Share

Bab 4

Author: Rubby
Erangan kesakitan Bella seketika menarik seluruh perhatian Jackson. Dia menoleh ke arahku dan berkata dingin, "Sekarang kamu puas?"

Lalu, seisi keluarga panik menggendong Bella dan bergegas menuju rumah sakit.

Sebelum pergi, ibu bahkan masih sempat menoleh dan memaki keras, "Kamu pembawa sial!"

Aku berdiri di tempat sampai kakiku mati rasa, barulah aku melangkah masuk ke kamar pembantu itu. Kelelahan fisik dan batin menindihku tanpa ampun. Pada akhirnya aku roboh di atas ranjang kecil itu dan tertidur lelap.

Entah sudah berapa lama berlalu, aku terbangun karena sebuah tarikan yang kasar.

Dengan mata merah menyala, Jackson menyeretku bangun dari tempat tidur. "Chloe! Kenapa kamu bisa sekejam ini!"

Aku bahkan belum sepenuhnya sadar, sudah dihantam oleh amarahnya yang membabi buta.

"Kamu jelas-jelas tahu Bella sudah masuk rumah sakit. Dia alergi berat terhadap mangga, tapi kamu sengaja mengirimkan kue mille crepe mangga! Kamu menyimpan dendam dan sengaja mengutuknya!"

Aku tertegun.

'Mille crepe mangga? Kapan aku pernah memesan makanan seperti itu untuknya?'

Aku sampai tertawa karena marah. "Apa aku sebodoh itu? Menyakiti dia dengan cara seterang ini, lalu duduk menunggu kalian datang menangkapku?"

"Kalau bukan kamu, siapa lagi! Di pesanan toko kue itu tertulis jelas nomor ponsel dan namamu!"

Jackson membanting ponselnya ke hadapanku sambil berteriak, "Chloe, kamu benar-benar mengecewakanku!"

'Mengecewakan? Orang yang seharusnya kecewa itu justru aku! Setiap kali urusannya melibatkan Bella, dia selalu tanpa ragu memilih untuk memercayai wanita itu, lalu menimpakan semua kesalahan kepadaku.'

"Terserah kamu mau berpikir apa." Aku sudah malas berdebat. "Kalau kamu merasa ini perbuatanku, laporkan saja ke polisi."

Setelah itu, aku mendorongnya dan langsung meninggalkan rumah menjijikkan itu.

Aku menceritakan hal ini pada Vierra. Di seberang telepon, dia marah besar dan memaki, "Sialan! Ini jelas-jelas Bella si pelacur itu yang akting sendirian lalu balik menuduhmu! Jackson itu bego apa? Masa nggak kelihatan sejelas ini!"

"Dia bisa melihatnya. Tentu saja dia bisa." Aku menggeleng pelan, hati terasa dingin. "Di hatinya, urusan Bella lebih penting daripada kebenaran."

Tidak lama kemudian, telepon dari ibu masuk.

"Chloe! Kenapa aku bisa melahirkan anak perempuan sejahat kamu! Apa sebenarnya yang dilakukan Bella sampai kamu tega menyakitinya seperti ini!"

Aku mendengarkan dengan tenang. Baru setelah dia selesai memaki dan kelelahan sendiri, aku berbicara datar, "Bu, tahukah kamu?"

"Pada tahun pertama aku dibawa kembali ke Keluarga Kurniawan, aku diam-diam melakukan tes DNA. Karena aku nggak berani percaya, seorang ibu kandung bisa bersikap sedingin itu pada putrinya yang terpisah puluhan tahun."

Di seberang telepon, napas ibu tertahan.

Aku melanjutkan, "Hasilnya, kita memang ibu dan anak. Tapi aku sama sekali nggak merasa bahagia."

"Karena aku akhirnya mengerti, ikatan darah tidak menentukan segalanya. Selama lebih dari 20 tahun, kamu sudah pilih kasih sama dia. Di hatimu, Bella-lah satu-satunya anak perempuanmu."

"Kamu mengada-ada!" bentaknya keras, tetapi ada rasa bersalah yang samar di suaranya.

"Benarkah?"

Aku tidak lagi menekan. Aku hanya berkata dengan tenang, "Bu, ini terakhir kalinya aku memanggilmu seperti itu. Mulai sekarang, kamu hanya punya satu anak perempuan, Bella. Hubungan kita berakhir sampai di sini."

Setelah itu, aku menutup telepon. Di hatiku tidak ada kesedihan, hanya rasa ringan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Seperti seseorang yang memanggul beban terlalu lama, akhirnya melepaskan semua barang bawaan.

Telepon dari Vierra masuk. Suaranya penuh semangat, "Chloe! Semua sudah beres!"

"Studio di luar negeri sudah terdaftar. Tim awal juga sudah aku bentuk untukmu, semuanya para profesional terbaik di industri. Asetmu juga sudah dipindahkan. Tinggal tunggu perintahmu, kita bisa resmi mulai perang!"

"Baik," jawabku singkat.

"Tapi ...." Nada Vierra berubah khawatir. "Kamu benar-benar rela? Semua yang ada di dalam negeri, dan juga ... Wesley."

Rela?

Aku memejamkan mata. Dalam benakku terlintas hari kecelakaan itu, tiga wajah menjijikkan di dalam ruang rawat. Saat mereka menipuku, tak ada sedikit pun rasa enggan.

Jackson dulu pernah bilang aku orang yang berhati lembut. Aku juga mengira diriku akan berat melepaskan.

Aku tersenyum, tetapi sorot mataku tampak dingin. "Keinginanku untuk memutus segalanya sekarang, sudah jauh lebih besar daripada rasa tidak rela."

"Jackson mengira dia bisa mengendalikanku dengan mudah. Kalau begitu, sudah seharusnya aku memberinya hadiah besar."
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kepura-puraan yang Berujung Kejutan   Bab 9

    Vierra ikut masuk, menyerahkan segelas air hangat kepadaku, lalu menatapku dengan cemas. "Kamu ... nggak apa-apa?"Aku menerima gelas itu dan meneguk seteguk, lalu menggeleng, "Nggak apa-apa. Jauh lebih tenang dari yang kubayangkan."Ya, tenang. Aku pernah mengira, saat kembali berhadapan dengan mereka, hatiku akan sakit, perasaanku akan bercampur aduk. Namun ketika momen itu benar-benar tiba, aku baru menyadari bahwa hatiku sudah lama mati rasa. Mereka tidak lagi mampu menimbulkan gelombang apa pun di dalam hatiku.Kupikir semuanya akan berakhir di sana. Tak kusangka, beberapa hari kemudian, aku kembali kedatangan tamu tak diundang. Itu ibuku.Keadaannya bahkan lebih mengenaskan daripada Jackson. Rambutnya sudah memutih setengah, wajahnya dipenuhi keriput, seolah mendadak menua sepuluh tahun.Dengan ditemani Vierra, dia masuk ke kantorku. Begitu melihatku, air matanya langsung mengalir. Dia ingin memelukku, tetapi aku menyingkir ke samping untuk menghindarinya.Tangannya yang terulur

  • Kepura-puraan yang Berujung Kejutan   Bab 8

    Keesokan harinya, dia membawa Wesley dan langsung datang ke studionya.Hari itu, aku sedang rapat dengan klien.Asistenku masuk dengan wajah panik dan berbisik di telingaku, "Bu Chloe, di luar ada seorang pria bersama seorang anak. Dia bersikeras ingin bertemu dengan Anda ...."Semua orang di ruang rapat menoleh ke arahku.Aku tersenyum pada klien dengan wajah tenang, "Maaf, saya izin sebentar."Aku keluar dari ruang rapat dan langsung melihat Jackson dan Wesley berdiri di lobi.Setahun tidak bertemu, Jackson terlihat jauh lebih kurus. Di matanya terbayang kelelahan dan ketuaan yang dalam, sama sekali tidak ada lagi semangat percaya diri seperti dulu.Wesley juga sudah tumbuh lebih tinggi. Dia bersembunyi di belakang Jackson dengan raut cemas, kedua matanya memerah.Begitu melihatku keluar, mata Jackson langsung berbinar. Dia melangkah cepat mendekat, suaranya bergetar, "Chloe, a ... akhirnya aku menemukanmu."Aku berdiri di tempat tanpa bergerak dan menatapnya dengan ekspresi dingin.

  • Kepura-puraan yang Berujung Kejutan   Bab 7

    Beberapa hari berikutnya, aku meminta pengacaraku secara resmi mengajukan gugatan cerai terhadap Jackson dan menyerahkan seluruh bukti perselingkuhannya selama masa pernikahan.Pada saat yang sama, aku juga mengajukan permohonan ke pengadilan untuk membagi seluruh harta bersama atas nama kami. Jackson menerima surat panggilan pengadilan dan langsung kelimpungan.Di satu sisi dia harus menghadapi krisis perusahaan, di sisi lain dia dihujani kecaman publik. Kini, dia masih harus berperkara cerai denganku. Dia mencoba menghubungiku, tetapi baru sadar semua kontaknya sudah diblokir.Satu-satunya jalan yang tersisa hanyalah melalui pengacara, menyampaikan keinginannya untuk berdamai.Pengacaranya mengatakan dia bersedia melepaskan seluruh harta, asalkan aku mau mencabut gugatan dan tampil ke publik untuk mengklarifikasi bahwa semua yang terjadi sebelumnya hanyalah kesalahpahaman.Aku meminta pengacaraku membalas, "Bisa. Suruh dia berlutut di alun-alun terbesar pusat kota selama tiga hari ti

  • Kepura-puraan yang Berujung Kejutan   Bab 6

    Pesta ulang tahun Bella akhirnya berakhir dengan skandal besar yang paling memalukan.Keesokan harinya, kabar tentang Keluarga Safira, Keluarga Kurniawan, serta isu Bella merebut posisi istri orang langsung menyebar ke seluruh kota, menjadi bahan gosip selepas makan.Harga saham perusahaan Jackson langsung anjlok. Banyak mitra kerja berbondong-bondong mengajukan pemutusan kontrak. Bisnis Keluarga Kurniawan pun terkena dampak besar.Sementara itu, aku sedang duduk di depan jendela kaca besar yang terang di studio luar negeri, menikmati kopi dengan santai sambil menonton video langsung yang dikirim Vierra.Di dalam video, aula pesta yang sudah ditinggalkan para tamu tampak berantakan.Bella dan Jackson sedang bertengkar hebat."Jackson! Kenapa kamu nggak bilang dari awal kalau Chloe nggak kehilangan ingatan? Bukankah kamu bilang semuanya ada dalam kendalimu?" Bella berteriak histeris."Bagaimana aku bisa tahu dia nggak amnesia?!"Jackson menerjang ke hadapannya, mencengkeram bahu Bella d

  • Kepura-puraan yang Berujung Kejutan   Bab 5

    Ulang tahun Bella pun tiba.Ibu mengadakan pesta ulang tahun besar-besaran untuknya, bertempat di ballroom hotel paling mewah di pusat kota. Jackson menghamburkan uang tanpa ragu, hampir mengundang seluruh kalangan elite kota ini.Bella mengenakan gaun haute couture bertema langit berbintang, menggandeng lengan Jackson, menerima ucapan selamat dari semua orang. Ibu berdiri di samping mereka dengan senyum penuh kebahagiaan, tampak seperti ibu mertua yang amat puas.Mereka bertiga terlihat begitu harmonis, membuat siapa pun yang melihatnya iri.Sementara aku, tiga hari sebelumnya, sudah naik pesawat menuju luar negeri.Aku sudah menghitung waktunya dengan tepat. Saat pesta ulang tahun mencapai puncaknya, ketika pembawa acara mempersilakan Jackson naik ke panggung untuk menyampaikan ucapan selamat ulang tahun kepada Bella.Hadiah yang kusiapkan, juga seharusnya sudah tiba.Aku mengirim pesan pada teman Vierra yang berada di dalam negeri.[ Bisa mulai sekarang. ]Di dalam ballroom, Jackson

  • Kepura-puraan yang Berujung Kejutan   Bab 4

    Erangan kesakitan Bella seketika menarik seluruh perhatian Jackson. Dia menoleh ke arahku dan berkata dingin, "Sekarang kamu puas?"Lalu, seisi keluarga panik menggendong Bella dan bergegas menuju rumah sakit.Sebelum pergi, ibu bahkan masih sempat menoleh dan memaki keras, "Kamu pembawa sial!"Aku berdiri di tempat sampai kakiku mati rasa, barulah aku melangkah masuk ke kamar pembantu itu. Kelelahan fisik dan batin menindihku tanpa ampun. Pada akhirnya aku roboh di atas ranjang kecil itu dan tertidur lelap.Entah sudah berapa lama berlalu, aku terbangun karena sebuah tarikan yang kasar.Dengan mata merah menyala, Jackson menyeretku bangun dari tempat tidur. "Chloe! Kenapa kamu bisa sekejam ini!"Aku bahkan belum sepenuhnya sadar, sudah dihantam oleh amarahnya yang membabi buta."Kamu jelas-jelas tahu Bella sudah masuk rumah sakit. Dia alergi berat terhadap mangga, tapi kamu sengaja mengirimkan kue mille crepe mangga! Kamu menyimpan dendam dan sengaja mengutuknya!"Aku tertegun.'Mille

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status