Home / Fantasi / Kembalinya Janda Wiratama / 84| Pasar Malam (2)

Share

84| Pasar Malam (2)

Author: Lefkilavanta
last update publish date: 2026-10-17 20:56:26

"Apa bedanya? Kamu bayar uangnya, lalu ambil barangnya."

"Itu namanya belanja, bukan menang."

Darian menghela napas.

Luna menyerahkan sisa sosisnya pada Darian, lalu membayar beberapa keping koin kepada penjaga stan untuk mengambil gelang-gelang plastik. "Perhatikan. Saya akan tunjukkan cara bermain yang benar."

Lemparan pertama: meleset jauh. Lemparan kedua: membentur pinggir botol. Lemparan ketiga: jatuh menggelinding di tanah.

Luna mengerutkan hidungnya sebal.

Darian menahan tawa. "Kat
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kembalinya Janda Wiratama   84| Pasar Malam (2)

    "Apa bedanya? Kamu bayar uangnya, lalu ambil barangnya." "Itu namanya belanja, bukan menang." Darian menghela napas. Luna menyerahkan sisa sosisnya pada Darian, lalu membayar beberapa keping koin kepada penjaga stan untuk mengambil gelang-gelang plastik. "Perhatikan. Saya akan tunjukkan cara bermain yang benar." Lemparan pertama: meleset jauh. Lemparan kedua: membentur pinggir botol. Lemparan ketiga: jatuh menggelinding di tanah. Luna mengerutkan hidungnya sebal. Darian menahan tawa. "Katanya mau menunjukkan cara bermain yang benar?" Luna menatapnya tajam. "Diam." Darian tertawa kecil—sebuah tawa renyah tanpa topeng direktur yang jarang sekali didengar siapa pun. Luna sempat tertegun mendengarnya. Luna menarik napas, membidik sekali lagi. Kali ini, gelang plastiknya meluncur mulus dan melingkar sempurna di leher botol sasaran. "Berhasil!" serunya girang, mengangkat tangan ke udara sebelum menatap Darian dengan senyuman kemenangan. Darian menoleh pada penjaga stan. "Ambilkan

  • Kembalinya Janda Wiratama   81| Pasar Malam

    Pukul enam sore, Luna melangkah keluar dari lobi Wiratech dengan bahu yang terasa kaku dan punggung yang lelah. Sepanjang hari, jemarinya disibukkan oleh tumpukan berkas dan jadwal rapat yang disodorkan Darian, sementara kepalanya berputar hebat memikirkan rahasia kelam di balik mansion lama ayahnya.Begitu ia mencapai pelataran depan, langkah kakinya serta-merta terhenti.Sebuah sedan hitam mewah terparkir persis di dekat pintu keluar. Darian berdiri di samping kemudi, satu tangannya terselip santai di dalam saku celana, sementara jemari tangan lainnya menggenggam ponsel yang baru saja ia padamkan.Luna mengerutkan dahi, mendekat dengan waspada. "Pak Darian?"Pria itu mengangkat wajah, menatap lurus ke arahnya. "Akhirnya kamu keluar juga.""Kamu ... belum pulang?""Aku sedang menunggumu."Luna terdiam sesaat. Menunggunya? Untuk apa?Darian membuka pintu penumpang depan. "Kita makan malam bersama."Luna langsung menggeleng tegas. "Maaf, aku ada urusan lain.""Urusan apa?""Urusan pri

  • Kembalinya Janda Wiratama   82| Mata Pisau

    Ia mencatat semuanya menggunakan pulpen hitam dengan guratan tangan yang rapi, memberikan garis bawah kecil pada agenda yang membutuhkan lampiran dokumen pendukung.Darian yang kembali duduk di balik meja kerjanya mengamati gadis itu dari kejauhan. Awalnya, ia hanya ingin memastikan sekretaris baru ini tidak memicu masalah. Namun, beberapa menit berselang, perhatiannya justru terpaku pada kebiasaan kecil Luna.Setiap kali pikiran gadis itu berproses memecahkan masalah, jemarinya mengetukkan ujung pulpen dua kali ke atas permukaan meja.Ketuk, ketuk. Berhenti seketika. Lalu ketuk, ketuk lagi.Darian membeku.Yalinda memiliki kebiasaan identik itu. Dulu, ketika malam masih muda dan gadis itu mengerjakan tugas kuliahnya di meja makan rumah mereka, Yalinda akan mengetukkan pulpennya dua kali setiap kali menemui rumus yang rumit. Jika Darian mencoba mengganggunya saat itu, Yalinda akan mendongak galak dan berkata, "Tunggu sebentar. Aku sedang berpikir."Darian menatap Luna lebih tajam. Ti

  • Kembalinya Janda Wiratama   81| Meja Balas Dendam

    Pintu lift berdenging halus ketika terbuka, mempersembahkan koridor lantai teratas Wiratech Group yang diselimuti kemewahan dingin. Luna melangkah keluar dengan setelan kerja sederhana berwarna monokrom, rambut pendeknya dipangkas rapi membingkai tegas garis wajahnya, sementara sebuah map hitam legam tergenggam erat di tangan kanannya. Sepasang sepatu hak rendah mengetuk lantai marmer mengkilap dengan ritme teratur yang memantulkan ketenangan mutlak.Beberapa karyawan yang berpapasan menolehkan kepala. Sebagian berbisik-bisik di balik punggung, sementara yang lain terang-terangan memperhatikan transformasi drastis pada penampilan Luna. Namun, gadis itu bergeming. Tak ada sisa kerapuhan di matanya. Ia telah kehilangan rumah, kehilangan satu-satunya tempat bersandar di dunia, dan baru saja kehilangan sang nenek tercinta. Ia tidak lagi menyisakan apa pun untuk dicemaskan.Kini, jiwanya hanya dipenuhi oleh satu poros tunggal—menghancurkan orang-orang yang telah merenggut segalanya. Te

  • Kembalinya Janda Wiratama   80| Peluru

    Di ambang pintu, Selena berdiri mematung. Tatapan matanya yang tajam menelusuri wajah Luna, berhenti pada potongan rambut pendeknya yang tajam, lalu turun pada map berkas di dekapan gadis itu.Bukan pertengkaran kasar dengan suara melengking yang pecah, melainkan sebuah intimidasi senyap—perang psikologis yang udaranya mendadak dipenuhi bisa beracun.Selena melangkah satu pijakan maju, memangkas jarak. Dagu mewahnya terangkat anggun, namun ada guratan amarah terselubung di celah bibirnya. "Kamu masih punya nyali datang ke kantor suamiku?"Luna menyunggingkan garis bibir tipis—sebuah seringai dingin tanpa cela. "Sayang sekali. Mulai sekarang aku akan jadi jauh lebih sering datang ke sini."Alis Selena menukik tajam. Manik matanya mengunci map tebal di tangan L

  • Kembalinya Janda Wiratama   79| Medan Perang

    Wiratech Group berdiri megah merobek langit pagi, memantulkan silau matahari pada dinding-dinding kaca tebalnya yang dingin. Langkah kaki bersepatu tumit rendah itu bergema mantap di atas lantai marmer yang mengkilap. Rambut pendek barunya—pangkasan tajam yang membingkai rahang tegasnya—bergerak halus mengiringi setiap pijakan. Luna menghentikan langkah tepat di depan meja resepsionis bergaya minimalis.Seorang petugas wanita berseragam rapi menengadah, mengukir senyum formal yang dipaksakan. "Selamat pagi, Nona. Ada yang bisa dibantu? Ada janji dengan siapa?"Luna menatap mata wanita itu tanpa kedipan, menyunggingkan garis bibir yang teramat tipis. "Darian Wiratama."Saat nama itu meluncur dari celah bibirnya, sebuah desiran dingin yang menusuk mendadak merayap naik dari ujung kakinya, merayapi tulang belakang hingga menjangkau dadanya. “Aku mendapat undangan khusus,” ucap Luna meletakkan kartu nama dia atas meja marmer. “Undangan pekerjaan di sini.”Rasa sesak yang membakar terin

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status