LOGINLana menjalani hari-harinya di kampus dengan perasaan yang tidak menentu. Meski di ruang kelas, pikirannya sering kali terbang ke sebuah bangunan putih di pinggiran kota yang dijaga ketat. Begitu hari libur tiba, Lana tidak membuang waktu. Ia segera meminta supirnya mengantar ke pusat rehabilitasi tempat Eran berada. Begitu sampai di taman belakang, Lana melihat sosok yang ia cari. Eran sedang duduk di bangku kayu. "Eran!" seru Lana sambil melambaikan tangan dengan riang, mencoba mencairkan suasana. Namun, Eran tidak membalas senyuman itu. Ia justru menatap Lana dengan pandangan yang begitu dingin, seolah-olah Lana adalah musuh terbesarnya. Saat Lana mendekat, Eran berdiri dengan sentakan kasar. "Ngapain lo ke sini?" desis Eran, suaranya rendah namun penuh dengan kemarahan yang tertahan. "Gue cuma mau lihat keadaan lo, Eran. Dokter bilang lo mulai membaik, dan—"
"Di mana ini?" tanya Eran lirih. Suaranya serak, nyaris tak terdengar. Matanya yang sayu mengerjap berkali-kali, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya lampu neon yang putih menusuk. Begitu menoleh, ia mendapati Lana duduk di sampingnya dengan mata yang masih sembap. "Rumah sakit," jawab Lana singkat. Suaranya bergetar, ada campuran antara lega dan sedih di sana. Eran melirik lengannya. Ada selang infus yang tertancap di kulitnya yang pucat. Ia mencoba bergerak, namun seluruh tubuhnya terasa seperti dihantam beton—kaku dan sakit luar biasa. Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Seorang dokter masuk membawa papan catatan medis, menatap Eran sejenak sebelum beralih kepada Lana yang langsung berdiri tegak. Dokter itu menjelaskan secara rinci kondisi Eran. Bukan hanya soal malnutrisi dan luka-luka fisik yang dideritanya, tapi juga tentang zat kimia yang mulai merusak sistem saraf Eran akibat penggunaan obat-obatan terlarang tersebut. Lana mendengarkan dengan napas tertahan. Ia
"Eran... lo gapapa?" tanya Lana saat mereka berpapasan di gerbang kampus keesokan harinya. Awalnya Lana sudah bertekad untuk mogok bicara. Ia marah, kecewa, dan takut setelah tahu uangnya dipakai untuk membeli barang haram. Namun, melihat Eran yang berjalan sempoyongan dengan wajah sepucat kertas dan keringat dingin yang membasahi pelipisnya. Hatinya tetap saja terenyuh. Tanpa memedulikan tatapan mahasiswa lain, Lana menarik tangan Eran menuju area taman kampus yang sepi. Begitu sampai di sana, Lana langsung menarik lengan baju Eran lebih tinggi. "Eran, luka ini... kenapa makin banyak? Ini bukan cuma lebam, ini luka baru!" seru Lana ngeri melihat bekas sabetan yang masih memerah di kulit pria itu. Eran tidak menanggapi rasa khawatir Lana. Pikirannya sedang kalut. Tubuhnya terasa sakit luar biasa, saraf-sarafnya berteriak meminta "asupan" yang semalam ia habiskan dengan rakus. Di matanya saat ini, Lana bukan lagi teman sekelas atau gadis yang harus ia jauhi, melainkan satu-satu
Setelah hari itu, semua berjalan normal di kampus. Namun, pada hari ketiga dan keempat, Eran tidak menampakkan batang hidungnya. Lana sempat merasa heran, bahkan ada sedikit kekosongan di bangku sebelahnya. Baru pada hari kelima, Lana melihat pria itu kembali duduk di sampingnya dengan wajah yang lebih pucat dari biasanya."Lo mau tahu apa? Bentar lagi dosen masuk..." gumam Eran tanpa menoleh."Judes amat, lo kena— Wait! Lo kenapa?!" Lana memekik pelan. Saat Eran hendak meletakkan tasnya, lengan kaos panjangnya tak sengaja tersingkap, memperlihatkan sisa luka terbuka dan lebam biru gelap yang mengerikan di sepanjang lengan bawahnya.Eran segera menarik turun lengan kaosnya, tak peduli. Baginya, rasa perih itu sudah menjadi teman akrab setiap malam."Lo beli salep kek, atau apa... itu lukanya bisa infeksi, Eran!""Gue nggak ada uang, paham?" ujar Eran singkat, lalu menguap lebar seolah luka-luka itu hanyalah goresan kucing.
"Lana... aku sudah bilang kan, jangan dekat-dekat dengan dia," bisik Saka. Sebagai kakak, ia tidak bisa membiarkan adiknya dekat dengan pria yang menurutnya adalah personifikasi dari kesialan.Lana tersentak, menoleh dan mendapati Saka sudah berdiri di samping motor besarnya yang terparkir tepat di depan pintu keluar pasar. "Kak? Kenapa bisa ke sini?"Lana menghela napas frustrasi. Padahal ia sudah berencana untuk pulang naik bus—meski melelahkan, setidaknya ia merasa mandiri. Tapi kehadiran Saka menghancurkan rencana "pelarian" kecilnya itu."Om Elian yang menyuruhku menjemput. Beliau ada urusan mendadak dan membawa sopir rumah, Tante Rinjani juga sedang sibuk di butik," terang Saka, matanya tidak lepas menatap Eran dengan pandangan penuh permusuhan.Eran yang sedari tadi hanya diam sembari menyampirkan tas kameranya, kini menatap Saka dengan dahi mengernyit. Ia merasa pernah melihat wajah ini, tapi memorinya tentang masa sekolah sudah ia buang j
"Nggak punya teman? Please, gue bisa dapetin siapa pun kalau gue mau. Termasuk lo," ancam Lana dengan nada angkuh yang khas, mencoba mempertahankan harga dirinya yang mulai tersudut.Eran tertawa hambar lalu berkata, "lo kira di sini ada yang bakal tertarik sama lo? Atau sama nama besar keluarga lo? Liat sekeliling lo. Di sini isinya mahasiswa beasiswa yang harus kerja sampingan buat makan, atau anak pegawai biasa, bahkan anak buruh tani. Nggak ada yang punya waktu buat peduli sama drama 'Tuan Putri' kayak lo. Di sini, lo itu bukan siapa-siapa."Lana terdiam, dia tidak bisa membantah,karna dia tahu, itulah kenyataannya.Tak lama pintu kelas terbuka lebar. Beberapa mahasiswa senior masuk dengan wajah "garang" yang dibuat-buat, membawa tumpukan kertas dan pita kain."Oke, perhatian semuanya! Mahasiswa baru, silakan berdiri!" teriak salah satu senior.Lana mengernyit. Di tahun ini, tradisi Inaugurasi dan Pengakraban masih kental, meski bentuknya
Ponsel Elian di atas nakas bergetar hebat tepat setelah ia merebahkan diri di samping Rinjani. Layarnya menyala, menampilkan nama "Darmono".Elian menghela napas, ia tahu jika pria itu menelpon di jam seperti ini, artinya ada sesuatu yang sudah tidak bisa ditahan lagi oleh jalur hukum bi
Siang itu, di sebuah butik kelas atas tempat para sosialita berkumpul, sebuah rekaman suara dan foto-foto Boy yang sengaja diambil dari sudut yang salah mulai tersebar di grup-grup WhatsApp."Loh, itu si Boy kan? Desainer yang katanya 'main' sama laki? Kok bisa ya, dia jalan sama cewek cantik gitu
"Mama nggak akan pernah merestui kamu dengan dia. Mama nggak mau keluarga kita jadi bahan tertawaan karena kamu memilih pria yang... entahlah, Mama bahkan ragu menyebutnya pria. Dengar itu baik-baik, Maya," ucap wanita itu dengan nada final yang dingin sebelum melangkah masuk ke dalam mobilnya da
"Papa, Mama... ngapain ke sini?" tanya Maya yang baru balik dari kantin membelikan Elian kopi. Bu Santi melipat tangan di dada, menatap putrinya dari ujung kepala sampai ujung kaki seolah sedang memastikan Maya tidak terluka. "Tadi Papa dan Mama kira kamu sedang bersama Boy. Makanya kami ke sini.







