แชร์

Bab 3 - Interogasi Malam Pertama

ผู้เขียน: Wei Yun
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-29 11:04:48

"Tuan Putri, bangunlah! Selir Agung memintamu dan Jenderal Shen untuk hadir dalam perjamuan makan pagi bersama Kaisar."

Suara lembut A'Ning, dayang pribadinya, perlahan membangunkan Lian Xue. Ia mengerjap, menarik kesadarannya. Saat matanya terbuka sempurna, ia tersentak menyadari sekelilingnya. Ini bukan kamar ayahnya, melainkan kamar tidurnya sendiri, kamar pengantin, di Paviliun Yuehua.

​Lian Xue bangkit dari ranjangnya lalu duduk di depan meja riasnya. Matanya menyisir ke sisi ranjang yang kosong.

"A'Ning, seingatku tadi malam aku berada di kamar Ayah. Mengapa sekarang aku bisa ada di sini?"

​A'Ning yang sedang menyiapkan air hangat di baskom perak menoleh sejenak, lalu tersenyum tipis. "Semalam Jenderal Shen yang menggendong Tuan Putri kembali ke kamar ini. Beliau jugalah yang memerintahkanku untuk mengganti pakaian Tuan Putri agar bisa tidur dengan lebih nyaman."

​Lian Xue menunduk, menatap jubah tidur sutranya. Pakaian pengantin yang berat itu memang sudah berganti. "Lalu ... di mana Jenderal Shen tidur? Apakah dia kembali ke sini?"

​"Tadi malam hamba melihat Jenderal kembali ke kamar Kaisar setelah mengantar Tuan Putri," jawab A'Ning sambil mengangkat baskom perak ke atas meja di sisi ranjang.

"Namun pagi tadi, hamba mendengar dari seorang dayang, kalau beliau keluar dari ruang kerjanya di Paviliun Tian Lang. Sepertinya beliau beristirahat di sana."

​Hati Lian Xue mencelos. Shen Yang benar-benar menjaga jarak, batinnya. Jarak Paviliun Yuehua dengan Paviliun Tian Lang cukup jauh karena terletak di luar lingkungan Paviliun tempat tinggal keluarga Kaisar.

Pintu kamar diketuk. Tanpa menunggu jawaban, pintu kamar sudah dibuka. Shen Yang muncul. Ia masuk dengan langkah tegap. Ia memakai pakaian dengan hanfu sederhana berwarna biru tua yang elegan, rambutnya terikat rapi tanpa hiasan berlebih.

​"Kau yang semalaman menjaga Ayah?" tanya Lian Xue tanpa menoleh. Ia hanya memperhatikan sosok suaminya melalui pantulan cermin perak di depannya.

​Shen Yang berdiri diam di belakangnya. "Aku menjaganya hingga menjelang fajar. Kondisi Yang Mulia saat ini sudah membaik. Semalam beliau hanya terlalu lelah setelah menjamu tamu, lalu memaksakan diri untuk melayani—"

​"Hanya kelelahan?" potong Lian Xue cepat, suaranya naik satu nada. Ia memutar tubuh menghadap suaminya.

"Kau yakin itu hanya kelelahan? Ayah memang sudah paruh baya, tapi dia masih sangat sehat. Bukankah Ayah masih sering berlatih pedang bersamamu? Bagaimana bisa dia jatuh sakit begitu mendadak?"

​Suasana di kamar itu seketika menegang. Tatapan Shen Yang menajam, seolah sedang membedah isi pikiran istrinya.

"Aku yakin dengan penilaianku. Secara fisik, Yang Mulia hanya kelelahan. Namun, tingkahmu sejak kemarin sungguh aneh, Lian Xue. Kau seolah sedang menunggu bencana besar terjadi."

​Lian Xue terhenyak, wajahnya berubah kesal. Laki-laki ini ... datang hanya untuk mengajakku ribut tentang kondisi ayah, batinnya. Ia sadar kalau sedikit ofensif. Ia tidak boleh memperlihatkan bahwa dirinya sudah mengetahui semuanya.

Dengan cepat, ia mengubah raut wajahnya menjadi lebih tenang. "Aku hanya mencemaskan Ayah. Tunggu aku bersiap dulu, setelah itu kita ke Paviliun Shengde."

Tanpa diminta, Shen Yang segera keluar dari kamar istrinya dan menutup pintu.

Tidak berapa ​lama keduanya sudah sampai di Paviliun Shengde. Suasana hangat menyambut mereka. Kaisar Yang duduk di ujung meja panjang dengan wajah yang tampak jauh lebih segar. Di sisi kanannya, Selir Agung Wei duduk dengan anggun.

​"Lihat, pengantin baru kita sudah datang. Kemarilah!" seru Kaisar dengan nada ceria.

​Lian Xue dan Shen Yang memberi hormat sebelum duduk bersebelahan. Ini adalah momen perdana mereka duduk bersebelahan sebagai suami istri.

Biasanya, Shen Yang berdiri kaku di sudut ruangan, berjaga, yang seringkali memancing Lian Xue untuk mengejeknya sebagai "anjing penjaga kaisar." Namun hari ini, posisi mereka setara di meja makan.

​"Ayah, jangan membuatku panik lagi. Semalam aku menunggui Ayah di kamar karena sangat khawatir," ujar Lian Xue lembut.

​Kaisar tertawa kecil. "Kau menunggu di kamar Ayah? Tapi tadi malam Ayah hanya melihat Shen Yang yang berjaga."

​"Aku ketiduran, Ayah. Shen Yang memindahkanku kembali ke paviliunku," sahut Lian Xue sambil melirik suaminya yang tetap bersikap datar.

​"Loh ... jadi kalian belum melakukan malam pertama kalian?" tanya Kaisar tiba-tiba dengan nada menggoda.

​Uhuk!

​Shen Yang yang sedang menyesap tehnya tersedak dan terbatuk-batuk. Wajah Lian Xue seketika merona merah. Ia menunduk dalam, mencoba menyembunyikan rasa malunya.

​"Maafkan Ayah karena telah mengganggu malam pertama kalian," lanjut Kaisar tanpa dosa. "Entah kenapa, semalam kepala Ayah terasa sangat pening saat berada di paviliun Wen Yue, tepat setelah meminum ramuan yang ia suguhkan. Mungkin Ayah terlalu lelah."

​"Ayah tidak usah membahas soal malam pertama. Yang penting Ayah sudah sehat kembali."

​"Tentu saja. Tidak percuma Ayah memiliki menantu seperti Shen Yang. Semalam ia yang membantu memulihkan aliran energi Ayah dengan tenaga dalamnya hingga rasa pening itu hilang," puji Kaisar.

​Lian Xue menoleh ke arah suaminya dengan tatapan penuh tanya. Dia sama sekali tidak menyebutkan soal pemberian tenaga dalam itu tadi di kamar, batinnya.

​Namun, di tengah kehangatan itu, Selir Agung Wei menyela dengan nada suara yang menyimpan luka tersembunyi. "Apa yang kalian bicarakan? Terjadi sesuatukah pada Yang Mulia semalam? Mengapa hamba tidak diberi tahu?"

​Lian Xue terdiam. Sebagai pemimpin tertinggi di istana belakang atau harem, bibinya seharusnya menjadi orang pertama yang dipanggil. Namun semalam, justru Selir Wu yang mendampingi ayahnya. Lian Xue mengira adanya pergeseran kekuatan yang halus namun berbahaya di istana belakang ini.

​"Aku tidak apa-apa, Wei Ling. Lihat, aku sehat dan kuat sekarang," hibur Kaisar sambil menggenggam tangan Selir Agung. "Persiapkan dirimu, nanti malam aku akan mengunjungimu."

​Meskipun Kaisar berkata demikian, rona wajah Selir Agung Wei tidak sepenuhnya cerah. Ada gurat kesedihan karena merasa posisinya mulai terabaikan. Lian Xue segera menggenggam tangan bibinya dari bawah meja.

​"Bibi, nanti setelah makan pagi selesai, aku ingin berkunjung ke tempat Bibi. Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan," ucap Lian Xue tulus.

​Kaisar yang mendengar ucapan Lian Xue, terkekeh. "Apa yang ingin kau tanyakan? Cara memuaskan suami di ranjang? Tanyakan saja pada bibimu, dia ahlinya."

​"Ayah! Jaga bicaramu!" protes Lian Xue, sementara Shen Yang hanya bisa berdeham canggung, mencoba fokus pada mangkuk nasinya.

​Lian Xue tahu ia harus bicara empat mata dengan bibinya. Di antara lima selir ayahnya yang tinggal di istana, hanya Selir Agung Wei yang bisa ia percayai sepenuhnya. Ia butuh informasi tentang bagaimana situasi di dalam harem ayahnya.

Ia teringat kilasan memori saat ia terbunuh oleh Pei Zhen; sesosok wanita berdiri tak jauh di balik tirai, mengawasi kematiannya dengan dingin. Ia perlu tahu siapa wanita itu. Apakah dia salah satu dari selir ayahnya.

Namun, sebelum percakapan berlanjut, kasim Zhang masuk dan memberitahukan sesuatu.

" Yang Mulia, Tuan Muda Pei tadi datang mengirimkan hadiah pernikahan dan menyampaikan permohonan maaf karena tidak bisa menghadiri pernikahan Tuan Puteri kemarin."

Lian Xue membeku. Sendok di tangannya nyaris terjatuh. Pei Zhen?

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 98 - Awal Langkah Ke Beixian

    ​Shen Yang terpaku. Sentuhan lembut dahi Lian Xue yang membasah oleh air mata, berpadu dengan bisikan mantap yang lolos dari bibir ranum sang Putri Kekaisaran, meruntuhkan sisa dinding pertahanan di dalam dadanya. Rasa bersalah atas rahasia belasan tahun yang disimpannya perlahan terkikis habis, berganti menjadi kepasrahan dan rasa kepemilikan yang amat mendalam. ​"Lian Xue ..., " bisik Shen Yang parau, suaranya bergetar berat menahan gejolak emosi yang membuncah. Pria tegap itu menangkup kedua pipi halus istrinya, menatap dalam-dalam ke dasar manik mata bening yang kini bersinar penuh keteguhan. "Beixian bukan sekadar medan pertempuran biasa. Jalur menuju ke sana dipenuhi oleh racun dendam dan mara bahaya yang bisa merenggut nyawa kapan saja." ​Lian Xue menggeleng pelan tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun. Jemari lentiknya kian meremas bahu tegap Shen Yang. ​"Ke mana pun suamiku melangkah—baik itu menuju kejayaan ataupun ke dalam neraka pertempuran—di situlah tempatku b

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 97 - Satu Jiwa Membela Tanah Air

    ​Shen Yang merengkuh pinggang Lian Xue, mendudukkan istrinya di atas pangkuannya dengan kelembutan yang teramat sangat. Pria tegap itu berusaha menenangkan hati Lian Xue yang kini sedang berkecamuk hebat. Air mata perlahan mulai menetes dari sudut manik bening sang Putri Kekaisaran, membasahi pipinya yang halus. Namun, di balik lelehan bening itu, matanya menatap tajam pada suaminya, seolah menuntut penjelasan mutlak atas seluruh teka-teki yang menyiksa jiwanya. ​"Kau ingin tahu siapa aku sebenarnya, bukan?" bisik Shen Yang serak, membelai lembut helai rambut Lian Xue yang terurai. "Kau pasti ingat cerita yang selama ini bergulir di istana ... tentang seorang bayi laki-laki yang ditemukan di tengah hutan oleh Ayahandamu saat perburuan musim semi. Lalu bayi itu dirawat, diasuh, dan dididik oleh Kaisar hingga tumbuh menjadi seorang petarung tangguh." ​Lian Xue tak menjawab, ia hanya mengangguk pelan di dalam kungkungan dada tegap suaminya. Napasnya masih tersengal menahan gejola

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 96- Bawah Bayang-Bayang Takdir

    ​Shen Yang membisu sejenak. Jemari kasarnya yang semula mengusap pelan punggung tangan Lian Xue mendadak mengendur. Ia menghembuskan napas berat yang sarat akan beban rahasia, lalu menarik perlahan tangannya dari lingkaran lengan sang Putri. Pria tegap itu bangkit dari tepi ranjang, membelakangi Lian Xue seraya menatap kegelapan di balik jendela ukir Penginapan Anggrek Merah.​"Aku akan memerintahkan Feng Lian dan pengawal terbaik untuk mengantarmu kembali ke istana pagi ini," ujar Shen Yang dingin, nada suaranya kembali datar dan kaku bagai dinding batu.​Lian Xue terperanjat. Ia seketika menegakkan tubuhnya di atas ranjang, menarik kain selimut untuk menutupi dadanya seraya menatap punggung tegap suaminya dengan binar mata tak percaya.​"Apa maksudmu, Shen Yang?" pangkas Lian Xue cepat, suaranya meninggi menahan rasa terkejut yang teramat sangat. "Setelah apa yang terjadi di antara kita semalam ... kau ingin mengusirku kembali ke dinding istana yang dingin itu?"​"Ini bukan pengu

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 95 - Dilema Sang Jenderal

    ​Desahan pasrah Lian Xue bergema membelah keheningan kamar Penginapan Anggrek Merah. Dinding-dinding kayu tua di lantai teratas menjadi saksi bisu bagaimana pertahanan dingin sang Putri Kekaisaran runtuh total di bawah kendali mutlak suaminya. ​Shen Yang merapatkan tubuh tegapnya, menatap lurus sepasang mata bening istrinya yang kini berselimut kabut gairah. Pria itu menyapu sisa peluh halus di dahi Lian Xue dengan usapan jemari kasarnya yang hangat, membimbing wanita itu memasuki pusaran rasa yang kian pekat. ​"Tatap aku, Lian Xue," perintah Shen Yang serak, nada suaranya mengalun bagai titah yang tak sanggup ditolak. "Jangan alihkan pandanganmu sedikit pun." ​Lian Xue mencengkeram bahu kekar Shen Yang yang menopang tubuh di sisi kepalanya. "Shen Yang ... kau ...." ​Kalimat sang Putri terputus kaku saat Shen Yang menyatukan kembali keintiman mereka secara utuh. Sebuah desahan panjang lolos dari bibir Lian Xue, disusul kehangatan intens yang seketika menjalar merayapi seluruh p

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 94 - Kelicikan Sang Jenderal

    ​Di balik kibasan selimut tebal yang ditarik cepat, Shen Yang melucuti gaun sutra tipis yang melekat pada tubuh istrinya dengan gerakan yang sangat tangkas. Hanya dalam hitungan detik, kain merah marun itu terlepas dari tubuh Lian Xue, menyisakan kehangatan kulit di balik temaram pendar lilin. Tanpa membuang waktu, Shen Yang menyentak hanfu hitamnya sendiri, membiarkan jubah itu terlempar ke sudut peraduan.​Lian Xue tertawa pelan, suara manjanya terdengar bergetar di dalam keheningan kamar.​"Jenderal Shen ...," bisiknya seraya membelai bahu tegap suaminya, "aku tidak tahu kalau jemari pimpinan Biro Penyelidik begitu terlatih untuk melucuti pakaian dalam sekejap mata."​Shen Yang menyunggingkan senyum miring. Sepasang mata elangnya menatap lurus paras ayu yang kini berpasrah penuh di bawah kungkungannya.​"Aku biasa melucuti senjata tawanan di medan perang dalam waktu cepat," kelakar Shen Yang dengan suara bariton yang serak dan rendah, "apalagi hanya melucuti pakaian istriku sendir

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 93 - Malam Pembayaran di Batas Kota

    ​Shen Yang membatu seketika. Manik mata elangnya yang remang oleh pengaruh arak, menatap paras cantik yang kini terpampang nyata hanya sejengkal di hadapan wajahnya. Rona merah di pipi Lian Xue, binar mata beningnya yang hangat, serta helaan napas halus yang menyapu permukaan bibirnya bukanlah ilusi dari mimpi mabuknya. ​"Lian ... Xue?" bisik Shen Yang parau, suaranya bergetar antara percaya dan tidak. ​"Ya, ini aku, Suamiku," balas Lian Xue lembut. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman paling manis yang belum pernah ia perlihatkan sebelumnya. ​Jemari tegap Shen Yang yang semula hendak menolak tubuh di pangkuannya perlahan mengendur. Kesadaran sang Jenderal berangsur pulih, digantikan oleh kehangatan pekat yang menjalar cepat ke seluruh pembuluh darahnya. Tanpa ragu lagi, Shen Yang merangkulkan kedua lengan kekarnya di pinggang ramping Lian Xue, menarik tubuh istrinya kian erat dan menempel rapat tanpa celah di atas pangkuannya. ​"Bagaimana bisa kau ...." Shen Yang tidak

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 6 - Secangkir teh penekan Kasim

    Suara langkah kaki Kasim Zhang menggema di selasar kayu Paviliun Lily. Saat ia melangkah masuk ke dalam ruangan, aroma dupa cendana seolah memudar, digantikan oleh hawa otoritas yang kaku. Kasim kepercayaan kaisar itu membungkuk dalam, memberikan hormat yang sempurna kepada Selir Agung Wei. ​"

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 5 - Air Mata sang Selir

    Pintu kayu berukir itu terbuka perlahan, menampakkan sosok Selir Wen yang melangkah masuk dengan tergesa. Guratan kecemasan tak mampu disembunyikan dari wajahnya yang pucat. Ia mengenakan jubah sutra berwarna hijau zamrud, warna penuh ketenangan, namun pagi ini tampak kontras dengan kegelisahan

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 4 - Kilau Emas, Hati yang Panas

    Angin pagi membawa aroma dupa cendana menyusup melalui jendela Paviliun Shengde, namun kehangatan sinar matahari tidak mampu mencairkan suasana yang mendadak beku. Di atas meja perjamuan, piring-piring porselen berisi hidangan mewah seolah kehilangan daya tariknya saat Kasim Zhang melangkah maju.

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 2 - Takdir yang Bergeser

    Angin malam berdesir dingin, menyusup di antara celah jendela paviliun pengantin yang megah. Di dalam ruangan yang didominasi rona merah dan emas itu, suasana terasa mencekam. ​"Jangan pernah berani melakukan ritual penutup tanpa bersulang denganku!" seru Lian Xue dengan napas memburu. Jantungn

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status