Home / Romansa / Kesayangan Tuan Elian / Bab 20 Pembelaan

Share

Bab 20 Pembelaan

Author: Pipin
last update Last Updated: 2025-12-20 19:10:46

Tiga minggu telah berlalu sejak mereka kembali dari kota kecil itu. Selama waktu itu, Elian kembali ke rutinitasnya yang dingin dan sibuk. Ia mengabaikan semua insiden di hotel—tangisan, pelukan, seolah itu hanyalah bagian dari mimpi buruk yang tidak perlu dibahas.

​Rinjani, di sisi lain, bergumul dengan perasaannya yang baru. Cinta yang tumbuh dari rasa kasihan dan kekaguman itu membuatnya semakin menderita dalam keheningan rumah besar Elian.

​Malam ini, adalah malam Gala Tahunan Baskara Group. Acara paling bergengsi yang dihadiri oleh seluruh kolega dan keluarga Baskara. Elian harus memperkenalkan Rinjani secara formal ke khalayak luas.

​Rinjani berdiri di depan cermin, mengenakan gaun malam yang dipilihkan oleh stylist pribadi Elian—gaun silk panjang berwarna biru tua yang elegan, menutupi leher dan tangannya dengan anggun.

​"Jangan terlihat gugup," perintah Elian, yang sudah siap dengan tuksedo hitamnya. Dia berdiri di
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 75 - kena marah kan?

    Sesampainya di ruangan Maya, Boy disambut oleh suara ketukan papan ketik yang terdengar lebih seperti dentuman genderang perang. Maya tidak menoleh sedikit pun, wajahnya kaku, menunjukkan level kekesalan yang sudah mencapai ambang batas.​"Ada apa, Mas Boy? Enggak ada kerjaan lain apa selain ke sini?" tanya Maya dengan nada dingin yang bisa membekukan air laut. Maya benar-benar murka karena Boy menghilang tanpa kabar kemarin, meninggalkannya menunggu seperti patung di kafe sementara Boy asyik berlibur dengan Elian dan Rinjani.​Boy yang awalnya masuk dengan gaya catwalk, langsung mengerem mendadak. Bahunya menciut. "Eh... lo marah, May?"​"Menurut Mas gimana?" tantang Maya sambil membanting folder dokumen ke meja. BRAK! Ia menatap Boy tajam.​"Duh, May... itu mata udah kayak mau keluar dari celahnya. Gue kan takut diplototin gitu. Gue kan udah kirim pesan permintaan maaf semalam," ucap Boy dengan suara yang mulai melengking panik, tangannya s

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 74

    "Rinjani, kamu dan Boy kembali saja ke rumah. Aku harus mengurus banyak hal setelah meninggalkan ruangan ini cukup lama," gumam Elian sambil merapikan tumpukan berkas yang sempat disentuh Hendra.​Rinjani menatap suaminya cemas. "Kamu yakin? Lalu bagaimana dengan Paman Hendra? Dia tidak akan membiarkanmu tenang begitu saja di sini."​"Kamu percaya padaku, bukan?" Elian menghentikan aktivitasnya, menatap Rinjani dengan sorot mata yang berusaha tetap kokoh.​Rinjani menghela napas. Ia tahu Elian sedang memasang dinding pertahanannya lagi. Ia menoleh ke arah pintu. "Boy, kamu tunggu di luar sebentar ya. Aku ada urusan sebentar dengan Elian."​Boy yang mengerti kode tersebut hanya mengangguk dan mengedipkan sebelah mata sebelum menutup pintu rapat-rapat. Begitu suasana menjadi sunyi, Rinjani berjalan mendekat dan duduk di sisi meja, tepat di samping Elian.​"Kamu tidak perlu pura-pura baik-baik saja di depan kami, apalagi di depanku," bisik Rinjani sambil meraih tangan Elian yang terasa d

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 73 - Dua Raja di Satu Singgasana

    ​Ketegangan di lantai eksekutif Baskara Group pagi itu bisa dirasakan bahkan oleh staf paling junior sekalipun. Lorong yang biasanya sibuk, kini sunyi mencekam. Semua mata tertuju pada pintu ruangan Direktur Utama yang terbuka lebar.​Elian melangkah masuk dengan setelan jas hitam yang sempurna, langkah kakinya berdentum mantap di atas lantai marmer. Di belakangnya, Boy berjalan dengan wajah serius yang jarang ia tunjukkan, sementara Rinjani mendampingi dengan raut wajah yang tenang namun waspada.​Namun, langkah Elian terhenti tepat di tengah ruangan. Di sana, di balik meja kebesaran yang seharusnya miliknya, duduk seorang pria paruh baya dengan rambut yang mulai memutih namun memiliki tatapan mata setajam silet. Hendra Baskara.​Hendra tidak berdiri. Ia justru menyandarkan punggungnya dengan santai, menyesap cerutu mahal yang aromanya memenuhi ruangan.​"Oh, kau sudah kembali, Elian?" Hendra membuka suara, nadanya rendah namun sarat dengan penghinaan. "Aku dengar kau sedang sibuk...

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 72 -

    Pesisir pantai sore itu tampak seperti lukisan cat air yang belum kering. Langit berubah menjadi gradasi jingga dan ungu yang dramatis, sementara ombak bergulung malas menyapu pasir putih yang lembut. Di kejauhan, Boy sudah tampak seperti titik kecil yang sibuk. Ia berlari-lari kecil mengejar rombongan turis asing dengan kamera di tangan, sesekali berteriak histeris setiap kali melihat pria berotot lewat di hadapannya.​"Abaikan saja dia," gumam Elian sambil menautkan jemarinya di sela-sela jari Rinjani. Genggamannya kali ini terasa berbeda—tidak lagi posesif yang mencekik, melainkan hangat dan melindungi.​Mereka berjalan perlahan, membiarkan kaki telanjang mereka tenggelam dalam pasir yang masih menyimpan sisa hangat matahari. Elian melepas kemeja luarannya, menyisakan kaos dalam hitam yang membungkus tubuh atletisnya dengan pas.​Rinjani menoleh, menatap wajah samping suaminya."Elian, kamu terlihat sangat tenang hari ini. Apa suara itu benar-benar sudah tidak ada lagi??"​Elian be

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 71 -

    Elian duduk di kursi kayu rotan, menatap taman kecil di depannya yang sedang disirami oleh Rinjani dari kejauhan. Wajahnya kini lebih segar, guratan ketegangan yang biasanya mengunci rahangnya mulai memudar. Di hadapannya, Dokter Aris, psikiater kepercayaannya, menutup catatan medis dengan senyum simpul.​"Bagaimana perkembangannya, Dok?" tanya Elian tenang. "Secara fisik, saya merasa jauh lebih baik. Tidur saya tidak lagi sependek dulu."​Dokter Aris mengangguk kecil. "Kemajuan Anda sangat signifikan, Pak Elian. Ketenangan lingkungan di sini sangat membantu. Namun, saya harus bertanya satu hal yang paling krusial... Apa Pak Elian masih suka mendengar 'sesuatu' lagi? Suara-suara yang dulu sering memicu kemarahan itu?"​"Kadang, mungkin hanya bisikan dari masa lalu. Suara Adrian... tapi sekarang suaranya terdengar sangat jauh. Seolah dia sudah kembali ke tempat seharusnya, jauh di dalam tanah."​Elian mengalihkan pandangannya kembali pada Rinjani yang melambaikan tangan padanya. "Dulu,

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 70 - Bawa aku pulang

    Boy tidak ingin membuang waktu. Malam itu juga, ia menemui Kombes Darmono di sebuah sudut gelap parkiran kepolisian. Tanpa banyak bicara, Boy menyerahkan sebuah flashdisk merah menyala.​"Semua ada di situ, Pak. Video dia di RSJ, aliran dana suap wartawan, sampai transaksi akun siluman. Leo sudah menguncinya agar tidak bisa dihapus dari jarak jauh," bisik Boy.​Darmono menerima benda itu dengan tangan gemetar karena emosi. "Keluargaku sudah cukup menderita karena beritanya. Besok, aku sendiri yang akan memimpin penjemputannya."​Keesokan Harinya...​Gedung Baskara Group tampak tenang di pagi hari yang cerah. Di ruangan eksekutifnya yang mewah, Dian sedang duduk santai di kursi kebesaran Elian. Seorang perias kuku profesional sedang berlutut di depannya, dengan telaten mengoleskan cat kuku warna merah darah yang elegan pada jemari Dian.​"Pelan-pelan, ya. Aku ingin warna ini terlihat sempurna saat aku memberikan pidato di depan dewan komis

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status