerja untuk

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 35

    35Sudut bibir Zhao Yìchen mengukir senyuman, menyaksikan Almira yang menggelayut manja ke lengan kanan Zulfi. Zhao Yìchen terkekeh kala Almira memaksa memalingkan wajah Zulfi ke arahnya, karena pria itu justru ikut berbincang dengan Glania dan Wirya. Gelakak Jaya dan Nirwan terdengar dari meja bel

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status