LOGIN"Tidak katamu?" Arya sedikit terkejut dan merasa bahwa sepertinya ada sesuatu yang tidak sesuai dengan dugaan awalnya. "Sebutkan, apa yang sebenarnya terjadi?" Dengan emosi Arya yang sedikit lebih tenang, tekanan yang menekan tubuh Raka sedikit lebih ringan, dan akhirnya ia bisa sedikit menghela napas lega. "Setelah itu..." Raka tidak berani lagi menyinggung tentang kedua orang tua Arya, dan langsung melewatinya begitu saja. "Lana yang mengetahui kejadian itu akhirnya sedikit menurunkan egonya, dan bahkan rela meninggalkan putrinya setelah lahir dengan satu syarat agar keluarga tidak lagi menargetkan orang lain lagi. Di saat yang sama, dia juga memberikan syarat lima tahun sebelum akhirnya benar-benar bisa mengikuti semua keputusan yang ayah inginkan." "Lima tahun..." Arya bergumam dengan penuh emosi atas apa yang telah Lana perbuat selama ini. Meskipun wanita itu tidak berhasil mencegah tragedi atas kematian kedua orang tuanya, dia masih rela menyerahkan nasib dan bahka
Grandmaster! Sekalipun Raka bukan seorang seniman beladiri, dia juga bukan orang biasa, dan tentunya pernah mendengar tentang ahli beladiri yang tidak masuk akal. Sekalipun dia belum pernah memakan seekor babi, dia pasti pernah melihatnya berlari, bukan? Dengan identitas yang Raka miliki, dia tahu bahwa hanya seseorang Grandmaster yang bisa memanipulasi energi internalnya untuk keluar tubuh. Entah untuk menyerang atau bertahan. Sekarang, melihat Arya, pria yang selama ini tidak pernah dia hiraukan selain beberapa berita baru-baru ini ternyata adalah seorang Ahli Grandmaster, bagaimana mungkin Raka tidak terkejut? Memikirkan perjalanannya kali ini juga untuk menemui seorang Grandmaster, dan berharap bisa berhubungan dengan baik dengannya dan menjadi pelindung bagi keluarganya, otak Raka tiba-tiba menjadi kosong. Terlebih lagi saat mengetahui jika Grandmaster pertama yang ia temui dan lihat adalah Arya itu sendiri! Memikirkan semua hal yang terjadi di masa lalu, wajahnya j
Arya yang masih mengajari putrinya mungkin tidak akan menyadari bahwa masalah yang Thalya hadapi sebenarnya menyangkut dirinya. Jika dia tahu, dia mungkin akan langsung marah. Tapi dia juga tidak bisa disalahkan, karena dia tidak terlalu mengenal Thalya. Pertemuan mereka juga hanya sekali, dan itupun tentang pembelian tulang. Jadi bukan hal yang aneh jika Arya berpikir wanita ini masih mengharapkan tulang miliknya. Bagaimanapun, dia tidak berniat untuk menjualnya, dan kebersamaannya dengan Kiara jauh lebih baik daripada siapapun. Malam harinya. Setelah menghabiskan waktu dengan putrinya seharian penuh, Arya yang mendapat kabar tentang keberadaan Raka Wijaya dari keluarga Hale segera memutuskan untuk melakukan gerakan. Mengikuti petunjuk yang Robert berikan, Arya tiba di sebuah villa pribadi di pinggiran pantai pada jam 10 malam. Menyaksikan villa ini dari dalam kegelapan malam, Arya menemukan jika seluruh hunian tersebut dijaga ketat oleh puluhan orang bersenjata, serta
Tak ada pilihan, Arya mulai mengarang kebohongan bahwa hilangnya dirinya adalah setelah kecelakaan mendaki gunung lima tahun lalu, ia di selamatkan oleh penduduk setempat, dan mengalami hilang ingatan. Baru beberapa bulan ini akhirnya ia mengingat kembali siapa dirinya, dan memutuskan untuk kembali. Lalu tiba-tiba menemukan jika dia telah memiliki seorang putri yang berusia lima tahun. Sedangkan untuk Lana, Arya samar-samar dan tidak jelas hanya mengatakan jika wanita itu memiliki hal-hal penting yang harus di selesaikan, dan tidak bisa merawat Kiara. Dia juga tidak menjelaskan kenapa dan kemana Lana pergi. Saat ini, dirinya sedang mencoba untuk mencarinya. Tentu saja, saat Gavin mendengar cerita itu, dia sama sekali tidak mempercayai kebohongan tak masuk akal semacam itu. Tapi sebagai orang yang paling mengenal Arya, Gavin tahu bahwa temannya ini jarang berbohong jika bukan karena sesuatu yang serius. Dan karena Arya tidak mengatakan yang sejujurnya, Gavin tahu bahwa Arya masih m
Pagi hari keesokan harinya. Arya yang telah memberikan alamat hotelnya kepada Gavin sedikit terkejut saat melihatnya datang pagi-pagi sekali. Intinya bukan pada waktu ia datang, melainkan penampilannya yang lesu dengan kelompok mata yang hitam, tampak tidak tidur semalaman. Bahkan dari balik kacamatanya, Arya bisa melihat matanya yang merah dan berair. "Ada denganmu?""Ahaha, memang apa yang terjadi padaku? Bukankah aku hanya datang ke tempatmu?" Gavin tampak sama sekali tidak peduli dengan tatapan aneh Arya, dan begitu saja masuk ke dalam. Menyaksikan hotel tempat ia tinggal, diam-diam dia mengangguk dan tampak puas, apalagi saat ia menyaksikan beberapa botol minuman dan cemilan yang telah Arya persiapan di ruang tamu. "Aku tidak menyangka bahwa orang hemat dan pelit sepertimu di masa lalu akan bisa menikmati hidup dengan baik di masa sekarang. Tampaknya lima tahun ini kau tidak hanya menghilang tiba-tiba, tapi juga telah melakukannya banyak hal. Sungguh membuatku kagum." Arya
Lana Wijaya. Meskipun ingatan Arya sedikit kabur, wanita itu memang wanita dengan temperamen dan sosok yang luar biasa dalam ingatannya. Bahkan juga bertahan selama beberapa ribu tahun di dunia lain. Kini, setelah ia kembali tapi belum sempat melihat atau menemukan keberadaannya, Arya tidak tahu, seperti apa dia sekarang? Apakah wanita itu masih baik-baik saja? Ataukah sedang dalam keadaan yang membutuhkan genting dan sangat membutuhkan bantuan? Arya tidak tahu, dia hanya tahu bahwa perjalanannya kali ini adalah untuk mencari keberadaannya. Pertanyaan karyawan itu juga sekali lagi mengingatkan dirinya untuk segera mencari keberadaan Lana agar tidak menyesal dikemudian hari. "Tuan, apakah anda baik-baik saja?" Karyawan toko itu tidak bisa untuk tidak bertanya dengan khawatir saat melihat Arya tiba-tiba terdiam cukup lama, dan tampak tidak berada di tempatnya. Pertanyaan itu segera membuat Arya sedikit terkejut dan tersadar sebelum tiba-tiba tersenyum. "Tidak ada apa-apa. Aku ha







