Share

perjalanan 1

Author: Santi Yukino
last update publish date: 2026-09-14 12:48:54

“Kenapa menatapku?” tanya Nathan.

“Aku bisa saja ikut, asal dia juga ikut.” Ellen mengarahkan jari telunjuknya pada Nathan.

“Aku?” tanya Nathan sambil menunjuk ke arah wajahnya sendiri. “Apa hubungannya kau ikut dengan aku?” tanyanya lagi. Ellen tidak memperdulikan pertanyaan Nathan, seolah itu semua tidak penting, ia justru menatap Asterion lekat-lekat. Mencoba menerka reaksi yang akan ia berikan.

“Hey, kenapa kau mengabaikanku?” tanya Nathan lagi.

“Apa Anda yakin Nona?” kali ini kedua pengawa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kembalinya Sang Pembunuh Bayaran   perjalanan 1

    “Kenapa menatapku?” tanya Nathan.“Aku bisa saja ikut, asal dia juga ikut.” Ellen mengarahkan jari telunjuknya pada Nathan.“Aku?” tanya Nathan sambil menunjuk ke arah wajahnya sendiri. “Apa hubungannya kau ikut dengan aku?” tanyanya lagi. Ellen tidak memperdulikan pertanyaan Nathan, seolah itu semua tidak penting, ia justru menatap Asterion lekat-lekat. Mencoba menerka reaksi yang akan ia berikan.“Hey, kenapa kau mengabaikanku?” tanya Nathan lagi.“Apa Anda yakin Nona?” kali ini kedua pengawal yang tadinya diam ikut bicara.Ellen melirik ke arah mereka, dan menberi isyarat dengan matanya. Sementara Nathan yang melihat itu merasa sangat kesal. Victor hanya bisa tersenyum tipis, ‘Tuan Mudanya memang tidak pernah menang melawan perempuan, terutama Nona Cloe’.“Apa rencanamu?” kali ini Asterion yang bertanya langsung pada Nathan.“Yah … sebenarnya aku juga tidak tau,” jawab Nathan sekenanya. Asterion memang menawarinya untuk ikut bergabung sebelumnya, dan sebagai imbalan, ia mendapatkan

  • Kembalinya Sang Pembunuh Bayaran   Kompromi

    Saat sedang berduka, Asterion kembali sambil membawa orang asing bersamanya. Ia melemparkan orang yang sudah babak belur itu di lantai begitu saja, tanpa peduli dengan suasana yang ada di sana. “Brakkkkk ….” “Astaga!” teriak Nathan. “Kau membuatku kaget,” lanjutnya lagi. Wajahnya masih dipenuhi airmata, tidak jauh berbeda dengan Victor yang juga ada di sebelahnya. Asterion menatapnya dengan bingung, lalu pandangannya beralih ke arah tiga orang yang masih terlihat pingsan itu. “Kenapa kau tidak membuka matamu saja, bukankah kau sudah bangun dari tadi?” tanya Asterion dingin. “Ternyata kau cukup cerdas juga,” gumam perempuan Elf yang tadinya pingsan. Matanya terlihat begitu sinis, sementara Asterion balas memelototinya. Gadis Elf itu sedikit takut, dan mengubah Ekspresi wajahnya dengan cepat. “Aku hanya merasa tidak pas saja waktunya jika langsung bangun.” Gadis Elf itu berusaha menjelaskan lagi kalimatnya, wajahnya sedikit memerah karena malu. “Permisi, apa kalian tida

  • Kembalinya Sang Pembunuh Bayaran   Tiga Orang Elf

    Asterion hanya diam di tempatnya, ia tidak menyangka akan bertemu dengan wanita itu secepat ini, padahal ia belum memikirkan cara bagaimana bisa menemukan Wanita dengan julukan "silent death" itu. "Lama tidak bertemu," ucap Asterion tanpa sadar.Wanita itu menatap Asterion waspada. Alisnya mengernyit, ia baru saja bertemu dengan pria itu tapi ia sepertinya sudah lama mengenalnya. Nathan memandang mereka secara bergantian, ‘apa ia satu satunya orang di sana yang tidak tau apa apa’ pikirnya saat itu.“Siapa kau?” tanya wanita itu waspada. Ia mengarahkan panahnya pada Asterion disusul dengan dua orang lainnya yang juga mengarahkan panahnya pada Nathan. Membuat pria itu reflek mengangkat kedua tangannya.“Ada apa ini?” tanya Nathan bingung. Hanya dia di sana yang merasa sedikit terancam, ia memang terpesona oleh paras wanita elf yang cantik itu, tapi dia juga bisa merasakan aura energi spiritualnya sedikit berada di bawah Asterion. Ia berharap mereka tidak bermusuhan, karena jelas Ia aka

  • Kembalinya Sang Pembunuh Bayaran   Luna Menghilang

    “Apa katamu?”Victor melotot ke arah Gustave, meski pria itu lebih tua, namun Victor seolah akan kehilangan semua kewarasannya. Ia tau Tuan Muda yang ia layani akan segera menjadi rakyat biasa, tapi kenapa sekarang? Dimana Nona Cloe? Dia bahkan tidak ada di kediaman. Apa dekrit Kaisar sudah turun? Bukankah mereka masih memiliki waktu satu minggu untuk bersiap? Kepala Victor penuh dengan pertanyaan pertanyaan yang tak kunjung ia temukan jawabannya.“Ini adalah perintah terakhir Tuan Count.” Gustave menarik nafas panjang sebelum akhirnya menghembuskannya dengan sangat berat. “Tuan Count sudah menghapus nama Tuan Muda Nathan dari daftar keluarga, sementara Nona Cloe akan segera menjadi pengikut Gereja Suci sebagai Holly Knight. Nama Edinburgh akan ditangguhkan, dan akan diberikan pada keturunan keluarga lain jika ada, dengan ini Kaisar tidak akan pernah mengusik keluarga ini lagi. Ia juga tidak akan bisa menyentuh Tuan Muda.”Gustave berbicara panjang lebar. Mencoba memberi penjelasan y

  • Kembalinya Sang Pembunuh Bayaran   Duka

    “Apa semua itu benar?” tanya seorang pria paruh baya. Pria itu duduk diatas kursi ukiran yang sangat mewah, di depannya terlihat banyak dokumen yang bertumpuk. dia adalah Kepala Keluarga Edinburgh sekarang, Edison Duarte Edinburgh. Cloe menatapnya penuh harap. karena kejadian tak terduga yang menimpa keluarganya, sekarang mereka sudah terancam akan pencopotan gelar bangsawan sekaligus penyitaan aset mereka, dan jika Kaisar telah meninggalkan mereka. Maka semuanya masuk akal.“Jika kita meminta bantuan pada Gereja suci, maka kita harus menyerahkan segala harta yang kita miliki untuk disumbangkan.” Edison tampak mimbang nimbang. “Jika kita hanya memberikan sesuatu yang murah, mereka akan mengabaikan kita.” Edison menatap Cloe dengan perasaan gamang.“Ayah aku tidak masalah jika harus tinggal di Gereja untuk kegiatan amal atau menjadi Biara wati sekalipun.” Wajah Cloe tampak tenang. ia seperti sudah siap dengan semua yang akan terjadi. “Tapi bagaimana dengan Nathan?” tanya Cloe agak sed

  • Kembalinya Sang Pembunuh Bayaran   Informasi

    “Maaf mengatakan ini, tapi sepertinya keluargamu akan segera dieksekusi.”“Prang ….!”Nathan menjatuhkan cangkir teh yang ada di tangannya. Matanya melotot ke arah Asterion. Seolah merasa ada yang salah dengan pendengarannya, ia mencoba untuk kembali bertanya.“Apa katamu?” Nathan bangkit dari tempat duduknya, ia berjalan ke arah Asterion dengan wajah tak percaya. Mencengkram kerah Asterion dan mentapnya tajam, “siapa kau sebenarnya?” tanyanya menuntut, nada suaranya berbeda dari sebelumnya. Lebih tajam dan ia agak sedikit meninggikan suaranya.“Aku tidak bisa memberitahumu sekarang, tapi aku bisa membantumu untuk keluar dari masalah itu,” jawab Asterion meyakinkan. Ia tidak ingin melawan. Ia membiarkan Nathan untuk menenangkan diri sejenak. Setelah dirasa cukup tenang Asterion mulai menjelaskan sedikit tentang apa yang ia ketahui, tentu ia menyimpan bagian tentang kebangkitan dan sejenisnya. Nathan mendengarkan dengan seksama, sesekali ia menutup mulutnya karena terkejut. ia tidak mn

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status