LOGIN77Sekelompok orang memasuki restoran yang lengang. Mereka berbincang sesaat dengan petugas, kemudian keempatnya berpencar guna mengambil menu makanan untuk sarapan, yang telah disiapkan di meja prasmanan. Belasan menit berikutnya, kelompok kedua muncul dari pintu samping yang menghadap kolam renang. Mereka juga mengambil ransum, lalu menuju deretan meja di sisi kiri. Kedua kelompok itu saling menatap sebelum sama-sama terdiam. Darren yang lebih dulu sadar, segera menyambangi kelompok Zhao Yìchen dan menyalami mereka. Disusul Damon, Dicky dan Hendro serta kedua orang lainnya, yang pernah bertemu tim Zhao Yìchen tersebut, kala sama-sama menghadiri sidang putusan untuk Toga dan rekan-rekannya. "Duduk sini, Ren," ajak Zhao Yìchen yang dipenuhi pria berparas manis tersebut dan kelima temannya. "Lagi dinas?" tanyanya. "Ya, Mas. Baru selesai pengerjaan proyek jembatan di Medan," jelas Darren. "Kerja di mana sekarang?" "GSG." "Pak Triatmodjo?" desak Irawan. "Betul," balas Darren. "Ka
76 Zhao Yìchen melambaikan tangan kanan, guna melepas keberangkatan Elma, yang menumpang di mobil Rahman. Asisten Zein itu baru selesai kunjungan ke Banten dan menginap semalam di rumah Wirya. Setelah mobil MPV marun itu menjauh, Zhao Yìchen berpindah ke mobilnya Jaya. Disusul Irawan dan Sofyan, yang juga akan berangkat ke beberapa kota di Sumatera, guna meninjau lokasi resor HWZ dan BPAGK yang hendak dibangun di sana. Mobil yang dikemudikan Jaya melaju dengan kecepatan sedang. Meskipun jalanan cukup lengang, tetapi Jaya tidak berani mengebut. Tidak peduli diledeki Irawan dan Sofyan, sang sopir tetap mempertahankan kecepatannya. "Nyampe Lampung, aku yang nyetir," tukas Irawan."Enggak mau. Kamu ngebut mulu," tolak Jaya. "Akang bawa mobilnya lemot." "Jaga keselamatan." "Itu benar, tapi kapan nyampenya ini?" "Ho oh. Kecepatan 60km/jam, bisa-bisa kita nyampe Riau itu seminggu," ledek Sofyan."Stop, Jay. Aku yang nyetir," sela Zhao Yìchen."Tidak!" seru ketiga pria lainnya dengan s
75Kabar kebebasan Jauhari, disambut gembira seluruh tim PBK dan keluarga para bos di Indonesia. Berita itu dengan cepat menyebar ke semua grup yang terkoneksi dengan PB, PBK, PG, PC, dan PCD.Wirya dan rekan-rekannya yang berada di ruang rapat direksi, serentak melakukan sujud syukur. Begitu pula dengan semua sahabat Jauhari yang juga berada di tempat itu.Hisyam yang telah pulang ke Indonesia sejak beberapa bulan lalu, memandangi Jauhari yang tengah mengoceh melalui sambungan video jarak jauh. Bulir bening luruh dari sudut mata Hisyam, yang menyebabkan Jauhari tertegun."Syam, jangan nangis," pinta Jauhari. "Sekali-sekali aku nangis, Ri. Nggak apa-apalah," balas Hisyam sembari menekan kedua matanya dengan tisu. "Bang W juga, stop, atuh," pinta Jauhari sembari memandangi Abang kesayangannya, yang sedang menyeka wajah dengan saputangan biru. "Aku nangis haru, Ri. Akhirnya doa-doa yang kami panjatkan selama 2 tahun lebih ini, dikabulkan Allah," terang Wirya dengan suara serak."Ri,
74Elma mencoba semua gaun pilihannya, sebelum memutuskan mengambil 2 gaun berbeda warna dan model, yang paling disukainya. Gadis berkepang satu itu keluar dari kamar ganti dan menyerahkan dua baju pilihannya pada pramuniaga. Sedangkan sisanya dikembalikan ke gantungan. Sekian menit berlalu, Elma keluar dari toko dan menyambangi Zhao Yìchen yang tengah duduk di bangku dekat tangga. Elma mengajak pria itu ke lantai atas, dan keduanya jalan sembari bergandengan tangan. Mereka menaiki eskalator hingga tiba di lantai 3. Keduanya meneruskan langkah menuju restoran favorit. Mereka memesan makanan terlebih dahulu, kemudian menempati kursi ujung kanan. "Ini, kok, masih banyak uangnya?" tanya Zhao Yìchen seusai mengecek isi amplop kuning, yang tadi diberikannya pada Elma. "Belanjanya belum selesai, Ko. Habis makan, kita lanjutkan lagi," tutur Elma."Ehm, aku pengen ke bioskop." "Mau nonton apa?" "Lupa judulnya. Itu film Wuxia. Pemainnya, favoritku. Liu Yuwen Vanetta Zeline." Elma mengin
73Jaya termangu menyaksikan kondisi rumah petak yang ditempati keluarga Anita. Hati Jaya terenyuh, karena baru mengetahui bila Anita dan ibunya menjadi tulang punggung keluarga itu.Ayah Anita, Norman, pernah mengalami kecelakaan di tempat kerja, hingga tangan kirinya cacat. Kakak Anita, Annisa, dulunya bekerja di konveksi yang sama dengan Anita. Annisa terpaksa berhenti kerja menjelang persalinannya, dan baru akan kembali bekerja pada dua bulan mendatang.Ibu Anita, Siti, kerja sebagai tukang cuci gosok di beberapa rumah tetangganya. Siti juga rajin membuat kue-kue tradisional untuk dijual. Perempuan tua itu tampak sangat senang dikunjungi kedua teman Anita. Dia mengajak Jaya dan Zhao Yìchen berbincang tentang berbagai hal. Seusai berpamitan, Jaya dan Zhao Yìchen melangkah menyusuri jalan sempit, hingga tiba di tepi jalan besar yang tampak lengang. Keduanya menaiki mobil, kemudian Jaya mengemudikan kendaraan menuju kantor. Matahari pagi bergerak cepat menuju sore. Jaya mendatangi t
72Zhao Yìchen menggendong Zayd yang tengah merengek, setelah kedua orang tuanya menjauh bersama rombongan jemaah umrah. Selain Wirya dan Delany, banyak bos PG dan PC yang turut berangkat bersama pasangan masing-masing. Termasuk beberapa Power Rangers lainnya, yakni Edwin, Satrio, Fajar, Aswin, Haryono, dan Jaka. Sedangkan Alvaro dan rekan-rekannya yang lain bertugas di banyak tempat, untuk menggantikan posisi ketujuh tim lapis 2 tersebut. Hendri dan Irshava yang turut jadi pengantar, mengajak ketiga keponakan mereka guna kembali ke mobil. Irshava mengambil alih Zayd dari Zhao Yìchen, sedangkan Hendri menggendong Dilbaz yang telah terkantuk-kantuk.Zhao Yìchen memegangi tangan Marwa dan Bayazid. Mereka jalan di tengah-tengah rombongan, sembari berbincang. Zhao Yìchen menyanggupi untuk mengantarkan para keponakannya ke kediaman Frederick, dan menginap di sana selama beberapa hari ke depan. Tidak berselang lama, belasan mobil berstiker PBK bergerak menjauhi area bandara. Zhao Yìchen
27Kehadiran Zhao Yìchen pagi itu, disambut teriakan banyak karyawan di gedung PBK. Mereka berebutan untuk menyalami pria berambut gondrong, yang telah mencukur kumisnya hingga klimis. Zhao Yìchen melayani rekan-rekannya yang mengajak berbincang selama belasan menit. Kemudian dia memasuki lift den
18 Zhao Yìchen memandangi Jauhari yang tengah berlatih di palang besi. Pria bertubuh langsing itu memperagakan senam ala atlet dengan cukup baik.Jauhari melentingkan badannya dua kali, lalu dia melepaskan pegangan pada palang, dan melompat turun sambil koprol. Jauhari mendarat di tanah dengan sed
13Zhao Yìchen mengamati presiden komisaris LB Company, yang tengah berbincang dengan Bryan, Keven, dan Jourell. Zhao Yìchen menyukai pria tua yang rambutnya telah memutih seluruhnya itu, yang sangat ramah.Zhao Yìchen kagum dengan gaya santai yang ditampilkan Li Thorne. Zhao Yìchen membatin, bila
12 Cayden mengulum senyuman, sesaat setelah mendengar penuturan Harper mengenai kejadian kemarin malam. Cayden terkekeh setelah Harper menggerutu, karena beberapa korban dari pihak gangster, yang mengalami patah tangan ataupun patah kaki, akibat disiksa tim PBK. Setelah tawanya lenyap, Cayden berg







