Share

Luar Biasa!

Author: DewaRa
last update publish date: 2026-07-17 22:24:24

​Napas Irma mendadak tercekat mendengar bisikan yang keluar dari bibir Sena. Jantungnya bertalu begitu kencang di dalam rongga dadanya. Alih-alih merasa takut, tubuh Irma justru merespons dengan desiran panas yang semakin menjadi-jadi. Kabut gairah yang dipicu oleh hawa murni Ilmu Gowok telah melumpuhkan seluruh akal sehatnya sebagai seorang bidan berpendidikan kota.

​Irma menatap lekat-lekat manik mata Sena yang berkilau misterius. Dengan sisa keberanian yang ia miliki, Irma menarik kerah keme
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Sudah sembuh Sepenuhnya

    Ayu merayap perlahan naik ke atas dipan kayu yang sempit. Jemarinya yang bergetar halus membuka kancing pakaiannya satu per satu hingga pakaian itu terlepas sepenuhnya, memamerkan keindahan lekuk tubuhnya yang masih suci dan belum pernah tersentuh oleh pria mana pun.​Sena menatap paras Ayu yang merona merah. Sorot matanya dipenuhi rasa hormat dan haru atas pengorbanan gadis di hadapannya.​"Kamu yakin, Ayu?" bisik Sena sekali lagi, menatap dalam ke iris mata Ayu. "Begitu penyatuan ini terjadi, jalan hidupmu akan terikat sepenuhnya padaku."​Ayu menggenggam erat jemari Sena yang hangat, lalu membawanya ke dadanya yang berdebar kencang. "Aku yakin, Sena. Sejak awal aku mengabdi di puskesmas ini, hatiku sudah milikmu. Jangan ragu lagi."​Sena merayap mendekat, merangkul tubuh halus Ayu ke dalam pelukannya. Ciuman lembut mendarat di bibir manis Ayu, membakar keheningan gubug kayu malam itu. Erangan halus pertama keluar dari bibir Ayu ketika Sena mulai membelai dan mengecup leher jenjangn

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Darah Virgin

    Keesokan harinya, Sena merasa kondisi fisiknya sudah membaik dan siap bertugas kembali. Dengan langkah mantap, ia berjalan menuju puskesmas yang sudah dipadati oleh warga. Namun, baru saja ia duduk dan mulai memberikan pijatan energi pada beberapa pasien awal, sensasi aneh mendadak menghantam dadanya.​Srett!​Dada Sena terasa seperti dihantam palu godam. Rasa pusing yang luar biasa hebat langsung menyerang kepalanya, membuat pandangannya kabur bergelombang. Tubuhnya limbung dan ia hampir saja jatuh pingsan dari kursi kayunya.​"Sena!" Bidan Irma yang berdiri tak jauh dari sana dengan sigap berlari menahan bahu Sena. Wajah Irma mendadak pucat melihat peluh dingin bertetesan di dahi pemuda itu. "Sena, kamu kenapa? Wajahmu pucat sekali!"​Sena memegangi kepalanya yang berdenyut kencang, menahan napasnya yang tersendat. "Tidak apa-apa, Irma... cuma pusing sedikit."​"Cuma pusing bagaimana?" potong Irma dengan suara bergetar panik. "Energimu drop lagi, Sena! Kali ini makin parah. Lebih ba

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Hangat Sekali

    Pagi harinya, Sena terbangun dengan kondisi tubuh yang jauh lebih bertenaga. Namun, getaran di dalam intinya memberi tahu satu hal pasti: energi Irma dan Elsa saja belum cukup untuk mengembalikan kekuatan jiwanya ke level puncak. ​Sena segera menghubungi Bidan Irma. "Irma, aku minta izin libur beberapa hari lagi. Biar Dokter Tirta dan tenaga medis lain yang menangani pasien biasa di puskesmas." ​"Baik, Sena. Kamu istirahat saja sampai pulih betul," sahut Irma penuh pengertian. ​Malam harinya, Sena memanggil Nyonya Sarah untuk datang ke gubugnya. Dulu, penyatuan pertamanya dengan Nyonya Sarah berhasil membuka dan membangkitkan ilmu Hawa Murni Segoro di dalam dirinya. Kali ini, Sena berharap keagungan serta kehangatan energi wanita berkharisma itu sanggup memulihkan kekuatannya hingga seratus persen. ​Pintu gubug terbuka pelan. Nyonya Sarah melangkah masuk dengan gaun malam berkatun halus yang anggun. Wajah cantiknya memancarkan rasa cemas sekaligus kerinduan yang dalam. ​"Sena..."

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Enak sekali Sena

    Irma menyunggingkan senyum hangat, menatap Sena dengan pendar kepasrahan dan ketulusan mendalam. Tanpa ragu sedikit pun, jemarinya bergerak perlahan melepas gaunnya, membiarkan pakaian itu jatuh ke lantai kayu. Ia lalu melangkah mendekati dipan dan merebahkan dirinya di sana.​"Ayo, Sena... aku sudah siap," bisik Irma lembut seraya meraih tangan Sena dan menariknya pelan.​Sena merayap naik ke atas dipan, menatap lekat paras dan lekuk tubuh wanita di bawahnya. Sorot matanya dipenuhi apresiasi yang jujur. "Tubuhmu indah sekali, Irma..."​Diiringi gemuruh petir dan deru hujan yang semakin lebat menimpa atap seng gubug, Sena merebahkan tubuhnya di atas Irma. Kehangatan kulit mereka yang bersentuhan mendadak menyalakan pusaran energi spiritual di dalam dada Sena. Inti jiwanya yang semula kosong perlahan menyerap energi kehidupan dari Irma.​Sena mengecup leher dan dada Irma dengan lembut, memicu erangan halus dari bibir bidan desa tersebut. Irma memejamkan mata, meremas bahu Sena erat-era

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Aku Butuh Tubuhmu

    Pak Imam menyandarkan punggungnya di kepala ranjang dengan napas yang terasa luar biasa lega. Rasa sesak yang bertahun-tahun menyiksanya sirna sepenuhnya berkat energi pemurnian jiwa Sena yang disalurkan melalui uap Hawa Murni. Dengan mata berbinar penuh rasa haru dan takjub, Sang Menteri menggenggam jemari Sena erat-erat. ​"Sena, ini benar-benar keajaiban!" ujar Pak Imam dengan suara bulat bertenaga. "Rumah sakit terbaik di luar negeri pun sudah angkat tangan. Sebagai bentuk rasa terima kasih pribadi dan negara, saya akan mengucurkan dana hibah besar untuk desamu. Saya ingin puskesmas satu lantai ini segera dibangun lebih luas lagi pada tahap kedua, agar bisa menampung ribuan pasien dari seluruh penjuru negeri." ​Sena tersenyum tipis sembari mengangguk. "Terima kasih, Pak Menteri. Namun, prinsip kami sejak awal tidak berubah. Tarif pengobatan di puskesmas ini harus tetap murah dan terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat desa maupun warga miskin dari luar." ​Pak Imam terpana men

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Sudah Jadi

    Tiga minggu terasa bagai kilat. Bangunan tua klinik desa tempat Bidan Irma mengabdi dulu, yang semula hanyalah struktur kayu lapuk dan cat yang mengelupas, kini telah rata dengan tanah. Di atas fondasi yang sama, berdiri tegak tahap pertama Puskesmas Terpadu Taraf Nasional: sebuah bangunan modern satu lantai bernuansa hijau-putih yang memadukan teknologi medis mutakhir dengan keasrian alam.​Meski baru tahap satu dan nantinya akan disusul pembangunan lantai dua, kemegahan bangunan ini sudah cukup membuat siapa pun berdecak kagum.​Pagi ini, desa tidak lagi terlihat seperti pelosok biasa. Jalanan menuju puskesmas dijejali karangan bunga ucapan selamat dari berbagai menteri, perusahaan farmasi, hingga kepala daerah. Suasana riuh, penuh sesak oleh warga desa yang antusias, para pejabat yang berseragam necis, dan awak media nasional yang sibuk mengatur kamera.​Sena berdiri di depan panggung utama dengan kemeja putih formal yang pas di tubuhnya. Aura kepemimpinannya terasa begitu kuat, na

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status