LOGINReina keluar dari hotel dengan langkah tergesa. Napasnya masih memburu saat ia naik ke atas bus. Setelah mendapat tempat duduk kosong, barulah ia bisa bernapas lega.
Namun, jantungnya masih berdegup dengan sangat cepat. Wajahnya juga masih memanas. Ia mencoba memejamkan matanya untuk meredam kekacauan di dalam kepalanya, tetapi ingatan semalam justru menyerbu tanpa ampun.
“Cukup, Reina. Jangan diingat lagi,” gumam gadis itu seraya menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
Kegelisahannya itu langsung menarik perhatian penumpang di sebelahnya. Sontak, Reina tersenyum kikuk, lalu memalingkan wajahnya seraya menepuk dadanya untuk menghentikan debarannya.
Akan tetapi, gerakan tangannya mendadak terhenti saat menyentuh lehernya yang kosong. Jemarinya mendadak kaku. Padahal seharusnya ada kalung rantai tipis yang biasanya melingkar di sana.
Napas Reina tercekat. “Ti-tidak mungkin ….”
Tangannya kembali meraba lehernya dengan lebih panik, lalu turun ke dada, berharap kalung itu terselip di pakaiannya. Namun, nihil.
Reina bangkit dari duduknya, menunduk, memeriksa lantai di sekitar kakinya. Pandangannya menyapu setiap sudut bus dengan cemas, tetapi benda itu tetap saja tidak ditemukan di mana pun.
Dengan hati mencelos, Reina kembali menjatuhkan tubuhnya ke kursi. Kalung itu memang bukan perhiasan mahal, tetapi merupakan satu-satunya peninggalan ibunya yang tidak pernah ia lepaskan sedetik pun dari tubuhnya.
‘Jangan-jangan … terjatuh di kamar itu?’
Reina refleks meneguk salivanya dengan kasar. Ia sangat berharap dugaannya itu tidak benar. Akan tetapi, mengingat bagaimana liarnya pergumulannya semalam dengan pria itu, kemungkinan kalungnya tertinggal di kamar itu sangat besar.
Reina tidak mungkin kembali ke hotel itu. Ia juga tidak memiliki akses naik ke lantai kamar tersebut. Dan lebih dari itu … bagaimana jika pria itu belum check out?
Reina tidak sanggup membayangkan harus berhadapan lagi dengannya. Sudah cukup ia mempermalukan dirinya sepanjang malam!
“Argh! Bagaimana ini?!” pekik Reina seraya mengacak surainya dengan frustrasi. Kali ini ia tidak lagi peduli dengan pandangan orang-orang di sekelilingnya.
Saat bus berhenti di halte tujuannya, Reina segera bangkit dan turun dengan tergesa. Ia berlari kecil menyusuri jalan pemukiman padat yang sudah sering ia lalui─deretan rumah sempit, gang-gang kecil, dan suara kehidupan yang tidak pernah benar-benar tenang sepanjang hari.
“Reina, kenapa kamu baru pulang?” Hanna Baker, tetangga di samping rumahnya, bergegas menyapanya saat Reina baru memasuki pagar rumahnya.
Langkah Reina pun terhenti. Ia menoleh ke arah suara itu dan mendapati Hanna Baker, tetangga sebelah rumahnya, tengah menyapu halaman depan rumah dengan tubuh gemuknya yang dibalut daster lusuh.
Mata Hanna menelusuri penampilan Reina. Keningnya lantas mengernyit. “Reina, kamu─”
“Ada apa, Nyonya Baker?” potong Reina cepat.
“Apa terjadi sesuatu pada Axel?” tanya Reina lebih lanjut, mengingat ia sudah meninggalkan sang adik di rumah semalaman tanpa kabar. Kecemasan langsung menyergap dadanya.
“Tidak, bukan itu,” jawab Hanna sambil menggeleng. “Semalam ayahmu datang. Ribut-ribut di depan rumahmu.”
Mata Reina membelalak. Namun, ia langsung memahami maksud kedatangan ayahnya. Apa lagi kalau bukan meminta uang?
Setiap uangnya habis, Joseph Wynn pasti akan mendatangi rumah kontrakan Reina, memaksa putrinya untuk memberikannya uang untuk dipertaruhkan lagi di meja judi.
Itulah sebabnya, sejak ibunya meninggal, Reina membawa Axel pergi untuk bersembunyi dari bayang-bayang ayah mereka sendiri. Namun, seperti kutukan, Joseph selalu berhasil menemukan mereka dan ini sudah ketiga kalinya mereka berpindah tempat.
“Lalu, Axel bagaimana?” tanya Reina dengan cemas, khawatir Axel akan menjadi sasaran amukan ayahnya karena tidak berhasil mendapatkan uang darinya.
“Dia baik-baik saja,” jawab Hanna, membuat napas Reina sedikit lega.
“Semalam aku lihat Axel keluar dan memberinya sedikit uang, makanya ayah kalian baru pergi. Kalau tidak ….”
Hanna menghela napas berat, tidak sanggup melanjutkan ucapannya karena tahu seperti apa tingkah Joseph kalau sudah mabuk.
‘Axel dapat uang dari mana?’ batin Reina, bertanya-tanya. Padahal minggu ini ia belum memberinya uang jajan karena gajinya dari pekerjaan sampingan di minimarket belum turun.
“Sebaiknya kamu cari kontrakan lain lagi, Reina,” lanjut Hanna yang terlihat cemas. “Semalam kulihat ayah kalian itu─”
“Aku tahu, Nyonya Baker.” Reina menepuk lengan wanita itu dan tersenyum menenangkannya. “Aku masuk dulu,” ujarnya lebih lanjut.
Tanpa menunggu tanggapan wanita itu, Reina melanjutkan langkahnya kembali, masuk ke dalam rumah kontrakannya yang kecil dan … hening.
Pada waktu seperti ini, Axel tentu belum pulang dari sekolah.
Keheningan rumah kontrakan itu terasa begitu menyesakkan. Reina menghempaskan tubuhnya ke sofa reyot yang kulitnya sudah terkelupas di beberapa bagian. Pegasnya berderit pelan saat menahan berat tubuhnya.
Seketika rasa lelah menyerbunya. Seluruh tubuhnya terasa remuk redam. Namun, dibandingkan rasa sakit fisiknya, beban di dadanya jauh lebih menyiksa.
Reina menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Air mata perlahan merembes keluar, mengalir hangat di sela jemarinya.
‘Apa yang harus kulakukan? Ke mana lagi aku harus pindah?’ batin Reina, merasa sangat lelah dan frustrasi.
Pindah bukanlah perkara mudah. Selain membutuhkan uang yang tidak sedikit, Reina juga tidak tahu lagi harus ke mana mencari rumah kontrakan dengan tarif serendah tempat yang ia tempati sekarang.
Rata-rata harga rumah dan apartemen kecil di pinggiran kota sudah melonjak. Rumah kontrakan ini adalah satu-satunya pengecualian. Pemiliknya merupakan kenalan mendiang ibunya dan masih bersedia memberi harga khusus.
Selain memikirkan tentang biaya hidup, luka lain kembali mengusik pikirannya.
Kelvin.
Pria itu benar-benar mengingkari janji—janji untuk melamarnya, membawanya pergi, dan hidup bahagia bersamanya. Seharusnya Reina tidak menaruh harapan apa pun pada hubungan mereka. Seharusnya ia tahu, sejak awal … dunia mereka berbeda terlalu jauh.
Kini, Reina bukan hanya kehilangan sandaran, tetapi juga kehilangan keperawanannya karena kebodohannya semalam.
Di tengah kegelisahannya, tiba-tiba ponselnya berdering.
Reina tersentak, lalu buru-buru menyeka air mata di pipinya dan merogoh gawai butut dari dalam tas. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal muncul di layar ponselnya itu.
[Selamat siang. Lamaran kerja Anda sebagai housekeeper di The Grand Veldric Hotel telah kami terima. Harap hadir pukul dua siang hari ini di lantai dua untuk wawancara. Apabila tidak hadir, kami anggap Anda membatalkan lamaran.]
Reina terpaku. ‘The Grand Veldric Hotel?’
Bukankah itu hotel yang barusan ia tinggalkan?
Hugo menghentikan langkahnya seketika. Ia berbalik perlahan, menatap Reina dengan tatapan tak percaya. Tawa rendahnya pun pecah dan menggema di dalam kamar itu.“Housekeeping?” ulangnya, seakan kata itu adalah lelucon paling konyol yang pernah didengarnya.Reina mengangguk dengan penuh keyakinan. “Kamu masih ingat kan kalau aku memang mengajukan lamaran itu?”Hugo mengembuskan napas pelan, lalu mengangguk malas. "Tapi, apa otakmu tidak bermasalah? Kamu lebih memilih menjadi housekeeping daripada menjadi asisten pribadiku? Apa kamu tidak tahu ada berapa banyak orang yang menginginkan posisi ini, hm?”Reina berdecih pelan di dalam hati, ‘Justru karena otakku masih waras, makanya aku memilih ini. Memangnya kamu pikir bisa membodohiku?’ batinnya.Namun, detik berikutnya, Reina memaksakan diri untuk tersenyum dan menjawab, “Aku bukan lulusan sarjana dan juga tidak punya pengalaman menjadi seorang asisten. Bagaimana kalau nanti aku malah mempermalukanmu dan mengacaukan pekerjaanmu?”Hugo te
“Kalau aku tidak mau mematuhi semua aturan ini, apa yang akan kamu lakukan?” desis Reina dengan tatapan tajam yang berkilat penuh perlawanan.Hugo tidak langsung menjawab. Ia justru sedikit merunduk, memperkikis jarak hingga Reina bisa merasakan hembusan napasnya yang dingin di permukaan kulit wajahnya. Seringai berbahaya kembali muncul di bibir pria itu.“Sederhana saja,” bisik Hugo dengan suara bariton yang rendah dan mengintimidasi. “Kembalikan setiap sen yang sudah aku keluarkan untukmu. Tunai. Sekarang juga. Dan pastinya ….”Hugo sengaja menjeda kalimatnya. Jemarinya bergerak menyusuri rahang gadis itu dengan gerakan yang sangat lembut, tetapi bagi Reina, sentuhan itu terasa duri yang menusuknya perlahan-lahan, menciptakan rasa takut yang menyiksa.“… kamu harus bersiap mencari rumah sakit yang bersedia menampung adikmu,” lanjut pria itu dengan suara tenang, tetapi penuh otoritas mutlak yang tak terbantahkan.Ucapannya jelas menyiratkan bahwa Axel tidak akan bisa mendapatkan pera
“Percuma saja kamu bersembunyi di balik tanganmu. Memangnya bisa mengubah fakta kalau kamu sangat menikmati permainan panas kita tadi, Gadis Nakal?”Sindiran pedas yang meluncur dari bibir Hugo lamgsung mengalihkan pikiran Reina. Perlahan gadis itu menurunkan kedua telapak tangan dari wajahnya. Panas di pipinya kini merambat hingga ke telinganya saat melihat senyum mengejek di wajah Hugo.Namun, Reina tidak membalas. Ia tidak ingin menambah kepuasan pria itu dalam mencemoohnya. Ia pun menyambar dokumen di atas seprai dengan gerakan kasar untuk menutupi rasa malunya yang membuncah.“Dokumen apa ini?” gumam Reina saat matanya mulai menyapu deretan tulisan yang tercetak di atas lembaran dokumen yang ada di tangannya.Hugo tidak langsung menjawab. Ia duduk di tepi ranjang, lalu perlahan mendekati Reina dan mengunci gadis itu dengan menumpukan satu tangannya pada kepala ranjang, tepat di samping bahu gadis itu.“Ini adalah rincian aturan yang harus kamu patuhi selama menjadi istriku,” tera
Satu jam kemudian, ranjang king size di dalam suite mewah itu tampak berantakan seperti habis diterpa badai hebat. Selimut sutra yang semula licin dan rapi kini teronggok tak berdaya di lantai marmer, berserakan di antara helai-helai pakaian yang dilemparkan secara serampangan.Tanpa sehelai busana yang melekat di tubuhnya, Reina menggeliat kecil di atas seprai yang kusut. Ia mencoba bangkit, tetapi seluruh sendi tubuhnya terasa kaku. Sekujur tubuhnya terasa remuk redam setelah pergumulan panas yang menguras seluruh tenaga dan emosinya.Di sudut ruangan, suara gemericik air dari kamar mandi berhenti seketika, menyisakan kesunyian yang mencekam.Manik mata hazel Reina terpaku pada siluet Hugo yang terpatri di balik kaca buram kamar mandi. “Dia benar-benar iblis,” geramnya pelan, disertai suara lenguhan kecil yang menahan perih.Sembari meregangkan punggungnya yang terasa pegal, ia menatap nanar jejak-jejak kemerahan yang menghiasi kulit putihnya.Bayangan ingatan saat Hugo menorehkan ta
"Aku tidak pernah bilang tidak suka," bisik Hugo. Suaranya kini terdengar diselimuti gairah yang terasa berbahaya.Embusan napasnya yang panas terasa membakar tengkuk leher Reina. Gadis itu memejamkan matanya dengan erat, berusaha menekan gejolak liar yang mulai membuncah di dalam dadanya. "Tapi, aku penasaran … apa kamu selalu mempraktikkannya dengan semua laki-laki yang kamu temui, Reina Wynn?” desis pria itu. Nada mencemoohnya terasa seperti tamparan keras yang menghantam harga diri Reina.Bola mata hazel gadis itu telah membelalak besar, mendelik Hugo dengan tajam dan penuh amarah. Namun, pria itu tidak menunjukkan penyesalan sedikit pun.Sebaliknya, Hugo justru mengulas senyuman puas seolah sengaja memancing sisi emosional yang berusaha Reina sembunyikan di balik kepolosan yang ia tunjukkan.“Cukup, Hugo Veldric! Berhenti menghinaku!” hardik Reina dengan penuh emosi.Amarah yang sedari tadi terpendam akhirnya meledak tanpa bisa gadis itu hentikan. Ia tidak lagi peduli apabila uca
“Masuk,” titah Hugo seraya membuka lebar pintu kamar hotel setelah menempelkan sidik jarinya pada panel pemindai di samping pintu.Namun, Reina masih berdiri di depan kamar itu. Kakinya seakan terpaku di atas karpet mewah koridor hotel, enggan melangkah masuk ke dalam ruangan yang pernah menjadi saksi bisu pergumulan panasnya bersama pria itu dua hari lalu.Menyadari gadis itu tidak beranjak dari tempatnya, Hugo memutar tubuhnya. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan menatap gadis itu dengan sorot mata penuh intimidasi.“Kenapa diam? Kamu tiba-tiba lupa cara berjalan, atau sedang menunggu aku menggendongmu masuk?" sindir Hugo sembari menyandarkan punggungnya pada daun pintu.Reina mencebikkan bibirnya dengan jengah. Tidak ingin memperpanjang perdebatan, ia pun memaksakan kakinya untuk melangkah masuk.Melihat kepatuhan penuh keterpaksaan itu, Hugo mendengus dingin, lalu menutup pintu kamar dan berjalan melewati gadis itu.“Aku tahu kamar ini membangkitkan kenangan malam pa







