Share

Bab 6

Author: AliceLin
last update Last Updated: 2025-12-31 17:07:34

“Aku dapat panggilan wawancara?” Reina bergumam tak percaya.

Ingatan gadis itu berkelebat cepat. Beberapa hari lalu, ia memang nekat mengirim lamaran ke beberapa hotel besar di pusat kota untuk mendapatkan penghasilan yang lebih baik daripada pekerjaan magangnya selama ini.

Reina membutuhkan sejumlah uang untuk melanjutkan kuliahnya yang terhenti karena keterbatasan dana. Sebagai satu-satunya penopang hidup, ia tidak memiliki waktu untuk bersantai.

Selain harus berjuang untuk menghidupi dirinya sendiri, ia juga harus menanggung biaya sekolah dan perawatan rutin adik laki-lakinya yang mengidap penyakit jantung.

Akan tetapi, menjadi karyawan The Grand Veldric Hotel bukanlah hal yang mudah. Banyak para pelamar yang gagal diterima karena pihak manajemen hotel menetapkan standar yang sangat tinggi, baik dari segi latar belakang pendidikan, pengalaman kerja, maupun etika kerja. Bahkan untuk posisi housekeeper sekalipun, seleksinya terkenal ketat dan tidak kenal kompromi.

Sejak awal mengirim lamaran, Reina sudah menyiapkan diri untuk ditolak. Dalam benaknya, tidak ada alasan bagi manajemen hotel sebesar itu untuk memilih seorang mahasiswi yang sedang cuti kuliah dan tidak memiliki koneksi apa pun.

“Tidak … ini adalah kesempatan emas,” gumam Reina, berusaha menyemangati dirinya sendiri. Sorot matanya menyala penuh tekad. “Apa pun yang terjadi, aku harus diterima bekerja di sini.”

Reina melirik jam pada layar ponselnya. Masih ada waktu tiga jam tersisa sebelum jadwal wawancara kerjanya dimulai.

Embusan napas kasar meluncur dari hidung Reina saat mengamati penampilannya. Tubuhnya bukan hanya terasa sangat pegal, tetapi juga lengket dan bau karena sisa cairan percintaan panasnya semalam masih menempel di tubuhnya.

Karena merasa risi, Reina segera bangkit dari duduknya, melangkah menuju kamar mandi kecil di sudut rumahnya. Di bawah kucuran air dingin, ia pun membasuh seluruh jejak pria bernama Hugo itu dari tubuhnya.

Setelah selesai membersihkan diri dan berbenah seadanya, Reina segera berangkat menuju lokasi wawancara.

Begitu tiba di sana, nyalinya sedikit menciut. Lebih dari dua puluh kandidat sudah menunggu giliran. Penampilan mereka rapi, profesional, dan penuh percaya diri—jauh berbeda dengan dirinya.

Namun, Reina tetap melangkah masuk. Ia menerima nomor antrean dua puluh lima dan duduk di sudut ruangan, menyandarkan kepala ke dinding. Waktu berjalan lambat. Satu per satu pelamar dipanggil masuk.

Dingin AC yang menusuk dan kelelahan fisik yang menumpuk tanpa ampun membuat Reina terlelap tanpa sadar hingga akhirnya suara lantang seseorang membangunkannya.

“Nomor dua puluh lima! REINA WYNN!”

“Ya!” Reina sontak berdiri dari kursinya dengan wajah linglung. Jantungnya hampir melompat keluar saking kagetnya.

Suara tawa kecil pun meluncur. Beberapa di antara para kandidat yang tersisa di dalam ruang tunggu itu menatapnya dengan penuh cemooh. Reina hanya mampu tersenyum kaku pada orang di sebelahnya yang telah membangunkannya tadi.

‘Haish! Bisa-bisanya aku malah tertidur,’ rutuk Reina kepada dirinya sendiri.

Ia segera merapikan kemeja putih yang sedikit kusut dan mengusap wajahnya, memastikan tidak ada bekas air liur memalukan yang tertinggal. Setelah menarik napas panjang untuk mengusir sisa kantuk, Reina melangkah masuk ke ruang wawancara.

Begitu pintu tertutup, matanya langsung menangkap tiga sosok yang duduk di balik meja panjang.

Namun, sebelum ia sempat berkata apa pun, dua pewawancara di sisi kiri dan kanan tiba-tiba berdiri dan keluar dari ruangan.

“Lho, kalian … kalian kenapa … malah pergi?” Suara Reina mencicit semakin pelan.

Keheningan mendadak terasa menekan ruangan. Pandangan Reina kini terpaku pada satu-satunya sosok yang tersisa di tengah meja, seorang pria bertubuh tegap.

Namun, ia tidak bisa melihat wajah pria itu. Sosok itu duduk membelakanginya, menghadap jendela besar yang menampilkan panorama kota. Ia mengenakan setelan jas buatan tangan yang melekat sempurna pada bahunya yang lebar dan kokoh.

Posisi duduknya memancarkan aura dominasi yang begitu kuat dengan satu kaki pria itu bertumpu angkuh pada kaki lainnya, sementara jemari panjangnya yang besar mengetuk-ngetuk sandaran kursi kulit itu dengan irama yang lambat, tetapi terasa menekan.

“Namamu Reina Wynn?”

Suara dingin yang sangat berat terdengar menggema di seluruh penjuru ruangan.

Reina meneguk salivanya dengan kasar. Ia segera memasang sikap profesional dan menjawab, “Benar, Tuan. Perkenalkan, saya Reina Wynn. Usia saya sekarang 24 tahun. Lulusan SMA dan saat ini mahasiswi manajemen perhotelan tingkat lima yang sedang mengambil cuti.”

Hening. Tidak ada komentar yang diberikan pewawancara itu.

Sembari menahan gugup, Reina melanjutkan, “Saya memiliki pengalaman magang di kafe dan minimarket, serta pernah menjadi guru privat. Memang saya belum pernah bekerja di hotel, tetapi saya bersedia belajar dan bekerja keras. Saya yakin saya—”

“Oh?” Pria itu tiba-tiba memotong, lalu dengan nada santai yang terdengar remeh, ia berkata, “Saya pikir kamu sangat berpengalaman menggoda lelaki, Nona Wynn?”

Reina mengerjap tak percaya. Ia tidak menyangka akan mendapatkan penghinaan semacam itu di tengah wawancaranya. Ingin ia mendamprat pria itu dengan makian kasar, tetapi ia berpikir, mungkin pertanyaan ini merupakan bagian ujian dari wawancara.

Akhirnya, sembari menelan amarahnya bulat-bulat, Reina memaksakan senyuman profesional di wajahnya. “Maaf, Tuan. Saya rasa pertanyaan Anda sudah di luar konteks wawancara. Tapi, jika yang Anda maksud adalah kemampuan interpersonal dan cara berkomunikasi dengan tamu, saya pastikan saya memiliki etika yang baik dan—"

"Etika?" Pria itu memotong kalimatnya dengan tawa rendah yang terdengar meremehkan. "Menyiram minuman ke kemeja orang asing dan memaksanya memberikan nomor telepon, lalu ….”

Pria itu berhenti sejenak, menciptakan keheningan yang mencekik sebelum akhirnya melanjutkan dengan dingin, “… kabur setelah menidurinya. Itukah yang kamu sebut dengan etika yang baik, Reina Wynn?”

Tubuh Reina seketika membeku. Setiap kata yang terucap dari pria itu terdengar sangat familiar, persis dengan potongan adegan yang baru saja ia lakukan semalam.

‘Bagaimana dia bisa─?’

Belum sempat Reina mencerna rasa kagetnya, kursi kulit besar di hadapannya berputar perlahan. Sosok pria di baliknya kini menampakkan diri sepenuhnya.

Napas Reina terasa tercekat. Wajahnya memucat dalam sekejap. Mata hazelnya kini beradu dengan pemilik manik mata gelap bak elang pemangsa itu, Hugo Veldric.

‘Di-dia … kenapa ada di sini?!’ batin Reina menjerit. Lututnya mendadak terasa lemas, tetapi ia memaksa dirinya tetap berdiri tegak, menahan gemetar yang merambat ke seluruh tubuhnya.

Tidak pernah sekalipun Reina membayangkan bahwa pria yang semalam bergumul dengannya di atas ranjang hotel, akan muncul di hadapannya sebagai pemegang kendali atas hasil wawancaranya.

Ini benar-benar seperti mimpi buruk!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kesalahan Satu Malam: Jangan Berhenti, Tuan Veldric!   Bab 8

    “Ma-maaf … aku benar-benar tidak tahu kalau kamu bukan Tuan Curtiz,” cicit Reina dengan bersusah payah. Napasnya terasa sesak karena jarak pria itu yang begitu dekat membuat pasokan udara di sekitarnya terasa menipis.“Aku … aku sudah salah mengenali orang. Kalau aku tahu kamu bukan Tuan Curtiz, aku pasti tidak akan menidurimu,” tutur Reina, berusaha menjelaskan bahwa semua yang terjadi hanya kesalahan fatal yang tidak disengaja.Namun, kejujurannya itu justru menjadi bumerang baginya.Wajah Hugo tampak semakin menggelap, lalu dengan suara rendah yang berbahaya, pria itu bergumam, “Maksudmu … kemampuanku di ranjang tidak lebih baik dari si bandot tua Curtiz itu hingga kamu menyesal tidur denganku?”“Iya,” jawab Reina tanpa berpikir panjang. Namun, sedetik kemudian, ia menyadari jawaban bodohnya itu, lalu meralatnya dengan cepat, “Tidak, bukan begitu maksudku! Tentu saja kamu yang lebih hebat! Ah, tidak … maksudku … semua ini bukan masalah siapa yang lebih ahli. Tapi—”Ucapan Reina sek

  • Kesalahan Satu Malam: Jangan Berhenti, Tuan Veldric!   Bab 7

    Seringai kecil tersungging di bibir Hugo Veldric. Pria itu seakan menikmati binar ketakutan di wajah Reina.Wanita itu masih berdiri mematung tanpa kata hingga akhirnya suara berat Hugo memecah keheningan yang tercipta di antara mereka. “Kenapa diam, Nona Wynn? Di mana perginya keberanianmu semalam? Apa kamu tidak senang bertemu denganku?”Nada menggoda yang terkesan mengejek itu membuat wajah Reina terasa memanas. Namun, wanita itu menampik dengan cepat, “Sa-saya tidak mengerti apa yang Anda bicarakan, Tuan.”Satu alis Hugo sontak terangkat. “Tidak mengerti?” gumamnya dengan nada mengejek.Reina memejamkan matanya dengan erat. Ia memutuskan untuk tidak mengakui perbuatannya. Bukan hanya karena merasa khawatir ia kehilangan kesempatan diterima bekerja, tetapi ia ingin mempertahankan harga dirinya yang masih tersisa.Mana mungkin ia mengaku jika dirinyalah adalah gadis penggoda nakal yang telah menantangnya, lalu menghilang setelah menidurinya? Mau ditaruh di mana mukanya?Akan tetapi,

  • Kesalahan Satu Malam: Jangan Berhenti, Tuan Veldric!   Bab 6

    “Aku dapat panggilan wawancara?” Reina bergumam tak percaya.Ingatan gadis itu berkelebat cepat. Beberapa hari lalu, ia memang nekat mengirim lamaran ke beberapa hotel besar di pusat kota untuk mendapatkan penghasilan yang lebih baik daripada pekerjaan magangnya selama ini.Reina membutuhkan sejumlah uang untuk melanjutkan kuliahnya yang terhenti karena keterbatasan dana. Sebagai satu-satunya penopang hidup, ia tidak memiliki waktu untuk bersantai.Selain harus berjuang untuk menghidupi dirinya sendiri, ia juga harus menanggung biaya sekolah dan perawatan rutin adik laki-lakinya yang mengidap penyakit jantung.Akan tetapi, menjadi karyawan The Grand Veldric Hotel bukanlah hal yang mudah. Banyak para pelamar yang gagal diterima karena pihak manajemen hotel menetapkan standar yang sangat tinggi, baik dari segi latar belakang pendidikan, pengalaman kerja, maupun etika kerja. Bahkan untuk posisi housekeeper sekalipun, seleksinya terkenal ketat dan tidak kenal kompromi.Sejak awal mengirim

  • Kesalahan Satu Malam: Jangan Berhenti, Tuan Veldric!   Bab 5

    Reina keluar dari hotel dengan langkah tergesa. Napasnya masih memburu saat ia naik ke atas bus. Setelah mendapat tempat duduk kosong, barulah ia bisa bernapas lega.Namun, jantungnya masih berdegup dengan sangat cepat. Wajahnya juga masih memanas. Ia mencoba memejamkan matanya untuk meredam kekacauan di dalam kepalanya, tetapi ingatan semalam justru menyerbu tanpa ampun.“Cukup, Reina. Jangan diingat lagi,” gumam gadis itu seraya menggelengkan kepalanya kuat-kuat.Kegelisahannya itu langsung menarik perhatian penumpang di sebelahnya. Sontak, Reina tersenyum kikuk, lalu memalingkan wajahnya seraya menepuk dadanya untuk menghentikan debarannya.Akan tetapi, gerakan tangannya mendadak terhenti saat menyentuh lehernya yang kosong. Jemarinya mendadak kaku. Padahal seharusnya ada kalung rantai tipis yang biasanya melingkar di sana.Napas Reina tercekat. “Ti-tidak mungkin ….”Tangannya kembali meraba lehernya dengan lebih panik, lalu turun ke dada, berharap kalung itu terselip di pakaiannya

  • Kesalahan Satu Malam: Jangan Berhenti, Tuan Veldric!   Bab 4

    Esok harinya, Reina terbangun ketika matahari telah berada di puncak tertinggi gedung hotel. Kelopak matanya yang perlahan terbuka, menangkap sinar hangat yang menembus tirai tipis.Dengan satu tangannya yang terangkat, ia menghalangi cahaya menyergap matanya secara langsung. Setelah mulai terbiasa dengan pencahayaan sekitar, ia memiringkan kepalanya dengan malas. Matanya perlahan menelusuri sekelilingnya.‘Ini … ini di mana?’Dahinya lantas mengernyit, mencoba menelaah situasi yang dihadapinya. Ruangan yang ditempatinya saat ini terlihat seperti suite mewah, tetapi ranjang yang ditidurinya saat ini terlihat sangat berantakan seperti habis─Deg!Reina terkesiap. Perlahan, dengan napas tercekat, ia menunduk dan mengintip tubuhnya sendiri di balik selimut. Dalam sekejap, seluruh darah di wajahnya seperti menghilang. Jantungnya ikut mencelos.Ternyata tidak ada satu helai benang pun yang melekat di tubuhnya!“Tidak … ini … tidak mungkin …,” bisiknya lirih.Tiba-tiba kilasan bayangan perg

  • Kesalahan Satu Malam: Jangan Berhenti, Tuan Veldric!   Bab 3

    “Tidak ada yang menyuruhku. Aku sendiri yang mau menggodamu,” aku gadis itu dengan penuh percaya diri.Gigi-gigi pria itu telah bergemeretak. Ia mengira Reina ingin mempermainkannya. Sebelum ia menginterogasinya lebih jauh, Reina tiba-tiba melingkarkan kedua tangannya pada leher kokohnya.“Singkirkan tanganmu, Gadis Nakal.”Geraman rendah yang terdengar seksi menggelitik telinga Reina. Namun, bukannya mundur, gadis itu justru menyeringai tipis, sama sekali tidak menunjukkan niat untuk menurut kepada pria itu.“Berikan dulu nomor kontakmu baru aku menyingkir,” pinta Reina, lalu menambahkan dengan nada menggoda, “Kalau tidak … aku akan terus memelukmu seperti ini.”Kilatan manik mata pria itu semakin tajam. Sebelum amarahnya meledak, Reina tiba-tiba bertanya, “Tuan, bagaimana kalau kita taruhan?”Melihat kebingungan pria itu, Reina langsung menjelaskan, “Kalau kamu bisa menolak godaanku, aku tidak akan mengganggumu lagi.”Reina menaikkan dagunya sedikit, menatap pria itu dengan senyum y

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status