Share

Bab 5

Author: AliceLin
last update Last Updated: 2025-12-31 17:06:50

Reina keluar dari hotel dengan langkah tergesa. Napasnya masih memburu saat ia naik ke atas bus. Setelah mendapat tempat duduk kosong, barulah ia bisa bernapas lega.

Namun, jantungnya masih berdegup dengan sangat cepat. Wajahnya juga masih memanas. Ia mencoba memejamkan matanya untuk meredam kekacauan di dalam kepalanya, tetapi ingatan semalam justru menyerbu tanpa ampun.

“Cukup, Reina. Jangan diingat lagi,” gumam gadis itu seraya menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

Kegelisahannya itu langsung menarik perhatian penumpang di sebelahnya. Sontak, Reina tersenyum kikuk, lalu memalingkan wajahnya seraya menepuk dadanya untuk menghentikan debarannya.

Akan tetapi, gerakan tangannya mendadak terhenti saat menyentuh lehernya yang kosong. Jemarinya mendadak kaku. Padahal seharusnya ada kalung rantai tipis yang biasanya melingkar di sana.

Napas Reina tercekat. “Ti-tidak mungkin ….”

Tangannya kembali meraba lehernya dengan lebih panik, lalu turun ke dada, berharap kalung itu terselip di pakaiannya. Namun, nihil.

Reina bangkit dari duduknya, menunduk, memeriksa lantai di sekitar kakinya. Pandangannya menyapu setiap sudut bus dengan cemas, tetapi benda itu tetap saja tidak ditemukan di mana pun.

Dengan hati mencelos, Reina kembali menjatuhkan tubuhnya ke kursi. Kalung itu memang bukan perhiasan mahal, tetapi merupakan satu-satunya peninggalan ibunya yang tidak pernah ia lepaskan sedetik pun dari tubuhnya.

‘Jangan-jangan … terjatuh di kamar itu?’

Reina refleks meneguk salivanya dengan kasar. Ia sangat berharap dugaannya itu tidak benar. Akan tetapi, mengingat bagaimana liarnya pergumulannya semalam dengan pria itu, kemungkinan kalungnya tertinggal di kamar itu sangat besar.

Reina tidak mungkin kembali ke hotel itu. Ia juga tidak memiliki akses naik ke lantai kamar tersebut. Dan lebih dari itu … bagaimana jika pria itu belum check out?

Reina tidak sanggup membayangkan harus berhadapan lagi dengannya. Sudah cukup ia mempermalukan dirinya sepanjang malam!

“Argh! Bagaimana ini?!” pekik Reina seraya mengacak surainya dengan frustrasi. Kali ini ia tidak lagi peduli dengan pandangan orang-orang di sekelilingnya.

Saat bus berhenti di halte tujuannya, Reina segera bangkit dan turun dengan tergesa. Ia berlari kecil menyusuri jalan pemukiman padat yang sudah sering ia lalui─deretan rumah sempit, gang-gang kecil, dan suara kehidupan yang tidak pernah benar-benar tenang sepanjang hari.

“Reina, kenapa kamu baru pulang?” Hanna Baker, tetangga di samping rumahnya, bergegas menyapanya saat Reina baru memasuki pagar rumahnya.

Langkah Reina pun terhenti. Ia menoleh ke arah suara itu dan mendapati Hanna Baker, tetangga sebelah rumahnya, tengah menyapu halaman depan rumah dengan tubuh gemuknya yang dibalut daster lusuh.

Mata Hanna menelusuri penampilan Reina. Keningnya lantas mengernyit. “Reina, kamu─”

“Ada apa, Nyonya Baker?” potong Reina cepat.

“Apa terjadi sesuatu pada Axel?” tanya Reina lebih lanjut, mengingat ia sudah meninggalkan sang adik di rumah semalaman tanpa kabar. Kecemasan langsung menyergap dadanya.

“Tidak, bukan itu,” jawab Hanna sambil menggeleng. “Semalam ayahmu datang. Ribut-ribut di depan rumahmu.”

Mata Reina membelalak. Namun, ia langsung memahami maksud kedatangan ayahnya. Apa lagi kalau bukan meminta uang?

Setiap uangnya habis, Joseph Wynn pasti akan mendatangi rumah kontrakan Reina, memaksa putrinya untuk memberikannya uang untuk dipertaruhkan lagi di meja judi.

Itulah sebabnya, sejak ibunya meninggal, Reina membawa Axel pergi untuk bersembunyi dari bayang-bayang ayah mereka sendiri. Namun, seperti kutukan, Joseph selalu berhasil menemukan mereka dan ini sudah ketiga kalinya mereka berpindah tempat.

“Lalu, Axel bagaimana?” tanya Reina dengan cemas, khawatir Axel akan menjadi sasaran amukan ayahnya karena tidak berhasil mendapatkan uang darinya.

“Dia baik-baik saja,” jawab Hanna, membuat napas Reina sedikit lega.

“Semalam aku lihat Axel keluar dan memberinya sedikit uang, makanya ayah kalian baru pergi.  Kalau tidak ….”

Hanna menghela napas berat, tidak sanggup melanjutkan ucapannya karena tahu seperti apa tingkah Joseph kalau sudah mabuk.

‘Axel dapat uang dari mana?’ batin Reina, bertanya-tanya. Padahal minggu ini ia belum memberinya uang jajan karena gajinya dari pekerjaan sampingan di minimarket belum turun.

“Sebaiknya kamu cari kontrakan lain lagi, Reina,” lanjut Hanna yang terlihat cemas. “Semalam kulihat ayah kalian itu─”

“Aku tahu, Nyonya Baker.” Reina menepuk lengan wanita itu dan tersenyum menenangkannya. “Aku masuk dulu,” ujarnya lebih lanjut.

Tanpa menunggu tanggapan wanita itu, Reina melanjutkan langkahnya kembali, masuk ke dalam rumah kontrakannya yang kecil dan … hening.

Pada waktu seperti ini, Axel tentu belum pulang dari sekolah.

Keheningan rumah kontrakan itu terasa begitu menyesakkan. Reina menghempaskan tubuhnya ke sofa reyot yang kulitnya sudah terkelupas di beberapa bagian. Pegasnya berderit pelan saat menahan berat tubuhnya.

Seketika rasa lelah menyerbunya. Seluruh tubuhnya terasa remuk redam. Namun, dibandingkan rasa sakit fisiknya, beban di dadanya jauh lebih menyiksa.

Reina menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Air mata perlahan merembes keluar, mengalir hangat di sela jemarinya.

‘Apa yang harus kulakukan? Ke mana lagi aku harus pindah?’ batin Reina, merasa sangat lelah dan frustrasi.

Pindah bukanlah perkara mudah. Selain membutuhkan uang yang tidak sedikit, Reina juga tidak tahu lagi harus ke mana mencari rumah kontrakan dengan tarif serendah tempat yang ia tempati sekarang.

Rata-rata harga rumah dan apartemen kecil di pinggiran kota sudah melonjak. Rumah kontrakan ini adalah satu-satunya pengecualian. Pemiliknya merupakan kenalan mendiang ibunya dan masih bersedia memberi harga khusus.

Selain memikirkan tentang biaya hidup, luka lain kembali mengusik pikirannya.

Kelvin.

Pria itu benar-benar mengingkari janji—janji untuk melamarnya, membawanya pergi, dan hidup bahagia bersamanya. Seharusnya Reina tidak menaruh harapan apa pun pada hubungan mereka. Seharusnya ia tahu, sejak awal … dunia mereka berbeda terlalu jauh.

Kini, Reina bukan hanya kehilangan sandaran, tetapi juga kehilangan keperawanannya karena kebodohannya semalam.

Di tengah kegelisahannya, tiba-tiba ponselnya berdering.

Reina tersentak, lalu buru-buru menyeka air mata di pipinya dan merogoh gawai butut dari dalam tas. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal muncul di layar ponselnya itu.

[Selamat siang. Lamaran kerja Anda sebagai housekeeper di The Grand Veldric Hotel telah kami terima. Harap hadir pukul dua siang hari ini di lantai dua untuk wawancara. Apabila tidak hadir, kami anggap Anda membatalkan lamaran.]

Reina terpaku. ‘The Grand Veldric Hotel?’

Bukankah itu hotel yang barusan ia tinggalkan?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kesalahan Satu Malam: Jangan Berhenti, Tuan Veldric!   Bab 8

    “Ma-maaf … aku benar-benar tidak tahu kalau kamu bukan Tuan Curtiz,” cicit Reina dengan bersusah payah. Napasnya terasa sesak karena jarak pria itu yang begitu dekat membuat pasokan udara di sekitarnya terasa menipis.“Aku … aku sudah salah mengenali orang. Kalau aku tahu kamu bukan Tuan Curtiz, aku pasti tidak akan menidurimu,” tutur Reina, berusaha menjelaskan bahwa semua yang terjadi hanya kesalahan fatal yang tidak disengaja.Namun, kejujurannya itu justru menjadi bumerang baginya.Wajah Hugo tampak semakin menggelap, lalu dengan suara rendah yang berbahaya, pria itu bergumam, “Maksudmu … kemampuanku di ranjang tidak lebih baik dari si bandot tua Curtiz itu hingga kamu menyesal tidur denganku?”“Iya,” jawab Reina tanpa berpikir panjang. Namun, sedetik kemudian, ia menyadari jawaban bodohnya itu, lalu meralatnya dengan cepat, “Tidak, bukan begitu maksudku! Tentu saja kamu yang lebih hebat! Ah, tidak … maksudku … semua ini bukan masalah siapa yang lebih ahli. Tapi—”Ucapan Reina sek

  • Kesalahan Satu Malam: Jangan Berhenti, Tuan Veldric!   Bab 7

    Seringai kecil tersungging di bibir Hugo Veldric. Pria itu seakan menikmati binar ketakutan di wajah Reina.Wanita itu masih berdiri mematung tanpa kata hingga akhirnya suara berat Hugo memecah keheningan yang tercipta di antara mereka. “Kenapa diam, Nona Wynn? Di mana perginya keberanianmu semalam? Apa kamu tidak senang bertemu denganku?”Nada menggoda yang terkesan mengejek itu membuat wajah Reina terasa memanas. Namun, wanita itu menampik dengan cepat, “Sa-saya tidak mengerti apa yang Anda bicarakan, Tuan.”Satu alis Hugo sontak terangkat. “Tidak mengerti?” gumamnya dengan nada mengejek.Reina memejamkan matanya dengan erat. Ia memutuskan untuk tidak mengakui perbuatannya. Bukan hanya karena merasa khawatir ia kehilangan kesempatan diterima bekerja, tetapi ia ingin mempertahankan harga dirinya yang masih tersisa.Mana mungkin ia mengaku jika dirinyalah adalah gadis penggoda nakal yang telah menantangnya, lalu menghilang setelah menidurinya? Mau ditaruh di mana mukanya?Akan tetapi,

  • Kesalahan Satu Malam: Jangan Berhenti, Tuan Veldric!   Bab 6

    “Aku dapat panggilan wawancara?” Reina bergumam tak percaya.Ingatan gadis itu berkelebat cepat. Beberapa hari lalu, ia memang nekat mengirim lamaran ke beberapa hotel besar di pusat kota untuk mendapatkan penghasilan yang lebih baik daripada pekerjaan magangnya selama ini.Reina membutuhkan sejumlah uang untuk melanjutkan kuliahnya yang terhenti karena keterbatasan dana. Sebagai satu-satunya penopang hidup, ia tidak memiliki waktu untuk bersantai.Selain harus berjuang untuk menghidupi dirinya sendiri, ia juga harus menanggung biaya sekolah dan perawatan rutin adik laki-lakinya yang mengidap penyakit jantung.Akan tetapi, menjadi karyawan The Grand Veldric Hotel bukanlah hal yang mudah. Banyak para pelamar yang gagal diterima karena pihak manajemen hotel menetapkan standar yang sangat tinggi, baik dari segi latar belakang pendidikan, pengalaman kerja, maupun etika kerja. Bahkan untuk posisi housekeeper sekalipun, seleksinya terkenal ketat dan tidak kenal kompromi.Sejak awal mengirim

  • Kesalahan Satu Malam: Jangan Berhenti, Tuan Veldric!   Bab 5

    Reina keluar dari hotel dengan langkah tergesa. Napasnya masih memburu saat ia naik ke atas bus. Setelah mendapat tempat duduk kosong, barulah ia bisa bernapas lega.Namun, jantungnya masih berdegup dengan sangat cepat. Wajahnya juga masih memanas. Ia mencoba memejamkan matanya untuk meredam kekacauan di dalam kepalanya, tetapi ingatan semalam justru menyerbu tanpa ampun.“Cukup, Reina. Jangan diingat lagi,” gumam gadis itu seraya menggelengkan kepalanya kuat-kuat.Kegelisahannya itu langsung menarik perhatian penumpang di sebelahnya. Sontak, Reina tersenyum kikuk, lalu memalingkan wajahnya seraya menepuk dadanya untuk menghentikan debarannya.Akan tetapi, gerakan tangannya mendadak terhenti saat menyentuh lehernya yang kosong. Jemarinya mendadak kaku. Padahal seharusnya ada kalung rantai tipis yang biasanya melingkar di sana.Napas Reina tercekat. “Ti-tidak mungkin ….”Tangannya kembali meraba lehernya dengan lebih panik, lalu turun ke dada, berharap kalung itu terselip di pakaiannya

  • Kesalahan Satu Malam: Jangan Berhenti, Tuan Veldric!   Bab 4

    Esok harinya, Reina terbangun ketika matahari telah berada di puncak tertinggi gedung hotel. Kelopak matanya yang perlahan terbuka, menangkap sinar hangat yang menembus tirai tipis.Dengan satu tangannya yang terangkat, ia menghalangi cahaya menyergap matanya secara langsung. Setelah mulai terbiasa dengan pencahayaan sekitar, ia memiringkan kepalanya dengan malas. Matanya perlahan menelusuri sekelilingnya.‘Ini … ini di mana?’Dahinya lantas mengernyit, mencoba menelaah situasi yang dihadapinya. Ruangan yang ditempatinya saat ini terlihat seperti suite mewah, tetapi ranjang yang ditidurinya saat ini terlihat sangat berantakan seperti habis─Deg!Reina terkesiap. Perlahan, dengan napas tercekat, ia menunduk dan mengintip tubuhnya sendiri di balik selimut. Dalam sekejap, seluruh darah di wajahnya seperti menghilang. Jantungnya ikut mencelos.Ternyata tidak ada satu helai benang pun yang melekat di tubuhnya!“Tidak … ini … tidak mungkin …,” bisiknya lirih.Tiba-tiba kilasan bayangan perg

  • Kesalahan Satu Malam: Jangan Berhenti, Tuan Veldric!   Bab 3

    “Tidak ada yang menyuruhku. Aku sendiri yang mau menggodamu,” aku gadis itu dengan penuh percaya diri.Gigi-gigi pria itu telah bergemeretak. Ia mengira Reina ingin mempermainkannya. Sebelum ia menginterogasinya lebih jauh, Reina tiba-tiba melingkarkan kedua tangannya pada leher kokohnya.“Singkirkan tanganmu, Gadis Nakal.”Geraman rendah yang terdengar seksi menggelitik telinga Reina. Namun, bukannya mundur, gadis itu justru menyeringai tipis, sama sekali tidak menunjukkan niat untuk menurut kepada pria itu.“Berikan dulu nomor kontakmu baru aku menyingkir,” pinta Reina, lalu menambahkan dengan nada menggoda, “Kalau tidak … aku akan terus memelukmu seperti ini.”Kilatan manik mata pria itu semakin tajam. Sebelum amarahnya meledak, Reina tiba-tiba bertanya, “Tuan, bagaimana kalau kita taruhan?”Melihat kebingungan pria itu, Reina langsung menjelaskan, “Kalau kamu bisa menolak godaanku, aku tidak akan mengganggumu lagi.”Reina menaikkan dagunya sedikit, menatap pria itu dengan senyum y

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status