LOGIN“Aku dapat panggilan wawancara?” Reina bergumam tak percaya.
Ingatan gadis itu berkelebat cepat. Beberapa hari lalu, ia memang nekat mengirim lamaran ke beberapa hotel besar di pusat kota untuk mendapatkan penghasilan yang lebih baik daripada pekerjaan magangnya selama ini.
Reina membutuhkan sejumlah uang untuk melanjutkan kuliahnya yang terhenti karena keterbatasan dana. Sebagai satu-satunya penopang hidup, ia tidak memiliki waktu untuk bersantai.
Selain harus berjuang untuk menghidupi dirinya sendiri, ia juga harus menanggung biaya sekolah dan perawatan rutin adik laki-lakinya yang mengidap penyakit jantung.
Akan tetapi, menjadi karyawan The Grand Veldric Hotel bukanlah hal yang mudah. Banyak para pelamar yang gagal diterima karena pihak manajemen hotel menetapkan standar yang sangat tinggi, baik dari segi latar belakang pendidikan, pengalaman kerja, maupun etika kerja. Bahkan untuk posisi housekeeper sekalipun, seleksinya terkenal ketat dan tidak kenal kompromi.
Sejak awal mengirim lamaran, Reina sudah menyiapkan diri untuk ditolak. Dalam benaknya, tidak ada alasan bagi manajemen hotel sebesar itu untuk memilih seorang mahasiswi yang sedang cuti kuliah dan tidak memiliki koneksi apa pun.
“Tidak … ini adalah kesempatan emas,” gumam Reina, berusaha menyemangati dirinya sendiri. Sorot matanya menyala penuh tekad. “Apa pun yang terjadi, aku harus diterima bekerja di sini.”
Reina melirik jam pada layar ponselnya. Masih ada waktu tiga jam tersisa sebelum jadwal wawancara kerjanya dimulai.
Embusan napas kasar meluncur dari hidung Reina saat mengamati penampilannya. Tubuhnya bukan hanya terasa sangat pegal, tetapi juga lengket dan bau karena sisa cairan percintaan panasnya semalam masih menempel di tubuhnya.
Karena merasa risi, Reina segera bangkit dari duduknya, melangkah menuju kamar mandi kecil di sudut rumahnya. Di bawah kucuran air dingin, ia pun membasuh seluruh jejak pria bernama Hugo itu dari tubuhnya.
Setelah selesai membersihkan diri dan berbenah seadanya, Reina segera berangkat menuju lokasi wawancara.
Begitu tiba di sana, nyalinya sedikit menciut. Lebih dari dua puluh kandidat sudah menunggu giliran. Penampilan mereka rapi, profesional, dan penuh percaya diri—jauh berbeda dengan dirinya.
Namun, Reina tetap melangkah masuk. Ia menerima nomor antrean dua puluh lima dan duduk di sudut ruangan, menyandarkan kepala ke dinding. Waktu berjalan lambat. Satu per satu pelamar dipanggil masuk.
Dingin AC yang menusuk dan kelelahan fisik yang menumpuk tanpa ampun membuat Reina terlelap tanpa sadar hingga akhirnya suara lantang seseorang membangunkannya.
“Nomor dua puluh lima! REINA WYNN!”
“Ya!” Reina sontak berdiri dari kursinya dengan wajah linglung. Jantungnya hampir melompat keluar saking kagetnya.
Suara tawa kecil pun meluncur. Beberapa di antara para kandidat yang tersisa di dalam ruang tunggu itu menatapnya dengan penuh cemooh. Reina hanya mampu tersenyum kaku pada orang di sebelahnya yang telah membangunkannya tadi.
‘Haish! Bisa-bisanya aku malah tertidur,’ rutuk Reina kepada dirinya sendiri.
Ia segera merapikan kemeja putih yang sedikit kusut dan mengusap wajahnya, memastikan tidak ada bekas air liur memalukan yang tertinggal. Setelah menarik napas panjang untuk mengusir sisa kantuk, Reina melangkah masuk ke ruang wawancara.
Begitu pintu tertutup, matanya langsung menangkap tiga sosok yang duduk di balik meja panjang.
Namun, sebelum ia sempat berkata apa pun, dua pewawancara di sisi kiri dan kanan tiba-tiba berdiri dan keluar dari ruangan.
“Lho, kalian … kalian kenapa … malah pergi?” Suara Reina mencicit semakin pelan.
Keheningan mendadak terasa menekan ruangan. Pandangan Reina kini terpaku pada satu-satunya sosok yang tersisa di tengah meja, seorang pria bertubuh tegap.
Namun, ia tidak bisa melihat wajah pria itu. Sosok itu duduk membelakanginya, menghadap jendela besar yang menampilkan panorama kota. Ia mengenakan setelan jas buatan tangan yang melekat sempurna pada bahunya yang lebar dan kokoh.
Posisi duduknya memancarkan aura dominasi yang begitu kuat dengan satu kaki pria itu bertumpu angkuh pada kaki lainnya, sementara jemari panjangnya yang besar mengetuk-ngetuk sandaran kursi kulit itu dengan irama yang lambat, tetapi terasa menekan.
“Namamu Reina Wynn?”
Suara dingin yang sangat berat terdengar menggema di seluruh penjuru ruangan.
Reina meneguk salivanya dengan kasar. Ia segera memasang sikap profesional dan menjawab, “Benar, Tuan. Perkenalkan, saya Reina Wynn. Usia saya sekarang 24 tahun. Lulusan SMA dan saat ini mahasiswi manajemen perhotelan tingkat lima yang sedang mengambil cuti.”
Hening. Tidak ada komentar yang diberikan pewawancara itu.
Sembari menahan gugup, Reina melanjutkan, “Saya memiliki pengalaman magang di kafe dan minimarket, serta pernah menjadi guru privat. Memang saya belum pernah bekerja di hotel, tetapi saya bersedia belajar dan bekerja keras. Saya yakin saya—”
“Oh?” Pria itu tiba-tiba memotong, lalu dengan nada santai yang terdengar remeh, ia berkata, “Saya pikir kamu sangat berpengalaman menggoda lelaki, Nona Wynn?”
Reina mengerjap tak percaya. Ia tidak menyangka akan mendapatkan penghinaan semacam itu di tengah wawancaranya. Ingin ia mendamprat pria itu dengan makian kasar, tetapi ia berpikir, mungkin pertanyaan ini merupakan bagian ujian dari wawancara.
Akhirnya, sembari menelan amarahnya bulat-bulat, Reina memaksakan senyuman profesional di wajahnya. “Maaf, Tuan. Saya rasa pertanyaan Anda sudah di luar konteks wawancara. Tapi, jika yang Anda maksud adalah kemampuan interpersonal dan cara berkomunikasi dengan tamu, saya pastikan saya memiliki etika yang baik dan—"
"Etika?" Pria itu memotong kalimatnya dengan tawa rendah yang terdengar meremehkan. "Menyiram minuman ke kemeja orang asing dan memaksanya memberikan nomor telepon, lalu ….”
Pria itu berhenti sejenak, menciptakan keheningan yang mencekik sebelum akhirnya melanjutkan dengan dingin, “… kabur setelah menidurinya. Itukah yang kamu sebut dengan etika yang baik, Reina Wynn?”
Tubuh Reina seketika membeku. Setiap kata yang terucap dari pria itu terdengar sangat familiar, persis dengan potongan adegan yang baru saja ia lakukan semalam.
‘Bagaimana dia bisa─?’
Belum sempat Reina mencerna rasa kagetnya, kursi kulit besar di hadapannya berputar perlahan. Sosok pria di baliknya kini menampakkan diri sepenuhnya.
Napas Reina terasa tercekat. Wajahnya memucat dalam sekejap. Mata hazelnya kini beradu dengan pemilik manik mata gelap bak elang pemangsa itu, Hugo Veldric.
‘Di-dia … kenapa ada di sini?!’ batin Reina menjerit. Lututnya mendadak terasa lemas, tetapi ia memaksa dirinya tetap berdiri tegak, menahan gemetar yang merambat ke seluruh tubuhnya.
Tidak pernah sekalipun Reina membayangkan bahwa pria yang semalam bergumul dengannya di atas ranjang hotel, akan muncul di hadapannya sebagai pemegang kendali atas hasil wawancaranya.
Ini benar-benar seperti mimpi buruk!
Hugo menghentikan langkahnya seketika. Ia berbalik perlahan, menatap Reina dengan tatapan tak percaya. Tawa rendahnya pun pecah dan menggema di dalam kamar itu.“Housekeeping?” ulangnya, seakan kata itu adalah lelucon paling konyol yang pernah didengarnya.Reina mengangguk dengan penuh keyakinan. “Kamu masih ingat kan kalau aku memang mengajukan lamaran itu?”Hugo mengembuskan napas pelan, lalu mengangguk malas. "Tapi, apa otakmu tidak bermasalah? Kamu lebih memilih menjadi housekeeping daripada menjadi asisten pribadiku? Apa kamu tidak tahu ada berapa banyak orang yang menginginkan posisi ini, hm?”Reina berdecih pelan di dalam hati, ‘Justru karena otakku masih waras, makanya aku memilih ini. Memangnya kamu pikir bisa membodohiku?’ batinnya.Namun, detik berikutnya, Reina memaksakan diri untuk tersenyum dan menjawab, “Aku bukan lulusan sarjana dan juga tidak punya pengalaman menjadi seorang asisten. Bagaimana kalau nanti aku malah mempermalukanmu dan mengacaukan pekerjaanmu?”Hugo te
“Kalau aku tidak mau mematuhi semua aturan ini, apa yang akan kamu lakukan?” desis Reina dengan tatapan tajam yang berkilat penuh perlawanan.Hugo tidak langsung menjawab. Ia justru sedikit merunduk, memperkikis jarak hingga Reina bisa merasakan hembusan napasnya yang dingin di permukaan kulit wajahnya. Seringai berbahaya kembali muncul di bibir pria itu.“Sederhana saja,” bisik Hugo dengan suara bariton yang rendah dan mengintimidasi. “Kembalikan setiap sen yang sudah aku keluarkan untukmu. Tunai. Sekarang juga. Dan pastinya ….”Hugo sengaja menjeda kalimatnya. Jemarinya bergerak menyusuri rahang gadis itu dengan gerakan yang sangat lembut, tetapi bagi Reina, sentuhan itu terasa duri yang menusuknya perlahan-lahan, menciptakan rasa takut yang menyiksa.“… kamu harus bersiap mencari rumah sakit yang bersedia menampung adikmu,” lanjut pria itu dengan suara tenang, tetapi penuh otoritas mutlak yang tak terbantahkan.Ucapannya jelas menyiratkan bahwa Axel tidak akan bisa mendapatkan pera
“Percuma saja kamu bersembunyi di balik tanganmu. Memangnya bisa mengubah fakta kalau kamu sangat menikmati permainan panas kita tadi, Gadis Nakal?”Sindiran pedas yang meluncur dari bibir Hugo lamgsung mengalihkan pikiran Reina. Perlahan gadis itu menurunkan kedua telapak tangan dari wajahnya. Panas di pipinya kini merambat hingga ke telinganya saat melihat senyum mengejek di wajah Hugo.Namun, Reina tidak membalas. Ia tidak ingin menambah kepuasan pria itu dalam mencemoohnya. Ia pun menyambar dokumen di atas seprai dengan gerakan kasar untuk menutupi rasa malunya yang membuncah.“Dokumen apa ini?” gumam Reina saat matanya mulai menyapu deretan tulisan yang tercetak di atas lembaran dokumen yang ada di tangannya.Hugo tidak langsung menjawab. Ia duduk di tepi ranjang, lalu perlahan mendekati Reina dan mengunci gadis itu dengan menumpukan satu tangannya pada kepala ranjang, tepat di samping bahu gadis itu.“Ini adalah rincian aturan yang harus kamu patuhi selama menjadi istriku,” tera
Satu jam kemudian, ranjang king size di dalam suite mewah itu tampak berantakan seperti habis diterpa badai hebat. Selimut sutra yang semula licin dan rapi kini teronggok tak berdaya di lantai marmer, berserakan di antara helai-helai pakaian yang dilemparkan secara serampangan.Tanpa sehelai busana yang melekat di tubuhnya, Reina menggeliat kecil di atas seprai yang kusut. Ia mencoba bangkit, tetapi seluruh sendi tubuhnya terasa kaku. Sekujur tubuhnya terasa remuk redam setelah pergumulan panas yang menguras seluruh tenaga dan emosinya.Di sudut ruangan, suara gemericik air dari kamar mandi berhenti seketika, menyisakan kesunyian yang mencekam.Manik mata hazel Reina terpaku pada siluet Hugo yang terpatri di balik kaca buram kamar mandi. “Dia benar-benar iblis,” geramnya pelan, disertai suara lenguhan kecil yang menahan perih.Sembari meregangkan punggungnya yang terasa pegal, ia menatap nanar jejak-jejak kemerahan yang menghiasi kulit putihnya.Bayangan ingatan saat Hugo menorehkan ta
"Aku tidak pernah bilang tidak suka," bisik Hugo. Suaranya kini terdengar diselimuti gairah yang terasa berbahaya.Embusan napasnya yang panas terasa membakar tengkuk leher Reina. Gadis itu memejamkan matanya dengan erat, berusaha menekan gejolak liar yang mulai membuncah di dalam dadanya. "Tapi, aku penasaran … apa kamu selalu mempraktikkannya dengan semua laki-laki yang kamu temui, Reina Wynn?” desis pria itu. Nada mencemoohnya terasa seperti tamparan keras yang menghantam harga diri Reina.Bola mata hazel gadis itu telah membelalak besar, mendelik Hugo dengan tajam dan penuh amarah. Namun, pria itu tidak menunjukkan penyesalan sedikit pun.Sebaliknya, Hugo justru mengulas senyuman puas seolah sengaja memancing sisi emosional yang berusaha Reina sembunyikan di balik kepolosan yang ia tunjukkan.“Cukup, Hugo Veldric! Berhenti menghinaku!” hardik Reina dengan penuh emosi.Amarah yang sedari tadi terpendam akhirnya meledak tanpa bisa gadis itu hentikan. Ia tidak lagi peduli apabila uca
“Masuk,” titah Hugo seraya membuka lebar pintu kamar hotel setelah menempelkan sidik jarinya pada panel pemindai di samping pintu.Namun, Reina masih berdiri di depan kamar itu. Kakinya seakan terpaku di atas karpet mewah koridor hotel, enggan melangkah masuk ke dalam ruangan yang pernah menjadi saksi bisu pergumulan panasnya bersama pria itu dua hari lalu.Menyadari gadis itu tidak beranjak dari tempatnya, Hugo memutar tubuhnya. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan menatap gadis itu dengan sorot mata penuh intimidasi.“Kenapa diam? Kamu tiba-tiba lupa cara berjalan, atau sedang menunggu aku menggendongmu masuk?" sindir Hugo sembari menyandarkan punggungnya pada daun pintu.Reina mencebikkan bibirnya dengan jengah. Tidak ingin memperpanjang perdebatan, ia pun memaksakan kakinya untuk melangkah masuk.Melihat kepatuhan penuh keterpaksaan itu, Hugo mendengus dingin, lalu menutup pintu kamar dan berjalan melewati gadis itu.“Aku tahu kamar ini membangkitkan kenangan malam pa







