แชร์

Bab 18- Dua Peringatan

ผู้เขียน: Wei Yun
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-28 18:06:00

​Lian Xue masih mematung di selasar, jemarinya meremas botol porselen biru tua. Angin fajar yang membawa sisa aroma daun mint perlahan menyapu wajahnya, menyadarkannya dari pesona magis pria bertopeng itu.

​“Jangan pernah menemui Pei Zhen lagi.” Peringatan Zhao Tian terus terngiang di kepalanya, memicu tanda tanya besar yang saling bertabrakan dengan ingatannya di kehidupan pertama.

​"Putri? Apakah kau di luar?" Sebuah suara serak dari dalam kamar memecah keheningan. A'Ning berjalan mendekat
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 70 - Hanya ada satu Nyonya

    ​Angin sore menghembus dingin. Di bawah tatapan penuh harap dari Wang Xu Lin dan keheningan yang membeku dari balik tirai tipis Paviliun Yue Hua, Shen Yang berdiri kaku bagai patung batu.​Sepasang mata elangnya bergeser perlahan dari sudut jendela tempat Lian Xue duduk, lalu tertuju sepenuhnya pada kasim utusan Selir Agung Wei.​"Sampaikan pada Selir Agung Wei," suara Shen Yang terdengar berat, dingin, dan tanpa cela. "Biro Penyelidik baru saja menerima laporan darurat terkait keamanan gerbang selatan. Aku tidak memiliki waktu untuk hal selingan semacam ini."​Wang Xu Lin tertegun. Binar benderang di matanya seketika menyurut, berganti raut kecewa yang teramat halus. "Jenderal ... apakah tugas itu tidak bisa ditunda sejenak? Selir Agung Wei hanya ingin hamba mengenal—"​"Lingkungan istana dilindungi oleh ratusan pengawal," potong Shen Yang datar, matanya menatap Wang Xu Lin tanpa sedikit pun kehangatan. "Nona Wang bisa meminta kasim atau dayang senior untuk mengantar. Mereka jauh leb

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 69- Bidak dari Klan Militer

    Fajar baru saja menyingsing ketika A'Ning menyelinap masuk ke dalam kamar Lian Xue. Dayang setia itu menutup pintu rapat-rapat dengan napas sedikit memburu, menyatukan kedua tangannya yang dingin di depan dada. Lian Xue yang sudah duduk rapi di depan meja rias seketika memutar tubuhnya, menatap A'Ning dengan binar mata penuh tuntutan.​"Bagaimana, A'Ning?" tanyanya rendah, menekan intonasi suaranya agar tak menembus keluar ruangan. "Apakah kau berhasil mendapatkan daftar itu?"​A'Ning melangkah mendekat, lalu berlutut di samping kursi kayu Lian Xue. "Hamba berhasil, Putri. Salah satu pelayan di Paviliun Pencatatan memberi hamba salinan nama yang telah disetujui oleh Selir Agung Wei untuk diserahkan kepada Baginda Kaisar pagi ini."​"Siapa wanita itu?" desak Lian Xue, jemarinya meremas tepi meja perunggu.​"Nona Muda dari Klan Wang, Putri," bisik A'Ning dengan raut cemas. "Nama wanita itu adalah Wang Xu Lin ... putri kandung dari Jenderal Wang Xing."​Dada Lian Xue serasa dihantam beb

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 68 - Bayangan di balik Rencana

    ​Lian Xue tidak menunggu jawaban lebih lanjut dari Shen Yang. Tanpa memalingkan wajah lagi, ia melangkah lebar meninggalkan koridor istana. Shen Yang tetap berdiri kaku di tempatnya, menatap punggung istrinya yang perlahan menghilang di balik gerbang batu Paviliun Yue Hua dengan raut wajah yang kian menggelap.​Langkah kaki Lian Xue terasa makin cepat saat menyusuri lorong-lorong batu yang sunyi. Ketika akhirnya ia mendorong pintu kayu kediamannya dan melangkah masuk, A'Ning menyambutnya dengan raut penuh kecemasan.​"Putri! Kau sudah kembali?" panggil A'Ning sambil bergegas menyambut dan mengunci pintu rapat-rapat. "Hamba sangat cemas saat mendengar kabar audiensi di Paviliun Agung siang ini ...."​"Tinggalkan aku sendiri, A'Ning," potong Lian Xue pelan namun tak membantah. "Aku ingin menenangkan pikiranku."​A'Ning membungkuk dalam, memahami guratan kelelahan dan ketegangan yang terukir di paras junjungannya, lalu perlahan mundur menyelinap keluar kamar.​Lian Xue melangkah gontai

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 67 - Titah Tanpa Penolakan

    ​Suasana di Paviliun Agung seketika membeku. Kata penolakan dari bibir Shen Yang bergema di antara pilar-pilar kayu cendana yang megah. Senyum di wajah Kaisar perlahan memudar, digantikan oleh garis wajah yang mengeras. Di sampingnya, Selir Agung Wei memiringkan cangkir porselennya sedikit. ​"Keberatan, Shen Yang?" suara Kaisar merendah, sarat akan ketegangan yang menekan. "Sejak kapan seorang Jenderal Biro Penyelidik berani menolak hadiah dan niat baik dari Penguasanya sendiri?" ​Shen Yang tetap berdiri tegak, tak sedikit pun gentar oleh tatapan intimidatif mertuanya. "Hamba tidak berniat merendahkan kebaikan Baginda. Namun kediaman hamba adalah tempat yang penuh dengan bahaya dan intrik rahasia Biro. Menempatkan wanita lain di sana hanya akan membahayakan nyawanya, sekaligus melukai perasaan Putri Lian Xue." ​Lian Xue menatap punggung suaminya yang tegap dari samping. Dadanya berdesir hebat. Kata-kata Shen Yang tidak hanya menembus dinding pertahanan Kaisar, tetapi juga meruntu

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 66 - Penolakan Shen Yang

    ​Sinar matahari siang memantul silau di atas genteng keemasan Paviliun Utama. Udara hangat tak mampu mengusir ketegangan yang mendadak membeku di dalam ruangan raksasa itu. Lian Xue berjalan berdampingan dengan Shen Yang memenuhi panggilan mendadak dari sang Ayahanda.​Namun, langkah Lian Xue seketika terhenti sejenak di dekat pintu ukir. Binar matanya membelalak pelan menyaksikan pemandangan di hadapannya.​Di atas kursi tahta, sang Kaisar duduk bersanding dengan Selir Agung Wei. Wajah Ayahandanya tak lagi suram seperti kemarin; garis-garis kelelahan di parasnya telah memudar, berganti pendar hangat yang merekah kembali. Sang Bibi tersenyum manis seraya menuangkan teh hijau ke cawan Kaisar dengan gerakan gemulai.g​Apakah berita pengasingan Selir Wu yang disampaikan Shen Yang kemarin memberi dampak sebesar ini pada Ayahanda? batin Lian Xue penuh tanda tanya. Apakah tersingkirnya persaingannya membuat Bibi begitu cepat merebut kembali hati Ayahanda?​"Hamba menghadap Baginda Kaisar,"

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 65 - Pecahnya Bidak Catur

    ​Malam kian merambat ketika Lian Xue menyelinap masuk ke Paviliun Tian Lang. Dadanya berdebar liar, sementara jemari lentiknya mencengkeram erat Plakat Komando Militer asli milik Shen Yang di balik lipatan jubahnya. Suasana paviliun sang Jenderal begitu lengang, hanya diterangi pendar temaram lilin dinding.​Dengan gerakan seringan kapas, Lian Xue melangkah menuju ruang kerja Shen Yang. Ia mendekati dinding kayu berukir naga, mengusap tonjolan halus di samping papan pedang hingga mekanisme rahasia berbunyi klik sangat tipis. Rongga dinding terbuka. Lian Xue bergegas meletakkan kotak besi beserta plakat asli ke dalamnya, lalu mendorong ukiran kayu itu kembali rapat.​Napas lega baru saja hendak terhembus dari bibirnya ketika langkah kaki tergesa dari luar mengejutkannya. Pintu kayu ruang kerja seketika terdorong terbuka!​Lian Xue terperanjat hebat. Kepanikan menyergap seluruh kesadarannya. Dengan rasa tegang yang membuncah, ia berbalik cepat dan melangkah terburu-buru, ingin segera p

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 3 - Interogasi Malam Pertama

    "Tuan Putri, bangunlah! Selir Agung memintamu dan Jenderal Shen untuk hadir dalam perjamuan makan pagi bersama Kaisar."Suara lembut A'Ning, dayang pribadinya, perlahan membangunkan Lian Xue. Ia mengerjap, menarik kesadarannya. Saat matanya terbuka sempurna, ia tersentak menyadari sekelilingnya. In

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 2 - Takdir yang Bergeser

    Angin malam berdesir dingin, menyusup di antara celah jendela paviliun pengantin yang megah. Di dalam ruangan yang didominasi rona merah dan emas itu, suasana terasa mencekam. ​"Jangan pernah berani melakukan ritual penutup tanpa bersulang denganku!" seru Lian Xue dengan napas memburu. Jantungn

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 6 - Secangkir teh penekan Kasim

    Suara langkah kaki Kasim Zhang menggema di selasar kayu Paviliun Lily. Saat ia melangkah masuk ke dalam ruangan, aroma dupa cendana seolah memudar, digantikan oleh hawa otoritas yang kaku. Kasim kepercayaan kaisar itu membungkuk dalam, memberikan hormat yang sempurna kepada Selir Agung Wei. ​"

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 1 - Cangkir Beracun, Kesempatan Kedua

    "Shen Yang! Shen Yang! " Lian Xue menggoyangkan tubuh laki-laki yang kini tergeletak kaku di atas meja setelah menenggak arak pernikahan mereka. Namun Shen Yang tidak merespon. Lian Xue memeriksa nafas dari Shen Yang. Tidak ada embusan nafas dari hidungnya. Bibirnya mulai menghitam. Lian Xue t

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status