MasukJam sudah menunjukkan pukul sembilan malam saat Chloe tiba di tempat penitipan anak yang tampak sepi.
Chloe melihat satu putra kecilnya berdiri menunggu dengan wajah tertekuk sedih. Sementara satu lagi duduk di teras tempat penitipan. "Mommy...!" Diego berlari saat melihat Chloe, lalu memeluknya erat. "Mommy kenapa lama sekali? Katanya tidak terlalu malam pulangnya!" protesnya sambil mengeratkan rengkuhannya. "Maafkan Mommy ya, Nak. Tadi banyak pasien," kata Chloe. Dylan beranjak dari duduknya, lalu bersedekap dan bersandar pada pilar. "Si cengeng itu tadi menangis, Mom. Benar-benar tidak gentle man!" adu Dylan, melirik kembarannya yang masih memeluk erat sang Mama. Chloe menatap Diego yang cemberut. "Diego kalau tidak suka bermain dengan teman-teman yang lain, main sama Kakak saja, Sayang." "Tapi Kakak tidak mau diajak main gelembung, Mommy! Tidak seru!" ujarnya cemberut kesal. "Aku sudah besar. Tidak suka bermain gelembung air!" seru Dylan membela diri. Chloe terkekeh mendengarnya. Ia memahami kedua anaknya ini memang sangat bertentangan. "Sudah, sudah ... jangan ribut. Sini, Mommy ingin memeluk kalian berdua dulu. Mommy kangen sekali dengan kalian," ujar Chloe pada mereka berdua. Anak-anak itu langsung memeluknya dengan penuh kasih sayang. Chloe mengakui ia memang pulang terlambat, sebab ia sibuk mengumpulkan informasi tentang penyakit Alvino. Diego melepaskan pelukannya dari Chloe. "Ayo pulang, Mom. Diego mau makan malam bersama Mommy." "Iya, Nak. Ayo kita pulang, Mommy akan memasakkan makanan yang enak untuk kalian berdua." "Yeaay ... asyik!" Diego bersorak kegirangan. Sedangkan Dylan tampak sibuk mengambil tas miliknya dan milik Diego yang akan mereka bawa pulang. "Mom, tas punya Mommy biar Dylan saja yang bawa. Mommy pasti sekarang sangat lelah setelah bekerja," ujar anak itu. Chloe merasa tersentuh pada si sulung, tapi Dylan anak yang pantang ditentang. "Boleh. Terima kasih, Kakak Dylan." Anak itu tersenyum tipis. "Sama-sama, Mommy." Setelah itu, Chloe segera berpamitan pada Madam Bree untuk mengajak si kembar pulang malam ini. Sepanjang perjalanan dengan taksi, Chloe memeluk kedua anaknya yang tertidur. Tak berapa lama, mereka sampai di rumah. Si kembar sudah bangun dan langsung berlari lebih dulu masuk ke dalam rumah diikuti oleh Chloe. "Mom ... Diego mau minum susu!" pekik Diego berlari ke dapur membawa botol susunya. "Sebentar, Sayang. Mommy buatkan setelah Mommy mandi, ya," ujar Chloe pada mereka. "Okay, Mom!" Dylan dan Diego kembali mengekori Chloe dan ikut masuk ke dalam kamar. Kedua anak itu berbaring di atas ranjang dan bermain, sementara Chloe membersihkan dirinya di kamar mandi. Diego mengangkat boneka ikan paus berwarna hitam miliknya. Kedua matanya yang semula berbinar-binar, tiba-tiba menjadi redup. Ia teringat pada beberapa anak di tempat penitipan yang tadi dijemput oleh ayah mereka. Ia beralih menatap kembarannya yang tengah membuka laptop milik Chloe. "Dylan, kira-kira wajah Daddy kita seperti apa, ya?" tanya Diego. "Yang jelas sangat tampan sepertiku," jawab Dylan percaya diri. Diego mencebik. "Andai saja kita punya Daddy, pasti Mommy tidak perlu bekerja dan meninggalkan kita setiap hari. Mommy pasti lelah," ujar Diego memeluk bonekanya. Lalu ia mendadak punya ide. "Kita harus mencari Daddy yang tampan untuk Mommy!" Dylan menoleh. Wajahnya tampak datar. "Tampan saja tidak cukup. Harus mapan, sabar, dan menyayangi Mommy.” “Satu lagi,” kata Diego. “Seperti kata Auntie Amelia ... harus jantan dan berdompet tebal!” Diego tertawa lebar. Ia lalu berdiri di atas ranjang mengangkat tangannya. "Tapi di mana kita bisa mendapatkan Daddy seperti itu?" Dylan merotasikan kedua matanya. "Tenang saja. Mommy sangat cantik, pasti banyak yang ingin menjadi pasangan Mommy. Nanti, aku yang seleksi!" Ekspresi senang dan antusias tampak menghiasi wajah tampak Diego. Saat mereka saling diam, tiba-tiba terdengar suara dentingan pada ponsel milik Giselle di atas nakas. Diego meraih ponsel milik sang Mama. Anak itu melebarkan kedua matanya dengan tangan menutup mulut dan wajah syok dibuat-buat. "Oh my God, Dylan! Lihat…!" Diego menyerahkan ponsel milik Chloe pada kembarannya. "Ada pria tampan mengirim pesan pada Mommy kita!" Dylan meraih ponsel itu dan melihat photo profil pengirim pesan tersebut. Tampak gambar seorang laki-laki tampan di sana, yang tak lain adalah Caesar Leopold. "Hemm ... dari tampangnya yang lumayan, aku mencium aroma uang yang banyak!" Dylan tersenyum miring. "Huh, dasar mata duitan!" Diego menepuk keningnya sebelum kembali menatap kembarannya. "Kira-kira apa orang ini kekasihnya Mommy?" Kedua alis tebal Dylan menukik sebelum anak itu mengangguk ragu. "Emmm ... bisa jadi." Saat keduanya sibuk dengan foto pria itu, mereka mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. Dylan segera meletakan kembali ponsel milik Chloe di tempat semula. Chloe berjalan keluar dari kamar mandi. Wanita itu tampak kikuk menatap si kembar kecilnya yang menatapnya dengan senyuman manis dan lucu. Dari ekspresinya, pasti ada sesuatu. "Kenapa kalian menatap Mommy seperti itu?" Chloe mengangkat kedua alisnya menatap mereka. "Mommy mau merahasiakan sesuatu dari kita, ya?" tanya Diego dengan senyuman manis di bibir tipisnya. Chloe terdiam sejenak. Rahasia? "Mommy tidak merahasiakan apa-apa, Sayang." Wanita itu berjalan mendekati meja rias. Dylan tersenyum tipis mengusap kepala kembarannya sambil melirik sang Mama dari pantulan cermin. "Bocah cengeng, kau terlalu jujur. Mommy kita masih malu-malu!" Dylan menatap geram pada kembarannya. Lantas, Diego turun dari atas ranjang dan berlari mendekati Chloe. Anak itu memeluk kedua kaki Chloe dan mendongak dengan wajah gemas. "Emmm ... Mommy sudah punya kekasih 'kan?" goda anak itu. "Hah?!" Chloe memekik ketika mendengar pertanyaan polos Diego. "Ke-kekasih apa, Sayang?!" "Diego! Berhentilah menggoda Mommy!" sahut Dylan menatap tajam kembarannya. Chloe menyergah napasnya panjang dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tidak menanggapi Dylan dan Diego yang memang setiap hari seperti ini. "Mommy masih tidak mau mengaku?" Diego mendongak dengan mata mengerjap polos. Chloe menunduk dan menyentuh lembut ujung hidung Diego dengan gemas. "Astaga Sayang, Mommy tidak memiliki kekasih—" Ting, tong! Ucapan Chloe terhenti saat ia mendengar suara bel pintu depan rumahnya berbunyi di lantai satu. Bahkan si kembar juga terdiam seketika, menyadari ada seseorang yang datang. Chloe menatap kedua anaknya. "Kalian di sini dulu, Mommy akan turun untuk melihat siapa yang datang." "Oke!" Dylan dan Diego kompak mengangguk. Chloe bergegas keluar dari dalam kamar. Ia menuruni anak tangga dan menoleh ke arah jarum jam yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Entah siapa malam-malam begini datang ke rumahnya. Chloe memutar kunci dan membuka pintu rumahnya cepat. Saat melihat siapa yang datang, Chloe tecengang dan tubuhnya menegang saat mendapati laki-laki tampan berbalut mantel hitam, yang kini berdiri di hadapannya. "Tu-Tuan Caesar?!"Hari-hari berlalu dengan sangat cepat. Dua bulan telah berlalu, saat ini usia Levino sudah satu bulan. Bayi laki-laki menggemaskan itu, semakin terlihat mirip dengan kelima Kakaknya, terutama dengan Adele. Berbeda dengan keempat kakak laki-lakinya, Levino juga semakin hari semakin lengket dengan Adele. Hingga tidak ada uring-uringan lagi dari Adele, apalagi setelah satu bulan yang lalu Amelia juga melahirkan bayi perempuan yang sangat cantik dan lucu. Adele menganggap kini ia punya dua adik. "Mommy, adiknya bisa ditukar saja tidak, dengan Adik Kimmy?" tanya Diego sambil menatap Levino yang dipangku oleh Chloe. "Sepertinya, Levino nanti akan menjadi adik yang nakal," ujar anak itu cemberut. "Kalau Levino ditukar dengan Kimmy, pasti Paman Raksasa marah!" seru Alvino. "Paman Raksasa itu ingin punya anak seperti Kurcaci, katanya!" "Iya, sih ... Tapi kan—""Memangnya kenapa, Sayang? Kenapa dengan Adik Levino?" Caesar mendekati keempat anak laki-laki yang kini duduk di atas ranjang di d
Hari demi hari berjalan dengan sangat menyenangkan. Sudah satu Mingguan ini, Dylan dan Diego yang biasanya sering ribut, tiba-tiba akur. Bahkan saat Alvano, Alvino, dan Adele tengah menemani Chloe bersama adik bayinya, Dylan dan Diego asik bermain di taman rumahnya berdua. "Dylan, aku dapat lagi!" Diego mengangkat tangan kanannya dan menunjukkan capung yang ia tangkap. "Wahhh kita sudah dapat tiga, Diego..." Dylan menunjukkan capung di dalam toples besar yang ia bawa. "Huhhh ... tapi cepek. Aku lari-lari terus. Enak juga dirimu, hanya duduk diam di sini saja!" seru anak itu pada kembarannya.Dylan mendengus. Ia berbaring di atas rerumputan di taman rumahnya. Menatap langit cerah berwarna biru, sebelum kedua matanya terpejam dan Diego ikut berbaring di sampingnya. "Dylan, kadang-kadang aku rindu saat kita hidup bertiga dengan Mommy dulu," ujar Diego tiba-tiba. Dylan pun menoleh dan mengangguk. "Heem. Andai saja dulu kita marah saat tahu Mommy akan pindah kerja ke sini. Pasti kita
"Daddy, kalau Dylan sudah besar nanti, boleh tidak kalau Dylan mau seperti Daddy?" Langkah kaki Caesar langsung terhenti mendengar apa diucapkan oleh Dylan barusan. Caesar tersenyum. "Mau seperti Daddy bagaimana?" tanyanya. "Bekerja seperti Daddy," jawab anak itu. "Alvano ingin sekolah di luar negeri, dia bilang dia mau menjadi pengacara top! Alvino ingin menjadi dokter, katanya Madam di sekolah kalau menjadi dokter harus sangat pintar dan belajar yang giat, kuliahnya juga di luar kota. Sedangkan Diego ... dia juga ingin menjadi tentara angkatan laut, jarang pulang juga. Kalau Adele ... Emmm, Dylan tidak tahu Kurcaci mau jadi apa. Tapi lebih baik Kurcaci tetap di rumah. Kalau dia jauh dari Dylan, Daddy, dan Mommy, nanti dia gampang cengeng!" Caesar terkekeh, ia masih menggendong Dylan di punggungnya sambil berjalan di teras samping rumahnya mondar-mandir. "Kalau Dylan? Kenapa tidak ingin kuliah di luar kota atau luar negeri?" tanya Caesar pada si sulung itu. "Tidak mau," jawabny
Setelah menidurkan Levino, Chloe tidak langsung tidur. Wanita itu masih ingin menengok kelima anaknya dan memastikan mereka sudah tidur atau belum. Chloe memasuki satu persatu kamar anak-anaknya, dari kamar Adele hingga kamar Dylan. Saat Chloe membuka pintu kamar Dylan perlahan-lahan tanpa suara, wanita itu melihat putranya masih duduk diam di meja belajarnya dan tampak mengerjakan sesuatu. "Sayang, kenapa belum tidur?" tanya Chloe berjalan mendekati Dylan. Anak itu menoleh. "Mommy..." "Ini sudah malam, Sayang. Besok Dylan harus sekolah. Kenapa malah belum tidur?" Chloe mengelus pundak Dylan. Perhatian wanita itu tersita pada apa yang sedang dikerjakan oleh putranya. Buku gambaran yang dipenuhi dengan gambaran-gambaran yang indah dan lucu. Dan bagian yang dilihat oleh Chloe saat ini, adalah gambar di mana si kembar lima bersama Adik bayinya, juga Chloe dan Caesar. "Yahh, ketahuan Mommy deh," uja Dylan cemberut. "Memangnya ini gambar tentang apa, Sayang?" tanya Chloe duduk di
Saat hari sudah malam, Si kembar sibuk dengan tugas-tugas sekolahnya. Kelima anak itu berada di ruang keluarga di lantai satu. Dari Dylan, Alvano, Alvino, Diego, hingga Adele, mereka sibuk mengerjakan tugasnya. Dan hanya Dylan yang terlihat begitu santai. "Siapa yang selesai duluan, dia yang boleh bermain bersama adik bayi!" seru Dylan menutup bukunya. "Okey! Kau pikir kau saja yang paling pintar!" sahut Alvano ikut menutup buku belajarnya dan menyelesaikan belajarnya.Adele langsung mengangkat kepala dan menatap mereka berdua, disusul oleh Alvino yang kini juga menutup buku dan selesai mengerjakan tugasnya. "Aku juga sudah! Ini soal-soal yang terlalu gampang untuk aku yang pintar sekali!" seru anak itu. "Hayoo ... tinggal kalian berdua yang belum!" pekik Alvano pada Diego dan Adele. "Kalau belum selesai, tidak boleh main sama adik!" seru Alvino.Diego yang asik menghitung, dia berdecak kesal dan melempari mereka dengan bantalan sofa. "Susah, jangan sok pintar! Sana, pergi saja
Dua hari ini Adele tidak mau mendekati adik bayinya, semenjak Levino si mungil menangis saat ia pangku dan justru diam saat dipangku oleh Dylan. Hari ini, setelah pulang sekolah, Adele yang biasanya teriak mencari adik bayinya. Anak itu berjalan masuk tanpa mencari adiknya, ia berjalan dengan bibir cemberutnya sambil membawa tas bekalnya. "Loh, anak cantik sudah pulang?" Suara seseorang membuat langkah Adele terhenti. Anak itu menoleh ke arah ruang tamu, dan ia melihat seorang yang ia kenali satu bulan yang lalu. "Om ... Om Zachary!" teriak Adele dengan wajah berbinar. Anak perempuan itu langsung berlari mendekat ke arah ruang keluarga. Laki-laki muda dan tampan bernama Zachary itu pun langsung mengulurkan kedua tangannya ke arah Adele. "Loh kok sudah kenal sekali mereka," ujar seorang wanita setengah baya yang terkejut melihat Adele memeluk Zachary. "Iya, Nyonya. Mereka memang sudah kenal sejak Zach ke sini pertama kali," jawab Caesar menjelaskan. "Ohhh ... pantas saja. Zach







