Masuk"Sonya..." Saka berbisik, suaranya tercekat saat menatap pakaian gadis itu yang basah kuyup oleh darah merah pekat yang mulai mengering. Horor terpancar jelas dari matanya."Saka... Om Antonio..." Sonya tidak sanggup melanjutkan kalimatnya, bahunya berguncang hebat karena sisa trauma. "Ada apa sebenarnya? Kenapa bisa seperti ini? Apa Papa dirampok?" cecar Saka, tangannya gemetar saat memegang pundak Sonya, menuntut jawaban yang masuk akal.Sonya terdiam. Ingatannya kembali ke pelabuhan—pemandangan mayat yang bergelimpangan, senjata api, dan bagaimana Antonio bertarung layaknya monster yang haus darah. Jelas sekali pria itu bukan orang sembarangan. Apa aku harus mengatakannya? Apa aku harus membongkar sisi gelap pria itu sekarang? batin Sonya. "Tidak..." ucap Sonya tegas, ia memilih menyimpan rahasia itu demi martabat Antonio di mata anaknya."Apa Papa menyembunyikan hal lain lagi?" gumam Saka, mulai curiga dengan keheningan Sonya y
Sore itu, begitu pintu depan terbuka, Antonio langsung berdiri dari kursi kerjanya. Ia sengaja menunda semua demi anaknya. "Saka, kamu sudah pulang? Bagaimana tadi... di sekolah?" tanya Antonio, suaranya mengandung nada kecemasan yang tertahan setelah Saka kabur dari rumah. "Baik, Pa," jawab Saka singkat. Ia memberikan senyum simpul—hanya sebuah formalitas agar sang ayah tidak bertanya lebih jauh."Kamu masih marah pada Papa?" Tanya Antonio menahan bahu Saka saat anak itu hendak ke kamarnya.Saka terdiam sejenak, menatap anak tangga di depannya dengan tatapan kosong. "Aku nggak bisa marah lama-lama sama Papa. Memangnya aku bisa apa tanpa Papa?" Saka menoleh sedikit, menatap ayahnya dengan sorot mata yang penuh luka tersembunyi. "Aku harus sadar diri, kan? Kalau bukan karena Papa, aku hanyalah anak yang ditelantarkan. Mungkin kalau bukan karena pertolongan Papa belasan tahun lalu, aku sudah ada di dalam tanah bersama Mama.""Jangan bersikap seperti ini pada Papa, Saka... Papa mel
Keesokan harinya, Lana keluar kamar dengan mata bengkak. Ia tidak menuju meja makan. Ia langsung menuju pintu depan."Lana, sarapan dulu..." panggil Rinjani lirih.Lana berhenti sebentar, tangannya mencengkeram tali tas sekolahnya kuat-kuat. "Aku nggak mau satu meja sama pembohong," jawabnya singkat tanpa menoleh pada Elian yang duduk mematung di kursi makan.Setelah Lana pergi, Elian mencoba berdiri, namun langkahnya limbung. Keinginannya untuk mengejar Lana terkubur begitu saja."Jangan dipaksa, Elian," ucap Rinjani sambil membereskan piring yang sama sekali tidak disentuh."Berikan dia waktu. Berikan kita waktu.""Bagaimana dengan Saka?" tanya Elian parau."Biarkan dia menjadi urusan Antonio untuk saat ini. Kamu sudah cukup mengacaukan hidupnya belasan tahun lalu. Jangan ditambah lagi sekarang."Sementara itu, di sekolah, Lana bertemu dengan Saka di koridor yang sepi. Keduanya berhenti. Jarak yang biasanya hanya sejengkal, kini terasa seperti jurang ribuan kilometer.Lana m
"Papa dan Mama nggak ada niat buat pisah, kan?" tanya Lana cemas, suaranya bergetar saat mendekati kedua orang tuanya.Ia menatap Elian dan Rinjani bergantian, mencari kepastian di tengah suasana yang mendadak terasa berat."Lana, kemarilah..." ujar Elian lirih.Lana melangkah mendekat. Entah kenapa, ada rasa sesak yang aneh di dadanya, seakan sebuah badai besar baru saja menghantam fondasi rumah yang selama ini ia anggap kokoh. Masalah ini terasa jauh lebih rumit dari sekadar pertengkaran biasa."Ada apa, Pa?" tanya Lana dengan nada menuntut kejelasan."Duduk di sini, Sayang. Papa akan menceritakan semuanya," ucap Elian sembari menepuk tempat di sampingnya.Lana hanya menurut, meski jemarinya kini saling bertautan dengan gelisah. Elian menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya sebelum mulai membuka kotak pandora yang telah ia kunci rapat selama belasan tahun."Dulu, jauh sebelum kehidupan kita
"Duh, Pa, Mama mana sih? Sudah dua hari nggak pulang-pulang?" tanya Lana. Matanya mulai berkaca-kaca. Setiap pesan yang ia kirim dan telepon yang ia tujukan pada ibunya, tak satu pun yang mendapat balasan."Sabar, Sayang. Mama pasti pulang," jawab Elian pelan."Papa nggak menyembunyikan apa pun, kan? Papa dan Mama lagi nggak berantem, kan?" desak Lana.Melihat betapa kacaunya sang ayah belakangan ini, ia merasa ada yang sangat tidak beres. Ayahnya bahkan tidak berangkat kerja dan terus-menerus mengurung diri di kamar dengan tatapan kosong."Pa, jujur sama aku.""Papa belum bisa mengatakan apa pun, Lana.""Jadi bener, Papa dan Mama berantem? Tapi kenapa Mama menghindari aku juga, Pa? Memangnya aku salah apa? Apa semua gara-gara aku? Kalau iya, aku minta maaf. Tapi suruh Mama pulang, Pa... aku kangen banget," isak Lana mulai pecah.Elian hanya bisa mengusap kepala putrinya dengan lembut, sebuah gerakan yang justru terasa menyakitkan karena ia tahu kebenaran yang ia simpan bisa men
"Bisa bicara dengan orang asing tanpa menunduk. Kamu terlihat... lebih hidup," lanjut Antonio.Ia mengambil keripik yang ditawarkan Sonya, membukanya, dan mulai mengunyah. Rasa pedas yang membakar lidah setidaknya memberikan sensasi nyata di tengah mati rasa yang ia rasakan akibat rahasia Elian."Mungkin karena aku mulai merasa aman, Om. Teman-teman di sekolah, Arka, Lana... dan juga Saka. Mereka membuatku merasa kalau dunia nggak sejahat yang aku pikirkan."Antonio tersenyum tipis, sebuah senyum yang membawa ingatan pada keributan di malam ulang tahun Saka beberapa waktu lalu. Mengingat bagaimana Arka meledak karena cemburu buta, menuduh Sonya memiliki perasaan pada pria seumurannya, Antonio merasa sedikit geli sekaligus kasihan pada gadis di sampingnya ini."Jadi kamu sudah memaafkan si Arka itu?" tanya Antonio, nada suaranya sedikit menggoda di balik kopi kaleng yang masih ia pegang.Sonya menunduk, memainkan ujung kemasan makananny
Pukul sepuluh malam. Rinjani sedang menyiapkan kopi di ruang tamu suite ketika bel pintu berbunyi, memecah keheningan yang kaku."Saya cek dulu, Tuan," ujar Rinjani.Saat pintu terbuka, seorang wanita elegan berdiri di sana. Blazer mahal dan rambut yang tertata sempurna membin
Tiga minggu telah berlalu sejak mereka kembali dari kota kecil itu. Selama waktu itu, Elian kembali ke rutinitasnya yang dingin dan sibuk. Ia mengabaikan semua insiden di hotel—tangisan, pelukan, seolah itu hanyalah bagian dari mimpi buruk yang tidak perlu dibahas. Rinjani, di sis
"Kamu yakin kita makan di sini?" tanya Rinjani pelan. Ia merapikan gaun sederhananya yang terasa kontras dengan kemewahan restoran fine dining ini. Langit-langit kristal dan pelayan berseragam rapi membuatnya merasa sedikit "minder"."Tempat ini hanya bangunan, Rinjani. Yang penting adalah siapa y
Rinjani mengangguk cepat. "Mengerti, Tuan."Ia segera berbalik dan pergi, sebelum Elian berubah pikiran.Rinjani berhasil meminjam motor matic dari hotel. Dengan rasa lega yang luar biasa, ia meluncur ke pasar tradisional. Begitu tiba di pasar, Rinjani seperti anak kecil yang baru di







