Home / Romansa / Kesayangan Tuan Elian / Bab 148 - Pisahkan Mereka, anak-anak kita.

Share

Bab 148 - Pisahkan Mereka, anak-anak kita.

Author: Pipin
last update publish date: 2026-03-06 09:55:08

Rinjani menatap putrinya yang duduk di meja makan, wajah Lana bersemu merah sejak bangun.

“Pagi, sayang. Kenapa muka udah merah begini? Ada pesan dari siapa, hm?” tanyanya sambil menuang teh hangat.

Lana buru-buru menunduk, jemarinya sibuk meremas ujung seragam.

“Ini, Ma… teman,” jawabnya singkat.

Elian turun dari tangga, kemeja santai masih setengah dikancing. Ia berhenti sejenak, menatap ekspresi putrinya.

“Teman apa teman?” suaranya datar, tapi matanya penuh rasa ingin tahu. Dalam hati i
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 161 - Terima kenyataan

    "Gimana, Kak? Om Antonio udah baikkan?" tanya Sonya duduk disamping Saka di bangku taman sekolah.​"Papa masih belum mau buka mata," jawab Saka. "Sonya, lo tahu sesuatu tentang Papa?"​Untuk kali pertama dalam hidupnya, Saka menyadari betapa sedikit ia mengenal pria yang membesarkannya. Selama ini, Antonio selalu tampil rapi dengan pakaian yang menutupi seluruh tubuhnya. Namun, di ruang ICU kemarin, saat perawat mengganti perban, Saka melihatnya—deretan tato legam yang merayap di punggung dan lengan ayahnya. Sebuah peta rahasia dari dunia yang tak pernah ia sentuh.​Sonya duduk di samping Saka, mengabaikan tatapan penasaran murid lain yang berlalu-lalang. "Menurutmu sendiri gimana?"​"Papa cuma pakai kedok sebagai pengusaha logistik. Dia menyembunyikan hal yang jauh lebih kelam di sana," gumam Saka.​"Dan kamu keberatan?" tanya Sonya tenang.​Saka menatap gadis di sampingnya. Sonya yang dulu ia anggap rapuh, kini justru menjadi orang yang paling berani menasihatinya.​"Kak, siapapun d

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 161 - Bangun Pa

    "Sonya..." Saka berbisik, suaranya tercekat saat menatap pakaian gadis itu yang basah kuyup oleh darah merah pekat yang mulai mengering. Horor terpancar jelas dari matanya.​"Saka... Om Antonio..." Sonya tidak sanggup melanjutkan kalimatnya, bahunya berguncang hebat karena sisa trauma. ​"Ada apa sebenarnya? Kenapa bisa seperti ini? Apa Papa dirampok?" cecar Saka, tangannya gemetar saat memegang pundak Sonya, menuntut jawaban yang masuk akal.​Sonya terdiam. Ingatannya kembali ke pelabuhan—pemandangan mayat yang bergelimpangan, senjata api, dan bagaimana Antonio bertarung layaknya monster yang haus darah. Jelas sekali pria itu bukan orang sembarangan. Apa aku harus mengatakannya? Apa aku harus membongkar sisi gelap pria itu sekarang? batin Sonya. ​"Tidak..." ucap Sonya tegas, ia memilih menyimpan rahasia itu demi martabat Antonio di mata anaknya.​"Apa Papa menyembunyikan hal lain lagi?" gumam Saka, mulai curiga dengan keheningan Sonya y

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 160 -

    Sore itu, begitu pintu depan terbuka, Antonio langsung berdiri dari kursi kerjanya. Ia sengaja menunda semua demi anaknya. ​"Saka, kamu sudah pulang? Bagaimana tadi... di sekolah?" tanya Antonio, suaranya mengandung nada kecemasan yang tertahan setelah Saka kabur dari rumah. ​"Baik, Pa," jawab Saka singkat. Ia memberikan senyum simpul—hanya sebuah formalitas agar sang ayah tidak bertanya lebih jauh."Kamu masih marah pada Papa?" Tanya Antonio menahan bahu Saka saat anak itu hendak ke kamarnya.​Saka terdiam sejenak, menatap anak tangga di depannya dengan tatapan kosong. "Aku nggak bisa marah lama-lama sama Papa. Memangnya aku bisa apa tanpa Papa?" Saka menoleh sedikit, menatap ayahnya dengan sorot mata yang penuh luka tersembunyi. "Aku harus sadar diri, kan? Kalau bukan karena Papa, aku hanyalah anak yang ditelantarkan. Mungkin kalau bukan karena pertolongan Papa belasan tahun lalu, aku sudah ada di dalam tanah bersama Mama.""Jangan bersikap seperti ini pada Papa, Saka... Papa mel

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 159 -Jadi ini akhirnya?

    Keesokan harinya, Lana keluar kamar dengan mata bengkak. Ia tidak menuju meja makan. Ia langsung menuju pintu depan.​"Lana, sarapan dulu..." panggil Rinjani lirih.​Lana berhenti sebentar, tangannya mencengkeram tali tas sekolahnya kuat-kuat. "Aku nggak mau satu meja sama pembohong," jawabnya singkat tanpa menoleh pada Elian yang duduk mematung di kursi makan.​Setelah Lana pergi, Elian mencoba berdiri, namun langkahnya limbung. Keinginannya untuk mengejar Lana terkubur begitu saja.​"Jangan dipaksa, Elian," ucap Rinjani sambil membereskan piring yang sama sekali tidak disentuh."Berikan dia waktu. Berikan kita waktu."​"Bagaimana dengan Saka?" tanya Elian parau.​"Biarkan dia menjadi urusan Antonio untuk saat ini. Kamu sudah cukup mengacaukan hidupnya belasan tahun lalu. Jangan ditambah lagi sekarang."​Sementara itu, di sekolah, Lana bertemu dengan Saka di koridor yang sepi. Keduanya berhenti. Jarak yang biasanya hanya sejengkal, kini terasa seperti jurang ribuan kilometer.​Lana m

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 158 - Hati yang Retak

    "Papa dan Mama nggak ada niat buat pisah, kan?" tanya Lana cemas, suaranya bergetar saat mendekati kedua orang tuanya.Ia menatap Elian dan Rinjani bergantian, mencari kepastian di tengah suasana yang mendadak terasa berat.​"Lana, kemarilah..." ujar Elian lirih.​Lana melangkah mendekat. Entah kenapa, ada rasa sesak yang aneh di dadanya, seakan sebuah badai besar baru saja menghantam fondasi rumah yang selama ini ia anggap kokoh. Masalah ini terasa jauh lebih rumit dari sekadar pertengkaran biasa.​"Ada apa, Pa?" tanya Lana dengan nada menuntut kejelasan.​"Duduk di sini, Sayang. Papa akan menceritakan semuanya," ucap Elian sembari menepuk tempat di sampingnya.​Lana hanya menurut, meski jemarinya kini saling bertautan dengan gelisah. Elian menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya sebelum mulai membuka kotak pandora yang telah ia kunci rapat selama belasan tahun.​"Dulu, jauh sebelum kehidupan kita

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 157 -Katakan Elian!

    "Duh, Pa, Mama mana sih? Sudah dua hari nggak pulang-pulang?" tanya Lana. Matanya mulai berkaca-kaca. Setiap pesan yang ia kirim dan telepon yang ia tujukan pada ibunya, tak satu pun yang mendapat balasan.​"Sabar, Sayang. Mama pasti pulang," jawab Elian pelan.​"Papa nggak menyembunyikan apa pun, kan? Papa dan Mama lagi nggak berantem, kan?" desak Lana.Melihat betapa kacaunya sang ayah belakangan ini, ia merasa ada yang sangat tidak beres. Ayahnya bahkan tidak berangkat kerja dan terus-menerus mengurung diri di kamar dengan tatapan kosong.​"Pa, jujur sama aku."​"Papa belum bisa mengatakan apa pun, Lana."​"Jadi bener, Papa dan Mama berantem? Tapi kenapa Mama menghindari aku juga, Pa? Memangnya aku salah apa? Apa semua gara-gara aku? Kalau iya, aku minta maaf. Tapi suruh Mama pulang, Pa... aku kangen banget," isak Lana mulai pecah.​Elian hanya bisa mengusap kepala putrinya dengan lembut, sebuah gerakan yang justru terasa menyakitkan karena ia tahu kebenaran yang ia simpan bisa men

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 20 Pembelaan

    Tiga minggu telah berlalu sejak mereka kembali dari kota kecil itu. Selama waktu itu, Elian kembali ke rutinitasnya yang dingin dan sibuk. Ia mengabaikan semua insiden di hotel—tangisan, pelukan, seolah itu hanyalah bagian dari mimpi buruk yang tidak perlu dibahas. ​Rinjani, di sis

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 18 - Menjadi Perisai

    Pukul sepuluh malam. Rinjani sedang menyiapkan kopi di ruang tamu suite ketika bel pintu berbunyi, memecah keheningan yang kaku.​"Saya cek dulu, Tuan," ujar Rinjani.​Saat pintu terbuka, seorang wanita elegan berdiri di sana. Blazer mahal dan rambut yang tertata sempurna membin

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 21 - Pengkhianatan

    Elian mendorong Rinjani ke samping. "Kau harus belajar mengendalikan emosimu," ucap Elian dingin. "Kita akan pulang. Acara sudah selesai untuk kita."Elian menarik Rinjani keluar dari keramaian ballroom. Saat mereka mendekati pintu keluar, sebuah suara yang familier terdengar.

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 19 - Seseorang dari masa lalu?

    Cahaya lampu temaram di ruang pemulihan rumah sakit membuat suasana terasa lebih sunyi. Rinjani perlahan membuka matanya, hal pertama yang ia rasakan adalah aroma maskulin yang bercampur dengan bau obat-obatan. Di samping tempat tidurnya, Elian duduk dengan kemeja lusuh nya.​"Kamu sudah bangun? Ba

    last updateLast Updated : 2026-03-18
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status