Share

Bab 3

Penulis: Rubby
Aku bukan orang yang berhati besar. Pengasuh itu membuatku terpisah dari keluargaku selama lebih dari 20 tahun, dan dia juga membesarkanku dengan sangat buruk. Di hatiku selalu ada kebencian padanya. Tentu saja aku juga tidak mungkin menyukai Bella, si penerima keuntungan terbesar dari semua ini.

Saat itu, Jackson pernah berkata dengan santai, "Bella juga nggak melakukan kesalahan apa pun. Waktu itu dia juga belum mengerti apa-apa."

Karena hal itu, aku bahkan sempat marah padanya selama dua hari.

Pada akhirnya, Jackson yang datang membujukku. Hanya dengan satu kantong permen, dia sudah berhasil menenangkanku dan masalah itu pun berlalu begitu saja. Sekarang ketika kupikirkan kembali, rasanya itu seperti sebuah garis pemisah di antara kami.

Hari-hari memang tetap berjalan seperti biasa, tetapi jika menoleh ke belakang sekarang, ternyata sejak saat itu kami sudah menempuh jalan yang berbeda.

Aku memasukkan permen ke dalam mulut. Gula itu meleleh di ujung lidah, tetapi justru terasa enek. Aku mengeluarkan ponsel dan menekan sebuah nomor.

"Halo? Chloe! Kenapa tiba-tiba telepon aku? Kukira kamu sudah tenggelam mati-matian di pelukan manis Jackson!"

Itu sahabatku, Vierra. Dia adalah satu-satunya orang di masa kuliah yang bisa melihat semua kepura-puraanku dan masih mau berteman denganku. Setelah lulus, dia pergi ke luar negeri untuk berkembang, tetapi kami selalu menjaga komunikasi.

"Vierra." Suaraku terdengar agak serak, "Aku mau bercerai, lalu pergi ke luar negeri."

Vierra terdiam sejenak, lalu berkata, "Chloe, kamu ... kamu serius? Akhirnya kamu sadar juga?"

"Iya, aku sudah sadar." Aku menatap langit abu-abu di luar jendela. "Tapi Vi, aku butuh bantuanmu."

"Bantuan? Katakan saja! Aku pasti akan menemanimu!"

Di hari aku keluar dari rumah sakit, aku tidak memberi tahu siapa pun.

Saat aku menyeret langkah yang masih lemah dan mendorong pintu rumah terbuka, dari ruang tamu terdengar gelak tawa yang riuh. Napasku tertahan, tubuhku membeku di tempat.

Di luar jendela, bulan purnama tergantung tinggi. Cahaya bulan yang lembut menyelimuti empat orang yang tampak begitu harmonis. Yang tersisa untukku hanyalah seberkas kedinginan yang tertinggal, menimbulkan rasa menusuk di dada.

Ketika mereka melihatku, tawa itu langsung terhenti. Suasana seketika berubah canggung.

Aku menarik sudut bibirku dan sengaja bertanya dengan nada berjarak, "Permisi, di mana kamarku?"

Wajah ibuku menegang sesaat. Bella segera berdiri dan berebut menunjuk ke arah sudut tangga, ke pintu kecil yang paling terpencil. "Kak, barang-barangmu ... kami sudah membereskannya dan menaruhnya di sana."

Itu adalah kamar pembantu yang kecil dan sempit.

Baru beberapa hari saja, semua jejak keberadaanku sudah dibersihkan sampai bersih, lalu disingkirkan ke sudut yang pengap. Sementara barang-barang Bella sudah dengan terang-terangan menguasai kamar tidurku dan Jackson.

Aku tertawa mengejek diri sendiri. "Aku sempat mengira kalian bersekongkol menipuku. Sekarang setelah melihat tempat tinggalku, aku baru benar-benar yakin, ternyata aku memang cuma anak angkat."

"Chloe ...."

Wajah Jackson dipenuhi rasa canggung. Dia berjalan maju satu langkah. "Kamu sudah keluar dari rumah sakit, kenapa nggak bilang padaku? Aku bisa menjemputmu."

Aku menatapnya dingin, lalu menyindir, "Aku harus memanggilmu kakak ipar atau adik ipar? Mana berani aku merepotkanmu menjemput."

Begitu kata-kataku selesai, wajah ibu langsung berubah tidak senang, "Chloe! Sikap apa itu! Bella berbaik hati membereskan barang-barangmu, kamu bukannya berterima kasih malah bicara sinis di sini!"

Mata Bella langsung memerah. Dengan wajah penuh keluhan, dia bersembunyi di belakang ibu.

Melihat hal itu, Wesley berteriak ke arahku, "Kamu perempuan jahat! Jangan ganggu mamaku! Cepat pergi dari rumah kami!"

Pada saat itu, aku malah ingin tertawa. Peliharaan pun rasanya lebih baik daripada Wesley. Hatiku sakit sampai nyeri. Tubuhku gemetar tanpa bisa kukendalikan.

Jackson terus diam, sampai akhirnya, matanya yang dalam menatapku dan dia bertanya dengan pelan, "Amnesiamu itu pura-pura, 'kan?"

Aku menatapnya, lalu tiba-tiba tertawa getir. Wajah ibu sekilas menunjukkan keganjilan, sementara Bella tetap berdiri dengan dada terangkat, seolah benar sepenuhnya.

Sepertinya Wesley menangkap sesuatu dari reaksi orang dewasa. Dengan penuh kebencian dia berteriak padaku, "Aku nggak mau kamu jadi mamaku! Kamu bukan mamaku! Kamu seharusnya jangan pernah ingat apa pun, dan selamanya pergi dari rumah kami!"

"Wesley, diam!" Jackson akhirnya membentak keras.

Melihat wajahku tampak buruk, dia meraih tanganku dan menggenggamnya seolah menenangkan. "Chloe, Wesley masih kecil. Dia nggak sengaja. Omongan anak kecil nggak perlu dianggap serius."

Aku menarik kembali tanganku dan tersenyum tipis. "Masih kecil? Dia sudah nggak kecil lagi. Dia bisa membedakan benar dan salah. Kata-kata seperti itu bisa dianggap nggak sengaja begitu saja?"

Melihat Jackson tampak ragu, wajah Bella seketika pucat. Dia segera bersandar lemah ke dalam pelukannya. "Jackson, kepalaku pusing sekali ...."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kepura-puraan yang Berujung Kejutan   Bab 9

    Vierra ikut masuk, menyerahkan segelas air hangat kepadaku, lalu menatapku dengan cemas. "Kamu ... nggak apa-apa?"Aku menerima gelas itu dan meneguk seteguk, lalu menggeleng, "Nggak apa-apa. Jauh lebih tenang dari yang kubayangkan."Ya, tenang. Aku pernah mengira, saat kembali berhadapan dengan mereka, hatiku akan sakit, perasaanku akan bercampur aduk. Namun ketika momen itu benar-benar tiba, aku baru menyadari bahwa hatiku sudah lama mati rasa. Mereka tidak lagi mampu menimbulkan gelombang apa pun di dalam hatiku.Kupikir semuanya akan berakhir di sana. Tak kusangka, beberapa hari kemudian, aku kembali kedatangan tamu tak diundang. Itu ibuku.Keadaannya bahkan lebih mengenaskan daripada Jackson. Rambutnya sudah memutih setengah, wajahnya dipenuhi keriput, seolah mendadak menua sepuluh tahun.Dengan ditemani Vierra, dia masuk ke kantorku. Begitu melihatku, air matanya langsung mengalir. Dia ingin memelukku, tetapi aku menyingkir ke samping untuk menghindarinya.Tangannya yang terulur

  • Kepura-puraan yang Berujung Kejutan   Bab 8

    Keesokan harinya, dia membawa Wesley dan langsung datang ke studionya.Hari itu, aku sedang rapat dengan klien.Asistenku masuk dengan wajah panik dan berbisik di telingaku, "Bu Chloe, di luar ada seorang pria bersama seorang anak. Dia bersikeras ingin bertemu dengan Anda ...."Semua orang di ruang rapat menoleh ke arahku.Aku tersenyum pada klien dengan wajah tenang, "Maaf, saya izin sebentar."Aku keluar dari ruang rapat dan langsung melihat Jackson dan Wesley berdiri di lobi.Setahun tidak bertemu, Jackson terlihat jauh lebih kurus. Di matanya terbayang kelelahan dan ketuaan yang dalam, sama sekali tidak ada lagi semangat percaya diri seperti dulu.Wesley juga sudah tumbuh lebih tinggi. Dia bersembunyi di belakang Jackson dengan raut cemas, kedua matanya memerah.Begitu melihatku keluar, mata Jackson langsung berbinar. Dia melangkah cepat mendekat, suaranya bergetar, "Chloe, a ... akhirnya aku menemukanmu."Aku berdiri di tempat tanpa bergerak dan menatapnya dengan ekspresi dingin.

  • Kepura-puraan yang Berujung Kejutan   Bab 7

    Beberapa hari berikutnya, aku meminta pengacaraku secara resmi mengajukan gugatan cerai terhadap Jackson dan menyerahkan seluruh bukti perselingkuhannya selama masa pernikahan.Pada saat yang sama, aku juga mengajukan permohonan ke pengadilan untuk membagi seluruh harta bersama atas nama kami. Jackson menerima surat panggilan pengadilan dan langsung kelimpungan.Di satu sisi dia harus menghadapi krisis perusahaan, di sisi lain dia dihujani kecaman publik. Kini, dia masih harus berperkara cerai denganku. Dia mencoba menghubungiku, tetapi baru sadar semua kontaknya sudah diblokir.Satu-satunya jalan yang tersisa hanyalah melalui pengacara, menyampaikan keinginannya untuk berdamai.Pengacaranya mengatakan dia bersedia melepaskan seluruh harta, asalkan aku mau mencabut gugatan dan tampil ke publik untuk mengklarifikasi bahwa semua yang terjadi sebelumnya hanyalah kesalahpahaman.Aku meminta pengacaraku membalas, "Bisa. Suruh dia berlutut di alun-alun terbesar pusat kota selama tiga hari ti

  • Kepura-puraan yang Berujung Kejutan   Bab 6

    Pesta ulang tahun Bella akhirnya berakhir dengan skandal besar yang paling memalukan.Keesokan harinya, kabar tentang Keluarga Safira, Keluarga Kurniawan, serta isu Bella merebut posisi istri orang langsung menyebar ke seluruh kota, menjadi bahan gosip selepas makan.Harga saham perusahaan Jackson langsung anjlok. Banyak mitra kerja berbondong-bondong mengajukan pemutusan kontrak. Bisnis Keluarga Kurniawan pun terkena dampak besar.Sementara itu, aku sedang duduk di depan jendela kaca besar yang terang di studio luar negeri, menikmati kopi dengan santai sambil menonton video langsung yang dikirim Vierra.Di dalam video, aula pesta yang sudah ditinggalkan para tamu tampak berantakan.Bella dan Jackson sedang bertengkar hebat."Jackson! Kenapa kamu nggak bilang dari awal kalau Chloe nggak kehilangan ingatan? Bukankah kamu bilang semuanya ada dalam kendalimu?" Bella berteriak histeris."Bagaimana aku bisa tahu dia nggak amnesia?!"Jackson menerjang ke hadapannya, mencengkeram bahu Bella d

  • Kepura-puraan yang Berujung Kejutan   Bab 5

    Ulang tahun Bella pun tiba.Ibu mengadakan pesta ulang tahun besar-besaran untuknya, bertempat di ballroom hotel paling mewah di pusat kota. Jackson menghamburkan uang tanpa ragu, hampir mengundang seluruh kalangan elite kota ini.Bella mengenakan gaun haute couture bertema langit berbintang, menggandeng lengan Jackson, menerima ucapan selamat dari semua orang. Ibu berdiri di samping mereka dengan senyum penuh kebahagiaan, tampak seperti ibu mertua yang amat puas.Mereka bertiga terlihat begitu harmonis, membuat siapa pun yang melihatnya iri.Sementara aku, tiga hari sebelumnya, sudah naik pesawat menuju luar negeri.Aku sudah menghitung waktunya dengan tepat. Saat pesta ulang tahun mencapai puncaknya, ketika pembawa acara mempersilakan Jackson naik ke panggung untuk menyampaikan ucapan selamat ulang tahun kepada Bella.Hadiah yang kusiapkan, juga seharusnya sudah tiba.Aku mengirim pesan pada teman Vierra yang berada di dalam negeri.[ Bisa mulai sekarang. ]Di dalam ballroom, Jackson

  • Kepura-puraan yang Berujung Kejutan   Bab 4

    Erangan kesakitan Bella seketika menarik seluruh perhatian Jackson. Dia menoleh ke arahku dan berkata dingin, "Sekarang kamu puas?"Lalu, seisi keluarga panik menggendong Bella dan bergegas menuju rumah sakit.Sebelum pergi, ibu bahkan masih sempat menoleh dan memaki keras, "Kamu pembawa sial!"Aku berdiri di tempat sampai kakiku mati rasa, barulah aku melangkah masuk ke kamar pembantu itu. Kelelahan fisik dan batin menindihku tanpa ampun. Pada akhirnya aku roboh di atas ranjang kecil itu dan tertidur lelap.Entah sudah berapa lama berlalu, aku terbangun karena sebuah tarikan yang kasar.Dengan mata merah menyala, Jackson menyeretku bangun dari tempat tidur. "Chloe! Kenapa kamu bisa sekejam ini!"Aku bahkan belum sepenuhnya sadar, sudah dihantam oleh amarahnya yang membabi buta."Kamu jelas-jelas tahu Bella sudah masuk rumah sakit. Dia alergi berat terhadap mangga, tapi kamu sengaja mengirimkan kue mille crepe mangga! Kamu menyimpan dendam dan sengaja mengutuknya!"Aku tertegun.'Mille

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status