Home / Romansa / Kesayangan Tuan Elian / Bab 155 - Rasa bersalah

Share

Bab 155 - Rasa bersalah

Author: Pipin
last update publish date: 2026-03-14 15:45:56

"Habis sudah... masa depan cerah sahabat dari orok gue hancur seketika," batin Arka sembari menyandarkan punggungnya di balik pintu kamar.

Suaranya tertahan, namun dadanya terasa sesak. Ia tak sanggup mendengar lebih jauh bagaimana orang-orang dewasa yang ia hormati selama ini ternyata menyimpan bangkai serapat itu.

​Di bawah,tangisan histeris Rinjani kini telah berganti menjadi diam, sebuah keheningan yang lahir dari rasa mati rasa.

​"Rin, lo mau ke mana? Ini sudah tengah malam!" seru Nabila c
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 218 - Syarat

    "Di mana ini?" tanya Eran lirih. Suaranya serak, nyaris tak terdengar. Matanya yang sayu mengerjap berkali-kali, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya lampu neon yang putih menusuk. Begitu menoleh, ia mendapati Lana duduk di sampingnya dengan mata yang masih sembap. ​"Rumah sakit," jawab Lana singkat. Suaranya bergetar, ada campuran antara lega dan sedih di sana. ​Eran melirik lengannya. Ada selang infus yang tertancap di kulitnya yang pucat. Ia mencoba bergerak, namun seluruh tubuhnya terasa seperti dihantam beton—kaku dan sakit luar biasa. Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Seorang dokter masuk membawa papan catatan medis, menatap Eran sejenak sebelum beralih kepada Lana yang langsung berdiri tegak. ​Dokter itu menjelaskan secara rinci kondisi Eran. Bukan hanya soal malnutrisi dan luka-luka fisik yang dideritanya, tapi juga tentang zat kimia yang mulai merusak sistem saraf Eran akibat penggunaan obat-obatan terlarang tersebut. ​Lana mendengarkan dengan napas tertahan. Ia

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 217 - Luka disekujur tubuh

    "Eran... lo gapapa?" tanya Lana saat mereka berpapasan di gerbang kampus keesokan harinya. ​Awalnya Lana sudah bertekad untuk mogok bicara. Ia marah, kecewa, dan takut setelah tahu uangnya dipakai untuk membeli barang haram. Namun, melihat Eran yang berjalan sempoyongan dengan wajah sepucat kertas dan keringat dingin yang membasahi pelipisnya. Hatinya tetap saja terenyuh. ​Tanpa memedulikan tatapan mahasiswa lain, Lana menarik tangan Eran menuju area taman kampus yang sepi. Begitu sampai di sana, Lana langsung menarik lengan baju Eran lebih tinggi. ​"Eran, luka ini... kenapa makin banyak? Ini bukan cuma lebam, ini luka baru!" seru Lana ngeri melihat bekas sabetan yang masih memerah di kulit pria itu. ​Eran tidak menanggapi rasa khawatir Lana. Pikirannya sedang kalut. Tubuhnya terasa sakit luar biasa, saraf-sarafnya berteriak meminta "asupan" yang semalam ia habiskan dengan rakus. Di matanya saat ini, Lana bukan lagi teman sekelas atau gadis yang harus ia jauhi, melainkan satu-satu

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 216 - Bunuh aku, ayah!

    Setelah hari itu, semua berjalan normal di kampus. Namun, pada hari ketiga dan keempat, Eran tidak menampakkan batang hidungnya. Lana sempat merasa heran, bahkan ada sedikit kekosongan di bangku sebelahnya. Baru pada hari kelima, Lana melihat pria itu kembali duduk di sampingnya dengan wajah yang lebih pucat dari biasanya.​"Lo mau tahu apa? Bentar lagi dosen masuk..." gumam Eran tanpa menoleh.​"Judes amat, lo kena— Wait! Lo kenapa?!" Lana memekik pelan. Saat Eran hendak meletakkan tasnya, lengan kaos panjangnya tak sengaja tersingkap, memperlihatkan sisa luka terbuka dan lebam biru gelap yang mengerikan di sepanjang lengan bawahnya.​Eran segera menarik turun lengan kaosnya, tak peduli. Baginya, rasa perih itu sudah menjadi teman akrab setiap malam.​"Lo beli salep kek, atau apa... itu lukanya bisa infeksi, Eran!"​"Gue nggak ada uang, paham?" ujar Eran singkat, lalu menguap lebar seolah luka-luka itu hanyalah goresan kucing.​

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 215 - Aku bukan anak kecil!

    "Lana... aku sudah bilang kan, jangan dekat-dekat dengan dia," bisik Saka. Sebagai kakak, ia tidak bisa membiarkan adiknya dekat dengan pria yang menurutnya adalah personifikasi dari kesialan.Lana tersentak, menoleh dan mendapati Saka sudah berdiri di samping motor besarnya yang terparkir tepat di depan pintu keluar pasar. "Kak? Kenapa bisa ke sini?"Lana menghela napas frustrasi. Padahal ia sudah berencana untuk pulang naik bus—meski melelahkan, setidaknya ia merasa mandiri. Tapi kehadiran Saka menghancurkan rencana "pelarian" kecilnya itu."Om Elian yang menyuruhku menjemput. Beliau ada urusan mendadak dan membawa sopir rumah, Tante Rinjani juga sedang sibuk di butik," terang Saka, matanya tidak lepas menatap Eran dengan pandangan penuh permusuhan.Eran yang sedari tadi hanya diam sembari menyampirkan tas kameranya, kini menatap Saka dengan dahi mengernyit. Ia merasa pernah melihat wajah ini, tapi memorinya tentang masa sekolah sudah ia buang j

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 214 - Tugas Utama

    "Nggak punya teman? Please, gue bisa dapetin siapa pun kalau gue mau. Termasuk lo," ancam Lana dengan nada angkuh yang khas, mencoba mempertahankan harga dirinya yang mulai tersudut.​Eran tertawa hambar lalu berkata, ​"lo kira di sini ada yang bakal tertarik sama lo? Atau sama nama besar keluarga lo? Liat sekeliling lo. Di sini isinya mahasiswa beasiswa yang harus kerja sampingan buat makan, atau anak pegawai biasa, bahkan anak buruh tani. Nggak ada yang punya waktu buat peduli sama drama 'Tuan Putri' kayak lo. Di sini, lo itu bukan siapa-siapa."​Lana terdiam, dia tidak bisa membantah,karna dia tahu, itulah kenyataannya.Tak lama pintu kelas terbuka lebar. Beberapa mahasiswa senior masuk dengan wajah "garang" yang dibuat-buat, membawa tumpukan kertas dan pita kain.​"Oke, perhatian semuanya! Mahasiswa baru, silakan berdiri!" teriak salah satu senior.​Lana mengernyit. Di tahun ini, tradisi Inaugurasi dan Pengakraban masih kental, meski bentuknya

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 213 - Eran

    "Ya ampun, akhirnya aku sampai juga di sini," gumamnya sambil menatap sekeliling.Ia akhirnya berdiri di depan gerbang kampus yang tampak semakin renta. Hari ini, ia sengaja memilih pakaian paling simpel yang ia punya—kaus polos berwarna putih dan celana denim gelap. Ia berharap bisa sedikit membaur dan tidak menarik perhatian. ​Apalagi, ini adalah kali pertama dalam hidupnya ia menaiki bus umum. Pengalaman yang membuatnya berkali-kali mual karena bau asap dan sesak, namun ia bertahan demi sebuah kata: kebebasan.​Begitu ia melangkah melewati gerbang, atmosfer kampus yang "berbeda" itu kembali menyergapnya. Dan entah karena kutukan atau kebetulan, mata Lana langsung tertuju pada satu titik di koridor utama.​Di sana, bersandar pada pilar gedung yang catnya mengelupas, berdiri Eran.​Pria itu tampak sedang menghisap sebatang rokok dengan gaya masa bodoh. Rambut gondrongnya yang berantakan tertutup kupluk hitam, dan tatapannya yang sayu namun tajam sedang mengawasi lalu lalang mahasisw

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 114 - Tamparan Cinta

    "Eh, Bil, nabila... tunggu dulu! Ini nggak kayak yang lo pikirin, Sayang! Listen to me dulu, ini..." Boy mencoba mendekat dengan tangan terbuka, bermaksud menjelaskan.​"Nggak kayak yang aku pikirin gimana?!" potong Nabila histeris. Ia menunjuk ke arah bayi itu. "Mukanya... muk

    last updateLast Updated : 2026-03-30
  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 113 - Siapa anak ini?

    ​"El... kalau Sarah bilang itu anak lo, gue cenderung percaya kalau dia nggak bohong. Dia bukan tipe wanita yang suka memanipulasi hal rendah kayak gitu, gue kenal dia," gumam Boy pelan. "Tapi masalahnya... Rinjani. Sialan, El! Kalau Rinjani tahu, hidup lo bakal berantakan. Lo tahu sendiri Rinjani

    last updateLast Updated : 2026-03-30
  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 112 -

    "Tenang, Elian... Tenang," gumamnya, mencoba mengatur napas yang terasa semakin pendek. "Sarah sudah pernah tidur dengan pria lain. Dia pernah menikah, dia punya masa lalu yang kelam. Mungkin itu bukan anakmu. Ya, mungkin dia hanya mencari kambing hitam karena dia sudah bangkrut."​Pikiran itu menj

    last updateLast Updated : 2026-03-30
  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 102 - Putus Asa

    Sudah tiga hari berlalu sejak pertengkaran hebat di taman itu, dan selama itu pula ponsel Boy tidak aktif. Pesan-pesan Maya hanya berakhir dengan centang satu yang membeku.​"Udah tiga hari, Mas Boy kenapa nggak bisa dihubungi ya?" gumam Maya gelisah.​"Maya..." Sebuah suara serak memecah keheninga

    last updateLast Updated : 2026-03-29
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status