LOGINJam enam sore, rumah Pak Kim yang biasanya tenang di bagian belakang sudah berbeda suasananya.
Dari arah gazebo di pojok taman, suara kartu yang dilempar ke meja dengan keras. Disusul suara protes. Disusul tawa yang tidak ditahan.Dari arah panggangan di sisi lain taman, asap tipis mulai naik dan bau daging yang mulai matang menyebar pelan ke seluruh area belakang rumah.Bi Ema yang lewat dari dapur ke gudang berhenti sebentar menatap dua area itu bergantian, menggeJam sebelas malam, koridor lantai tiga rumah Pak Kim sudah sunyi.Satu per satu lampu kamar mati. Bayu yang paling cepat karena besok pagi ia yang harus memastikan semua logistik rapat sudah beres sebelum jam delapan. Eunwoo tidak lama setelah itu. Puja yang sudah hampir tidur sejak di gazebo tadi.Rena yang paling terakhir karena ia masih mengirimkan beberapa email yang tidak bisa ditunda sampai besok.Vanka duduk di meja kerjanya dengan laptop yang masih menyala, mengerjakan sesuatu yang ia bilang ke Sora tinggal sebentar tapi sudah setengah jam.Sora sudah tidur di kamarnya sendiri dengan cara yang tidak perlu diumumkan karena pintunya sudah tertutup sejak jam sepuluh.Di ujung koridor, kamar Seokjin yang sekarang diisi Efra, lampunya masih menyala tipis dari bawah pintu.---Vanka menutup laptopnya jam sebelas empat puluh.Matanya lelah dengan cara yang berbeda dari lelah fisik. Lebih ke lelah yang datang da
Ronde pertama, Efra kalah.Bukan karena tidak bisa main. Tapi karena Sora mengeluarkan kartu plus empat tepat saat Efra hampir menang dan tidak ada yang memperingatkan karena semua orang di meja itu melihat peluang itu dan memilih diam."Itu tidak adil." Efra menatap tumpukan kartu tambahan yang harus ia ambil."Selamat datang di UNO versi kami." Sora menyerahkan spidol ke Vanka. "Kamu yang gambar."Vanka mengambil spidol. Menatap Efra.Efra menatap balik dengan ekspresi yang tidak memberi instruksi tapi juga tidak menolak.Vanka menggambar satu garis pelan di pipi kirinya.Efra tidak bergerak."Itu saja?" tanya Sora."Itu standar hukumannya." Vanka menutup spidolnya. "Satu garis per kekalahan.""Tapi tadi aku dapat tiga sekaligus karena—"" Kak Sora." Suara Vanka tidak tinggi.Sora menutup mulutnya.Ronde berikutnya dimulai.---Jam tujuh, Bayu munc
Jam enam sore, rumah Pak Kim yang biasanya tenang di bagian belakang sudah berbeda suasananya.Dari arah gazebo di pojok taman, suara kartu yang dilempar ke meja dengan keras. Disusul suara protes. Disusul tawa yang tidak ditahan.Dari arah panggangan di sisi lain taman, asap tipis mulai naik dan bau daging yang mulai matang menyebar pelan ke seluruh area belakang rumah.Bi Ema yang lewat dari dapur ke gudang berhenti sebentar menatap dua area itu bergantian, menggeleng pelan dengan senyum yang tidak ia sembunyikan, lalu melanjutkan jalannya.---Di gazebo, permainan sudah berjalan entah berapa ronde.Meja rotan di tengah gazebo penuh dengan kartu yang sudah dimainkan. Di tengahnya, tumpukan kartu sisa yang makin tipis. Dan di wajah empat perempuan yang duduk mengelilingi meja itu, ada bukti yang tidak bisa disangkal dari siapa yang sudah kalah berapa kali.Sora punya empat garis di pipi kanan dan tiga di pipi kiri. Mera
Sora mematap Efra yang sedang menatap adiknya."Kami lupa memperkenalkan." Mama Sohe mengambil sendoknya kembali. "Seokjin itu putra sulung, kakak kami. Sedang dinas di Korea, jarang pulang ke Indonesia. Baru kali ini kami di sini lebih dari dua minggu jadi kamarnya kosong.""Dinas?" Rena yang dari tadi diam bertanya dengan nada yang sedikit lebih tertarik dari nada profesionalnya yang biasa."Angatan Darat." Sora menimpali tanpa mendongak dari piringnya. "Oppa Seokjin tentara aktif jadi menetap di sana. Paling setahun sekali pulang ke Indonesia kalau tidak ada penugasan.""Oh." Rena mengangguk. Kembali ke makanannya. Tapi telinganya masih merah sedikit di bagian atas.Bayu melihat itu. Memilih untuk tidak tahu apa-apa.Efra menatap Pak Kim. Menatap Mama Sohe. Melihat tidak ada celah yang masuk akal untuk menolak tanpa terlihat tidak sopan."Terima kasih. Kalau tidak merepotkan.""Tidak merep
Pesan dari Bayu masuk jam dua belas kurang sepuluh.'Non Vanka, Den Efra tanya makan siang di mana?'Vanka membaca itu sambil berjalan ke lobi dari arah lift. Eunwoo di sebelahnya sedang menjelaskan sesuatu soal dokumen yang perlu dikirim ke tim Korea sebelum jam tiga sore.Ia menoleh ke belakang.Efra berdiri di dekat lift dengan Bayu dan Rena, ketiganya pura-pura sedang membicarakan sesuatu yang penting. Bayu dengan ponsel di tangan. Rena dengan map di dadanya. Efra dengan cara berdiri yang sangat biasa tapi matanya bergerak ke arah Vanka satu kali sebelum pura-pura kembali ke percakapan mereka.Vanka memiringkan kepalanya satu kali.Isyarat kecil yang tidak perlu penjelasan.Efra bergerak dari tempatnya, melangkah lebih cepat dari langkah biasanya, memotong arah menuju Vanka."Kita makan di rumah." Vanka berbicara saat Efra tiba di sebelahnya. "Bi Ema sudah masak dari tadi pagi."Ia berbalik ke arah lobi, berjalan ke pintu keluar. Mobilnya sudah di depan, satpam gedung yang mengara
Sora mendengus pelan. Lalu berjalan kembali ke kursinya dengan cara yang sama seperti saat ia datang. Tidak meminta maaf. Tidak menunduk.Ruangan itu masih sunyi.Vanka menatap meja di depannya sebentar.Lalu mendongak. Menatap semua orang di ruangan itu bergantian dengan cara yang tenang."Kalau kita bicara soal proporsionalitas." Suaranya keluar dengan nada yang tidak tinggi tapi terdengar di setiap sudut ruangan. "Kita gunakan pembagian keuntungan berbasis kontribusi, bukan sama rata jumlah. Setiap pihak mendapat persentase sesuai dengan apa yang benar-benar mereka masukkan ke dalam proyek, baik investasi, distribusi, maupun kapasitas pasar."Ia membuka satu halaman di laptopnya. Memutar layar ke arah meja."Model ini sudah saya hitung dengan data dari semua pihak yang hadir hari ini termasuk pembaruan yang Tuan Alexander sampaikan tadi. Hasilnya lebih adil dari draf awal karena berbasis realita bukan asumsi."He
Orang tua yang terakhir pergi adalah Pak Nadi.Bukan karena ia yang paling lama. Tapi karena saat semua orang sudah berdiri dan mengambil tas dan berpamitan satu per satu, Pak Nadi masih duduk sebentar dengan cangkir kopinya yang sudah kosong. Menatap ke meja. Ke piring-piring yang sudah
Kedai kopi itu buka dari jam tujuh pagi. Mama Sohe yang memilih tempat ini dengan alasan yang tidak ia jelaskan ke siapa pun. Kedai kecil di jalan yang tidak terlalu ramai, dengan sudut yang tenang dan jendela besar yang menghadap ke taman kecil di seberang jalan. Bukan yang mewah.
Tol Cipularang jam dua pagi terasa seperti dunia lain.Tidak ada kemacetan. Tidak ada klakson. Hanya garis putih di aspal yang terus muncul dari kegelapan di depan lampu mobil dan hilang lagi di belakang, berulang-ulang, seperti metronom yang tidak punya tujuan selain terus bergerak.
Jalanan Bandung malam itu sudah mulai menipis.Warung-warung di pinggir jalan tutup satu per satu. Lampu toko yang tadi ramai sekarang tinggal beberapa titik. Minimarket di sudut perempatan masih menyala dengan cahaya putih yang terlalu terang untuk jam sesunyi ini.Motor itu me







