MasukSena mengambil botol kaca berisi minyak herbal racikannya, meneteskannya ke telapak tangan, lalu membalurnya secara merata di sepanjang betis hingga pergelangan kaki Pak Sabar yang membengkak kehitaman. Aroma harum rempah dan kesegaran pegunungan langsung menyeruak di sekitar pendopo Balai Desa, menenangkan warga yang menyimak dengan tegang.Dr. Tirta memajukan badannya, membetulkan kacamata seraya tersenyum tipis. "Minyak herbal cuma bisa memberikan efek hangat di permukaan kulit, Saudara Sena. Itu tidak akan bisa menembus jaringan mikrovaskular yang sudah nekrosis."Sena tidak membalas ucapan sang dokter. Fokusnya sepenuhnya tercurah pada keselamatan Pak Sabar. Dengan gerakan tangan yang begitu tenang dan mantap, Sena mengambil lima bilah jarum perak berukuran khusus dari dalam tas kulitnya.Srett... Tuk!Jarum perak pertama menancap presisi di titik Zusanli (di bawah tempurung lutut). Jarum kedua dan ketiga menyusul kilat di titik Sanyinjiao dan Taichong di pergelangan kaki. Ja
Belum sempat Ayu merapikan kancing bajunya, pintu terdorong dari luar. Nyonya Widya melangkah masuk dengan anggun. Namun, langkah Nyonya Widya mendadak terhenti. Matanya yang tajam memicing saat mendapati Ayu berdiri sangat dekat di samping Sena.Tatapan janda kaya itu tertuju pada wajah Ayu. Ada pendar keayuan yang luar biasa terpancar dari kulit gadis desa itu, pipi yang merona, mata yang berbinar jernih, dan aura kesegaran yang sangat khas. Nyonya Widya mengenali pendar energi itu, pendar yang sama yang selalu ia rasakan setiap kali usai menerima sentuhan magic dan terapi Hawa Murni dari Sena."Eh... Nyonya Widya?" sapa Ayu gugup, refleks melangkah mundur setengah langkah seraya menundukkan kepala.Nyonya Widya menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan makna persaingan. Ia berjalan mendekat dengan keanggunan seorang wanita berkelas, membuat lantai kayu gubuk mengeluar bunyi berderit halus."Ayu... rupanya kamu ada di sini juga pagi-pagi begini," pukas Nyonya Widya dengan na
Keesokan harinya, berita tentang Sena dan Bidan Irma yang menyelamatkan Pak RW di pos ronda menjadi buah bibir di seluruh penjuru desa. Warga berkumpul di warung-warung kopi, mengagumi kecepatan dan keajaiban racikan serta jarum perak milik Sena.Namun bagi Ayu, kabar itu justru menghantam hatinya bagai petir di siang bolong. Bukan tentang kehebatan Sena yang ia pikirkan, melainkan fakta bahwa Bidan Irma berada di dalam gubuk kayu Sena pada jam sebelas malam.Pagi itu, langkah kaki Ayu terasa berat saat mengantar rantang sarapan ke rumah Sena. Wajahnya yang biasanya cerah dan penuh ukiran senyum kini mendung. Matanya sembab, menandakan ada tangis tersembunyi yang ia tahan sejak bangun tidur.Saat pintu gubuk terbuka, Sena yang sedang menyapu teras langsung menyadari perubahan raut wajah wanita polos itu."Ayu?" sapa Sena lembut, menaruh sapunya. "Kok mukanya ditekuk begitu? Ada masalah di toko?"Ayu tidak langsung menjawab. Ia melangkah masuk, meletakkan rantang kayu di atas meja
"S-Sena! Bagaimana ini?!" bisik Irma setengah panik seraya terburu-buru mengenakan gaun sutra merah marunnya. Tangannya gemetar hebat saat berusaha mengikat tali gaun di punggungnya. "Kalau ada warga yang tahu aku ada di dalam gubukmu jam sebelas malam tanpa pakaian... hancur namaku sebagai bidan desa!"Sena tetap bersikap sangat tenang. Tanpa tergesa-gesa, ia turun dari ranjang kayu, merapikan pakaian hitam khasnya, lalu mengusap bahu Irma lembut untuk menenangkan wanita itu."Tenang, Irma. Jangan panik," bisik Sena dengan suara rendah yang menghipnotis. "Gunakan pintu belakang kalau kamu ragu. Tapi menurutku, dalam situasi darurat begini, warga tidak akan peduli kamu ada di mana. Mereka butuh pertolongan medis."Sena berjalan menuju meja herbal, mengambil tas kulit berisi jarum perak dan minyak penenang saraf. Sementara itu, Irma berusaha menguasai diri. Ia merapikan rambutnya yang berantakan, menarik napas dalam-dalam, lalu memancarkan kembali wibawanya sebagai seorang tenaga me
Malam harinya Bidan Irma datang ke gubug Sena. Dia ingin mendapatkan terapi sama seperti Nyonya Widya dan Sarah. Tok Tok TokSena yang baru saja mencuci wadah ramuan herbalnya bergegas membuka pintu. Dia menatap Irma dengan tatapan yang sulit diartikan. “Kamu tidak menyuruhku masuk?” Protes Irma. Sena terkekeh, “Silahkan Bu Bidan.” Godanya. Penampilannya malam ini jauh dari formal. Irma mengenakan gaun malam berbahan tipis berwarna merah marun. Rambut panjangnya yang biasa disanggul rapi kini dibiarkan terurai halus mengalir di bahunya.Tubuh Irma hampir mirip dengan Nyonya Sarah, begitu padat dan sintal. Irma melangkah masuk, aroma parfum melati yang lembut langsung memenuhi ruangan gubuk.“Duduk dulu Irma, aku mandi sebentar. Dari tadi belum mandi.” Kata Sena. Sebelum ke kamar mandi, Sena menutup pintu gubuk lalu mengambil sarung yang tergeletak di atas dipan. “Boleh aku temani mandi?” Goda Bidan Irma. “Jangan, kalau kamu temani mandi, bisa dua jam disana.” Sahut Sena.
Esok paginya seperti biasa, Ayu mengirim makanan untuk Sena. Langkah kakinya yang ringan menapak menyusuri jalanan desa yang masih berembun, membawa bakul bambu berisi rantang hangat. Hari ini dia memasak sayur asem dan pepes ikan segar favorit pria yang begitu dicintainya itu.Sesampainya di gubuk kayu, Ayu merapikan makanan di atas meja kayu. Sena yang baru selesai membersihkan halaman langsung duduk di sampingnya dengan wajah berbinar."Wah, baunya harum sekali, Ayu," puji Sena seraya mengambil sendok dan mencicipi kuah sayur asem yang masih mengepul.Saat Sena menikmati suapan pertamanya, Ayu duduk bertopang dagu di hadapannya. Matanya menatap Sena dengan tatapan penuh rasa penasaran yang terpendam."Sena... aku dengar-dengar Nyonya Widya dan Nyonya Sarah sekarang semakin muda dan cantik," bisik Ayu ragu-ragu. "Sebenarnya... kamu apakan mereka?"Uhuk!Sena yang sedang mencicipi kuah sayur asem hampir saja tersedak. Ia cepat-cepat meraih gelas air putih dan meminumnya teguk d







