Share

Bab 2

Penulis: Ivy
Setelah menutup telepon, aku tidak ragu sedikit pun. Aku langsung mulai berkemas. Karena aku sudah memutuskan pergi, aku tidak akan meninggalkan apa pun.

Keesokan paginya, Axel membawa Ella kembali ke kediaman dan langsung menuju gudang senjata bawah tanah pribadi.

"Aku mau bawa Ella ke tempat latihan menembak. Dia butuh senjata untuk membela diri."

Axel melihatku sedang berkemas dan memberi penjelasan dengan sembrono, nadanya tetap angkuh. "Masih berkemas? Memangnya kamu pikir mau pindah ke mana?"

Aku mengabaikannya dan terus melipat pakaian ke dalam koper.

Namun, Ella langsung berjalan ke lemari pajangan dan mengambil sebuah pistol emas buatan khusus dari Baritta, hadiah ulang tahun Axel untukku tahun lalu. Aku biasa berlatih menembak dengan senjata itu.

"Wow, pistol ini cantik sekali." Ella memainkan senjata itu, moncongnya sengaja bergerak melewati dahiku, senyum palsu tersemat di wajahnya.

"Ups, maaf, Ivana. Tanganku licin. Karena Ketua yang mengajariku menembak, aku boleh pinjam yang ini sebentar, 'kan?"

Aku tidak marah begitu melihat moncong hitam yang diarahkan ke kepalaku, aku justru tersenyum.

Detik berikutnya, aku mencengkeram pergelangan tangannya lalu melakukan gerakan pelucutan standar untuk melepaskan pegangannya. Aku merebut pistol itu dan menekannya tepat di dahinya.

Gerakanku mengalir mulus dan sangat cepat.

Ella menjerit, seketika memasang ekspresi ketakutan. Dia lalu melemparkan diri ke arah Axel sambil gemetar. "Ketua! Selamatkan aku! Ivana mau membunuhku!"

Wajah Axel berubah drastis. Dia meraih pergelangan tanganku dan merebut paksa pistol itu.

Dia melindungi Ella yang gemetar di belakangnya dan menatapku dengan marah.

"Ivana! Apa kamu sudah gila? Dia hanya bercanda denganmu, tapi kamu malah benar-benar ingin melukainya? Aku tahu kamu cemburu, tapi semua ada batasnya!"

Aku mengusap pergelangan tanganku yang sakit dan menatapnya dingin.

"Senjata bukan mainan. Karena dia nggak tahu cara memegangnya, aku memberinya pelajaran."

Mata Axel tampak bengis dan berbahaya, jelas dia menganggapku tidak masuk akal.

Dia menoleh ke tempat sampah di sudut ruangan, mengorek sebuah revolver berkarat, lalu melemparkannya ke kakiku.

"Kalau kamu suka sekali bermain dengan senjata, pakai yang ini."

Itu adalah Sam & Wisson M10.

Aku membeku.

Dua tahun lalu, aku pernah diculik oleh keluarga rival. Mereka menodongkan revolver model yang sama ke kepalaku dan memaksaku bermain Rolet Rusia.

Itu adalah mimpi buruk dalam hidupku, Axel tahu itu. Dia bersumpah akan melindungiku dan tidak akan pernah membiarkanku melihat senjata itu lagi.

Namun sekarang, demi menenangkan simpanannya yang ketakutan, dia melemparkan mimpi burukku tepat ke kakiku.

"Berhenti membuat keributan! Biarkan Ella pakai pistol model emas itu," katanya tidak sabar.

"Dia menyelamatkan nyawaku dan pantas mendapatkan yang terbaik."

Aku menatap revolver di lantai. Sisa rasa sayang terakhir di hatiku telah padam sepenuhnya.

Aku membungkuk dan mengambil senjata itu.

Axel mengira aku mengalah. Dia hendak berbicara ketika aku berbalik dan berjalan ke perapian, lalu melemparkan pistol itu langsung ke dalam kobaran api.

"Ivana!" Axel murka. Itu bukan sekadar senjata, aku telah menantang otoritasnya sebagai ketua. "Kamu membakar itikad baikku demi orang asing? Aku beri kamu satu kesempatan lagi. Ambil kembali!"

Cahaya api menerangi wajahku yang tenang. Aku menatap Axel dan mengucapkan setiap kata dengan jelas.

"Aku nggak sudi memungut sampah. Sama seperti aku nggak sudi mendaur ulang perasaan yang sudah busuk."

"Axel, kamu menjijikkan."

Ini mungkin pertama kalinya aku menggambarkannya dengan kata-kata seperti itu.

Axel tertawa karena marah, badai berkumpul di mata birunya. "Bagus, bagus sekali Ivana! Karena kamu ingin bersikap keras kepala, jangan salahkan kalau aku bertindak kejam."

"Aku sudah memberimu jalan keluar, tapi kamu nggak menghargainya. Jangan datang mengemis padaku saat kamu butuh bantuan."

Setelah berkata begitu, di berbalik dan keluar dari gudang senjata tanpa melirikku lagi.

Ella tidak langsung mengikutinya.

Dia berdiri di puncak tangga, menatapku sambil menyeringai. Topeng lemah tak berdayanya lenyap, digantikan ekspresi kemenangan yang menjijikkan.

"Ivana, kamu benar-benar nggak tahu diri." Dia mengelus pistol emas yang baru saja diberikan Axel padanya.

"Memangnya kenapa kalau kamu istri sah? Kita semua tahu di ranjang siapa Ketua tidur setiap malam."

"Bagaimana bisa wanita tak berguna sepertimu bersaing denganku?"

Aku menatapnya dingin. "Kamu pikir sekretaris yang naik pangkat karena menghadang peluru bisa bertahan selamanya?"

Ekspresi Ella berubah, lalu dia tersenyum aneh.

"Tentu saja, itu yang aku mau."

Lalu, dia mencondongkan tubuh ke belakang dan menjatuhkan dirinya dari tangga!

"Ah! Tolong! Ketua!!"

Jeritan mengerikan menggema di seluruh vila.

Axel yang baru saja mencapai pintu, mendengar suara itu dan bergegas kembali seperti orang gila.

Dia melihat Ella tergeletak di dasar tangga, kepalanya berdarah dan seluruh tubuhnya gemetar.

"Ella!" Dia mengangkat Ella dan menatap ke arahku yang berdiri di puncak tangga, matanya sangat dingin seolah menatap mayat.

"Ivana … bagaimana bisa kamu sekejam ini?"

"Hanya karena cemburu, kamu mencoba membunuh wanita yang menyelamatkan nyawaku?!"

Aku berdiri di atas dan menyaksikan sandiwara ceroboh ini. Aku tidak merasakan apa pun selain merasa konyol.

"Aku nggak mendorongnya," kataku datar.

Namun di matanya, sikap tenangku hanyalah kesombongan tanpa penyesalan.

Ella dengan lemah mencengkeram kerahnya, menangis dengan cantik. "Jangan salahkan Ivana … aku terpeleset … Ketua, tolong jangan bertengkar dengan Ivana karena aku …."

Dia sungguh pandai memutar balikkan fakta.

Kekecewaan di mata Axel berubah menjadi kebencian.

"Diam! Jangan memohon untuknya."

Dia menggendong Ella. Saat melewatiku, dia berbisik dengan dingin, "Pasanganku untuk Pesta Tahunan Mafia malam ini adalah Ella."

"Karena kamu nggak bisa jadi nyonya yang layak, aku akan cari seseorang yang bisa menempati posisi itu."

Setelah itu, dia pergi sambil menggendong sang pemenang, tanpa menoleh sekalipun.

Aku berdiri di sana, mendengarkan suara mesin mobil menjauh, riak terakhir di hatiku mengendap menjadi keheningan.

Tidak masalah, Axel.

Bagaimanapun juga, ini adalah terakhir kalinya aku melihatmu berjalan pergi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kepergian Istri Ketua Membuatnya Gila   Bab 11

    Axel terbaring di ruang ICU rumah sakit selama seminggu.Mimpinya dipenuhi oleh masa lalu, pertemuan pertamanya dengan Ivana, janji Ivana di hari pernikahan mereka dan tatapan putus asa di matanya saat wanita itu terbaring di meja operasi.Ketika dia terbangun, ruangan itu kosong.Tidak ada bunga, tidak ada buah dan tentu saja tidak ada sosok yang begitu dikenalnya. Hanya pengawal yang membawanya ke rumah sakit yang meninggalkan tagihan biaya lalu pergi.Setelah keluar dari rumah sakit, dia tidak berani muncul di hadapan Ivana lagi.Seperti tikus di selokan, Axel menyewa sebuah apartemen tua di seberang kediaman Gio. Satu-satunya kebahagiaan hariannya adalah mengintip kehidupan Ivana lewat sebuah teleskop.Dia melihat Ivana menanam tulip di taman. Cahaya matahari menyinari wajahnya, senyumnya begitu cerah, senyum yang tak pernah Axel lihat selama tiga tahun Ivana bersamanya.Gio berdiri di sisinya, menyerahkan sekop dan menyeka keringatnya. Gambaran kehidupan yang damai itu menusuk mat

  • Kepergian Istri Ketua Membuatnya Gila   Bab 10

    Ivana menggandeng lengan Gio dan berjalan melewati gerbang manor tanpa menoleh sedikit pun.Dalam sudut pandang matanya, sosok hitam yang berdiri di tengah hujan deras itu kaku seperti patung. Axel ada di sana, tapi dia bahkan tak pantas mendapat satu lirikan dari Ivana.Kembali ke vila, pemanas ruangan mengusir dingin dari tubuhnya."Aku buatkan sesuatu untuk dimakan," kata Gio sambil melepas mantel, menggulung lengan bajunya, lalu berjalan ke dapur terbuka.Ivana duduk di meja bar, memperhatikan pria itu memotong sayuran dan memanggang steak dengan cekatan. Cahaya kuning hangat menyinari tubuhnya, menciptakan suasana rumah yang sudah lama tak dia rasakan.Dulu, Ivana pernah membayangkan momen seperti ini bersama Axel.Namun, yang dia dapatkan hanyalah gudang senjata yang dingin, penantian tanpa akhir dan punggung yang selalu berbau darah."Sedang memikirkan apa?" tanya Gio sambil menyerahkan segelas anggur merah, sorot matanya lembut.Ivana menerima gelas itu dan menatap keluar jende

  • Kepergian Istri Ketua Membuatnya Gila   Bab 9

    Ketika Viki kembali ke kamar, Ivana sudah selesai berkemas.Pria itu melirik ke luar jendela melihat Axel diseret pergi dan bertanya pada adiknya, "Sakit hati?"Ivana menutup kopernya, nadanya tenang seolah sedang membicarakan cuaca. "Sakit hati? Hal semacam itu sudah lama hilang di meja operasi. Aku hanya merasa jijik. Aku nggak ingin diganggu oleh anjing gila itu lagi."Viki mengangguk puas. "Bagus. Silia terlalu kacau sekarang. Axel yang gila itu pasti akan datang mengganggumu lagi ketika dia bangun. Pergilah ke Suiss. Danau dan pegunungan di sana bagus untuk penyembuhan.""Aku sudah mengaturnya. Gio akan menjemputmu di Zunik."Gio?Sebuah nama muncul di benak Ivana. Gio, taipan keuangan termuda di Eroka dan mitra penting dalam operasi pencucian uang Keluarga Rendra. Terlahir dari keluarga dengan kekayaan turun temurun, dia adalah seorang pria sejati.Lebih dari sepuluh jam kemudian, pesawat mendarat di Bandara Zunik.Saat dia keluar dari terowongan, seorang pria berjas panjang berw

  • Kepergian Istri Ketua Membuatnya Gila   Bab 8

    Deklarasi perang Keluarga Rendra bagaikan bom nuklir, menghancurkan separuh pengaruh Keluarga Arnand dalam semalam.Ini hanyalah permulaan dari balas dendam Keluarga Rendra.Malam itu, sebuah sedan mewah anti peluru yang mengibarkan bendera putih berhenti di gerbang kastil Rendra.Ibu Axel, sang nyonya yang dulunya arogan, masuk sendirian.Da tampak sepuluh tahun lebih tua, aura superioritasnya telah hilang sepenuhnya.Ivana menemuinya di ruang tamu."Ivana ... bukan, Nona Ivana." Dia menatap Ivana, sorot matanya kompleks, menyimpan sedikit rasa takut. "Aku di sini bukan untuk memohon belas kasihan. Aku tahu putraku yang nggak tahu berterima kasih itu telah melakukan dosa yang tak terampuni."Dia mengambil setumpuk dokumen tebal dari tasnya dan mendorongnya ke arah Ivana."Ini adalah surat-surat kepemilikan sepertiga wilayah keluarga kami di Silia dan hak kendali atas dua rute pelayaran kami yang paling menguntungkan di Meditiria.""Ini kompensasi. Aku hanya meminta agar Keluarga Rendr

  • Kepergian Istri Ketua Membuatnya Gila   Bab 7

    Ella jatuh tersungkur ke lantai, terhuyung mundur. "Ketua, biar kujelaskan ... aku dipaksa ... mereka mengancamku ...."Ibunya masuk dengan wajah dingin dan membanting setumpuk dokumen dan foto yang tebal ke wajah Ella.Foto-foto itu berserakan di mana-mana, bukti pertemuannya dengan keluarga rival, menjual informasi intelijen dan laporan forensik dari penembakan enam bulan lalu, yang jelas menunjukkan bahwa semuanya direkayasa dengan aktor dan properti."Bisa dijelaskan?" Axel menginjak tangan Ella saat wanita itu mencoba meraih foto-foto yang berserakan, tangan yang sama yang Ella gunakan untuk bermain piano demi merayunya.Axel menekan lebih keras kakinya yang menginjak tangan Ella sampai terdengar suara tulang patah. Pria itu seolah tidak memiliki emosi."Ah! Tanganku! Ketua, kumohon ... aku salah ...." Ella menjerit melengking, dia berguling-guling kesakitan di lantai.Axel berjongkok dan mencengkeram dagunya. Dia memaksa Ella untuk menatap matanya yang merah."Kamu pakai tangan i

  • Kepergian Istri Ketua Membuatnya Gila   Bab 6

    Sudut Pandang Orang Ketiga.Ella sudah cukup pulih, tetapi kegelisahan di hati Axel tak kunjung reda.Wanita itu masih memohon agar Axel tetap berada di sisinya, namun kesabarannya akhirnya habis.Dia berbalik dan melangkah menuju kamar rawat Ivana.Entah mengapa, rasa tidak nyaman tumbuh di dalam dirinya seperti gulma.Saat melewati ruang dokter yang merawat Ella, pintunya sedikit terbuka. Suara-suara yang terdengar dari dalam membuatnya membeku di tempatnya."Suntikkan saja aku sedikit lagi senyawa ini. Ciptakan ilusi seolah kondisiku kritis, jadi Ketua akan benar-benar kehilangan akal sehatnya. Darah si jalang Ivana akan habis cepat atau lambat ...." Itu suara Ella, penuh dengan kebencian yang tidak dia kenal."Tapi Nona Ella, jika kita ketahuan ....""Kamu takut apa? Kalau terjadi sesuatu, aku yang menanggung akibatnya. Selama si jalang Ivana mati, aku akan menjadi satu-satunya nyonya. Kamu akan mendapatkan bagianmu." Darah Axel seolah membeku di pembuluh darahnya.Dia menendang pi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status