Share

72| Gengsi Dan Ego

Author: Lefkilavanta
last update publish date: 2026-09-29 11:49:07

"Jika kamu benar-benar percaya bahwasanya dia berusaha merebutku dari sisimu..." bisik Darian, suaranya mengalun sangat berat dan dalam, "kenapa kamu harus menggunakan cara sejahat ini untuk menghancurkan hidupnya?"

Selena bungkam, bibirnya bergetar kaku tanpa kata.

Darian menunjuk layar ponsel yang mati di atas meja. "Kamu membuatnya dipermalukan, dihina, dan diburu bagai binatang!"

Darian mencondongkan tubuhnya lebih rendah, membisikkan kalimat ancaman yang mengunci aliran darah Selena: "Seka
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kembalinya Janda Wiratama   72| Gengsi Dan Ego

    "Jika kamu benar-benar percaya bahwasanya dia berusaha merebutku dari sisimu..." bisik Darian, suaranya mengalun sangat berat dan dalam, "kenapa kamu harus menggunakan cara sejahat ini untuk menghancurkan hidupnya?"Selena bungkam, bibirnya bergetar kaku tanpa kata.Darian menunjuk layar ponsel yang mati di atas meja. "Kamu membuatnya dipermalukan, dihina, dan diburu bagai binatang!"Darian mencondongkan tubuhnya lebih rendah, membisikkan kalimat ancaman yang mengunci aliran darah Selena: "Sekali lagi ... sekali lagi saja kamu menyentuh atau mengusik satu helai rambut Luna ... aku sendiri yang akan memastikan kamu menyesali hari di mana kamu dilahirkan."Selena menatap suaminya dengan mata terbelalak horor, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Kamu ... kamu mengancam istrimu sendiri demi gadis SMA murahan itu?"Darian menatapnya lurus, dingin tanpa penyesalan. "Aku tidak sedang mengancam. Aku sedang memperingatkan istriku."“Dan, ya, namanya Luna Asteria.”Tanpa menungg

  • Kembalinya Janda Wiratama   71| Peringatan Dan Kehangatan Yang Samar

    Ujung-ujung jemari Darian gemetar kaku di atas kemudi kulit hitamnya. Di dalam keheningan kabin mobil yang pengap oleh napasnya yang berat, layar ponselnya memancarkan pendar cahaya kebiruan yang menusuk mata.Di sana, sebuah rekaman amatir dari kafe berputar tanpa jeda. Ia menyaksikan bagaimana Selena menyiramkan cangkir kopi dingin tepat ke paras halus Luna. Melihat jemari istrinya sendiri meraup rambut Luna yang basah, menjambak dan mendorongnya hingga tubuh ramping gadis itu terhempas membentur sudut kursi kayu yang keras. Suara jeritan Selena melengking menembus pengeras suara ponsel. “Dia mencuri suamiku!”Darian menonton tanpa berkedip. Manik matanya menyipit bahaya, sementara rahangnya mengeras rapat hingga urat-urat di sepanjang lehernya menegang menembus kulit.Belum sempat amarahnya menyurut, rekaman kedua secara otomatis terputar di layar. Video lain yang diambil secara sembunyi-sembunyi dari balik dinding beton gedung belakang sekolah. Dua orang siswi menyeret paksa Lun

  • Kembalinya Janda Wiratama   70| Melawan Pembuli

    Meja belajarnya telah hancur tak berbentuk. Permukaan kayu meja itu dipenuhi coretan spidol beracun yang sama.Tak hanya itu, sisa makanan busuk dan siraman cairan minuman manis yang lengket disiramkan membanjiri permukaannya, menetes lambat menimpa lantai. Kursi belajarnya telah diseret dan ditarik jauh ke sudut belakang.Di samping puing-puing mejanya, Arumia berdiri anggun bersama gengnya. Cewek populer itu menyilangkan kedua tangannya di dada, menyunggingkan senyuman iblis yang menawan.Luna menatap mejanya yang kotor, lalu mengalihkan pandangannya tepat ke manik mata Arumia. "Kamu yang melakukan ini?"Arumia mengulas senyum tipis, melangkah satu ayunan mendekat. "Kenapa? Kamu keberatan, Luna?""Hapus," tuntut Luna

  • Kembalinya Janda Wiratama   69| Mirror

    Sinar matahari pagi menembus celah-celah dedaunan di sepanjang jalan menuju sekolah, namun tak mampu menghangatkan tubuh Luna yang bergidik dingin. Seragam abu-abunya terasa makin kaku, dan lebam memar di sudut bibirnya masih menorehkan perih. Namun, desakan teror tak kasatmata yang semalam merayap lewat dering telepon tak bernama jauh lebih menakutkan daripada sekadar rasa sakit fisik.Begitu langkah kakinya menapak melewati gerbang besi sekolah, atmosfer di sekitarnya mendadak berubah drastis. Keheningan yang janggal merayap, digantikan oleh bisik-bisik beracun yang terbang di udara.Beberapa siswa menoleh terang-terangan. Siswi-siswi berkerumun di lorong, mata mereka berbinar liar sembari saling menyodorkan layar ponsel yang menyala terang."Lihat, itu dia orangnya ....""Gadis yang kemarin bikin istri orang ngamuk dan ngamuk di kafe?""Katanya dia cewek murahan, sering datang ke rumah pria beristri itu malam-malam.""Pelakor ternyata masih berseragam sekolah. Menjijikkan."Luna m

  • Kembalinya Janda Wiratama   68| Siapa dia?

    Di dalam ruangan manajer yang sempit dan beraroma kertas arsip, Luna berdiri kaku di depan meja kayu.“Dia sudah dua kali datang ke tempat ini hanya untuk mengomel padamu,” kata pria botak itu menatap Luna dengan letih.Dia menarik napas, lalu mengembuskannya kasar. Seolah Luna beban berat baginya. “Kemarin,” ucapnya pelan namun sarat akan tuduhan selanjutnya. “Aku masih memaklumi, mungkin salah paham.”"Pak, saya tidak pernah melakukan apa pun yang dituduhkan oleh wanita itu," ucap Luna pelan, mempertahankan kejujurannya.Manajer itu menatap Luna dengan pandangan serba salah dan letih. "Saya percaya kamu tidak punya niat buruk, Luna.”“Kamu pekerja yang rajin. Tapi, wanit

  • Kembalinya Janda Wiratama   67| Panggung Komedi

    “Aku yakin kamu … Yalinda. Itu kesimpulan yang aku pikirkan setelah ribuan kali merenung.”Kalimat itu menggema di kepala Luna, langkahnya seperti berjalan dia atas kerikil batu yang tajam dengan bertelanjang kaki. Meskipun begitu dia harus tetap melangkah ke kafe tempatnya bekerja paruh waktu. Ia menolak menyerahkan kenyataannya pada paranoid.Di balik meja baristanya, Luna meracik minuman dengan ketelitian presisi–sudah prosesional, begitu kiranya. Ia menyapu meja-meja kayu, melayani pelanggan, dan membawa nampan berisi cangkir-cangkir keramik yang beradu halus. Aroma biji kopi yang dipanggang dan hembusan uap manis berpadu dengan melodi piano yang mengalun pelan dari pengeras suara ceiling. Kafe sedang berada di puncak kesibukan sore; gelak tawa pengunjung, gesekan kursi, dan denting sendok besi memenuhi seluruh sudut ruangan.Luna mengangkat sebuah nampan kayu berisi secangkir iced coffee latte yang meliuk oleh lelehan es batu, berniat membawanya ke meja nomor empat di dekat jen

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status