Share

109. Phoenix Kegelapan

Author: Murlox
last update Huling Na-update: 2025-10-22 14:36:33

Dari titik pusat hutan, diselimuti oleh kabut hitam pekat yang berputar dan bergolak, udara bergemuruh hebat, seolah langit itu sendiri sedang dirobek.

Sepasang sayap berbulu ungu tua yang mengerikan membentang perlahan, lebarnya mencapai puluhan meter. Sepasang mata merah pekat menyala dingin di balik kabut tebal, memancarkan aura niat membunuh yang kuat.

Dari kabut hitam itu, muncul sosok yang seharusnya anggun, tetapi kini menjelma menjadi teror: seekor burung Phoenix yang berbalut aura hitam keunguan. Energi gelap yang terkorupsi memancar darinya, terasa seperti lubang hitam yang menarik semua kehidupan.

Langit di atas hutan bereaksi terhadap kehadirannya. Awan tebal berpusar gila-gilaan di satu titik, membentuk corong gelap raksasa, dan dari pusaran itu, suara guntur terdengar menggelegar, bukan guntur biasa, melainkan dentuman yang membawa kehancuran.

Sekali lagi, raungan binatang buas raksasa itu menggema, memecah kesunyian alam, membuat udara bergetar hebat dan hawa mengerika
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Sabam Silalahi
Makin seru dan penasaran
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Kembalinya Sang Penguasa Dengan Sistem   150. Bayangan Ancaman

    Kota Linglong di provinsi Guangli bagaikan oase tenang di tengah badai kehancuran. Jauh dari neraka kehancuran, jalan-jalan batu yang rapi masih dipenuhi pedagang keliling dan warga yang beraktivitas seperti biasa. Pohon-pohon willow menjuntai lembut di tepi sungai kecil, angin sepoi membawa aroma bunga liar. Namun ketenangan itu retak sejak fajar menyingsing. Kabar kehancuran ibu kota kekaisaran menyebar lebih cepat dari api melalap jerami.Awalnya, tak seorang pun percaya. "Mustahil Dinasti Yan jatuh begitu saja," Kata para penduduk di kedai teh. Tapi ketika Long Huibong, memperketat penjagaan benteng—prajurit berzirah lengkap berpatroli dua kali lipat, gerbang kota ditutup rapat—kenyataan itu meresap seperti racun. Rumor bergulir liar di restoran pinggir jalan, di mana para pria bersantap mi panas sambil mendengarkan bisik-bisik kerumunan."Ini tak bisa dipercaya," kata seorang pandai besi berotot lebar, meletakkan mangkuknya dengan keras. "Bahkan jika Dinasti Barat menyerang ibu

  • Kembalinya Sang Penguasa Dengan Sistem   149. Pelarian Dalam Kegelapan

    Istana kekaisaran berubah menjadi mimpi buruk yang tak berujung. Langit di atas reruntuhan istana tertutup pusaran awan hitam pekat, pusatnya menganga seperti lubang raksasa tak berujung. Dari celah dimensi itu, monster-monster ganas berhamburan keluar bagai banjir.Mereka merayap ke segala arah, merobek dinding kota, menerkam siapa saja yang masih bernapas. Jeritan warga memenuhi udara, bercampur raungan haus darah monster yang tak pernah putus. Reruntuhan istana kini menjadi sarang iblis, api dan asap hitam menyala di puing-puing, menerangi mayat-mayat berserakan. Benteng ibu kota, benteng pertahanan terkuat Dinasti Yan, telah runtuh. Gerbang timur hancur berkeping-keping, jalan masuk kota dipenuhi darah prajurit yang bertumpuk. Kapten Wei tergeletak di antara mereka, pedangnya patah, dada robek oleh tombak. Para prajurit Dinasti Yan yang tersisa tercerai-berai, tanpa komando jenderal utama, tak ada perintah yang jelas. Sebagian bertarung mati-matian, ada pula yang lari ke gan

  • Kembalinya Sang Penguasa Dengan Sistem   148. Pertarungan IV

    Di istana, Kasim Li merangkak bangkit dari puing dengan susah payah, tapi gelombang kejut baru dari serangan God of Darkness melemparnya lagi seperti boneka rusak. “Tuan... kekuatanku... tak cukup untuk berdiri di samping dewa,” desahnya sendirian, pengkhianatannya gagal total tanpa ada yang peduli.Feng Longwei terhuyung parah, lutut kirinya menyentuh tanah berdebu pertama kali, kesadarannya terkikis cepat—bayangan masa lalu melintas nyata: diremehkan sebagai pangeran sampah sejak kecil, pengkhianatan Feng Jinan yang membuka gerbang neraka ini. Ia menggertak gigi keras hingga berderit. 'Harus bertahan...jika tidak, tamatlah kekaisaran ini.'God of Darkness maju pelan dengan langkah menggetarkan tanah, siap mengakhiri pertarungan. Kelemahan Feng Longwei terlihat jelas sekarang seperti luka terbuka. “Waktumu benar-benar habis, cahaya palsu yang sombong!”Serangan bertubi-tubi tak terkira: badai kegelapan raksasa menghantam seperti tsunami hitam, merobohkan paviliun terakhir dan dindin

  • Kembalinya Sang Penguasa Dengan Sistem   147. Pertarungan III

    Kembali ke pusat istana, pertarungan dua titan memuncak semakin ganas. God of Darkness membuka mulut lebar-lebar, memanggil Abyss Serpent—ular raksasa dari kegelapan murni sepanjang ratusan zhang, sisiknya hitam mengkilap seperti obsidian, mulutnya menganga penuh taring beracun panjang seibu jari manusia dengan napas mampu mengikis apapun. Ular itu meluncur cepat melingkar halaman yang hancur, menggigit Feng Longwei dari samping dengan kecepatan dua kali lipat. Tapi Nameless Emptiness aktif lagi secara insting. Ular raksasa itu membeku di udara tepat sebelum berhasil menerkam, lalu lenyap ke kehampaan seperti ditelan lubang hitam tak kasat mata. Dentuman ketiga datang seperti tsunami dalam jiwa; Feng Longwei muntah darah kental, vena di wajah dan lehernya pecah membentuk pola merah mengerikan, tubuhnya gemetar hebat seperti daun di angin topan.“Masih kuat bertahan, heh semut yang cukup nekat? Kau tak lebih dari serangga yang berani menggigit singa!” ejek God of Darkness dengan n

  • Kembalinya Sang Penguasa Dengan Sistem   146. Pertarungan II

    Di pinggir reruntuhan aula, Kasim Li yang sudah siap berkhianat dengan pedang energi kegelapan di tangan terpental jauh oleh gelombang kejut sisa ledakan. Tubuhnya menghantam puing batu besar, aura gelapnya yang lemah dan palsu tak cukup bertahan dari tekanan dewa sejati. Ia terbatuk darah hitam pekat, mata penuh kebencian tapi tak berdaya sama sekali, tulang kakinya patah.Selir-selir dan pejabat bangsawan yang tersisa berlarian menjauh ke sudut-sudut gelap, tapi banyak yang tersapu puing-puing beterbangan: Selir Xue Yi terjebak di bawah balok kayu roboh, selir Xuan Rong terseret arus debu sambil menjerit.Tak jauh dari sana, di balik pilar setengah roboh, Kaisar Feng Zhuqu terkulai lemah dengan napas tersengal, racun pengkhianatan dari Feng Jinan masih menggerogoti meridian Qi-nya seperti ular berbisa lambat. Jenderal Mo Fuchen, luka parah di bahu kiri dengan darah mengalir deras membasahi baju zirahnya, mendekat dengan susah payah sambil menahan tombaknya. “Yang Mulia! Kita haru

  • Kembalinya Sang Penguasa Dengan Sistem   145. Pertarungan

    Aula utama istana kekaisaran Dinasti Yan, yang semula megah dengan pilar marmer berukir naga emas dan langit-langit bertabur permata, kini tak lebih dari puing-puing berantakan yang mengepulkan asap hitam pekat. Pilar-pilar retak roboh menimpa meja jamuan yang hancur, pecahan kristal dan kain sutra berserakan bercampur darah segar serta potongan tubuh para pejabat yang tak beruntung. Langit-langit runtuh sebagian besar, membiarkan cahaya bulan pucat menyusup melalui celah-celah retak, menerangi debu tebal yang beterbangan seperti kabut kematian. Bau amis darah bercampur aroma energi kegelapan yang pekat dan busuk menusuk hidung, membuat siapa pun yang masih bernapas merasa mual. Di pusat kehancuran itu, Feng Longwei berdiri tegar meski tubuhnya gemetar, auranya yang sunyi dan mencekam—mengembang pelan seperti kehampaan kosong yang menelan segala bentuk eksistensi, cahaya, suara, bahkan konsep ruang itu sendiri. Di hadapannya, God of Darkness yang merasuki tubuh Feng Jinan me

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status