LOGINDokter mengatakan, tanpa terapi sel terbaru, aku hanya bisa hidup selama 72 jam. Namun, Tommy Harper memberikan satu-satunya kuota pengobatan itu kepada Anna Wilson. "Gagal ginjalnya lebih parah," ujar Tommy. Aku mengangguk, lalu menelan pil putih yang akan mempercepat kematianku. Dalam sisa waktu itu, aku melakukan banyak hal. Saat penandatanganan, tangan pengacara gemetar. "Saham senilai empat triliun ini, Anda benar-benar akan mengalihkan semuanya?" Aku menjawab, "Ya, berikan pada Anna." Putriku, Clarisa, tertawa bahagia dalam pelukan Anna. "Ibu Anna membelikanku gaun baru!" "Bagus sekali, nanti dengarkan perkataan Ibu Anna, ya," ujarku. Galeri seni yang kudirikan dengan tanganku sendiri, berganti nama menjadi milik Anna. "Kakak, kamu terlalu baik," ujarnya sambil menangis. Aku menjawab, "Kamu akan mengelolanya lebih baik dariku." Bahkan aku telah menyerahkan hak atas dana perwalian orang tuaku. Tommy akhirnya menampilkan senyuman tulus pertamanya selama bertahun-tahun. "Sofie, kamu sudah berubah. Kamu nggak lagi galak. Kamu yang seperti ini, sungguh cantik." Benar, aku yang sekarat ini akhirnya menjadi Sofie Barnes yang sempurna di mata mereka. Sofie yang patuh, dermawan, dan tidak pernah membantah. Hitungan mundur 72 jam telah dimulai. Aku sangat penasaran, ketika detak jantungku berhenti, apa yang akan mereka ingat tentangku? Apakah aku akan diingat sebagai istri baik yang akhirnya belajar melepaskan, atau sebagai seorang wanita yang menyelesaikan balas dendamnya dengan kematian?
View MoreDamn: 110. She needed a 70 to make the dean's list for her senior-level marketing class, but she'd pulled out a 110.
A smile touched Bethany's lips, her eyes darting around the room to see if she could make out the various grades on her classmates’ papers. From what she could see, she must have gotten the highest grade. She sat back in her chair and listened as the classroom filled with either groans or soft whispers of gratitude for passing grades. She hadn't worried much about passing, but simply passing was never enough. She had to be at the top—the best grade in the class.
The elderly professor moved to the front of the room, dropping a small handful of remaining tests on his desk and turning to face the class. A quick adjustment to his glasses and he scanned the room, his eyebrow raising at the noise.
"This was your final test for my class. I know some of you are graduating on Saturday, and I congratulate you. If you failed this test and subsequently this class and it's holding you back from graduating, that's your problem. You were given every opportunity to do well in here. If you failed, then you worked hard to do so."
He shrugged as a lanky guy in the back row spoke up, Bethany turning to look over her shoulder as his drug-induced voice resounded. "Is there a make-up quiz for this test?"
"No, Mr. Johnson. This is final, and you will be seeing me next semester, no doubt."
Bethany turned and raised her hand, her long chestnut locks tickling her shoulders as she moved. "What was the top grade in the class?"
"Yours." The professor smirked and moved from his reclined position. "Class is dismissed. Don't bother stopping by to talk with me. I have somewhere to be, so this is goodbye for this semester. Enjoy the rest of your summer, and don't have too much fun."
Bethany leaned over and grabbed her backpack, a smile pressing her cheeks toward her eyes as she got up and walked from the room, her head held high and smugness sitting on her like a well-worn cloak. She was the smartest, the fastest—the best.
A quick stop by the advisory office before heading to have lunch with her mother stole her thunder; her adviser’s news was depressing, a quick reminder of her financial reality.
"Congratulations, Bethany. It looks like you'll be graduating in the top 3 percent of your accounting class." The middle-aged man looked up, his portly belly almost touching the chair between his opened legs.
Bethany focused on the kindness in his gaze even though his appearance struck her with worry. She needed to get to the gym. The summer sessions were always so daunting and stole every waking moment she could find in order to simply keep up. It was over now, though.
She sighed with relief and nodded toward the adviser.
"That's great news. I've already been accepted into the MBA program, so I'll start in a month. I'm excited."
The man mumbled something, turning to his computer and hitting a few keys. Bethany sat back, her eyes moving across the various pictures that hung on the walls. The photos were filled with smiling kids and a woman as portly as the man before her, their happiness apparent or well-rehearsed.
A family had never been part of Bethany's thoughts. Racing up the corporate ladder and making a name for herself was her top priority. Making enough money never to have to worry where her next meal was coming from or if anyone would see her mother paying with food stamps was all she cared about. She would change her situation no matter what it took.
College was a luxury that her grades from high school alone had afforded her, but the master's program was still up in the air. The hope was that grants would cover most of the cost, and she could pick up a small job or paid internship at an accounting firm.
Time was the only restriction. She needed something flexible because her course load wouldn't allow for much more than studying and schoolwork. She reached up, tucking her hair behind her ears as she looked back at the adviser.
"So, am I good to go?"
"Hold on just a minute, kiddo. Looks like there’s an issue with your fees for next semester. I'm just trying to make sure you're all paid up." He glanced over at her before picking up his phone. He spoke for a few minutes to someone who she assumed was in the registrar's office. The conversation, from the parts she could hear, was only causing the knot in her stomach to grow. He thanked the lady on the phone and sighed, hanging up and looking over at Bethany.
"Good news and bad news. What do you want first?"
"The good news."
"The good news is that the first third of your upcoming semester was picked up by a grant."
"And the bad is that the last two-thirds weren't?"
"That's right." He shrugged, sympathy covering his round face. "Is there a possibility of getting a small part-time job or internship in the city?"
"I have no clue. Seems like more to do, but it is what it is." She sat back and sighed, the reality of her ever-present situation bleeding its way across her emotions. She was going to break down soon, and she'd rather it not be in front of him.
She stood up and reached over, her hand extended. "I appreciate your help. I have a month to figure it out, I guess."
"You have about six weeks before they require that second payment. Good luck. You’re smart; you'll figure this out."
She shook his hand and walked from the small building, the sun pressing down on her in the smoldering Texas heat. There was nothing to figure out. The MBA program at UT Dallas was way out of her league in terms of financial funding, and her mother was forever broke. Thanks to a drug-dealing father and a life left in shambles, there wasn't much hope.
She got in her car as the first tear fell. She'd have to ask her mom to do something that seemed far-fetched but was her only hope.
"Mom, will you marry Kent?" She looked up in the small rearview mirror, realizing how selfish she was being as she worked through how to ask something so demanding of her mother. But Kent was a billionaire. It would work in her favor, and she knew without a doubt that her mother would be much happier with the stability and love Kent would provide. It was good for everyone. No. She couldn't do it.
But what other choice did she have?
Sore harinya, seorang wanita muda datang ke makam."Kamu siapa?" tanya Clarisa, sedikit bingung."Namaku Erin Woods aku penderita kanker pankreas," jawab wanita itu dengan mata memerah. "Lima tahun lalu, aku diselamatkan oleh Yayasan Sofie. Hari ini aku datang untuk mengucapkan terima kasih.""Dia pasti bisa mendengarnya," ucap Clarisa lembut.Erin meletakkan buket bunga di depan nisan, lalu membungkuk dalam-dalam. "Bu Sofie, terima kasih. Karena Anda, saya masih hidup sampai hari ini dan bisa melihat anak saya tumbuh besar."Pemandangan seperti itu bukan yang pertama bagi Clarisa. Setiap orang yang pernah ditolong yayasan itu akan selalu mengingat nama Sofie Barnes.Ibunya mengorbankan nyawanya, bukan hanya untuk meninggalkan penyesalan bagi keluarga, tapi juga demi memberi harapan hidup bagi ribuan orang.Langit mulai gelap, Clarisa akhirnya berdiri dan bersiap pulang."Ibu," katanya menatap batu nisan untuk terakhir kalinya, "dulu Ibu pernah bertanya, apakah kami akan mengingatmu."
Dua puluh tahun kemudian.Clarisa berdiri di depan jendela besar galeri seni, memandang jalanan Neoyark yang ramai. Dia tidak hanya mewarisi kecantikan ibunya, tapi juga bakat alami dalam dunia bisnis. Di usia 25 tahun, Clarisa sudah menjadi bintang baru yang tengah bersinar di dunia seni."Clarisa, waktunya wawancara," ujar asistennya mengingatkan.Hari ini adalah wawancara eksklusif bersama majalah TAME, dengan tema, Mewarisi Warisan Ibu, Kekaisaran Seni Putri Sofie Barnes."Clarisa, banyak orang bilang kamu sangat mirip dengan ibumu." Sang jurnalis bertanya, "Apa pendapatmu soal itu?"Clarisa terdiam sejenak sebelum menjawab pelan, "Aku nggak akan pernah bisa menjadi seperti dia.""Kenapa begitu?""Karena dia menggunakan 29 tahun hidupnya untuk mengajarkan semua orang arti cinta sejati. Sementara aku butuh 18 tahun, hanya untuk mengerti apa itu penyesalan."Sang jurnalis, yang jelas mengetahui sejarah kelam keluarga ini, tidak melanjutkan pertanyaannya.Setelah wawancara berakhir, C
Satu bulan kemudian.Tommy masih rutin mengunjungi makam Sofie setiap hari. Dia selalu membawa Clarisa, meskipun gadis kecil itu selalu enggan."Ayah, kenapa kita harus ke sini sih?" tanya Clarisa sambil menendang batu kerikil kecil."Karena di sinilah orang yang mencintaimu berbaring""Tapi dia nggak pernah main sama aku." Clarisa manyun. "Ibu Anna bilang, orang yang benar-benar menyayangiku akan selalu menemaniku."Hati Tommy hancur sekali lagi. Dia tidak tahu harus bagaimana menjelaskan pada anak berusia lima tahun itu, bahwa orang yang selalu menemaninya itu adalah pembohong, sementara orang yang tidak pernah bermain dengannya justru mencintainya dengan segenap hidupnya.Anna telah divonis penjara seumur hidup. Di pengadilan, dia masih bersikeras bahwa semuanya adalah jebakan dari Sofie. Namun, bukti-bukti yang ada terlalu kuat, tidak seorang pun yang memercayainya.Orang tua Sofie menjual rumah mereka dan pindah ke Florinda. Mereka berkata, setiap sudut kota Neoyark hanya menginga
Setelah Anna dibawa pergi, Kediaman Keluarga Barnes tenggelam dalam keheningan yang mencekam.Tommy duduk di samping jenazah Sofie, dia seperti kehilangan jiwanya. Ponselnya berdering tanpa henti, anggota dewan direksi, rekan bisnis, dan wartawan semua menanyakan apa yang telah terjadi. Namun, tidak satu pun panggilan dia jawab."Tuan," ujar Gabby dengan suara pelan, "Petugas dari rumah duka sudah datang."Tommy langsung menoleh dengan terkejut. "Nggak! Jangan bawa dia pergi!"Namun, dia tahu, itu tidak bisa dihindari. Sofie telah pergi untuk selamanya.Di lantai bawah, kedua orang tua Sofie masih memeriksa tumpukan bukti. Setiap dokumen, setiap rekaman, seakan mengiris hati mereka."Tanggal ini..." Sang ibu menunjuk pada sebuah hasil pemeriksaan medis, suaranya bergetar. "Natal tahun lalu, Sofie sudah didiagnosis kanker.""Tapi dia nggak mengatakannya sama sekali." Suara sang ayah terdengar jauh lebih tua dan lelah.Gabby mendekat dan menjelaskan, "Hari itu Anna mendadak jatuh sakit.
"Ibu."Aku menunduk. Clarisa berdiri di depanku. Dia mengenakan gaun pesta berwarna merah muda, tampak seperti seorang putri kecil."Ibu Anna menyuruhku memberi tahu Ibu." Nada bicaranya dingin, seperti sedang berbicara pada orang asing. "Sudah waktunya memotong kue.""Terima kasih sudah memberitahu
Sore harinya, di kantor pusat perusahaan.Berita itu menyebar dengan cepat, Sofie datang ke rapat dewan direksi bersama adik perempuannya, dan secara langsung mengumumkan pengalihan saham."Sofie, apa kamu sedang bercanda?" Direktur senior, Pak Harrison, menarikku ke samping."Aku sangat serius." Ak
Keesokan paginya, aku terbangun dalam rasa sakit yang luar biasa. Sel kanker terasa seperti nyala api yang membakar seluruh tubuhku, tapi obat penghilang rasa sakit membantuku tetap terlihat tenang di permukaan.Aku memaksakan diri bangun dari tempat tidur. Masih banyak hal yang harus kulakukan hari
Suamiku mengatakan aku tidak cukup lembut, orang tuaku menyebutku terlalu egois, putriku mengatakan bahwa dia lebih menyayangi Ibu Anna. Jadi, aku memutuskan untuk menggunakan 72 jam terakhirku, untuk memberikan nyawaku dan segalanya yang kumiliki kepada wanita sempurna itu.Suara dokter masih terng












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore