تسجيل الدخولNathan membuka matanya lalu menoleh.Gadis itu sedang memegang botol permen karet dengan ekspresi sedikit canggung. “Maaf mengganggu, bisa bantu membukanya?”Nathan tersenyum tipis sebelum mengambil botol itu dan memutarnya dengan santai.Klik.Tutup botol langsung terbuka.“Terima kasih.” Gadis itu tersenyum manis lalu mengambil satu permen karet sebelum menyerahkannya pada Nathan. “Ini untukmu.”Nathan tidak menolak, ia langsung memasukkan permen itu ke mulutnya sambil kembali menyandarkan tubuhnya. Melihat Nathan tetap tenang setelah itu, tatapan gadis tersebut perlahan berubah. Biasanya pria-pria akan berusaha mencari alasan untuk mengobrol dengannya lebih lama, tetapi Nathan justru terlihat sama sekali tidak tertarik.Hal itu malah membangkitkan rasa penasarannya.“Halo, perkenalkan, aku Aveline,” katanya sambil mengulurkan tangan kecilnya. “Aku berasal dari Solara, tapi sudah lama sekolah di sini. Kamu sendiri dari mana?”“Nathan,” jawab Nathan singkat. “Orang lokal.”Aveline te
Nathan mengangguk ringan. “Hanya peningkatan kecil.”Bonang langsung tertawa pelan. “Anak monster sepertimu benar-benar membuat orang lain kehilangan semangat berkultivasi. Peningkatan kecilmu saja terasa lebih mengerikan daripada peningkatan besar milik orang lain.”Nathan hanya tersenyum tipis.Bonang kemudian menatapnya penuh arti. “Kamu tidak mau pergi berpamitan dengan para kekasihmu itu?”“Tidak perlu,” jawab Nathan santai. “Biar mereka tidak khawatir.”Bonang mengangkat alisnya lalu tertawa kecil. “Kalau nanti mereka marah karena kamu pergi diam-diam, jangan bilang aku tidak pernah memperingatkanmu.”Melihat ekspresi Bonang, Nathan langsung merasa ada yang tidak beres.Dan benar saja.Belum sempat dia bicara, Beverly, Sheerena, Rebecca, Sienna, dan para gadis lainnya sudah berjalan mendekat dari kejauhan. Tatapan mereka langsung tertuju pada Nathan.“Kamu mau pergi ke Solara tapi tidak bilang pada kami?”“Kalau bukan karena Kak Seraphyne memberi tahu kami, kamu pasti tetap meny
Seraphyne yang sejak tadi diam akhirnya ikut berbicara. “Tuan Nathan, biarkan Guru Bonang ikut denganmu,” tatapannya dipenuhi kekhawatiran. “Kau pergi sendirian ke tanah asing memang terlalu berbahaya.”Ia menarik napas pelan sebelum melanjutkan. “Mengenai pencarian Sektor Bayangan, aku bisa melakukannya sendiri. Kalau pintu masuknya memang ada di sekitar sini, aku pasti bisa merasakannya.”Nathan hanya bisa mengangguk saat mendengar perkataan Seraphyne. “Kalau begitu, lusa kita berangkat.”Malam sudah terlalu larut. Nathan tidak berniat mengganggu mereka lebih lama lagi, jadi dia bangkit dari kursinya lalu berjalan keluar dari kamar Bonang. Baru beberapa langkah meninggalkan ruangan itu, suara Seraphyne kembali terdengar dari dalam kamar, membuat Nathan hanya bisa tersenyum kecil sambil menggelengkan kepala.Kekuatan Bonang mungkin tidak terlalu tinggi, tetapi urusan ranjang memang seolah menjadi wilayah kekuasaannya sendiri.***Keesokan harinya, Nathan mengumpulkan seluruh bahan ob
Nathan juga sudah menghubungi Herold sebelumnya dan meminta lebih banyak bahan obat dibawa saat datang ke Moniyan untuk menyembuhkan Paul. Ia ingin menggunakan semua bahan itu untuk membuat pil esensi mana dan mencoba menerobos tingkatannya. Jika dia berhasil menembusnya sebelum pergi ke Solara, keyakinannya akan jauh lebih besar.Setelah semuanya selesai, Nathan berjalan perlahan menuju kamarnya. Tatapannya tanpa sadar tertuju ke arah markas Martial Shrine yang kini sudah berubah menjadi salah satu cabang utama Klan Draken Ascalon.“Sarah…” Nathan menghela napas pelan.Ia tahu Sarah masih dikurung di dalam Sektor Bayangan milik Ordo Maledicta, tetapi sampai sekarang dia masih belum menemukan lokasi pintu masuknya. Dan untuk sementara, masalah itu hanya bisa diserahkan pada Bonang dan Seraphyne.Nathan sendiri tidak banyak membantu dalam urusan mencari Sektor Bayangan. Memikirkan itu, Nathan langsung berjalan menuju kamar Bonang dan Seraphyne untuk memberitahu rencananya pergi ke Sola
Wajah Seiji langsung berubah. “Tidak… tidak semua orang seperti itu.” Ia buru-buru menggeleng. “Aku hanya berharap kau bisa melepaskanku.”Tatapannya terus mengawasi Pedang Aruna di tangan Nathan seolah takut bilah itu tiba-tiba menebas kepalanya. “Kalau kau membunuhku, keluarga Ryodan akan terus mengirim orang untuk mengejarmu. Hidupmu tidak akan pernah tenang.”“Aku bisa membantumu. Aku tidak akan kembali ke Solara, tapi aku akan mengirim pesan bahwa aku masih memburumu. Selama aku hidup, mereka tidak akan mengirim orang lain.”Nathan mendengarkan dengan tenang, namun ekspresinya sama sekali tidak berubah. “Setelah membunuhmu…” Nathan mengangkat Pedang Aruna perlahan. “Keluarga Ryodan juga tidak akan punya kesempatan lagi mengirim siapa pun.”Seiji tercengang. “Apa maksudmu?!”Nathan menatapnya dingin. “Aku akan pergi ke Solara dan memusnahkan keluarga Ryodan sampai ke akarnya.”Nathan memang sudah memikirkan hal itu sejak awal. Ia tidak mungkin membiarkan ancaman seperti keluarga R
Namun Nathan tetap tidak bergerak, ia masih melayang di udara dengan ekspresi tenang. Saat cahaya pedang itu tiba tepat di depannya, Nathan justru membuka kedua tangannya lebar-lebar seolah menyambut serangan tersebut.BAAAAAM!Cahaya pedang menghantam tubuh Nathan dan langsung berbenturan dengan cahaya emas yang menyelimuti tubuhnya. Percikan api memenuhi langit malam. Dari kejauhan, benturan itu terlihat seperti ledakan kembang api raksasa yang terus bermunculan tanpa henti di udara.Namun di tengah hujan percikan itu, cahaya pedang milik Seiji mulai memendek sedikit demi sedikit. Tekanannya terus melemah, sampai akhirnya seluruh cahaya pedang itu hancur sepenuhnya.Nathan masih melayang di udara tanpa luka sedikit pun. Tebasan tadi benar-benar diserap mentah-mentah oleh tubuh fisiknya yang mengerikan.Seiji tanpa sadar menelan ludah, tatapan matanya mulai dipenuhi ketakutan. Ia adalah Puncak Villain yang hanya tinggal selangkah lagi memasuki tahapan Origin, tetapi seluruh kekuatann
Ancaman itu berhasil. Roh jahat itu seakan terdiam. Cengkeraman di leher Jazer terlepas. Ryuki terhuyung mundur, terbatuk-batuk hebat, keringat membasahi dahinya. Dia menatap ayahnya dengan matanya sendiri, mata yang kini dipenuhi rasa ngeri dan bersalah. "Ayah... kau tidak apa-apa?"Jazer memegang
Melihat Nathan kini berada di dalam jangkauannya, kraken itu menghantamkan tentakelnya ke bawah dengan sekuat tenaga.BOOM!Tentakel raksasa itu menghantam air dengan keras, menciptakan ledakan air raksasa yang mengirimkan ombak besar ke arah kapal pesiar. Kapal kembali bergoyang-goyang. Semua oran
Seketika, rasa sakit yang luar biasa tajam menghantam benaknya, membuatnya berteriak dan memegangi kepalanya."Sudah kubilang," suara serak di benaknya kini terdengar sangat marah, setiap katanya adalah sebuah ancaman maut. "Jangan pernah berpikir untuk macam-macam dengan gadis itu. Jika kau berani
Kepala naga emas itu membesar tanpa batas, menelan seluruh pandangan mereka, seolah hendak menelan langit itu sendiri. Aura kematian yang begitu pekat menyelimuti mereka, membuat naluri buas mereka menjerit ketakutan. Dengan raungan panik, mereka menyilangkan lengan, mengerahkan setiap ons kekuatan







