LOGIN"Jangan pura-pura bodoh! Apakah kau tidak sadar bahwa kemunculanmu sekarang membuat Clara sedih?" Diana kembali berkata dengan marah saat melihat ekspresi polos Arya.
"Aku? Apa yang sebenarnya aku lakukan?" Bukannya mengerti, Arya malah menjadi lebih bingung dengan kemarahan yang Diana tunjukkan. Apa maksudnya kemunculan dia disini membuat Clara sedih? Arya tidak bisa menahan diri untuk tidak menoleh ke arah Clara yang kini tampak murung dan men"Calvin Harris!" Clara yang sejak awal tampak pasif tiba-tiba berteriak marah pada Calvin, "Bukankah aku sudah mengatakan jika kita tidak lagi cocok? Apa maksudmu dengan mengatakan pria yang beristri---" "Tidak mungkin!" Diana yang mendengar penjelasan Calvin tiba-tiba berkata dengan terkejut dan mengganggu perkataan Clara. Dengan ekspresi terkejut dan ketidakpercayaan di wajahnya, ia juga buru-buru bertanya kepada Clara, "Apakah kau memutuskan untuk berpisah dengan Calvin? Apa yang terjadi disini? Bukankah aku sudah menjelaskan bahwa Calvin adalah pria yang tepat untukmu, tapi apa yang kau lakukan? Kau menyia-nyiakan orang baik, kaya dan mapan sepertinya setelah bertemu kembali dengan Arya." "Bisakah kau membayangkan itu! Dia sudah memiliki istri dan anak! Sebelum semuanya terlambat, segera meminta maaf kepada Calvin. Jangan sampai kau menyesali semuanya nanti." "Ana... Kau...?" Mendengar itu semua, Clara tiba-tiba terdiam dan menatap sahabatnya itu untuk Waka yang lama
"Jangan pura-pura bodoh! Apakah kau tidak sadar bahwa kemunculanmu sekarang membuat Clara sedih?" Diana kembali berkata dengan marah saat melihat ekspresi polos Arya. "Aku? Apa yang sebenarnya aku lakukan?" Bukannya mengerti, Arya malah menjadi lebih bingung dengan kemarahan yang Diana tunjukkan. Apa maksudnya kemunculan dia disini membuat Clara sedih? Arya tidak bisa menahan diri untuk tidak menoleh ke arah Clara yang kini tampak murung dan menundukkan kepalanya, entah karena sedih atau malu dengan beberapa kerutan di keningnya. "Sialan!" Melihat Arya masih tidak mengetahui kesalahannya, Diana mulai berteriak lebih keras, "Apakah kau benar-benar tidak tahu bahwa Clara masih menyukaimu dan berharap bisa bersamamu! Tapi apa yang kau lakukan? Kau sudah menolaknya sejak awal, dan bahkan menghilang tanpa kabar selama lima tahun! Sama sekali tidak pernah memberikan penjelasan atau kabar, dan tiba-tiba muncul
Thalya benar-benar tidak menyangka bahwa dalam pikiran terliarnya, semuanya akan berkembang sampai seabsurd ini! Bukan hanya gagal dalam misinya untuk mendapatkan barang-barang milik Arya, tapi juga benar-benar gagal sampai-sampai dirinya akan dibeli oleh pihak lain! Kejadian semacam ini, Thalya bahkan tidak pernah sekalipun berani memimpikannya di masa lalu. Akan tetapi, apa yang bisa ia lakukan? Dengan respon yang Arya tunjukkan pada tulang naga itu, dapat dipastikan bahwa tujuan utamanya sudah benar-benar gagal. Dan kegagalan ini pasti akan sangat mempengaruhi kedudukannya dalam keluarga. Di tambah dengan tindakan Arya yang menjadikan dirinya sebagai perantara keluarga Wijaya, semuanya menjadi benar-benar kacau. Tiga masalah ini, meskipun Thalya cerdas dan memiliki beberapa cara serta koneksi di berbagai negara, dapatkah ia lolos begitu saja? "Aku... Aku.... Benar-benar--"
Wajah Thalya seketika menjadi pucat, dan ketakutan serta kepanikan mulai menguasai hatinya. Setiap kata dan kalimat yang Arya ucapkan ibaratkan sambaran petir yang mengacaukan pikirannya. Dan kemarahan Grandmaster sepertinya adalah sesuatu yang sama sekali tidak bisa dia hadapi. Membuatnya ketakutan dan berkeringat dingin. Mengingat bantuan dan pertolongan yang selama ini Arya berikan pada dirinya, Thalya akhirnya menyadari bahwa dirinya memang sudah terlalu jauh dalam menghadapi masalah ini. Bukan hanya tidak pernah mengucapkan terimakasih, tapi dia juga selalu mencari-cari manfaat dari pihak lain. Mungkin karena selama mereka bertemu Thalya tidak pernah melihat Arya benar-benar marah pada dirinya, dia berpikir bahwa pria ini mungkin jenis pria yang akan lebih memperhatikan kecantikan daripada apapun. Tapi tampaknya dia salah, salah besar. Pria ini sama sekali tidak perduli, entah kau cantik atau tampan, jika kau membu
"Emh...." Entah Thalya atau Arya seketika terdiam saat mendengar kata-kata gadis kecil itu. Terkhusus untuk Thalya, dia juga segera menundukkan kepalanya, tidak berani menoleh atau sekedar menjelaskannya. Wanita yang tampak malu dan bersalah itu diam-diam hanya menundukkan kepalanya, memakan sarapan di depannya. Tentu saja, Arya yang melihat semua itu mulai menatapnya dengan marah dan jijik. Sungguh wanita yang sembrono! Mengucapkan kata-kata jorok tanpa bisa menahan diri di depan anak-anak, apakah wanita itu tidak tahu bahwa setiap tindakan dan ucapannya akan ditiru oleh anak-anak? Perlu diketahui bahwa setiap tindakan dan ucapan anak-anak selalu mencerminkan tindakan orang tuanya. Jika dari kecil anak-anak mendengar hal-hal yang tidak sepantasnya, bukan hal yang aneh jika saat dewasa ia akan melakukan hal yang sama. Bahkan bukan hal yang mustahil jika saat masih kanak-kanak akan melakukan setiap tindakan orang tuanya. Arya yang kini mencoba mendidik putrinya dengan baik
"Aahhh!!!" Pagi-pagi sekali di hotel, Thalya yang kini terbangun di sebuah sofa tiba-tiba berteriak dan terkejut dengan tempat asing yang ia lihat saat baru bangun. "Di mana ini?" Dengan tatapan penuh kebingungan, wanita itu mulai melihat sekelilingnya selama beberapa waktu, sebelum akhirnya mengingat sesuatu, dan buru-buru memeriksa tubuhnya. "Ini?" Menyaksikannya tubuhnya masih baik-baik saja, dia menjadi semakin kebingungan. "Apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah kemarin aku ingin mencari bantuan Raka Wijaya, tapi tiba-tiba aku pingsang dan terbangun dengan bajingan itu muncul di hadapanku. Lalu ada juga perasaan..." Thalya tiba-tiba berhenti dengan wajah yang sedikit memerah. Tapi itu hanya sesaat sebelum akhirnya bernapas lega saat menyadari dirinya masih memakai pakaian yang sama seperti sebelumnya, bahkan juga tidak kehilangan apapun. "Tempat ini... Apakah ini tempat bajingan itu menginap?" Sekali lagi, Thalya mulai melihat seluruh ruang tamu itu, dan tiba-tib







