Share

Bab 4

Penulis: Ivy
Waktu berlalu lambat, setiap detik terasa seperti siksaan. Baru pada malam berhujan itu Axel kembali.

Dia menggendong Ella yang berlumuran darah. Wanita itu sebenarnya tidak terluka parah, hanya luka tusukan pisau di kakinya.

Luka itu tampak mengerikan dan mengejutkan, tapi sekilas aku bisa tahu bahwa luka itu tidak mengenai arteri utama.

Axel memancarkan aura yang brutal. Setelah menyerahkan Ella kepada dokter, dia menoleh kepadaku.

"Bawa dia ke ruang penyiksaan," perintahnya dingin kepada para pengawal.

Aku dipaksa berlutut di lantai batu yang dingin oleh dua pengawal bertubuh kekar.

Beberapa saat kemudian, Ella, dengan lukanya yang sudah dibalut, berjalan pincang keluar dan bersandar lemah di dada Axel.

"Jangan ... jangan salahkan Ivana. Mungkin aku tanpa sengaja menyinggung perasaannya …." ujarnya sambil menangis dengan cantik, seperti bunga pir yang dimandikan hujan.

Axel menatapnya dengan sedih, lalu mengalihkan pandangannya kepadaku. Matanya hanya menunjukkan sorot kejam.

"Berdasarkan norma keheningan dan aturan keluarga, siapa pun yang menyakiti rekan atau bersekongkol dengan musuh akan dihukum cambuk."

Dia mengambil cambuk kulit yang direndam air garam dari dinding dan melemparkannya ke kaki Ella.

"Karena kamulah yang menderita, kamu sendiri yang harus membalas dendam."

Aku menatapnya dengan terkejut. "Axel, kamu mau menggunakan cambuk itu padaku karena wanita pembohong ini?"

Itu adalah alat yang digunakan untuk menghukum pengkhianat. Satu cambukan saja bisa merobek kulit dan daging.

Axel menghindari tatapanku, suaranya kaku tetapi kejam. "Ini untuk memberimu pelajaran. Kamu melakukan kesalahan dan kamu harus merasakan akibatnya."

"Ivana, tahan saja. Biarkan dia melampiaskan amarahnya, lalu kita bisa melupakan ini."

Ella dengan gemetar mengambil cambuk itu, menatapku dengan ekspresi pura-pura ketakutan. "Aku ... aku takut ... aku belum pernah memukul siapa pun ...."

Axel memegang tangannya, menyemangatinya dengan lembut, "Jangan takut. Aku di sini. Dia berutang ini padamu."

Mata Ella berkilat ganas.

Detik berikutnya, dia mengangkat cambuk itu dan melecut punggungku dengan sekuat tenaga.

Cetas!

Rasa sakit yang menyiksa seketika meledak. Pakaian dan dagingku seketika robek. Aku mengertakkan gigi dan tidak mengeluarkan suara.

"Oh tidak, tanganku tergelincir .... Maaf, Ivana ...." Ella memang meminta maaf, tapi cambukannya semakin keras.

Cetas! Cetas! Cetas!

Setiap cambukan mengandung sensasi balas dendam.

Axel berdiri di samping, memperhatikan wajahku yang pucat dan darah yang merembes di punggungku. Tangannya yang tergantung di sisi tubuhnya, terkepal erat.

Raut wajahnya kalut, keengganan terlihat di matanya, dia sepertinya ingin menghentikan semuanya.

Tetapi begitu melihat perban di kaki Ella, dia memaksa dirinya untuk menahan diri.

"Ini pelajaran untukmu, Ivana. Jangan sentuh orang-orangku lagi," katanya dingin, seolah mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

Keringat dingin mengalir di wajahku karena rasa sakit. Pandanganku kabur, tapi aku tetap tegak dan menatap Axel dengan tajam.

Pada saat itu, semua cinta yang kumiliki untuk pria ini hancur berkeping-keping, sedikit demi sedikit.

Ella lelah dan akhirnya berhenti, napasnya terengah-engah.

Axel segera melangkah maju untuk memeluknya, bertanya dengan lembut, "Apa kamu merasa lebih baik sekarang?"

Ella mengangguk lemah dan membenamkan wajahnya di dada Axel. "Ketua sangat baik padaku."

Berbaring di lantai dan menyaksikan siluet mereka berpelukan, aku tiba-tiba tertawa kecil.

"Axel, kamu akan menyesali ini."

Axel melirikku yang sedang terbaring pada genangan darahku sendiri. Matanya menunjukkan kesedihan dan memerintahkan seseorang untuk membawa kotak P3K.

Dia lalu mengangkatku dan dengan lembut meletakkan diriku di tempat tidur, mencoba mengoleskan obat pada lukaku. Alisnya berkerut karena frustrasi. "Sudah cukup? Apa kamu menyadari kalau kamu salah?"

Kesombongan dari sikap sok pedulinya membuat perutku mual.

"Jangan sentuh aku."

Aku menarik tanganku kembali dan menatapnya dengan tatapan kosong.

Axel kehilangan kesabarannya, lalu membanting kotak P3K ke atas meja. "Ivana! Sampai kapan kamu mau keras kepala seperti ini? Sudah kubilang, Ella nggak akan pernah mengancam posisimu. Apa lagi yang kamu inginkan? Apa aku harus mencabut hatiku agar kamu bisa melihatnya?"

"Hati?" tanyaku, seolah-olah aku mendengar lelucon. "Apa kamu bahkan punya hati?"

Tepat saat itu, dari sudut mataku, aku melihat pistol model G17 terselip di pinggangnya.

Pada saat itu, kebencian yang telah lama kupendam meletus seperti gunung berapi.

Karena dia menyebutku kejam, karena dia mengatakan bahwa aku tidak bisa mentolerir wanita itu, aku memutuskan untuk membuktikan tuduhannya!

Aku menerjang tanpa peringatan, bergerak secepat harimau dan merebut pistol dinas dari pinggangnya.

Wajah Axel berubah drastis. "Ivana! Letakkan pistol itu!"

Aku mengabaikan peringatannya sepenuhnya. Aku membalik pistol itu, menggenggam larasnya dan menghantamkan gagang pistolnya dengan kejam ke kepala Ella yang masih berpura-pura lemah di sampingnya!

"Ah!"

Ella menjerit saat aku menjatuhkannya ke lantai.

Aku menindihnya, bertingkah seperti orang gila lalu menghantamkan gagang pistol itu ke dahi dan pipinya berulang kali.

"Bukankah kamu bilang aku ingin menyakitimu? Karena kamu sangat ingin aku menjadi penjahat, aku akan mengabulkan keinginanmu!"

Wajahku seketika terciprat darah. Ella bahkan tidak sempat meminta bantuan, dia hanya bisa merintih kesakitan.

"Hentikan! Dasar jalang gila!"

Tepat ketika aku mau melampiaskan amarahku dan mengarahkan pistol untuk menembak Ella, Axel berteriak ketakutan. Dia bergegas mendekat dan meraih pergelangan tanganku, kekuatannya yang luar biasa membuatku melepaskan Ella.

Brak!

Punggungku membentur keras dinding marmer yang kokoh. Rasanya seperti organ dalamku bergeser dan rasa amis besi muncul di tenggorokanku.

"Uhuk!"

Aku tak tahan dan memuntahkan seteguk darah segar, menodai karpet putih menjadi merah.

Tapi Axel bahkan tidak melirikku.

Dia dengan panik mengangkat Ella yang tak sadarkan diri dan berlumuran darah, suaranya gemetar, "Ella! Bangun! Siapkan mobil! Antarkan ke rumah sakit, sekarang!"

Dia bergegas keluar dengan wanita itu di pelukannya. Saat melewati aku, dia berhenti sejenak, meninggalkan kalimat yang mengerikan.

"Kalau dia nggak bangun, Ivana, aku akan menguburmu bersamanya."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kepergian Istri Ketua Membuatnya Gila   Bab 11

    Axel terbaring di ruang ICU rumah sakit selama seminggu.Mimpinya dipenuhi oleh masa lalu, pertemuan pertamanya dengan Ivana, janji Ivana di hari pernikahan mereka dan tatapan putus asa di matanya saat wanita itu terbaring di meja operasi.Ketika dia terbangun, ruangan itu kosong.Tidak ada bunga, tidak ada buah dan tentu saja tidak ada sosok yang begitu dikenalnya. Hanya pengawal yang membawanya ke rumah sakit yang meninggalkan tagihan biaya lalu pergi.Setelah keluar dari rumah sakit, dia tidak berani muncul di hadapan Ivana lagi.Seperti tikus di selokan, Axel menyewa sebuah apartemen tua di seberang kediaman Gio. Satu-satunya kebahagiaan hariannya adalah mengintip kehidupan Ivana lewat sebuah teleskop.Dia melihat Ivana menanam tulip di taman. Cahaya matahari menyinari wajahnya, senyumnya begitu cerah, senyum yang tak pernah Axel lihat selama tiga tahun Ivana bersamanya.Gio berdiri di sisinya, menyerahkan sekop dan menyeka keringatnya. Gambaran kehidupan yang damai itu menusuk mat

  • Kepergian Istri Ketua Membuatnya Gila   Bab 10

    Ivana menggandeng lengan Gio dan berjalan melewati gerbang manor tanpa menoleh sedikit pun.Dalam sudut pandang matanya, sosok hitam yang berdiri di tengah hujan deras itu kaku seperti patung. Axel ada di sana, tapi dia bahkan tak pantas mendapat satu lirikan dari Ivana.Kembali ke vila, pemanas ruangan mengusir dingin dari tubuhnya."Aku buatkan sesuatu untuk dimakan," kata Gio sambil melepas mantel, menggulung lengan bajunya, lalu berjalan ke dapur terbuka.Ivana duduk di meja bar, memperhatikan pria itu memotong sayuran dan memanggang steak dengan cekatan. Cahaya kuning hangat menyinari tubuhnya, menciptakan suasana rumah yang sudah lama tak dia rasakan.Dulu, Ivana pernah membayangkan momen seperti ini bersama Axel.Namun, yang dia dapatkan hanyalah gudang senjata yang dingin, penantian tanpa akhir dan punggung yang selalu berbau darah."Sedang memikirkan apa?" tanya Gio sambil menyerahkan segelas anggur merah, sorot matanya lembut.Ivana menerima gelas itu dan menatap keluar jende

  • Kepergian Istri Ketua Membuatnya Gila   Bab 9

    Ketika Viki kembali ke kamar, Ivana sudah selesai berkemas.Pria itu melirik ke luar jendela melihat Axel diseret pergi dan bertanya pada adiknya, "Sakit hati?"Ivana menutup kopernya, nadanya tenang seolah sedang membicarakan cuaca. "Sakit hati? Hal semacam itu sudah lama hilang di meja operasi. Aku hanya merasa jijik. Aku nggak ingin diganggu oleh anjing gila itu lagi."Viki mengangguk puas. "Bagus. Silia terlalu kacau sekarang. Axel yang gila itu pasti akan datang mengganggumu lagi ketika dia bangun. Pergilah ke Suiss. Danau dan pegunungan di sana bagus untuk penyembuhan.""Aku sudah mengaturnya. Gio akan menjemputmu di Zunik."Gio?Sebuah nama muncul di benak Ivana. Gio, taipan keuangan termuda di Eroka dan mitra penting dalam operasi pencucian uang Keluarga Rendra. Terlahir dari keluarga dengan kekayaan turun temurun, dia adalah seorang pria sejati.Lebih dari sepuluh jam kemudian, pesawat mendarat di Bandara Zunik.Saat dia keluar dari terowongan, seorang pria berjas panjang berw

  • Kepergian Istri Ketua Membuatnya Gila   Bab 8

    Deklarasi perang Keluarga Rendra bagaikan bom nuklir, menghancurkan separuh pengaruh Keluarga Arnand dalam semalam.Ini hanyalah permulaan dari balas dendam Keluarga Rendra.Malam itu, sebuah sedan mewah anti peluru yang mengibarkan bendera putih berhenti di gerbang kastil Rendra.Ibu Axel, sang nyonya yang dulunya arogan, masuk sendirian.Da tampak sepuluh tahun lebih tua, aura superioritasnya telah hilang sepenuhnya.Ivana menemuinya di ruang tamu."Ivana ... bukan, Nona Ivana." Dia menatap Ivana, sorot matanya kompleks, menyimpan sedikit rasa takut. "Aku di sini bukan untuk memohon belas kasihan. Aku tahu putraku yang nggak tahu berterima kasih itu telah melakukan dosa yang tak terampuni."Dia mengambil setumpuk dokumen tebal dari tasnya dan mendorongnya ke arah Ivana."Ini adalah surat-surat kepemilikan sepertiga wilayah keluarga kami di Silia dan hak kendali atas dua rute pelayaran kami yang paling menguntungkan di Meditiria.""Ini kompensasi. Aku hanya meminta agar Keluarga Rendr

  • Kepergian Istri Ketua Membuatnya Gila   Bab 7

    Ella jatuh tersungkur ke lantai, terhuyung mundur. "Ketua, biar kujelaskan ... aku dipaksa ... mereka mengancamku ...."Ibunya masuk dengan wajah dingin dan membanting setumpuk dokumen dan foto yang tebal ke wajah Ella.Foto-foto itu berserakan di mana-mana, bukti pertemuannya dengan keluarga rival, menjual informasi intelijen dan laporan forensik dari penembakan enam bulan lalu, yang jelas menunjukkan bahwa semuanya direkayasa dengan aktor dan properti."Bisa dijelaskan?" Axel menginjak tangan Ella saat wanita itu mencoba meraih foto-foto yang berserakan, tangan yang sama yang Ella gunakan untuk bermain piano demi merayunya.Axel menekan lebih keras kakinya yang menginjak tangan Ella sampai terdengar suara tulang patah. Pria itu seolah tidak memiliki emosi."Ah! Tanganku! Ketua, kumohon ... aku salah ...." Ella menjerit melengking, dia berguling-guling kesakitan di lantai.Axel berjongkok dan mencengkeram dagunya. Dia memaksa Ella untuk menatap matanya yang merah."Kamu pakai tangan i

  • Kepergian Istri Ketua Membuatnya Gila   Bab 6

    Sudut Pandang Orang Ketiga.Ella sudah cukup pulih, tetapi kegelisahan di hati Axel tak kunjung reda.Wanita itu masih memohon agar Axel tetap berada di sisinya, namun kesabarannya akhirnya habis.Dia berbalik dan melangkah menuju kamar rawat Ivana.Entah mengapa, rasa tidak nyaman tumbuh di dalam dirinya seperti gulma.Saat melewati ruang dokter yang merawat Ella, pintunya sedikit terbuka. Suara-suara yang terdengar dari dalam membuatnya membeku di tempatnya."Suntikkan saja aku sedikit lagi senyawa ini. Ciptakan ilusi seolah kondisiku kritis, jadi Ketua akan benar-benar kehilangan akal sehatnya. Darah si jalang Ivana akan habis cepat atau lambat ...." Itu suara Ella, penuh dengan kebencian yang tidak dia kenal."Tapi Nona Ella, jika kita ketahuan ....""Kamu takut apa? Kalau terjadi sesuatu, aku yang menanggung akibatnya. Selama si jalang Ivana mati, aku akan menjadi satu-satunya nyonya. Kamu akan mendapatkan bagianmu." Darah Axel seolah membeku di pembuluh darahnya.Dia menendang pi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status