Share

Bab 247

Penulis: Imgnmln
last update Tanggal publikasi: 2024-06-15 18:56:49

“Hebat, Tuan! Anda sangat hebat! Karena kamu begitu percaya padaku, dan juga saudaranya Tuan Gilbert, maka aku akan membuka harga sebesar lima belas miliar per tanaman, bagaimana?" Seringai picik muncul di senyuman Chicko. "Tuan Gilbert juga tahu, harga pasaran untuk bahan obat berusia ratusan tahun kelas tinggi seperti ini, kami akan menjualnya pada harga lima belas miliar saja!” Chicko memicingkan matanya dan berkata dengan tegas.

Nathan tahu Chicko tidak berbohong karena saat di Gottfried
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1883

    Hugo Ryodan memiliki satu keistimewaan yang bahkan tidak dimiliki Alaric sendiri. Ia dapat berhubungan langsung dengan Kuil Dewa Arwah. Sebagai kepala keluarga, Alaric sebenarnya hanya boneka pengelola di permukaan.Keluarga Ryodan memang berada di bawah perlindungan Kuil Dewa Arwah, tetapi bahkan dirinya sendiri hampir tidak pernah mendapat kesempatan memasuki kuil. Untuk menginjakkan kaki di sana saja terasa lebih sulit daripada mendaki langit.Namun Hugo berbeda. Pria tua itu bisa datang ke kuil kapan saja untuk bersembahyang, bahkan berbicara langsung dengan para petinggi Kuil Dewa Arwah. Itulah alasan mengapa pengaruhnya tidak pernah benar-benar hilang.Alaric langsung berdiri. “Aku tidak bisa terus menunggu,” tatapannya berubah tajam. “Siapkan mobil, kita pergi ke kediaman leluhur sekarang juga.”“Baik!”Para bawahan segera bergerak terburu-buru.Alaric tahu dirinya harus menemui Hugo sebelum Aeron berhasil mempengaruhi pria tua itu lebih jauh. Kalau tidak, semua yang telah ia b

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1882

    Aveline menatap ayahnya dengan bingung. “Ayah, sebenarnya apa yang terjadi?”Alaric segera menenangkan ekspresinya. “Tidak ada.” Ia melambaikan tangan pelan. “Kamu kembali dan istirahatlah dulu.”Meski masih bingung, Aveline akhirnya mengangguk lalu keluar dari ruangan.Setelah pintu tertutup, suasana vila langsung berubah sunyi.Tok… Tok…Jari Alaric mengetuk meja perlahan. Jika Nathan benar-benar orang yang sama dengan pria yang telah membunuh Squala, maka kedatangannya ke Solara jelas bukan sebuah kebetulan. Dan jika tujuan Nathan memang untuk membalas dendam pada Keluarga Ryodan, maka dirinya sebagai kepala keluarga pasti akan menjadi target pertama.Yang membuat Alaric semakin gelisah adalah kemungkinan lain. Bagaimana jika semua pertemuan Nathan dengan Aveline memang sudah direncanakan sejak awal?Mulai dari duduk bersebelahan di pesawat, hingga penyelamatan heroik di jalan tadi. Semuanya bisa saja hanyalah langkah untuk mendapatkan kepercayaan putrinya. Namun Alaric sama sekali

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1881

    Selain itu, di dalam Kuil Dewa Arwah juga terdapat banyak ahli kuat, bahkan beberapa faksi tersembunyi yang jarang menampakkan diri di hadapan publik. Keluarga Ryodan sendiri tidak lebih dari salah satu cabang kekuatan di bawah kendali Kuil Dewa Arwah, bertugas menyediakan sumber daya, uang, dan pengaruh politik bagi kuil tersebut.Mendengar penjelasan Haye, Nathan perlahan mengernyit. Situasi ini jauh lebih rumit daripada yang ia bayangkan sebelumnya. Jika benar seperti itu, maka menghancurkan Keluarga Ryodan—bahkan hanya garis keturunan Aeron saja—jelas bukan perkara mudah.Yang lebih membuat Nathan waspada adalah fakta bahwa Seiji sama sekali tidak pernah menyebut keberadaan Kuil Dewa Arwah ketika menjelaskan tentang Keluarga Ryodan sebelumnya. Artinya jelas, pria itu sengaja menyembunyikan sesuatu.Sudut mata Nathan menyipit tipis. Sepertinya Seiji memang belum benar-benar tunduk padanya.“Kalau begitu, situasinya memang tidak sesederhana yang kita kira.” Bonang menyandarkan tubuh

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1880

    Haye mengangkat botol anggur lalu menuangkannya ke dalam mulutnya sebelum menjawab santai. “Bisnis membunuh orang.”Bonang sempat melongo beberapa detik. “Hah?”Namun Nathan langsung memahami maksudnya lebih dulu. “Kau… seorang pembunuh bayaran?”Haye mengangguk tanpa menyembunyikan apa pun. “Kurang lebih begitu.”Bonang menatap rumah reyot itu lagi lalu berkata heran, “Kalau kau memang pembunuh bayaran, kenapa hidupmu bisa sampai begini? Dengan kekuatanmu, harusnya banyak orang yang mencarimu.”Haye menggeleng pelan. “Bukan tidak ada yang mencari,” sudut bibirnya terangkat tipis. “Mereka hanya tidak mampu membayarku.”Nathan dan Bonang saling menatap.Bonang langsung bertanya, “Memangnya, berapa tarif yang kau berikan?”Haye menjawab tanpa perubahan ekspresi sedikit pun.“1 Miliar untuk satu kepala.”“Pffft—” Bonang hampir tersedak ludahnya sendiri.Nathan pun ikut terdiam. 1 Miliar hanya untuk satu pembunuhan? Tak heran tidak ada yang mampu menyewanya.Bonang memijat dahinya frustra

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1879

    Dua pendekar itu saling melirik, tetapi tidak ada yang berani menjawab.“Cih…” Haye mendengus pelan.Lalu, hembusan napas tipis keluar dari mulutnya.Whooosh~Kabut samar langsung menyelimuti tubuh kedua pendekar itu.“Aaaarghhh!”Keduanya tiba-tiba menjerit bersamaan. Tubuh mereka kejang-kejang hebat seperti sedang dihancurkan sesuatu dari dalam, wajah mereka pucat pasi.“T-Tuan Haye… ampun…”“Kami bicara!”Salah satu pendekar akhirnya tidak tahan lagi.“Itu perintah Kepala Keluarga! Karena orang ini menyelamatkan Nona Muda kami, Kepala Keluarga ingin menyelidiki identitasnya!”Setelah mendengar itu, Haye melambaikan tangan ringan. Kabut yang menyelimuti dua pendekar itu langsung lenyap.Napas keduanya memburu, keringat dingin membasahi punggung mereka.Haye menatap mereka tanpa ekspresi. “Sekarang kalian sudah tahu, dia temanku. Kembali dan katakan pada Alaric, jangan macam-macam kepada temanku.”Nada suaranya tidak keras, namun tekanan dalam setiap katanya membuat dua pendekar itu

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1878

    Setelah selesai bicara, Haye mengisap pelan.Srrttt—Mendadak arak di dalam teko yang dipegang Bonang bergerak sendiri. Cairan itu melayang keluar seperti ditarik kekuatan tak terlihat sebelum langsung masuk ke mulut Haye.Nathan menyipitkan mata, tidak ada aura, tidak ada energi yang terpancar. Namun pria tua itu bisa mengendalikan benda tanpa memperlihatkan kekuatan sedikit pun. Hanya dari gerakan tadi saja, Nathan langsung mengerti, Bonang tidak membual. Orang tua ini memang sangat kuat.Haye menyeka sudut bibirnya dengan lengan baju sebelum memandang Bonang santai. “Bonang, tolong bayar tagihanku.”Bonang langsung membelalak. “Kau masih punya muka bilang begitu?! Aku datang jauh-jauh ke Solara untuk mencarimu, kau tidak menjamuku saja sudah keterlaluan, sekarang malah minta dibayarin arak?”Haye terkekeh pelan sambil bersandar santai di kursinya.Nathan menggeleng pasrah lalu berdiri. “Sudahlah, biar aku saja yang bayar.”Mata Haye langsung berbinar. “Hahaha! Anak muda ini jauh le

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1499

    Nathan mengerang, lalu berteriak marah. “SIALAN!” Cahaya keemasan membungkus seluruh tubuhnya, mengalir dari nadi ke ujung rambut.“Kalau begitu…” Ia menatap ke atas, ke arah bola cahaya yang berputar di langit.“Aku akan menghancurkanmu dari sumbernya.”Patung batu itu menyerap kekuatan spiritual d

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-03
  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1481

    Setelah selesai, ia berjalan keluar bersama lelaki tua tadi. "Pak Tua," katanya sambil mengeluarkan sebatang rokok dan menawarkannya. "Boleh saya bertanya? Kenapa kalian menyembah patung batu itu? Dan kenapa semuanya tampak begitu terburu-buru?"Lelaki tua itu mengisap rokoknya dalam-dalam. "Kau or

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-03
  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1527

    Ryuki menatap pemandangan itu dengan wajah yang menegang. Dalam pikirannya, roh spiritualnya berbicara, dengan suara serak dan cemas. “Dua kali badai petir dalam satu terobosan? Dia bukan manusia biasa, pemuda ini sangat berbakat.”Ryuki mengatupkan rahangnya, napasnya memburu. Jika Nathan benar-be

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-03
  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1516

    Aura menekan itu turun seperti kabut gelap, membuat napas semua orang di Saibu Care tercekat. Para alkemis yang biasanya tidak punya tenaga untuk bertarung memilih diam, menyembunyikan diri di antara kerumunan. Tidak ada satu pun yang maju.Ranzel menyipitkan mata. Energi Villainnya memanas, memeli

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-03
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status