로그인"Tuan Ace …. Jika saya boleh bertanya, hal apa yang membuat Anda datang ke kota Northen Vale ini?"
Nathan yang mendengar itu melirik ke arah Paul. Aura yang sangat mendominasi dapat terlihat dari manik matanya yang dingin.Hal itu membuat Paul gemetar. "M-maaf jika saya lancang, Tuan. Tapi, kota Northen Vale hanyalah sebuah kota kecil jika dibandingkan dengan ibukota Northen," ujarnya dengan kaku.Menyadari ketakutan Paul, Nathan kembali memalingkan wajahnya menatap pemandangan Kota Northen Vale dari jendela mobil dan mulai menjelaskan kedatangannya. "Northen Vale …. Ini adalah kampung halamanku," pria itu kembali mengalihkan pandangannya ke arah Paul, tatapan matanya bertabrakan dengan netra hitam milik Paul. "Sudah lima tahun, aku tidak bertemu dengan keluargaku."Mendengar penjelasan singkat sang dewa perang itu, Paul membelalakkan matanya. 'Apa? Tuan Ace berasal dari Northen Vale?!'"Tuan Ace … A-aku—""Cukup! Berhenti memanggilku Ace, aku bukan lagi seorang pejuang seperti dulu," Nathan memotong ucapan Paul dengan datar. "Sekarang aku hanyalah rakyat biasa, Nathan Sykes."Paul yang mendengar itu merasa sangat kagum, meskipun dia merupakan seorang panglima tingkat tinggi kemiliteran, yang jika dibandingkan dengan Ace, Paul hanyalah setitik debu. Akan tetapi, Nathan bersikap rendah hati terhadapnya.Paul sedikit mengetahui tentang identitas Ace, yang mana saat di dalam penjara, Nathan bertemu dengan seorang pria tua yang merupakan agen dari militer. Di dalam penjara, pria tua itu selalu ditindas oleh para napi yang lain, hanya Nathan yang berani menolongnya. Sehingga, pria tua itu mengajarkan banyak seni bela diri dan menjadikannya seorang pejuang militer.Suatu ketika, Nathan diutus untuk menjalankan sebuah misi rahasia yang diberikan secara khusus oleh Presiden. Dengan membawa pasukan elit The Falcon, dia berhasil meluluhlantakkan sebuah negara. Hingga akhirnya, Nathan mendapatkan julukan sang dewa perang, Ace!Setengah jam telah berlalu."Berhenti," sahut Nathan seraya menatap sebuah kompleks perumahan yang tidak asing baginya. Sopir pun menginjak rem dengan refleks dan menghentikan laju mobil. "Aku akan berjalan kaki dari sini, aku tidak ingin membuat orang-orang mencurigaiku jika melihat keberadaanmu," ujarnya kepada Paul.Nathan kemudian keluar dari dalam mobil, dan sopir itu mengambil koper usang miliknya.Setelah menerima koper itu, Nathan berkata. "Terima kasih, karena telah mengantarku pulang," ujarnya menepuk pundak Paul yang berada di hadapannya.Nathan membalikkan badannya sembari menyeret koper usang miliknya, tanpa menunggu balasan dari Paul.Melihat itu, Paul sontak terkejut, dia pun bergegas mengejar Nathan dan berkata. "Tuan Nathan!" teriaknya yang membuat Nathan berhenti. Dia memberikan secarik kertas sembari membungkuk dengan hormat. "Tuan, ini adalah kartu namaku, Anda bisa memanggilku kapanpun jika membutuhkan bantuan. Aku akan datang dengan senang hati."Nathan membaca secarik kertas itu, yang membuat bibirnya terangkat. "Jendral Paul Cartney," ucap Nathan menatap Paul yang langsung berdiri dengan tegap. "Senang bisa bertemu denganmu," ujarnya sembari membalikkan badannya. "Suatu saat, aku akan membutuhkan bantuanmu."Nathan menatap gedung-gedung mewah yang menjulang tinggi di hadapannya, semuanya terasa begitu asing baginya. 'Bantuan untuk menyingkirkan bedebah di kota ini,' kilatan cahaya yang berbahaya memancar dari manik matanya dengan tajam.***"Ibu, aku kembali," ucap Nathan seraya menatap gedung-gedung tinggi yang jauh berbeda terakhir kalinya dia melihat tempat itu.Lima tahun yang lalu, tepatnya saat Nathan masih berusia dua puluh lima tahun, dia masih mengingat dengan jelas. Gedung-gedung tinggi itu masih sebuah sawah, rumah yang megah di sekelilingnya masih sebuah rumah biasa yang terbilang cukup mewah. Dan sekarang, semuanya berubah drastis dari apa yang dia ingat.Setelah sekitar sepuluh menit Nathan berjalan kaki sembari menyeret koper usangnya, dia menatap sebuah rumah bobrok yang ada di hadapannya. Rumah itu masih berdiri dengan kokoh, namun banyak tumbuhan-tumbuhan liar yang mulai menjalari pagar berkarat dan lumut yang menempel di dinding. Terlihat sebuah retakan yang membuat rumah itu mencolok jika dibandingkan dengan rumah-rumah megah di sekelilingnya.'A-apa ini?!'Nathan menatap rumah itu dengan hati yang buruk. 'Apa yang terjadi?'Nathan mendekati pagar berkarat itu dan memegangnya dengan erat, emosinya memuncak tinggi. "Apa ada orang?" serunya dengan suara yang keras.Namun, kediaman itu terlihat sangat hening, sunyi dan senyap. Merasa ada yang tidak beres dengan kediamannya itu, Nathan melirik sekitar halaman rumah dengan ragu. Kemudian dia melemparkan koper usang miliknya melewati pagar besi berkarat itu dan melompatinya. Dia menyusuri jalanan menuju pintu rumahnya yang dikelilingi ilalang.Setelah ragu-ragu untuk waktu yang lama, Nathan dengan lembut mengetuk pintu. "Ma …""Siapa?" Pintu terbuka, dan seorang wanita tua dengan rambut penuh uban menjulurkan kepalanya, wanita tua itu meraba-raba ke depan dengan satu tangan. "Siapa, siapa yang mengetuk pintu?"Mata wanita tua itu tertutup, dan jelas dia tidak bisa melihat apa-apa, dia buta!Ketika Nathan melihat wanita tua di depannya, dia tercengang, matanya terbuka lebar, dan seluruh tubuhnya gemetar. Dia tidak percaya bahwa wanita tua dengan rambut putih dan wajah keriput di depannya ini sebenarnya adalah ibunya, Maria Shandi!Hanya dalam lima tahun yang singkat, bagaimana ibunya menjadi seperti ini?'A-apa yang terjadi?!' Nathan sontak terkejut melihat keadaan ibunya. "Ma, ini aku, aku Nathan!" Nathan melangkah maju untuk mendekati ibunya dan berteriak dengan penuh semangat."Nathan? Apakah itu benar-benar kamu?" Maria menyentuh wajah Nathan dengan kedua tangannya, dan air matanya tidak bisa berhenti mengalir."Iya, ini aku, Ma ...." Mata Nathan juga merah. "Ma, ada apa denganmu? Apa yang terjadi?"Nathan tidak mengerti, ibunya baik-baik saja ketika dia pergi, mengapa dia menjadi seperti ini hanya dalam lima tahun?"Nak, ceritanya panjang, ayo masuk!" Maria menarik Nathan masuk ke dalam rumah yang kumuh itu.Melihat ruangan yang sederhana, hampir kosong, Nathan tercengang bukan main. Meskipun keluarga mereka tidak kaya, tetapi ayahnya memiliki pekerjaan formal, sehingga masih mungkin untuk mencapai kehidupan yang berkecukupan, tetapi bagaimana keluarga menjadi seperti ini sekarang?Ketika Nathan melihat keadaan rumahnya yang bobrok dan juga ibunya yang saat ini buta, dia bertanya. "Ma, apa yang terjadi dengan keluarga kita?""Nathan …" Maria menghela nafas. "Setelah kamu pergi …."Maria menceritakan masalah itu satu per satu.Gumpalan kabut hitam muncul di angkasa, perlahan membentuk wajah manusia raksasa. Cahaya menyilaukan terpancar dari kedua matanya.Begitu wajah itu muncul, semua orang merasakan ancaman yang belum pernah mereka alami sebelumnya.Mulut raksasa itu perlahan terbuka. Sebuah peti mati perunggu terbang keluar dari dalamnya. Saat peti mati tersebut muncul, patung-patung batu yang tersusun di tanah mulai berguncang hebat.Sesaat kemudian, belasan berkas cahaya dengan warna berbeda melesat keluar dari patung batu. Cahaya itu menyatu di udara, lalu menyelimuti peti mati perunggu tersebut.Cahaya warna-warni membungkus peti mati itu hingga melayang di udara. Pada saat yang sama, kedelapan patung batu perlahan menghilang, dan Sarah beserta yang lainnya berjatuhan keluar dari tempat mereka terkurung.“Sarah!”Melihat Sarah dan yang lainnya terjatuh, Nathan segera bergegas menghampiri mereka untuk memeriksa keadaan mereka.Untungnya, meskipun tubuh mereka tampak lemah, tak seorang pun mengalami lu
Nathan segera menoleh. Sosok yang berjalan mendekat ternyata Ryujin, yang muncul dengan langkah santai seolah tidak sedang berada di tengah medan pertempuran.“Tuan Ryujin?” Nathan terkejut melihat kedatangannya. Dia sama sekali tidak menyangka pria itu akan muncul di sini.Ryujin tersenyum tipis kepadanya. “Kau boleh pergi. Biar aku yang menangani sisanya.”Nathan masih memiliki banyak pertanyaan. “Tuan Ryujin, Resonansi Dunia sudah aktif dan energi spiritual di seluruh dunia fana telah bangkit kembali. Kalau Anda datang lebih awal, bukankah masih ada kesempatan untuk menghentikannya?”Ryujin menggeleng pelan, senyumnya tidak berubah. “Sekalipun aku datang lebih awal, resonansi dunia tetap tidak bisa dihentikan. Semua ini sudah menjadi takdir, dan takdir bukan sesuatu yang bisa dilawan.”Dia berhenti sejenak, kemudian melanjutkan dengan nada tenang, “Lagi pula, Resonansi Dunia yang selama ini kalian bicarakan hanyalah sebuah kebohongan.”Setelah mengucapkan kalimat itu, Ryujin mengal
Bagaimanapun, naga dan garuda di hadapan mereka adalah makhluk suci, bukan makhluk iblis biasa. Aura yang mereka pancarkan jauh melampaui lawan-lawan yang dipanggil Kaidar.Untuk sesaat, kesombongan Kaidar mulai terusik. Keenam makhluk iblis itu masih mengepung Nathan, namun tak satu pun berani maju menghadapi naga dan garuda yang berdiri melindunginya.Naga dan Garuda Bara segera melancarkan serangan terhadap enam makhluk iblis.Kaidar menyadari bahaya yang mengancam, lalu melompat menjauh untuk menghindari serangan mereka. Namun, keenam makhluk iblis yang dipanggilnya tidak seberuntung dirinya.Dragnows sang Naga Taiju dan Garuda Bara menerjang tanpa memberi kesempatan kepada lawan untuk membalas.Di hadapan dua makhluk suci itu, para makhluk iblis Tahap Transcendent tak mampu memberikan perlawanan berarti. Raungan kesakitan menggema ketika satu demi satu tubuh raksasa mereka dihantam hingga roboh ke tanah.Melihat keadaan berbalik begitu cepat, Kaidar segera mengubah rencananya. Di
Nathan kemudian mengalihkan pandangan ke arah Yang Mulia yang masih melayang di langit. Sosok itu tampak samar, tetap diam tanpa menunjukkan reaksi sedikit pun.Kening Nathan semakin berkerut. Ada sesuatu yang tidak beres.Yang Mulia telah mengerahkan begitu banyak upaya demi membangkitkan energi spiritual di dunia fana. Namun, setelah tujuannya tercapai, dia justru terlihat tenang, seolah-olah perubahan besar yang terjadi sama sekali tidak penting baginya.Sikap tersebut membuat Nathan merasakan firasat buruk yang sulit diabaikan.Kaidar segera memahami situasi itu. Ketika menyadari bahwa Sektor Bayangan Aula Luminaris telah lenyap dan energi spiritual dunia fana telah bangkit kembali, dia tertawa penuh kemenangan.“Hahaha! Nathan, energi spiritual sudah bangkit kembali. Kau tidak lagi berguna bagi Yang Mulia. Hari ini, kau pasti mati!”Kini, Nathan telah kehilangan nilai di mata pihak lawan. Tidak ada lagi alasan bagi mereka untuk membiarkannya hidup.Kaidar mengangkat kepala dan me
Sesosok burung raksasa muncul di udara. Tubuhnya diselimuti kobaran api, sementara sepasang sayapnya memancarkan cahaya keemasan yang menyilaukan.Garuda Bara mengepakkan sayapnya, melepaskan gelombang panas yang menyapu seluruh medan pertempuran. Hawa dingin yang sebelumnya menyelimuti area tersebut langsung lenyap. Bahkan orang-orang yang membeku di tanah mulai mencair, terbebas dari lapisan es yang membelenggu mereka.Kirin iblis milik Kaidar merasakan ancaman dari gelombang panas itu dan segera mundur secara naluriah. Pada saat yang sama, es yang mengurung Nathan mencair dengan cepat, membebaskannya tepat sebelum serangan Kirin iblis mencapai sasaran.Nathan kembali mendapatkan kebebasannya. Dia mendongak dan melihat burung raksasa yang baru saja menyelamatkannya, wajahnya menunjukkan keterkejutan.Para tetua Ordo Ferrum dan ahli dari Sektor Abadi lainnya juga terperangah.“Garuda Bara? Makhluk suci dari Sektor Abadi, salah satu binatang suci tertinggi! Bagaimana mungkin dia muncu
Saat darah esensi itu memasuki lubang tersebut, raungan menggelegar terdengar dari dalamnya. Tanah bergetar, dan tekanan mengerikan menyebar ke seluruh area. Perlahan, tubuh raksasa mulai muncul dari balik kegelapan.Begitu sosok itu menampakkan diri sepenuhnya, langit dan bumi seakan kehilangan warnanya. Aura dingin yang luar biasa kuat menyelimuti medan pertempuran, membuat semua orang merasakan tekanan yang sulit ditahan.Nathan mendongak, matanya menyipit ketika melihat makhluk di hadapannya.Seekor Kirin iblis!Makhluk itu menjulang lebih dari sepuluh meter, dengan tubuh raksasa yang memancarkan hawa dingin dari setiap tarikan napasnya. Bahkan udara di sekitar lubang hidungnya tampak membeku oleh hembusan es yang keluar tanpa henti.Kaidar segera melompat ke punggung makhluk tersebut, lalu menatap Nathan dengan penuh percaya diri.“Itu Kirin iblis dari Sektor Abadi!” seru tetua utama Ordo Ferrum dengan wajah terkejut. “Makhluk iblis berelemen es yang mampu membekukan segala sesua
Namun semua ini belum diketahui Nathan. Ia masih berjuang, mencari jalan yang tidak pernah ada di dunia fana.Tak lama kemudian, seorang Ksatria Neraka muncul dan berlutut. “Penyihir,” katanya hormat, “Yang mulia memerintahkan agar Sektor Bayangan dibuka kembali dan Martial Shrine dipulihkan.”Waja
“Semoga perjalananmu lancar.” Zephir menepuk bahu Nathan sebelum keberangkatan, senyum tipis masih terlihat di wajahnya.Di sampingnya, Nalan ikut menimpali dengan nada bercanda, “Perjalanan kali ini mungkin bukan soal musuh yang berat, tapi bagaimana kamu menghadapi rombonganmu sendiri.”Nathan ha
Nathan baru saja hendak bergerak ketika monster Dreadfang Sovereign itu tiba-tiba berbalik.“ROARR!”Dengan satu lompatan besar, tubuh raksasanya melesat menjauh. Dalam beberapa detik saja, sosoknya sudah lenyap di balik kabut dan tebing bersalju.Nathan berhenti di tempat, sedikit tertegun.Bonang
Aura kehidupan di tubuh mereka langsung meredup. Satu per satu, tubuh mereka jatuh ke tanah.Pemandangan itu membuat seluruh kerumunan bingung. Tidak ada yang mengerti apa yang sedang dilakukan para Ksatria Neraka.Mengapa mereka tiba-tiba bunuh diri?Namun tidak lama kemudian, tubuh para Ksatria N







