Share

Bab 3

Penulis: Ivy
Setelah Axel pergi bersama Ella, pria itu menghilang selama satu minggu penuh.

Sepanjang minggu itu, dunia mafia Silia dipenuhi rumor.

Mereka mengatakan bahwa ketua membawa wanita barunya yang tercinta ke laut lepas untuk pesta kapal pesiar tahunan dan bahwa wanita itu akan segera menjadi nyonya yang baru.

Ponselku terus bergetar oleh foto-foto pribadi yang dikirim Ella.

Foto pertama memperlihatkan dirinya berjemur di geladak kapal pesiar mewah, mengenakan bikini yang nyaris tak menutupi apa pun. Kata-katanya tertulis: [Ketua bilang hanya birunya laut yang cocok dengan warna mataku.]

Foto kedua adalah foto tangan seorang pria yang sedang mengoleskan salep ke paha bagian dalamnya. Cincin di jari kelingking, simbol kekuasaan mutlak ketua, menusuk mataku.

Keterangannya berbunyi: [Aku terbentur sesuatu dan Ketua bersikeras mengoleskan obatnya sendiri. Dia sangat mengkhawatirkanku.]

Aku menatap foto-foto itu tanpa merasa sakit hati, hanya mati rasa yang dingin dan kelabu.

Aku sudah selesai berkemas. Tinggal menyerahkan dokumen pemindahan kekuasaan inti keluarga untuk ditandatangani. Setelah itu, aku tidak akan memiliki ikatan apa pun lagi dengan keluarga ini.

Aku melacak kapal pesiar itu hingga ke dermaganya dan langsung menyetir ke sana.

Para pengawal di geladak mengenaliku dan tidak berani menghentikanku. Sambil membawa dokumen, aku berjalan lurus ke kabin utama dan mendorong pintu yang sedikit terbuka.

Di dalam, Ella, masih mengenakan bikini minim itu, sedang duduk mengangkang di pangkuan Axel, lengannya melingkari leher Axel dalam pose yang sangat menggoda.

Mendengar pintu terbuka, Ella menjerit. Dia panik meloncat turun, lalu meraih sebuah kemeja untuk menutupi tubuhnya. Wajahnya memerah saat dia tergagap menjelaskan, "Ivana! Jangan … jangan salah paham! Ketua terluka. A … aku hanya bantu merawat luka di dadanya!"

Axel mengerutkan kening. Dia bahkan tidak repot-repot mendorong Ella menjauh.

Dia menatapku, sorot matanya jelas menunjukkan kejengkelan karena diganggu.

"Bukankah kamu sedang sibuk dengan drama perceraianmu? Kenapa kamu mengejarku sampai ke kapal?"

Aku tertawa dingin dan melemparkan map ke atas meja.

"Apa? Kalau aku nggak datang, mana aku tahu merawat luka Ketua perlu pakai bikini?"

Ella bersembunyi di belakang Axel, menggigit bibirnya dengan wajah tersakiti.

"Ivana, bagaimana kamu bisa berkata begitu … aku hanya ingin membantu …."

Wajah Axel menggelap. Dia berdiri tiba-tiba dan melindungi Ella di belakangnya, lalu memotong ucapanku dengan tidak sabar, "Ivana, cukup! Sampai kapan kamu akan terus begini?"

Dia menyalakan cerutu. Di balik asap yang berputar, ekspresinya dingin dan merasa berkuasa.

"Lihat dirimu sekarang. Kamu bertingkah seperti wanita pemarah. Di posisiku, Ketua mana yang nggak punya beberapa wanita di luar? Ini hanya urusan fisik, kenapa kamu begitu mempermasalahkannya?"

Dia melangkah mendekat, menatapku dari atas dengan arogansi seolah penuh kemurahan hati.

"Siapa pun yang kupermainkan luar sana, kamu tetap akan menjadi satu-satunya istriku. Bukankah itu kejayaan yang paling kamu inginkan? Apa itu masih belum cukup?"

Aku memandang pria yang kucintai bertahun-tahun lamanya dan tiba-tiba merasa dia adalah sepenuhnya orang asing.

"Kejayaan?" ulangku pelan, lalu tertawa mengejek.

"Axel, aku nggak menginginkan kejayaan itu lagi."

"Ini pembagian aset dan pemindahan kekuasaan. Tanda tangani. Setelah kamu menandatanganinya, aku akan pergi dan berhenti mengganggu kalian berdua saat kalian sedang 'merawat' luka."

Tangan Axel berhenti di cerutunya, matanya berkilat kesal.

"Baik. Bagus. Kalau kamu mau main gitu, aku akan ikuti permainanmu."

Dia bahkan tidak melihat isi dokumen itu dan langsung menandatangani namanya.

"Ambil barang-barangmu dan pergi. Tapi, aku bertaruh kamu nggak akan bertahan tiga hari sebelum kembali menangis dan memohon agar aku menerimamu lagi."

Aku pun meninggalkan kapal dengan dokumen pemindahan kekuasaan yang baru ditandatangani dan kembali ke kediaman untuk mengambil barang-barang terakhirku.

Aku telah tinggal di rumah ini selama tiga tahun, tapi barang yang benar-benar milikku sangatlah sedikit.

Aku hanya mengambil beberapa pakaian lama dan satu album foto. Aku tidak menyentuh satu pun perhiasan.

Tepat saat aku menutup koper, pintu kamar ditendang terbuka.

Axel menerobos masuk, wajahnya dipenuhi amarah. Dia meremas selembar kertas di tangannya dan melemparkannya ke wajahku.

"Ivana! Apa yang kamu lakukan pada Ella?!"

Ujung kertas yang tajam menggores pipiku dan meninggalkan rasa perih.

Aku menunduk. Itu adalah surat tulisan tangan dari Ella.

[Ketua, aku pergi. Ivana memperingatkanku bahwa jika aku tidak menghilang, dia akan membunuh orang tuaku. Aku tidak ingin menyulitkanmu dan aku tidak ingin orang tuaku mati … tolong jaga dirimu. Dengan Penuh Cinta, Ella.]

Aku tak bisa menahan tawa setelah membacanya. "Kamu benar-benar percaya dengan kebohongan tolol ini?"

Axel mencengkeram leherku dan menyudutkanku ke dinding, matanya semerah darah.

"Kebohongan? Dia rela mati demi aku, alasan apa yang dia punya untuk berbohong? Tapi kamu, Ivana! Bagaimana mungkin aku nggak pernah sadar kalau kamu sejahat ini?"

"Kamu tahu dia nggak punya siapapun, Tanpa perlindungan keluarga ini, dia pasti mati! Kamu memaksanya menuju kematian!"

Aku tidak perlu repot-repot menjelaskan. Dengan tenggorokan tercekik, aku memaksa keluar beberapa kata, "Hidup atau matinya bukan urusanku."

"Kamu!!"

Axel mempererat cengkeramannya. Tepat saat itu, ponsel di sakunya mulai bergetar hebat.

Dia melepaskanku dan menjawab panggilan itu.

Dari ujung telepon terdengar jeritan Ella yang mengerikan dan suara tembakan.

"Ketua! Tolong aku! Ada banyak sekali pembunuh bayaran ... itu orang-orang Ivana! Mereka bilang mereka akan membunuhku. Ah! Kakiku!"

Panggilan itu terputus tiba-tiba.

Wajah Axel menjadi pucat pasi, lalu berubah menjadi amarah yang mengerikan.

Dia menatapku, matanya memancarkan niat membunuh yang mengerikan.

"Apa kamu bocorkan lokasinya?"

"Ivana, kamu sudah kelewatan. Kalau dia mati, aku akan membuatmu menyesal pernah dilahirkan."

Setelah itu, dia bergegas keluar.

Aku terduduk di lantai, menyentuh bekas jarinya di leherku dan tertawa sampai air mataku keluar.

Axel, kamu bodoh sekali.

Kalau aku benar-benar ingin membunuhnya, dia tidak akan punya kesempatan untuk menelepon.

Keluargaku tidak pernah meninggalkan saksi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kepergian Istri Ketua Membuatnya Gila   Bab 11

    Axel terbaring di ruang ICU rumah sakit selama seminggu.Mimpinya dipenuhi oleh masa lalu, pertemuan pertamanya dengan Ivana, janji Ivana di hari pernikahan mereka dan tatapan putus asa di matanya saat wanita itu terbaring di meja operasi.Ketika dia terbangun, ruangan itu kosong.Tidak ada bunga, tidak ada buah dan tentu saja tidak ada sosok yang begitu dikenalnya. Hanya pengawal yang membawanya ke rumah sakit yang meninggalkan tagihan biaya lalu pergi.Setelah keluar dari rumah sakit, dia tidak berani muncul di hadapan Ivana lagi.Seperti tikus di selokan, Axel menyewa sebuah apartemen tua di seberang kediaman Gio. Satu-satunya kebahagiaan hariannya adalah mengintip kehidupan Ivana lewat sebuah teleskop.Dia melihat Ivana menanam tulip di taman. Cahaya matahari menyinari wajahnya, senyumnya begitu cerah, senyum yang tak pernah Axel lihat selama tiga tahun Ivana bersamanya.Gio berdiri di sisinya, menyerahkan sekop dan menyeka keringatnya. Gambaran kehidupan yang damai itu menusuk mat

  • Kepergian Istri Ketua Membuatnya Gila   Bab 10

    Ivana menggandeng lengan Gio dan berjalan melewati gerbang manor tanpa menoleh sedikit pun.Dalam sudut pandang matanya, sosok hitam yang berdiri di tengah hujan deras itu kaku seperti patung. Axel ada di sana, tapi dia bahkan tak pantas mendapat satu lirikan dari Ivana.Kembali ke vila, pemanas ruangan mengusir dingin dari tubuhnya."Aku buatkan sesuatu untuk dimakan," kata Gio sambil melepas mantel, menggulung lengan bajunya, lalu berjalan ke dapur terbuka.Ivana duduk di meja bar, memperhatikan pria itu memotong sayuran dan memanggang steak dengan cekatan. Cahaya kuning hangat menyinari tubuhnya, menciptakan suasana rumah yang sudah lama tak dia rasakan.Dulu, Ivana pernah membayangkan momen seperti ini bersama Axel.Namun, yang dia dapatkan hanyalah gudang senjata yang dingin, penantian tanpa akhir dan punggung yang selalu berbau darah."Sedang memikirkan apa?" tanya Gio sambil menyerahkan segelas anggur merah, sorot matanya lembut.Ivana menerima gelas itu dan menatap keluar jende

  • Kepergian Istri Ketua Membuatnya Gila   Bab 9

    Ketika Viki kembali ke kamar, Ivana sudah selesai berkemas.Pria itu melirik ke luar jendela melihat Axel diseret pergi dan bertanya pada adiknya, "Sakit hati?"Ivana menutup kopernya, nadanya tenang seolah sedang membicarakan cuaca. "Sakit hati? Hal semacam itu sudah lama hilang di meja operasi. Aku hanya merasa jijik. Aku nggak ingin diganggu oleh anjing gila itu lagi."Viki mengangguk puas. "Bagus. Silia terlalu kacau sekarang. Axel yang gila itu pasti akan datang mengganggumu lagi ketika dia bangun. Pergilah ke Suiss. Danau dan pegunungan di sana bagus untuk penyembuhan.""Aku sudah mengaturnya. Gio akan menjemputmu di Zunik."Gio?Sebuah nama muncul di benak Ivana. Gio, taipan keuangan termuda di Eroka dan mitra penting dalam operasi pencucian uang Keluarga Rendra. Terlahir dari keluarga dengan kekayaan turun temurun, dia adalah seorang pria sejati.Lebih dari sepuluh jam kemudian, pesawat mendarat di Bandara Zunik.Saat dia keluar dari terowongan, seorang pria berjas panjang berw

  • Kepergian Istri Ketua Membuatnya Gila   Bab 8

    Deklarasi perang Keluarga Rendra bagaikan bom nuklir, menghancurkan separuh pengaruh Keluarga Arnand dalam semalam.Ini hanyalah permulaan dari balas dendam Keluarga Rendra.Malam itu, sebuah sedan mewah anti peluru yang mengibarkan bendera putih berhenti di gerbang kastil Rendra.Ibu Axel, sang nyonya yang dulunya arogan, masuk sendirian.Da tampak sepuluh tahun lebih tua, aura superioritasnya telah hilang sepenuhnya.Ivana menemuinya di ruang tamu."Ivana ... bukan, Nona Ivana." Dia menatap Ivana, sorot matanya kompleks, menyimpan sedikit rasa takut. "Aku di sini bukan untuk memohon belas kasihan. Aku tahu putraku yang nggak tahu berterima kasih itu telah melakukan dosa yang tak terampuni."Dia mengambil setumpuk dokumen tebal dari tasnya dan mendorongnya ke arah Ivana."Ini adalah surat-surat kepemilikan sepertiga wilayah keluarga kami di Silia dan hak kendali atas dua rute pelayaran kami yang paling menguntungkan di Meditiria.""Ini kompensasi. Aku hanya meminta agar Keluarga Rendr

  • Kepergian Istri Ketua Membuatnya Gila   Bab 7

    Ella jatuh tersungkur ke lantai, terhuyung mundur. "Ketua, biar kujelaskan ... aku dipaksa ... mereka mengancamku ...."Ibunya masuk dengan wajah dingin dan membanting setumpuk dokumen dan foto yang tebal ke wajah Ella.Foto-foto itu berserakan di mana-mana, bukti pertemuannya dengan keluarga rival, menjual informasi intelijen dan laporan forensik dari penembakan enam bulan lalu, yang jelas menunjukkan bahwa semuanya direkayasa dengan aktor dan properti."Bisa dijelaskan?" Axel menginjak tangan Ella saat wanita itu mencoba meraih foto-foto yang berserakan, tangan yang sama yang Ella gunakan untuk bermain piano demi merayunya.Axel menekan lebih keras kakinya yang menginjak tangan Ella sampai terdengar suara tulang patah. Pria itu seolah tidak memiliki emosi."Ah! Tanganku! Ketua, kumohon ... aku salah ...." Ella menjerit melengking, dia berguling-guling kesakitan di lantai.Axel berjongkok dan mencengkeram dagunya. Dia memaksa Ella untuk menatap matanya yang merah."Kamu pakai tangan i

  • Kepergian Istri Ketua Membuatnya Gila   Bab 6

    Sudut Pandang Orang Ketiga.Ella sudah cukup pulih, tetapi kegelisahan di hati Axel tak kunjung reda.Wanita itu masih memohon agar Axel tetap berada di sisinya, namun kesabarannya akhirnya habis.Dia berbalik dan melangkah menuju kamar rawat Ivana.Entah mengapa, rasa tidak nyaman tumbuh di dalam dirinya seperti gulma.Saat melewati ruang dokter yang merawat Ella, pintunya sedikit terbuka. Suara-suara yang terdengar dari dalam membuatnya membeku di tempatnya."Suntikkan saja aku sedikit lagi senyawa ini. Ciptakan ilusi seolah kondisiku kritis, jadi Ketua akan benar-benar kehilangan akal sehatnya. Darah si jalang Ivana akan habis cepat atau lambat ...." Itu suara Ella, penuh dengan kebencian yang tidak dia kenal."Tapi Nona Ella, jika kita ketahuan ....""Kamu takut apa? Kalau terjadi sesuatu, aku yang menanggung akibatnya. Selama si jalang Ivana mati, aku akan menjadi satu-satunya nyonya. Kamu akan mendapatkan bagianmu." Darah Axel seolah membeku di pembuluh darahnya.Dia menendang pi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status