Share

Bab 1524

Author: Imgnmln
last update Petsa ng paglalathala: 2025-11-18 17:07:20

BAAAAM!

Nathan terpental beberapa meter ke belakang, debu berputar di sekeliling tubuhnya.

Kerumunan terdiam melihat pemandangan itu.

“Ryuki masih punya jurus cadangan,” gumam seseorang dengan wajah ngeri.

Tapi sebelum mereka sempat lega, suara desiran keras terdengar. Nathan yang tadi terpukul mundur memutar tubuh di udara dan menghantam balik dengan tinju emasnya.

BRAAAK!

Telapak tangan emas besar muncul di langit dan menghantam tubuh Ryuki dari depan. Tubuh Ryuki terpental sejauh beberapa me
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Jamuga
Lupa atau bagaimana ini author, bukannya nathan sudah ber kali2 di hantam badai petir?
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1818

    Kelima orang itu bukan orang asing.Kaidar dan empat Ksatria Abyss di belakangnya.Begitu melihat Nathan, Kaidar juga sempat terdiam sejenak, jelas tidak menyangka pertemuan ini akan terjadi secepat ini. Namun ekspresi itu hanya muncul sepersekian detik sebelum berubah menjadi senyum miring yang penuh ejekan.“Nathan,” ucapnya santai, seolah ini hanya kebetulan yang menyenangkan baginya, “Dunia memang sempit. Tidak kusangka kita bertemu lagi di tempat seperti ini.”Nathan menatapnya tanpa emosi, tapi kata-kata yang keluar langsung menusuk.“Kaidar,” balasnya datar, “Dulu kamu masih disebut tuan muda Keluarga Farhon di Moniyan. Sekarang…” ia berhenti sebentar, sudut bibirnya terangkat tipis, “Jatuh sampai rela jadi anjing orang lain. Bahkan bangkai pun mungkin masih punya harga diri dibandingkan kamu.”Ucapan itu membuat udara di sekitar langsung membeku.Sorot mata Kaidar berubah seketika. Amarahnya meledak tanpa perlu ditahan lagi.“Semua ini karena kamu!” suaranya meninggi, napasnya

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1817

    Pandangan pria itu menyapu ruangan dengan cepat dan tajam, lalu berhenti. Ia memilih sudut yang agak jauh dari keramaian dan duduk tanpa banyak bicara.Nathan mengernyit samar. Aura yang tercpancar dari tubuhnya aneh. Ia memperhatikan lebih dalam, mencoba menangkap aliran energi di sekitar tubuh pria itu. Secara kasat mata, pria itu terlihat biasa saja, bahkan auranya ditekan dengan cukup rapi.Tapi justru di situlah letak kejanggalannya. Tekanan yang bersih dan terkendali, seolah sosok itu menyembunyikan kekuatannya.Raze yang menyadari perubahan ekspresi Nathan langsung menoleh sedikit. “Ada yang kamu kenal?” tanyanya pelan.Nathan menggeleng. “Bukan soal kenal,” jawabnya, suaranya ditahan. “Aura dia… aneh.”Raze kembali melirik ke arah pria itu, kali ini lebih fokus.Beberapa detik.Lalu dia menghela napas kecil.“Aku tidak melihat sesuatu yang spesial,” katanya jujur. “Orang seperti itu sekarang banyak di sini. Tuan muda dari berbagai klan, semuanya berkumpul di Benua Monarch.”Ia

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1816

    Tak lama kemudian, Nathan dan Raze masuk ke sebuah kedai kecil di pinggir jalan.Lampu kuning redup menggantung di atas meja, bayangannya bergoyang pelan tertiup angin.Suara kayu kursi bergeser perlahan. Mereka duduk.Pesanan datang tidak lama setelah itu.Botol arak dibuka.Cairan bening dituangkan.Nathan memutar gelasnya perlahan, memperhatikan pantulan cahaya di dalamnya. “Menurutmu kenapa aku menolak tadi?”Raze mengangkat bahu. “Karena kau tidak butuh mereka.”Nathan tertawa kecil. “Haha… jawaban yang bagus.”Dia meneguk araknya, lalu meletakkan gelas. Suara denting gelas yang tipis, tapi terasa berat.“Bukan itu.”Raze menatapnya.Nathan mengangkat pandangan, matanya berubah lebih dalam dan tajam. “Tujuan kami berbeda.”Raze mengernyit.Nathan melanjutkan, suaranya tetap tenang. “Mereka menunggu kebangkitan energi spiritual.”“Dan kau?”Nathan tidak langsung menjawab. Ia menatap keluar, ke arah gelap yang jauh. “Aku ingin menghentikannya.”Hening.Deru angin perlahan masuk dar

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1815

    Angin malam berhembus pelan, membawa aroma asin laut.“Dengan kondisi seperti ini, bekerja sendiri bukan pilihan terbaik,” lanjutnya. “Aliansi adalah cara paling aman. Jika kita bergerak bersama, tidak akan ada klan atau keluarga yang berani menekan kita.”Dia berhenti sejenak, memberi ruang. “Dan ketika energi spiritual bangkit, kita bisa membagi wilayah. Lebih teratur dan… menguntungkan.”Hening.Nathan tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum tipis, lalu mengangkat botol arak yang masih setengah penuh, menggoyangkannya pelan.“Terima kasih atas tawarannya.”Nada suaranya santai. “Tapi aku lebih nyaman bergerak sendiri.”Ia berhenti sejenak. Lalu menambahkan, tanpa mengubah ekspresi. “Jadi, tidak.”Jawaban itu jatuh begitu saja.Tanpa tekanan dan emosi, tapi ucapannya itu terdengar mutlak.Alric mengernyit tipis, ia jelas tidak menyangka penolakan itu datang secepat dan sebersih itu. Namun sebelum dia bisa menyusun kata berikutnya—“Cih!”Riven menyeringai. “Nathan, kau pikir dir

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1814

    Ia lalu menoleh pada Nathan. “Selamat, Tuan Nathan. Anda berhasil memperoleh Ginseng Panax puluhan ribu tahun. Saya yakin kekuatan Anda sekarang meningkat jauh.”Nathan menjawab datar. “Hanya keberuntungan.”“Haha!”Alric tertawa. “Tuan Nathan terlalu rendah hati. Mendapatkannya dengan kemampuan sendiri jelas bukan keberuntungan.”Setelah itu ia kembali menatap Raze. “Raze, ada hal penting yang ingin kubicarakan. Bisakah kita bicara sebentar?”“Kalau ada yang ingin kau katakan, katakan langsung di sini.” Jawaban Raze dingin dan tanpa basa-basi.Alric sedikit canggung. Pandangannya melirik Nathan sekilas, seolah topik yang ingin dibahas tak nyaman diucapkan di hadapannya.Nathan menangkap maksud itu. “Kalian bicara saja, aku akan berkeliling sendiri.”Ia berniat melangkah pergi.Namun Raze langsung menahan lengannya. “Tuan Nathan, Anda tak perlu pergi.”Setelah itu ia memandang Alric dengan wajah datar. “Kalau ada sesuatu, katakan sekarang.”“Kalau tidak, kami pergi.”“Sebentar.” Alric

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1813

    Begitu melihat Nathan, Draven langsung berlari keluar dari aula utama dengan wajah penuh kelegaan. “Tuan Nathan! Akhirnya Anda datang juga!”Ia hampir menangis saat berbicara. “Tiba-tiba terlalu banyak orang datang ke pulau ini. Saya rasa kekacauan besar akan segera pecah…”Selama beberapa hari terakhir, hidupnya benar-benar tersiksa. Orang-orang yang datang ke pulau sekarang semuanya monster. Satu orang saja terasa cukup untuk merobohkan seluruh istananya.Untungnya, belum ada yang sengaja mencari masalah. Mereka hanya menduduki wilayah masing-masing dan menunggu.Nathan menatapnya heran. “Kau tahu aku akan datang?”Draven mengangguk cepat. “Saya sudah mengirim orang ke Moniyan untuk mengundang Tuan Nathan. Hanya saja saya tak menyangka Anda datang secepat ini.”Nathan menggeleng pelan. “Aku datang dari wilayah lain. Aku sama sekali tidak bertemu utusanmu.”Draven membeku sesaat, ia baru sadar kemungkinan anak buah yang dikirimnya bahkan belum sempat bertemu Nathan.Nathan tak memper

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1495

    “Kalian menyembah seekor monster dan menyebutnya dewa,” kata Nathan dengan nada rendah. “Kalau kau menghalangi mereka lagi, aku akan membunuhmu tanpa ragu.”Tatapannya membuat Arvana gemetar. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya.Bonang dan Abel memanfaatkan celah itu untuk kabur, meninggalkan

    last updateHuling Na-update : 2026-04-03
  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1514

    Beberapa hari kemudian, kabar bahwa Martial Shrine telah jatuh di bawah kendali Keluarga Zellon menyebar ke seluruh dunia bela diri Kota Moniyan.Dan seperti seorang raja yang baru menaklukkan negeri, Ryuki mengadakan p

    last updateHuling Na-update : 2026-04-03
  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1484

    Abel tidak bergeming. Dengan gerakan cepat, dia menangkap bilah itu dan menendang dada si penjaga hingga tubuhnya terpental dan berguling di tanah. Para penjaga lain segera menyerbu.“Cukup.”Aura Bonang meledak dengan tenang tapi mengguncang. Dalam sekejap, tekanan spiritual menekan udara; para pe

    last updateHuling Na-update : 2026-04-03
  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1512

    PLAK!Tiba-tiba Gottfried terangkat ke udara. Lima jari tercetak jelas di wajahnya, darah menetes di sudut bibirnya.Semua orang terpaku.“Berani sekali, bocah!” Gottfried mengamuk, auranya meledak liar. “Kau pikir kau bisa menyerangku tanpa konsekuensi?!”Ia melompat, menyalurkan seluruh kekuatan

    last updateHuling Na-update : 2026-04-03
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status