Beranda / Romansa / Kesayangan Tuan Elian / Bab 153 - Labirin Kebohongan

Share

Bab 153 - Labirin Kebohongan

Penulis: Pipin
last update Tanggal publikasi: 2026-03-12 20:37:14

"Pa, di mana Mama?" tanya Lana, memecah keheningan ruang tengah yang luas itu. Ia mendapati ayahnya duduk sendirian di sofa.

​Elian tersentak. Ia menatap wajah putrinya. Rasa takut merayap di tenggorokannya, mencekik keberaniannya untuk jujur. Bagaimana mungkin ia sanggup menghancurkan dunia Lana? Jika ia mengaku, Lana akan kehilangan sosok ayah pahlawannya, sekaligus kehilangan cinta pertamanya.

​"Pa..." panggil Lana lagi, kini duduk di samping Elian dengan dahi berkerut cemas.

​"Maaf, Sayang
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 161 - Bangun Pa

    "Sonya..." Saka berbisik, suaranya tercekat saat menatap pakaian gadis itu yang basah kuyup oleh darah merah pekat yang mulai mengering. Horor terpancar jelas dari matanya.​"Saka... Om Antonio..." Sonya tidak sanggup melanjutkan kalimatnya, bahunya berguncang hebat karena sisa trauma. ​"Ada apa sebenarnya? Kenapa bisa seperti ini? Apa Papa dirampok?" cecar Saka, tangannya gemetar saat memegang pundak Sonya, menuntut jawaban yang masuk akal.​Sonya terdiam. Ingatannya kembali ke pelabuhan—pemandangan mayat yang bergelimpangan, senjata api, dan bagaimana Antonio bertarung layaknya monster yang haus darah. Jelas sekali pria itu bukan orang sembarangan. Apa aku harus mengatakannya? Apa aku harus membongkar sisi gelap pria itu sekarang? batin Sonya. ​"Tidak..." ucap Sonya tegas, ia memilih menyimpan rahasia itu demi martabat Antonio di mata anaknya.​"Apa Papa menyembunyikan hal lain lagi?" gumam Saka, mulai curiga dengan keheningan Sonya y

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 160 -

    Sore itu, begitu pintu depan terbuka, Antonio langsung berdiri dari kursi kerjanya. Ia sengaja menunda semua demi anaknya. ​"Saka, kamu sudah pulang? Bagaimana tadi... di sekolah?" tanya Antonio, suaranya mengandung nada kecemasan yang tertahan setelah Saka kabur dari rumah. ​"Baik, Pa," jawab Saka singkat. Ia memberikan senyum simpul—hanya sebuah formalitas agar sang ayah tidak bertanya lebih jauh."Kamu masih marah pada Papa?" Tanya Antonio menahan bahu Saka saat anak itu hendak ke kamarnya.​Saka terdiam sejenak, menatap anak tangga di depannya dengan tatapan kosong. "Aku nggak bisa marah lama-lama sama Papa. Memangnya aku bisa apa tanpa Papa?" Saka menoleh sedikit, menatap ayahnya dengan sorot mata yang penuh luka tersembunyi. "Aku harus sadar diri, kan? Kalau bukan karena Papa, aku hanyalah anak yang ditelantarkan. Mungkin kalau bukan karena pertolongan Papa belasan tahun lalu, aku sudah ada di dalam tanah bersama Mama.""Jangan bersikap seperti ini pada Papa, Saka... Papa mel

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 159 -Jadi ini akhirnya?

    Keesokan harinya, Lana keluar kamar dengan mata bengkak. Ia tidak menuju meja makan. Ia langsung menuju pintu depan.​"Lana, sarapan dulu..." panggil Rinjani lirih.​Lana berhenti sebentar, tangannya mencengkeram tali tas sekolahnya kuat-kuat. "Aku nggak mau satu meja sama pembohong," jawabnya singkat tanpa menoleh pada Elian yang duduk mematung di kursi makan.​Setelah Lana pergi, Elian mencoba berdiri, namun langkahnya limbung. Keinginannya untuk mengejar Lana terkubur begitu saja.​"Jangan dipaksa, Elian," ucap Rinjani sambil membereskan piring yang sama sekali tidak disentuh."Berikan dia waktu. Berikan kita waktu."​"Bagaimana dengan Saka?" tanya Elian parau.​"Biarkan dia menjadi urusan Antonio untuk saat ini. Kamu sudah cukup mengacaukan hidupnya belasan tahun lalu. Jangan ditambah lagi sekarang."​Sementara itu, di sekolah, Lana bertemu dengan Saka di koridor yang sepi. Keduanya berhenti. Jarak yang biasanya hanya sejengkal, kini terasa seperti jurang ribuan kilometer.​Lana m

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 158 - Hati yang Retak

    "Papa dan Mama nggak ada niat buat pisah, kan?" tanya Lana cemas, suaranya bergetar saat mendekati kedua orang tuanya.Ia menatap Elian dan Rinjani bergantian, mencari kepastian di tengah suasana yang mendadak terasa berat.​"Lana, kemarilah..." ujar Elian lirih.​Lana melangkah mendekat. Entah kenapa, ada rasa sesak yang aneh di dadanya, seakan sebuah badai besar baru saja menghantam fondasi rumah yang selama ini ia anggap kokoh. Masalah ini terasa jauh lebih rumit dari sekadar pertengkaran biasa.​"Ada apa, Pa?" tanya Lana dengan nada menuntut kejelasan.​"Duduk di sini, Sayang. Papa akan menceritakan semuanya," ucap Elian sembari menepuk tempat di sampingnya.​Lana hanya menurut, meski jemarinya kini saling bertautan dengan gelisah. Elian menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya sebelum mulai membuka kotak pandora yang telah ia kunci rapat selama belasan tahun.​"Dulu, jauh sebelum kehidupan kita

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 157 -Katakan Elian!

    "Duh, Pa, Mama mana sih? Sudah dua hari nggak pulang-pulang?" tanya Lana. Matanya mulai berkaca-kaca. Setiap pesan yang ia kirim dan telepon yang ia tujukan pada ibunya, tak satu pun yang mendapat balasan.​"Sabar, Sayang. Mama pasti pulang," jawab Elian pelan.​"Papa nggak menyembunyikan apa pun, kan? Papa dan Mama lagi nggak berantem, kan?" desak Lana.Melihat betapa kacaunya sang ayah belakangan ini, ia merasa ada yang sangat tidak beres. Ayahnya bahkan tidak berangkat kerja dan terus-menerus mengurung diri di kamar dengan tatapan kosong.​"Pa, jujur sama aku."​"Papa belum bisa mengatakan apa pun, Lana."​"Jadi bener, Papa dan Mama berantem? Tapi kenapa Mama menghindari aku juga, Pa? Memangnya aku salah apa? Apa semua gara-gara aku? Kalau iya, aku minta maaf. Tapi suruh Mama pulang, Pa... aku kangen banget," isak Lana mulai pecah.​Elian hanya bisa mengusap kepala putrinya dengan lembut, sebuah gerakan yang justru terasa menyakitkan karena ia tahu kebenaran yang ia simpan bisa men

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 156 - Suka!

    "Bisa bicara dengan orang asing tanpa menunduk. Kamu terlihat... lebih hidup," lanjut Antonio.Ia mengambil keripik yang ditawarkan Sonya, membukanya, dan mulai mengunyah. Rasa pedas yang membakar lidah setidaknya memberikan sensasi nyata di tengah mati rasa yang ia rasakan akibat rahasia Elian.​"Mungkin karena aku mulai merasa aman, Om. Teman-teman di sekolah, Arka, Lana... dan juga Saka. Mereka membuatku merasa kalau dunia nggak sejahat yang aku pikirkan."Antonio tersenyum tipis, sebuah senyum yang membawa ingatan pada keributan di malam ulang tahun Saka beberapa waktu lalu. Mengingat bagaimana Arka meledak karena cemburu buta, menuduh Sonya memiliki perasaan pada pria seumurannya, Antonio merasa sedikit geli sekaligus kasihan pada gadis di sampingnya ini.​"Jadi kamu sudah memaafkan si Arka itu?" tanya Antonio, nada suaranya sedikit menggoda di balik kopi kaleng yang masih ia pegang.​Sonya menunduk, memainkan ujung kemasan makananny

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 25 - Apa kamu akan selamanya memanggilku Tuan?

    "Tuan Elian. Tuan tidak membeli saya. Tuan meminjam saya. Dan sebagai imbalannya, saya akan menjadi yang paling jujur pada Tuan.""Nyonya Kirana sudah pergi, Tuan. Sekarang waktunya Tuan memilih. Maukah Tuan memberi ruang untuk diri Tuan sendiri, atau Tuan akan tetap menjadi tawanan dari

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-19
  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 13 - Hampir Saja

    Elian melajukan mobil dengan kecepatan tinggi setelah meninggalkan rumah Dian. Suasana di dalam mobil kembali tegang. Mereka telah melakukan perjalanan selama sekitar satu jam ketika tiba-tiba mobil melenceng tajam ke kanan. "Tuan!" teriak Rinjani karena mobil mereka hampir saja me

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-17
  • Kesayangan Tuan Elian   Bab - 7 - Mencoba melampaui batas

    ​Elian mengurus kepulangan Rinjani ke rumah Baskara dengan bantuan ART dan perawat pribadi. Ia memastikan Rinjani ditempatkan di kamar tamu—jauh dari kamarnya, jauh dari dirinya. Bukan untuk menghukum Rinjani, melainkan untuk melindungi Rinjani dari dirinya sendiri. Begitu Rinjani sudah stabil dan

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-17
  • Kesayangan Tuan Elian   bab 8 - Trauma & cinta tak tersentuh

    Setelah memesan makanan, Rinjani kembali ke dapur. Makanan yang dipesan datang lima belas menit kemudian. Rinjani memisahkan nasi goreng kebuli Elian dan sup ayamnya. Ia membawa tas makanan itu, jantungnya berdebar, siap kembali melayani.Saat Rinjani berjalan di lorong menuju ruang kerja Elian, ia

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-17
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status