Share

Bab 52

Author: Olivia Yoyet
last update publish date: 2026-04-18 17:06:17

52

Sepasang insan duduk berdampingan di bangku panjang. Tatapan mereka arahkan ke lautan yang dalam kondisi tenang. Desir angin membelai kulit yang terbuka, dan menerbangkan rambut mereka yang sama-sama tergerai.

Sudah hampir satu jam mereka di sana. Perempuan yang mengenakan cardigan abu-abu, mendominasi percakapan. Sedangkan lelaki berkaus lengan panjang biru tua, lebih banyak diam sambil sesekali membalas ocehan rekannya.

Seusai menceritakan kisah cintanya yang kandas hampir 4 bulan silam
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 88

    88Ruang rapat Yang Company terlihat ramai orang, yang hampir semuanya keturunan Chinese. Mereka tengah mendengarkan penjelasan Yang Glyn, sang direktur marketing, tentang proyek aliansi para pebisnis berdarah Tionghoa, di seputar Australia dan New Zealand. Selanjutnya, giliran Wirya yang berdiri untuk menerangkan proyek terbaru para bos muda Indonesia, yang akan dikendalikan sepenuhnya oleh GUNZ, perusahaan baru bentukan Wirya dan teman-temannya. Wirya dan semua Power Rangers telah mempersiapkan perusahaan masing-masing, sebagai pusat kegiatan mereka seusai lengser dari jabatan di PB dan PBK. Meskipun jenis perusahaan itu hampir sama, tetapi semuanya telah diatur rapi dan tidak saling tumpang tindih. Wirya memperkenalkan Zikria, yang menjadi wakil resmi GUNZ di Australia. Pria berkumis tipis itu akan menjadi tangan kanan Jauhari, dan nantinya mengambil alih tugas Jauhari, setelah lelaki berlesung pipi itu kembali menetap di Indonesia. Selain Zikria, Fikri dan teman-temannya di la

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 87

    87Acara selamatan atas kebebasan Jauhari dimulai dengan pengajian. Ratusan jemaah masjid besar di Sydney, menghadiri acara tersebut atas undangan Bryan, yang cukup aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan di sana.Bryan yang menjadi mualaf sejak 2 tahun lalu, sering berdiskusi dengan Imam masjid ataupun para Ustaz lainnya. Pria berbadan tinggi besar itu tidak kesulitan untuk melakukan banyak ibadah, karena istrinya, Sekar Prameswari Dewawarman, orang tuanya, dan kedua Adik Bryan serta sang ipar, adalah muslim. Ibu Bryan, Gemala, dulunya Nasrani. Setelah 3 tahun ayahnya Bryan wafat, Gemala menikah dengan Hendra, seorang duda beranak 1. Baik Gemala maupun Hendra tidak pernah memaksa Bryan untuk berpindah keyakinan. Mereka membiarkan pria itu tetap menjadi Kristen.Hubungan kasihnya dengan Sekar, membuat hati Bryan mulai condong ke Islam. Puncaknya, dia sempat bernazar. Bila Jauhari divonis ringan dan Harzan serta ketiga rekannya dibebaskan dari segala tuntutan, maka Bryan akan menjadi

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 86

    86Zhao Yìchen menciumi kedua pipi Zayd, sebelum memberikan bocah itu pada pengasuh. Zhao Yìchen memandangi adiknya yang tengah memberikan petuah pada Bayazid dan Marwa, yang membalas ucapan bundanya dengan anggukan. Sekian menit berlalu, Delany melenggang menuju pintu masuk terminal keberangkatan domestik. Diikuti Tati, pengasuh yang baru bekerja sebulan, sembari mendorong kereta bayi. Akhtar dan Badar menyusul kedua perempuan itu sambil mendorong troli. Setelahnya, Wirya mengajak kedua anaknya untuk kembali ke mobil. Zhao Yìchen mengekori langkah ketiganya sambil berbincang dengan Fikri, Gwenyth, dan Zikria, yang akan ikut berangkat ke Sydney. "Zik, kopermu, kok, cuma 1?" tanya Wirya, sesaat setelah memasuki kursi tengah mobilnya. "Aku hanya bawa baju, Bang. Lainnya dipacking di dus besar. Gabung sama paketan buat tim Girish," terang Zikria, seusai memasang sabuk pengaman di kursi kiri depan. "Zikria pandai ngemat baju," seloroh Fikri yang bertugas sebagai sopir. "Tuls. Tiap di

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 85

    85"Kamu, bisa mijat atau apa, gitu?" tanya Zulfi. "Enggak bisa, Bang," beber Agung. "Belajar sama Koko, supaya tukang pijat kami bertambah. Itu dibutuhkan buat jadi bagian promosi. Sambil mijat, kamu pancing para bos supaya mau pakai tenaga sekuriti dan pengawal. Atau ikut nanam saham di proyek kami. Itu yang Koko lakukan di Australia, dan berkat dia, banyak celah yang bisa ditempati tim PB dan PBK di sana," pungkas Zulfi."Ya, Bang. Aku mau belajar sama beliau." "Persiapkan ijazah, baju kerja dan perlengkapan lainnya. Sabtu depan, berangkat ke Jakarta. Ikut sama Nandi, dia juga mau rapat di kantor HWZ sana. Senin, langsung kerja. Nanti diatur sama Yahya, tim HRD, terserah dia mau nempatin kamu di mana." "Muhun, Bang. Makasih banyak atas bantuannya." Agung mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Dia benar-benar senang, karena bisa bekerja seperti Nandi. Maman dan Ika saling melirik. Mereka kaget, karena Zulfi mau membantu Agung mendapatkan pekerjaan, sedangkan teman-teman Mam

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 84

    84Suasana masjid yang sebelumnya hening, seketika berubah dengan dengungan kata hamdalah, dari orang-orang di ruangan itu. Mereka tampak senang setelah Zhao Yìchen usai mengucapkan syahadat, dan dianggap sah oleh imam utama masjid tersebut. Pria berbaju koko putih yang berhadapan dengan sang imam, menadahkan kedua tangan. Zhao Yìchen mengaminkan doa panjang pria tua berkopiah hitam itu, sembari mengucap syukur dalam hati, karena telah menjadi muslim.Setelahnya, Zhao Yìchen menyalami kedua orang tuanya. Dia mendekap Qianfan dan Nancy, sembari mendengarkan nasihat mereka. Kala memeluk Delany, Zhao Yìchen dan adiknya itu sama-sama menangis, sebelum mereka mengurai dekapan dan mengusap wajah masing-masing dengan saputangan."Selamat datang dan bergabung dengan kami, Ko," ucap Wirya, sebelum merunduk dan menyalami pria yang lebih tua itu dengan takzim."Makasih, W," sahut Zhao Yìchen sembari mendekap Adik iparnya tersebut, lalu dia menjauhkan diri guna berpindah untuk menyalami Dante, Zu

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 83

    83Konvoi banyak mobil mewah berbagai tipe dan warna, melaju beriringan di jalan bebas hambatan menuju luar kota. Setiap mobil ditempeli stiker bergambar wajah Zhao Yìchen, sebagai penanda jika pria itulah yang hendak diantar ke Bandung, guna melamar kekasihnya. Zhao Yìchen yang berada di mobil MPV mewah milik Frederick, mendengarkan petuah Akong Bun, Papa dan mamanya, serta Frederick dan Tarissa. Semua orang di mobil kedua itu kaget, ketika ketiga mobil Jeep mewah melesat di lajur kanan, lalu para sopirnya melakukan manuver. "Mereka lagi berlatih?" tanya Frederick yang berada di kursi tengah bersama Tarissa. "Ya, Pak," jawab Mahesa, sembari terus mengemudi. "Mobil siapa itu?" desak Akong Bun, yang menempati kursi kiri depan."Bang Varo, Bang Yanuar, dan Kang Hendri," jelas Mahesa. "Sopirnya?" "Kurang tahu, Kong. Aku nggak sempat lihat datanya." "Varo dan Yanuar nyetir mobil mereka sendiri," terang Zhao Yìchen yang tengah berbalas pesan dengan Akhtar. "Zulfi nyetir mobil Hendr

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 12

    12 Cayden mengulum senyuman, sesaat setelah mendengar penuturan Harper mengenai kejadian kemarin malam. Cayden terkekeh setelah Harper menggerutu, karena beberapa korban dari pihak gangster, yang mengalami patah tangan ataupun patah kaki, akibat disiksa tim PBK. Setelah tawanya lenyap, Cayden berg

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 27

    27Kehadiran Zhao Yìchen pagi itu, disambut teriakan banyak karyawan di gedung PBK. Mereka berebutan untuk menyalami pria berambut gondrong, yang telah mencukur kumisnya hingga klimis. Zhao Yìchen melayani rekan-rekannya yang mengajak berbincang selama belasan menit. Kemudian dia memasuki lift den

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 18

    18 Zhao Yìchen memandangi Jauhari yang tengah berlatih di palang besi. Pria bertubuh langsing itu memperagakan senam ala atlet dengan cukup baik.Jauhari melentingkan badannya dua kali, lalu dia melepaskan pegangan pada palang, dan melompat turun sambil koprol. Jauhari mendarat di tanah dengan sed

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 13

    13Zhao Yìchen mengamati presiden komisaris LB Company, yang tengah berbincang dengan Bryan, Keven, dan Jourell. Zhao Yìchen menyukai pria tua yang rambutnya telah memutih seluruhnya itu, yang sangat ramah.Zhao Yìchen kagum dengan gaya santai yang ditampilkan Li Thorne. Zhao Yìchen membatin, bila

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status