เข้าสู่ระบบAngin malam berdesir dingin, menyusup di antara celah jendela paviliun pengantin yang megah. Di dalam ruangan yang didominasi rona merah dan emas itu, suasana terasa mencekam.
"Jangan pernah berani melakukan ritual penutup tanpa bersulang denganku!" seru Lian Xue dengan napas memburu. Jantungnya berdegup kencang, berpacu antara rasa ngeri karena hampir saja ia meracuni suaminya sendiri, dan rasa lega yang luar biasa karena takdir masih memberinya kesempatan kedua. Shen Yang mematung. Pria bertubuh tegap itu berbalik perlahan, menatap Lian Xue dengan tatapan tajam namun sarat akan keraguan. Ia seolah tak percaya pada penglihatannya sendiri. Lian Xue, putri kesayangan ayah angkatnya, Kaisar Yang, yang selama ini menunjukkan kebencian dan menentang pernikahan ini, tiba-tiba bertingkah seolah ingin mempertahankan ikatan mereka. Tanpa membuang waktu, Lian Xue meraih teko perak. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia menuangkan arak baru ke dalam dua cangkir bersih. Ia mengulurkan salah satunya kepada Shen Yang. "Berhenti memanggilku 'Tuan Putri'. Aku sudah menjadi istrimu. Kita harus segera menyelesaikan ritual ini!" desak Lian Xue, suaranya sarat oleh emosi yang tertahan. Namun, Shen Yang tidak segera menyambut uluran tangan itu. Ia menatap lekat cangkir di tangan istrinya, lalu beralih ke manik mata Lian Xue, mencari-cari celah muslihat yang mungkin tersembunyi. "Apa yang merasukimu hingga kau tiba-tiba ingin melanjutkan ritual ini? Aku tidak akan melepaskanmu jika arak pernikahan ini telah tandas. Kau menjadi istriku, dan aku suamimu. Tak ada jalan kembali." Lian Xue terdiam. Pikirannya mengingat bayangan kehidupan sebelumnya; ia melihat pria ini mati di hadapannya, oleh racun yang dimasukkan ke dalam cangkir di tangannya. "Apakah ini bagian dari permainanmu lagi?" lanjut Shen Yang sinis, bibirnya menyunggingkan senyum pahit. "Apakah kau sedang merencanakan sesuatu bersama Pei Zhen?" Mendengar nama pria licik itu, emosi Lian Xue naik. Namun, ia menarik napas dalam dan menekannya kuat-kuat. "Tidak ada permainan, Shen Yang. Tidak ada Pei Zhen. Aku istrimu sekarang, dan aku ingin ritual ini selesai tanpa bantahan!" Meskipun keraguan masih menggelayuti benaknya, Shen Yang akhirnya menerima cangkir itu. Mereka saling mengaitkan lengan, mengikuti tradisi kuno, lalu meneguk arak tersebut hingga tetes terakhir. Keheningan menyergap sesaat setelah cangkir diletakkan kembali ke meja. Kini, secara hukum dan tradisi, mereka telah resmi menjadi suami istri. Lian Xue merasa kalut. Tidak mungkin! Tidak Mungkin aku menghabiskan malam pertama bersama Shen Yang, batin Lian Xue bergejolak. Ia bergidik, tidak bisa membayangkan dirinya berdua dengan Shen Yang di atas ranjangnya. Ini adalah kamarku. Shen Yanglah yang seharusnya tidak berada di sini. "Shen Yang ... Kau -" Lian Xue belum sempat menyelesaikan kata-katanya, ketika tiba-tiba Shen Yang melangkah maju hingga jarak di antara mereka terkikis habis. Aroma maskulin bercampur wangi arak menguar kuat. "Kau!" Kedua tangan Lian Xue refleks naik melindungi dadanya, siap menahan Shen Yang jika makin mendekat. Tangan Shen Yang bergerak cepat ke arah dagu Lian Xue, mengangkat wajah sang putri dengan kasar agar menatapnya tepat di mata. Tatapan mata Shen Yang begitu tajam dan dingin. Tiba-tiba .... Tok! Tok! Tok! Suara ketukan pintu yang mendesak membuat Shen Yang melepaskan tangannya dari dagu Lian Xue. Ia mendengkus sambil menjauhkan diri dari istrinya. "Jenderal! Tuan Putri! Terjadi sesuatu yang gawat dengan Kaisar!" teriak Kasim Zhang dari balik pintu dengan suara gemetar. Wajah Lian Xue memucat seketika. "Ayah!" Sebuah memori menakutkan menghantam kesadarannya. Bodoh! ratap Lian Xue dalam hati. Bagaimana ia bisa begitu terpaku pada Shen Yang hingga melupakan keselamatan ayahnya? Di kehidupan sebelumnya, saat ia sibuk bersitegang dengan Shen Yang, Pei Zhen tengah bergerak menuju kamar ayahnya, lalu membunuhnya. "Cepat, ke kamar Ayah!" teriak Lian Xue tanpa penjelasan lebih lanjut. Ia berlari keluar kamar, menggebrak pintu kamarnya hingga terbuka lebar. Lian Xue berlari menyusuri lorong kediaman yang remang-remang menuju paviliun ayahnya. Air mata mulai menggenang. Jangan sekarang ... Ayah, kumohon bertahanlah. Aku tidak akan membiarkan iblis itu menyentuhmu lagi! Sesampainya di depan pintu kamar sang kaisar, langkahnya terhenti. Trauma masa lalu membayangi penglihatannya; bayangan saat ia masuk dan menemukan Pei Zhen tengah membekap ayahnya dengan bantal hingga napas sang kaisar terhenti. "Kau tidak apa-apa?" suara dingin Shen Yang yang tiba-tiba sudah berada di belakangnya, menyadarkan kembali Lian Xue ke realita. "A-aku tidak apa-apa ...," jawabnya terbata. Shen Yang mendorong pintu kayu jati itu, membiarkan istrinya masuk lebih dahulu. Namun, pemandangan di dalam sungguh di luar dugaan Lian Xue. Di sana tampak Selir Wu sedang duduk di sisi tempat tidur, dengan telaten menyuapkan ramuan dari mangkuk porselen ke mulut kaisar. Selir Wu adalah selir rendahan kesayangan ayahnya. Usianya hanya terpaut setahun lebih tua dari usia Lian Xue. Tak jauh dari sana, seorang tabib sedang merapikan kotak obatnya. Lian Xue mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan. Tidak ada Pei Zhen. Namun, ia juga tidak melihat bibinya, Wei Lin, sang Selir Agung yang biasanya selalu berada di sisi ayahnya jika beliau jatuh sakit. Selir Agung Wei adalah adik mendiang ibu Lian Xue, sang Permaisuri, Wei Xing. Ia ikut diboyong ke dalam istana untuk menemani ibunya dengan status sebagai selir. Selir Agung adalah jabatan selir tertinggi yang hanya berada satu tingkat di bawah Permaisuri. "Mana Bibi Wei? Mengapa justru kau yang ada di sini, Selir Wu?" tanya Lian Xue dengan nada tajam, menatap tajam pada Selir Wu. Selir Wu hanya melirik sekilas dengan tatapan datar sebelum kembali fokus pada tugasnya. Kasim Zhang kemudian mendekat dengan sikap membungkuk hormat. "Ampuni hamba, Tuan Putri. Tadi Yang Mulia Kaisar sendiri yang meminta hamba memanggil Selir Wu saat beliau merasa tubuhnya tidak enak badan," jelas Kasim Zhang. Lian Xue merasa ada yang janggal. Ia menarik Kasim Zhang menjauh ke sudut ruangan. "Malam ini, seharusnya Ayah mengunjungi siapa?" "Malam ini jadwal Yang Mulia mengunjungi Selir Wen. Tadi setelah selesai menjamu para menteri di pesta pernikahan Tuan Putri, Yang Mulia langsung menuju Paviliun Selir Wen. Tapi ...." "Tapi apa?" desak Lian Xue tak sabar. "Tak berapa lama di dalam kamar Selir Wen, Yang Mulia mendadak demam tinggi dan merasa tubuhnya tidak nyaman. Beliau bersikeras kembali ke kamarnya sendiri dan meminta Selir Wu yang merawatnya." Lian Xue termenung. Wen Yue adalah selir ayahnya tingkat madya. Ia adalah putri dari Bangsawan Wen, keluarga yang secara turun-temurun menguasai ilmu pengobatan dan memasok tabib-tabib terbaik untuk istana. Ayahnya masih tampak bugar saat meninggalkan perjamuan pernikahannya. Mengapa Ayah jatuh sakit tepat setelah mengunjungi Selir Wen? Namun mengapa Ayah justru memanggil Selir Wu? batin Lian Xue berkecamuk.Desahan pasrah Lian Xue bergema membelah keheningan kamar Penginapan Anggrek Merah. Dinding-dinding kayu tua di lantai teratas menjadi saksi bisu bagaimana pertahanan dingin sang Putri Kekaisaran runtuh total di bawah kendali mutlak suaminya. Shen Yang merapatkan tubuh tegapnya, menatap lurus sepasang mata bening istrinya yang kini berselimut kabut gairah. Pria itu menyapu sisa peluh halus di dahi Lian Xue dengan usapan jemari kasarnya yang hangat, membimbing wanita itu memasuki pusaran rasa yang kian pekat. "Tatap aku, Lian Xue," perintah Shen Yang serak, nada suaranya mengalun bagai titah yang tak sanggup ditolak. "Jangan alihkan pandanganmu sedikit pun." Lian Xue mencengkeram bahu kekar Shen Yang yang menopang tubuh di sisi kepalanya. "Shen Yang ... kau ...." Kalimat sang Putri terputus kaku saat Shen Yang menyatukan kembali keintiman mereka secara utuh. Sebuah desahan panjang lolos dari bibir Lian Xue, disusul kehangatan intens yang seketika menjalar merayapi seluruh p
Di balik kibasan selimut tebal yang ditarik cepat, Shen Yang melucuti gaun sutra tipis yang melekat pada tubuh istrinya dengan gerakan yang sangat tangkas. Hanya dalam hitungan detik, kain merah marun itu terlepas dari tubuh Lian Xue, menyisakan kehangatan kulit di balik temaram pendar lilin. Tanpa membuang waktu, Shen Yang menyentak hanfu hitamnya sendiri, membiarkan jubah itu terlempar ke sudut peraduan.Lian Xue tertawa pelan, suara manjanya terdengar bergetar di dalam keheningan kamar."Jenderal Shen ...," bisiknya seraya membelai bahu tegap suaminya, "aku tidak tahu kalau jemari pimpinan Biro Penyelidik begitu terlatih untuk melucuti pakaian dalam sekejap mata."Shen Yang menyunggingkan senyum miring. Sepasang mata elangnya menatap lurus paras ayu yang kini berpasrah penuh di bawah kungkungannya."Aku biasa melucuti senjata tawanan di medan perang dalam waktu cepat," kelakar Shen Yang dengan suara bariton yang serak dan rendah, "apalagi hanya melucuti pakaian istriku sendir
Shen Yang membatu seketika. Manik mata elangnya yang remang oleh pengaruh arak, menatap paras cantik yang kini terpampang nyata hanya sejengkal di hadapan wajahnya. Rona merah di pipi Lian Xue, binar mata beningnya yang hangat, serta helaan napas halus yang menyapu permukaan bibirnya bukanlah ilusi dari mimpi mabuknya. "Lian ... Xue?" bisik Shen Yang parau, suaranya bergetar antara percaya dan tidak. "Ya, ini aku, Suamiku," balas Lian Xue lembut. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman paling manis yang belum pernah ia perlihatkan sebelumnya. Jemari tegap Shen Yang yang semula hendak menolak tubuh di pangkuannya perlahan mengendur. Kesadaran sang Jenderal berangsur pulih, digantikan oleh kehangatan pekat yang menjalar cepat ke seluruh pembuluh darahnya. Tanpa ragu lagi, Shen Yang merangkulkan kedua lengan kekarnya di pinggang ramping Lian Xue, menarik tubuh istrinya kian erat dan menempel rapat tanpa celah di atas pangkuannya. "Bagaimana bisa kau ...." Shen Yang tidak
Lian Xue terdiam membisu di balik cadarnya. Kata-kata Shen Yang bergetar pelan di udara malam, meruntuhkan keangkuhan yang membentang kaku di dadanya. Pria tegap ini tampak begitu rapuh dan letih hanya karena memikirkan pertengkaran mereka. Secara naluri, rasa hangat yang sempat membeku di dalam dada Lian Xue mendadak mencair. Sang Putri memiringkan tubuhnya, mengikis jarak di antara mereka. Jemari lentiknya terangkat perlahan, mencoba membelai rahang tegap suaminya yang mengeras kaku. Namun, sebelum jemarinya sempat mengusap kulit hangat itu, Shen Yang dengan refleks menepis tangan Lian Xue secara halus namun tegas. Pria itu menggelengkan kepalanya tanpa memandang paras sang pemusik. "Hanya istriku yang boleh melakukannya," bisik Shen Yang serak, menengguk sisa arak di cawannya hingga tak berbekas. Dada Lian Xue berdesir hebat. Degup jantungnya berpacu liar di balik gaun sutra tipisnya. Ada rasa hangat yang membakar pipinya saat menyadari keteguhan hati suaminya. Dalam k
Perjalanan tiga hari membelah lembah terik dan perbukitan terjal akhirnya berujung di Kota Liangzhou—sebuah kota transit di ambang perbatasan utara yang selalu bising oleh lalu lalang pedagang lintas wilayah dan pengembara.Kereta logistik berhenti di halaman belakang Penginapan Anggrek Merah, penginapan megah tiga lantai paling tersohor di pusat kota.Lian Xue bergerak tanpa suara keluar dari dalam kereta logistik. Ia menyusup dalam senyap menyamar menjadi pelayan sebelum akhirnya mengetahui bahwa Shen Yang menempati salah satu kamar utama di lantai teratas.Lian Xue tidak sengaja bertemu dengan seorang gadis yang malam itu ditugaskan menghibur tuan di kamar utama tempat Shen Yang berada.Dengan hati kesal karena merasa Shen Yang justru bersenang-senang dengan wanita penghibur, Lian Xue membayar dengan harga tinggi agar dapat menggantikan gadis itu untuk menghibur suaminya.Lian Xue melangkah dengan hati-hati menyusuri koridor lantai tiga yang berselimut karpet tebal. Gaun sutra
Lian Xue bukanlah Putri Kekaisaran yang sudi duduk berdiam diri di atas ranjang Paviliun Tian, mengutuk nasib sembari menunggu kabar burung yang belum tentu kebenarannya. Jika Shen Yang berani meninggalkannya dengan beribu teka-teki, maka ia sendiri yang akan membongkar rahasia itu hingga ke akarnya.Memanfaatkan kekacauan kecil saat rombongan pengangkut perbekalan bersiap di pelataran belakang, Lian Xue bertindak cepat. Ia menanggalkan gaun sutra mewahnya, menggantinya dengan hanfu kasar berwarna abu-abu kusam milik pelayan rendah. Rambut indahnya diikat sederhana di belakang tengkuk, dilapisi kain linen tipis. Dengan gerakan lincah yang tak pernah dibayangkan siapapun, Lian Xue menyusup ke balik penutup tebal kereta kuda logistik, menyembunyikan tubuh rampingnya di antara tumpukan karung gandum.Bau apek kain gandum dan debu jerami menyengat hidungnya, namun Lian Xue mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Matanya mengintip melalui celah kecil di antara lipatan kain tebal penutup.K
Suara langkah kaki Kasim Zhang menggema di selasar kayu Paviliun Lily. Saat ia melangkah masuk ke dalam ruangan, aroma dupa cendana seolah memudar, digantikan oleh hawa otoritas yang kaku. Kasim kepercayaan kaisar itu membungkuk dalam, memberikan hormat yang sempurna kepada Selir Agung Wei. "
Pintu kayu berukir itu terbuka perlahan, menampakkan sosok Selir Wen yang melangkah masuk dengan tergesa. Guratan kecemasan tak mampu disembunyikan dari wajahnya yang pucat. Ia mengenakan jubah sutra berwarna hijau zamrud, warna penuh ketenangan, namun pagi ini tampak kontras dengan kegelisahan
Angin pagi membawa aroma dupa cendana menyusup melalui jendela Paviliun Shengde, namun kehangatan sinar matahari tidak mampu mencairkan suasana yang mendadak beku. Di atas meja perjamuan, piring-piring porselen berisi hidangan mewah seolah kehilangan daya tariknya saat Kasim Zhang melangkah maju.
"Tuan Putri, bangunlah! Selir Agung memintamu dan Jenderal Shen untuk hadir dalam perjamuan makan pagi bersama Kaisar."Suara lembut A'Ning, dayang pribadinya, perlahan membangunkan Lian Xue. Ia mengerjap, menarik kesadarannya. Saat matanya terbuka sempurna, ia tersentak menyadari sekelilingnya. In







