LOGINMedan tempur berubah dalam sekejap tak lama setelah kedatangan sosok Feng Longwei.Moral para prajurit yang tersisa kembali pulih. Menumpas monster-monster yang berdatangan tak lagi menekan pikiran mereka dengan bayangan kematian sia-sia. Setiap ayunan senjata kini terasa lebih ringan, seolah beban keputusasaan yang sejak tadi menggantung di dada mereka perlahan terangkat.Tak hanya itu, sejauh ribuan meter, tanah tiba-tiba berubah menjadi lumpur pijar yang meletup-letup. Cairan panas itu memakan monster yang berdatangan, membuat tubuh mereka mengikis seolah dilalap lava panas hingga tersisa abu hitam yang beterbangan tertiup angin.Kehadiran lain muncul di atas langit, bukan musuh, melainkan sekutu yang datang bersama Feng Longwei.Orang itu tak lain merupakan supreme master berjuluk alkemis gila, Bao Sanpao. Sosoknya melayang di udara dengan jubah compang-camping yang berkibar liar, tangannya menggenggam sebuah kendi tanah liat berisi ramuan yang terus mengeluarkan asap ungu pekat.
Sosok pemuda berambut panjang muncul dari kejauhan.Langkahnya terlihat tenang, bahkan nyaris tanpa suara. Namun setiap kali kakinya menapak, jarak ratusan meter seolah terlipat begitu saja. Kecepatannya melampaui apa yang mampu ditangkap oleh mata biasa.Dalam beberapa tarikan napas, ia telah berdiri di sisi Tian Moran.Jubah hitam yang dikenakannya berkibar perlahan diterpa angin, sementara tatapannya tetap tenang dan dingin. Tidak ada aura yang sengaja dilepaskan, tetapi kehadirannya saja sudah cukup membuat suasana medan perang berubah drastis.Kabut hitam yang sebelumnya memenuhi area itu perlahan bergetar, seakan menolak mendekati sosok tersebut.Tian Moran langsung mengenali siapa yang datang.Meski tubuhnya dipenuhi luka dan hampir kehilangan seluruh tenaga, ia tetap memaksakan berdiri. Dengan bertumpu pada pedang besarnya, ia menarik napas panjang sebelum membungkukkan badan memberi hormat."Tuanku... Anda akhirnya kembali," ucap Tian Moran dengan suara serak.Di balik wajahn
Di barat daya perbatasan Provinsi Guangli, langit tampak menghitam. Asap pekat membubung dari permukaan tanah, menyelimuti dataran luas sejauh mata memandang. Kabut hitam itu membawa aroma kematian yang menusuk hidung, membuat setiap tarikan napas terasa berat dan menyesakkan.Di balik kabut yang terus bergulung, suara raungan monster bercampur jerit kesakitan para prajurit menggema tanpa henti di sepanjang medan pertempuran.Ribuan prajurit Kota Linglong yang sebelumnya dikirim untuk mempertahankan garis perbatasan kini telah kehilangan lebih dari separuh kekuatan mereka. Tubuh-tubuh yang kelelahan masih berusaha bertahan, sementara yang gugur berserakan di antara tanah yang telah berubah merah oleh darah.Gelombang monster seakan tidak pernah habis.Setiap kali satu kelompok berhasil dibantai, kelompok berikutnya langsung muncul dari balik kabut hitam tanpa memberi kesempatan bagi para prajurit untuk bernapas.Tian Moran menggenggam erat pedang besarnya. Jemarinya yang dipenuhi luka
Tak seorang pun menyadari bahwa dunia sedang berada di ambang kehancuran.Bahkan mereka yang menjadi pemicu awal bencana itu sendiri tidak pernah membayangkan bahwa kekacauan akan berkembang sejauh ini hingga lepas dari kendali.Api yang mereka nyalakan berubah menjadi badai yang melahap siapa pun tanpa memandang sekutu ataupun lawan.Kota-kota provinsi yang telah dikuasai pasukan Dinasti Barat pun tidak luput dari ancaman.Monster berkeliaran di luar tembok kota, sementara bayangan hitam yang misterius muncul dari berbagai penjuru, menciptakan kepanikan yang belum pernah terjadi sebelumnya.Carl Lancelote, pangeran muda yang memimpin invasi ke wilayah Dinasti Yan, berdiri dengan wajah muram.Ia sama sekali tidak mengerti mengapa keadaan bisa berubah seperti ini.Dinasti Yan berhasil dipukul mundur, banyak wilayah jatuh ke tangan mereka, dan kemenangan hanya tinggal menunggu waktu.Namun sekarang...Segalanya berubah.Sejumlah sosok misterius muncul tanpa peringatan.Mereka menggunaka
Alis Bao Sanpao mengerut. Ia tak pernah merasakan keberadaan pemuda itu sebelumnya. Namun begitu Feng Longwei muncul, ia langsung sadar bahwa apa yang selama ini ia cari berada pada pemuda tersebut."Bagaimana mungkin? Aku yakin sebelumnya kau hanyalah ahli Core Formation tahap awal. Bagaimana dirimu bisa melaju ke tahap Grandmaster begitu cepat? Selain itu, tubuhmu... ke mana fisik lima elemen itu?"Feng Longwei hanya terkekeh kecil begitu mendengar pria tua tersebut menyebut fisik lima elemen."Huh? Apa yang kau cari hanyalah ilusi. Kau sudah terkena tipu daya klon buatanku," balasnya dengan nada remeh.Bao Sanpao tampak semakin murka. Ia mungkin merasa telah dipermainkan oleh seorang anak muda yang bahkan usianya belum mencapai setengah dari usianya."Dasar kurang ajar! Pantas saja aura dari fisik lima elemen itu tiba-tiba menghilang! Karena sudah berani menipuku, akan kubuat kau membayarnya!"Bao Sanpao meraung penuh amarah. Ia segera membentuk segel tangan sederhana lalu menunjuk
Cahaya keemasan melesat seperti kilat membelah langit, hingga hanya meninggalkan jejak samar di udara sebelum akhirnya menembus bangunan utama di pusat kediaman pemimpin Kota Linglong.Anehnya, tidak ada ledakan ataupun kerusakan yang ditimbulkan. Seolah-olah cahaya tersebut hanyalah bayangan yang melintas sesaat.Penduduk kota yang masih beraktivitas tidak menyadari apa pun. Mereka tetap berjalan, atau mengurus pekerjaan masing-masing tanpa mengetahui bahwa sesuatu yang aneh baru saja terjadi.Namun bagi mereka yang memiliki indra spiritual tajam, kemunculan cahaya itu sama sekali tidak bisa diabaikan.Tetua Mong Chuyun adalah salah satunya.Pria tua itu langsung membuka mata saat merasakan fluktuasi energi yang tidak biasa. Ia meninggalkan kamar penginapannya tanpa ragu dan melompat ke atap bangunan tertinggi di sekitar penginapan.Angin meniup jubahnya perlahan. Tatapan Mong Chuyun tertuju ke arah pusat kota.“Cahaya apa itu barusan?” gumamnya lirih, alisnya berkerut dalam. “Aneh..
Matahari menggantung tepat di puncak langit, menyinari Sekte Pedang Langit dengan terik yang menusuk pandangan. Angin sepoi-sepoi berhembus, membawa aroma dedaunan dan bebatuan yang dipanaskan sinar matahari. Di tengah hiruk-pikuk itu, Feng Longwei melangkah santai menyusuri jalan utama sekte, ke
Mata Feng Longwei menyipit. Ia merasa ada sesuatu yang berbeda dari kitab itu. Energi samar seolah merambat dari balik sampul, meski nyaris tak terdeteksi oleh siapapun.Tangannya terulur, meraih kitab itu dengan hati-hati. Saat ia menyentuhnya, seberkas cahaya tipis mengalir ke telapak tangannya.
Langkah Feng Longwei mantap menuju barat, meninggalkan keramaian. Suasana sekitar Paviliun Selatan masih dipenuhi suara para murid yang berbisik-bisik membicarakan Feng Longwei, tetapi ia memilih tetap diam, memusatkan pikirannya pada tujuan lain.Pandangannya lurus ke depan, melewati jalur berbatu
Perlahan ia mengangkat tangannya, memperlihatkan sebuah pelakat giok putih dengan ukiran satu pedang langit yang berkilau lembut. “Seharusnya benda ini cukup membuktikan kelayakanku untuk masuk ke dalam.”Pelakat itu berkilau terkena sinar matahari, memantulkan cahaya hijau pucat yang menusuk mata







